Postingan

Workbook Prompt Day #01

Jika ditanya apa yang dipikirkan saat memikirkan uang, aku menyadari bahwa sering kali ada dialog kecil di dalam kepalaku yang berjalan otomatis. Bukan hanya sekedar tentang 'punya atau tidak punya', tetapi juga tentang apakah sesuatu itu layak dibeli, apakah harga yang dibayar sepadan, atau bahkan apakah keputusan yang diambil sudah tepat.  Setelah jalan, kami mencoba beberapa tempat makan, tetapi ternyata cukup ramai, bahkan ada yang waiting list. Tubuhku rasanya kurang nyaman jika harus mengantri panjang hanya untuk makan. Akhirnya kami memilih mencari tempat lain. Dalam perjalanan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, aku menyadari pikiranku terus bekerja membandingkan banyak hal—menu apa yang ingin dimakan, harga yang harus dibayar, dan apakah semuanya terasa worth-it atau justru sebaliknya. Ternyata, saat berhubungan dengan uang, tubuh dan pikiranku sering otomatis masuk ke mode “menghitung” dan “menimbang”. Ada bagian diriku yang ingin menikmati momen, tetapi ada ju...

Workbook Prompt Day #00

Ada satu fase dalam hidup di mana akhirnya aku sadar, ternyata lelah yang sering dirasakan bukan hanya karena pekerjaan menumpuk atau bahkan rutinitas sehari-hari. Ada rasa berat yang diam-diam tinggal di tubuh dan pikiran. Rasanya seperti selalu berjaga, selalu waspada, selalu takut kekurangan. Bahkan ketika sesuatu hal yang baik datang, aku sering kali tidak benar-benar bisa menikmatinya. Alih-alih merasa tenang saat menerima, aku justru merasa cemas, tidak enak hati, atau takut semua itu akan hilang. Dari situlah memutuskan ikut mencoba receiving therapy ini. Awalnya hanya penasaran. Benarkah tubuh dan pikiran kita bisa “diprogram ulang” untuk belajar menerima dengan lebih sehat? Tapi semakin mengenali diri sendiri, semakin sadar bahwa selama ini aku lebih terbiasa memberi daripada menerima. Aku terbiasa menguatkan diri, menahan semuanya sendiri, dan mengukur keamanan hidup dari seberapa keras aku bekerja atau seberapa banyak harus membahagiakan orang lain. Tanpa sadar, hubungan yan...

SELF-LOVE ISN'T SELFISH

You cannot truly love another until you know how to love yourself , katanya. Memperbaiki diri untuk diri sendiri, menjadi layak untuk dirinya sendiri dan menjadi sempurna versi diri sendiri bisa menjadi goals untuk mulai mencintai diri sendiri deh. Sekarang rasanya lagi ingin sekali mencoba hidup tanpa berekspektasi apapun sama siapapun... mencoba 'to be happy, you only need yourself', in a good way tentunya.  Salah satu cara untuk menemukan diri sendiri dalam versi terbaik adalah dengan cara mencintai diri sendiri. Dengan cara ini, kita akan menemukan hasil yang manis dari apa-apa yang sudah kita lakukan. Namun, terkadang untuk mencintai diri sendiri akan lebih sulit daripada mencintai orang lain. Banyak hal yang membuat kita tidak puas dengan apa yang terjadi dengan diri kita saat ini. Padahal mencintai diri sendiri sangat penting, seperti halnya menjalin hubungan baik dengan orang lain. Dengan mencintai diri sendiri kita dapat menerima keadaan dari diri kita yang sekarang ap...

SEBUAH REFLEKSI; MARAH, BUKAN MARAH-MARAH..

Marah adalah salah satu bentuk emosi. Ia alami, manusiawi dan suatu hal yang kadang nggak bisa kita hindari. Setiap orang pernah merasakan marah; ketika disakiti, tidak dipahami, dikecewakan atau saat keinginannya tidak berjalan sesuai dengan kenyataan, dan pasti masih banyak lagi alasan lainnya. Dalam konteks ini, marah bukan musuh. Itu justru sebuah sinyal—bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang merasa terusik, tidak sesuai atau bahkan membutuhkan perhatian.  Sama halnya kayak sedih, senang atau kecewa. Marah  kadang datang begitu aja, tanpa permisi, nggak hanya karena hal besar.. kadang hal sepele juga bisa jadi penyebabnya. Marah juga bagian dari sistem pertahanan diri.  Marah dan marah-marah itu dua hal yang berbeda, jauh, menurut saya. Kalau marah itu bentuk emosi, marah-marah lebih ke cara kita 'mengeluarkan' emosi tadi. Sebagai manusia yang pernah menyesal karena terbawa emosi, marah hingga marah-marah. Bisa jadi, di balik marah-marah ada akumulasi stress, rasa tid...

INNER PEACE

Ada satu hal yang sering kita kejar ke luar—validasi, pengakuan, kenyamanan—padahal sumber terkuatnya justru ada di dalam: inner peace. Inner peace bukan berarti hidup tanpa masalah sih menurutku, tapi justru sebaliknya.. hidup pasti tetap penuh dengan tantangan, rintangan, tapi kita punya ruang di dalam diri yang nggak ikut goyah setiap kali badai datang. Walaupun katanya badai pasti berlalu. (Berlalu lalang maksudnya? Ha!). Mungkin terdengar cukup klise ya, tapi kalau coba diperhatikan kalau lagi di dekat seseorang yang kelihatannya tenang, nggak banyak drama dan auranya.. adem? Rasanya tanpa dia harus ngomong banyak juga udah bikin nyaman.  Dulu saya suka berpikir dan mungkin lebih ke berharap ya, dimana lingkungan jadi lebih baik dulu; keluarga lebih pengertian, teman yang lebih supportif, kerjaan yang lebih ringan, dan hal-hal lainnya untuk bisa merasakan 'tenang'. Padahal, kalau nunggu semua itu bisa sesuai yang kita harapkan baru kita bisa tenang, bisa-bisa nggak akan pe...

Life Update!

Been so long! Ternyata benar kalau jadi anak, istri, ibu dan pekerja dalam satu waktu itu nggak segampang yang dilihat di konten-konten orang dimedia sosial. Seiring perjalanan saya sendiri berproses mengenal diri dan healing, i do a lot of works: belajar rutin journaling, ikut kelas meditasi, mencoba teknik bars, ikut macam-macam kelas untuk upgrade diri mulai dari seminar online hingga offline, hipnoterapi dan lain sejenisnya. Akhirnya saya bisa mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi sumber trauma dan hal-hal yang gampang membuat diri saya sendiri terluka. Salah satunya: ekspektasi . Ternyata mengatur ekspektasi akan keadaan hidup apalagi diri sendiri itu cukup challenging. Kadang sumber sakit hati, luka, dan pikiran-pikiran negatif di diri sendiri karena kita sendiri belum pintar untuk mengatur ekspektasi. Belajar manage ekspektasi ini padahal bisa melindungi diri kita sendiri, untuk tidak mengharapkan sesuatu yang berada diluar kendali kita. Jadi sekarang mari berfokus pada dir...

IDEALNYA, KATANYA.

Belakangan ini rasanya sering banget lihat dan dengar bahasan soal capaian ideal saat berusia sekian sekian. Kembali lagi sih, setiap cerita itu ibarat ada 2 sudut pandang berbeda, ada 2 mata koin yang arahnya tidak sama. Di satu sisi, bisa jadi bahasan demkian bertujuan buat menyemangati para pejuang-pejuang untuk tetap berusaha untuk menggapai mimpi atau pencapaian di usianya. Tapi disisi lainnya, justru nggak jarang rasanya bahsan ini malah bikin insecure dan jadi minder. Jika mau dirunut sih, dipikir-pikir, pencapaian apapun bentuknya itu.. merupakan rangkaian dari adanya satu kesempatan, kesadaran dalam membuat keputusan hingga upaya yang dijalankan untuk menuju capaian tersebut. Bicara soal kesempatan, pun tidak terlepas dari 'privillege' yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Ada yang punya keistimewaan dan banyak kesempatan dalam hidupnya untuk mendapatkan sesuatu tanpa berupaya keras, ada pula yang harus berjuang hanya untuk bisa mendapatkan satu kesempatan ema...