Postingan

SEBUAH REFLEKSI; MARAH, BUKAN MARAH-MARAH..

Marah adalah salah satu bentuk emosi. Ia alami, manusiawi dan suatu hal yang kadang nggak bisa kita hindari. Setiap orang pernah merasakan marah; ketika disakiti, tidak dipahami, dikecewakan atau saat keinginannya tidak berjalan sesuai dengan kenyataan, dan pasti masih banyak lagi alasan lainnya. Dalam konteks ini, marah bukan musuh. Itu justru sebuah sinyal—bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang merasa terusik, tidak sesuai atau bahkan membutuhkan perhatian.  Sama halnya kayak sedih, senang atau kecewa. Marah  kadang datang begitu aja, tanpa permisi, nggak hanya karena hal besar.. kadang hal sepele juga bisa jadi penyebabnya. Marah juga bagian dari sistem pertahanan diri.  Marah dan marah-marah itu dua hal yang berbeda, jauh, menurut saya. Kalau marah itu bentuk emosi, marah-marah lebih ke cara kita 'mengeluarkan' emosi tadi. Sebagai manusia yang pernah menyesal karena terbawa emosi, marah hingga marah-marah. Bisa jadi, di balik marah-marah ada akumulasi stress, rasa tid...

INNER PEACE

Ada satu hal yang sering kita kejar ke luar—validasi, pengakuan, kenyamanan—padahal sumber terkuatnya justru ada di dalam: inner peace. Inner peace bukan berarti hidup tanpa masalah sih menurutku, tapi justru sebaliknya.. hidup pasti tetap penuh dengan tantangan, rintangan, tapi kita punya ruang di dalam diri yang nggak ikut goyah setiap kali badai datang. Walaupun katanya badai pasti berlalu. (Berlalu lalang maksudnya? Ha!). Mungkin terdengar cukup klise ya, tapi kalau coba diperhatikan kalau lagi di dekat seseorang yang kelihatannya tenang, nggak banyak drama dan auranya.. adem? Rasanya tanpa dia harus ngomong banyak juga udah bikin nyaman.  Dulu saya suka berpikir dan mungkin lebih ke berharap ya, dimana lingkungan jadi lebih baik dulu; keluarga lebih pengertian, teman yang lebih supportif, kerjaan yang lebih ringan, dan hal-hal lainnya untuk bisa merasakan 'tenang'. Padahal, kalau nunggu semua itu bisa sesuai yang kita harapkan baru kita bisa tenang, bisa-bisa nggak akan pe...

Life Update!

Been so long! Ternyata benar kalau jadi anak, istri, ibu dan pekerja dalam satu waktu itu nggak segampang yang dilihat di konten-konten orang dimedia sosial. Seiring perjalanan saya sendiri berproses mengenal diri dan healing, i do a lot of works: belajar rutin journaling, ikut kelas meditasi, mencoba teknik bars, ikut macam-macam kelas untuk upgrade diri mulai dari seminar online hingga offline, hipnoterapi dan lain sejenisnya. Akhirnya saya bisa mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi sumber trauma dan hal-hal yang gampang membuat diri saya sendiri terluka. Salah satunya: ekspektasi . Ternyata mengatur ekspektasi akan keadaan hidup apalagi diri sendiri itu cukup challenging. Kadang sumber sakit hati, luka, dan pikiran-pikiran negatif di diri sendiri karena kita sendiri belum pintar untuk mengatur ekspektasi. Belajar manage ekspektasi ini padahal bisa melindungi diri kita sendiri, untuk tidak mengharapkan sesuatu yang berada diluar kendali kita. Jadi sekarang mari berfokus pada dir...

IDEALNYA, KATANYA.

Belakangan ini rasanya sering banget lihat dan dengar bahasan soal capaian ideal saat berusia sekian sekian. Kembali lagi sih, setiap cerita itu ibarat ada 2 sudut pandang berbeda, ada 2 mata koin yang arahnya tidak sama. Di satu sisi, bisa jadi bahasan demkian bertujuan buat menyemangati para pejuang-pejuang untuk tetap berusaha untuk menggapai mimpi atau pencapaian di usianya. Tapi disisi lainnya, justru nggak jarang rasanya bahsan ini malah bikin insecure dan jadi minder. Jika mau dirunut sih, dipikir-pikir, pencapaian apapun bentuknya itu.. merupakan rangkaian dari adanya satu kesempatan, kesadaran dalam membuat keputusan hingga upaya yang dijalankan untuk menuju capaian tersebut. Bicara soal kesempatan, pun tidak terlepas dari 'privillege' yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Ada yang punya keistimewaan dan banyak kesempatan dalam hidupnya untuk mendapatkan sesuatu tanpa berupaya keras, ada pula yang harus berjuang hanya untuk bisa mendapatkan satu kesempatan ema...

BELAJAR

Akhirnya baru menyadari bahwa sepertinya saya memang harus mulai menulis lagi, mungkin nggak akan lagi sama seperti dulu, tapi setidaknya dengan menulis bisa mengungkapkan pikiran ataupun perasaan yang sedang dirasakan saat ini. Menjadi orang tua itu proses pembelajaran yang sungguh amat panjang ternyata, belajarnya seumur hidup, tanggungjawabnya bahkan bisa dibawa sampai kita nggak ada lagi di dunia ini. Berat ya, ternyata. Menjadi orang tua itu sungguh nggak mudah, terlebih jika dipercayakan Allah anak dengan berkebutuhan khusus. Menjadi orangtua yang terus belajar dan berproses dalam mendampingi tumbuh kembangnya, belajar sabar ketika menghadapi anak yang sedang belajar untuk sabar, belajar untuk mengelola emosi ketika menghadapi anak yang sedang belajar mengelola emosinya, belajar untuk tenang sehingga anak pun bisa lebih tenang. Sulit? Iyaa.. Mendidik dan membesarkan anak jadi kewajiban saya karena sudah melahirkan dia. Anak saya tidak punya utang apa-apa pada saya, malah sebalikn...

EVERYONE HAS THEIR OWN STRUGGLES

Hallo, 2024! Sudah lama sekali ternyata..  Bingung mulai darimana.. Rasanya hidup lagi tidak baik-baik saja. Everyone has their own struggles, for sure. Kadang sering sampai berpikiran kok hidup saya gini amat ya, kok Allah tega sekali sama saya, kok harus saya yang dikasih cobaan seberat ini?! Katanya, Allah tidak membebani suatu masalah diluar kemampuan hamba-Nya. Tapi apa iya? Seringnya bergumam dalam hati. Sampai saat ini kok kayanya masih sering denial ya, padahal denial itu nggak bikin sembuh, justru sebaliknya bisa semakin memperparah perasaan. Semoga dibalik ujian ini, Allah kuatkan hati untuk bisa menerima semua ketetapanNya, Allah kuatkan pundak ini untuk bisa kuat menopang semua beban, dan semoga hatinya Allah lapangkan untuk ikhlas menjalani semuanya. Terlebih, semoga segera Allah beri jalan keluar dan kabulkan setiap harap dalam doa yang kami pinta kepadaNya.  Semoga Allah mudahkan kami orangtuanya untuk senantiasa diberi kemampuan, kesabaran, keikhlasan untuk me...

PERASAAN

Komunikasi masih jadi peer terbesar dalam menjalani hidup rasanya. Kenapa kok rasanya sulit banget untuk ngungkapin apa yang dirasa, apa yang dipikir, terlalu banyak nanti gimana kalau begini, nanti gimana kalau begitu.. capek gasih bergumul sama perasaan sendiri. Marah masih menjadi struggle tersendiri buat saya, sampai saat ini. Ketika marah saya lebih suka diam, terkadang takut salah ucap jika diungkapkan dan akhirnya berujung nyesel, terkadang diam juga dianggap biar nggak memperbesar masalah tapi jadi penyakit buat badan sendiri tanpa disadari dan akhirnya duaaar meledak karena terlalu lama dipendam. Pengen deh belajar sederhana.. jika ada sesuatu atau seseorang yang membuat saya marah dan kecewa, entah dia meminta maaf ataupun tidak, hati saya ikhlas untuk menerima.. ikhlas untuk memaafkan. Yang sudah ya sudah biar aja berlalu. Kalau Allah masih memberi kesempatan untuk melihat hari esok, Alhamdulillah. Belajar untuk living life to the fullest. Urusan besoknya seperti apa, Allah ...