The Hidden Paradise, Laguna Pari

Selepas berjalan-jalan di goa lalay, Laguna Pari menjadi destinasi selanjutnya. Melewati pemukiman penduduk, kami juga lagi-lagi melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu untuk menyebrang.


Pada awal perjalanan, jalanan menuju lagoon pari masih terlihat biasa seperti layaknya jalanan pemukiman warga di perkampungan. Lalu selepas dari jembatan, kami dihadapkan pada dua jalan berbeda, lurus dan menanjak.. Karena tidak ada petunjuk jalan, kamipun bertanya pada seorang ibu disana dan ternyata jalan yang harus kami tempuh ke arah atas. Dan dari sini petualangan dimulai...


Medan jalanan yang berbatu memang sedikit membuat perjalanan menuju laguna pari ini terasa lebih melelahkan. Melewati sungai kecil, perbukitan, padang ilalang.. wow! cuma itu yang bisa saya katakan. Ini belum seberapa ketika selesai melewati padang ilalang, hamparan sawah yang menghijau berundak-undak membuat saya berdecak kagum. Ditengah jalanan seperti ini, pemandangan indah menjadi salah satu hiburan tersendiri memang.

Laguna Pari atau Lagoon Pari ini mempunyai letak yang dapat dikatakan cukup tersembunyi dan sulit dijangkau bahkan dengan kendaraan bermotor sekalipun. Medan jalan yang menanjak dan berbatu ini terlihat agak mengerikan untuk dilewati menggunakan motor, menurut saya. Walaupun saat disana, banyak juga jasa ojeg dan penduduk sekitar yang menggunakan motor sebagai alat transportasi menuju kemari. 







Pada turunan jalan terakhir, satu per satu wajah kuyu teman-teman mulai berubah sumringah.. Yap! Akhirnya kami sampai juga di Laguna Pari. Pemandangan pantainya memang sungguh indah. Laguna Pari ini mempunyai pantai landai yang dilengkapi dengan pasir putih yang halus. Jadi, nggak sia-sia deh perjalanan panjang kemari terbayar lunas. Pantas, seorang teman yang pernah ke Sawarna pernah bilang gini, 'Kalau ke Sawarna nggak ke Laguna Pari, nyesel deh!'

Jika dibandingkan Panitai Ciantir, Laguna Pari ini jauh lebih bersih dari sampah. Di pinggir pantai berjejer kapal-kapal nelayan yang pulang melaut. Pepohonan dan warung-warung penjual makanan juga tersedia disini, tapi dengan jumlah yang terbatas tentunya.





Melihat pemandangan indah dan bersih ini, akhirnya membuat saya dan teman-teman lain untuk bermain-main ombak. Ombak disini juga bisa dibilang cukup tinggi sih, maka dari itu saya dan beberapa teman lain juga membatasi diri saat bermain agar nggak terlalu jauh ke tengah. Sedang beberapa teman lain lebih memilih meneduh disebuah warung sambil menyaksikan keindahan yang satu ini. 

Ketika matahari hampir menuju puncaknya, kami memutuskan untuk segera bergegas ke penginapan, bersiap pulang. Oya, beberapa teman lain memilih untuk berjalan menyusuri pantai yang katanya adalah Karang Taraje. Melihat gambaran disana, rasanya Karang Taraje juga menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berlibur kemari. 







Perjalanan untuk kembali ke penginapan terasa dua kali lebih melelahkan memang, mengingat setelah bermain air seluruh badan kebasahan. Tapiiiiiiiiiiiii.... itu semua sungguh sepadan dengan keindahan yang bisa dinikmati di Laguna Pari ini. Wo hoooooo!

Happy Holiday,
agistianggi