25 Oktober 2015

Perjuangan Menapaki Tangga Menuju Blue Point Beach

[Masih] cerita solo-traveling di Bali beberapa waktu lalu. Selepas dari Pura Luhur Uluwatu, aku langsung menyetel GPS untuk menuju ke Pantai Pandawa yang katanya hanya sekitar 15 menit dari tempatku saat itu, katanya. Kenyataannya saat mulai berjalan sebuah papan petunjuk jalan membuat aku lagi lagi dibuat penasaran. 'Suluban Beach', tertulis. Saat hati dan pikiran nggak berjalan beriringan, jadilah tangan ini malah memacu kendaraan mengikuti arah jalanan itu. 

Hari itu jalanan cukup sepi. Aku bukan khawatir soal jalanan yang sepi, tapi lebih khawatir soal jalanan Bali yang sepi terus banyak anjing berkeliaran. Punya trauma tersendiri dengan hewan satu itu, jadi setiap kali lihat dijalanan bawaannya parno dan.. ngebut. Padahal sebetulnya kalau kitanya kalem sih nggak akan dikejar, katanya, ah katanya katanya mah bohong, buktinya aku udah masang muka kalem tetep aja dikejer sampai jerit-jerit dan diketawain orang. Kan sedih :(


Awalnya jalan cukup meragukan juga sih, terpikir buat kembali ke jalan yang 'benar' tapi nanggung. Jadilah, laju terus. Sampai diujung jalan aku nggak lihat ada tanda-tanda pantai malahan. Karena selama disana punya motto sejuta umat, 'Malu bertanya, tersesat di Bali'. Akhirnya tanya ke orang yang ada dipinggiran jalan situ dan taunya memang disitulah tempat parkir kendaraan. Jadi, dia bilang harus jalan dulu untuk sampai ke pantainya. Aku juga sempat bertanya sih, bagus nggak pantainya, kan nggak lucu aja gitu udah jalan jauh tapi -glek- kecewa sama pantainya. Untuk masuk ke kawasan pantai juga nggak bayar, cuma bayar parkir kendaraan aja 2 ribu rupiah.

Dan ternyata oooh ternyata, pantai Suluban ini lebih terkenal dengan nama Blue Point Beach ituloh. Pantai yang hits banget karena keindahannya. Nama pantainya memang pantai Suluban, tapi karena hotel Blue Point berada disitu jadi lebih terkenal dengan pantai Blue Point.

18 Oktober 2015

#MainSebentar; Piknik ke Pantai Tapak Antu

Dadakan! Mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan setiap kali jalan-jalan sama mereka ini. Sebetulnya nggak dadakan juga sih, biasanya buat rencana H-1 terus -lep- nggak ada kabar sama sekali dan tiba-tiba ngabarin nyuruh siap-siap haha kebiasaan. Dalam rangka ulang tahun salah seorang teman yang ngajak makan-makan di pantai, akhirnya Pantai Tapak Antu jadi tujuannya kali ini. Setelah beberapa kali gagal kemari karena satu dan lain hal, akhirnya rencana dadakan begini lah yang terealisasi.

Piknik kali ini juga bisa dibilang main terakhir sebelum akhirnya teman-teman melanjutkan kuliah tiap weekend. Dibilang sedih engga juga sih, dibilang seneng juga engga, bingung juga jelasinnya haha jadinya sekarang kami ini #kurangpiknik berhubung mayoritas mereka anak teknik yang lanjut kuliah lagi.



Lokasi pantai ini sebetulnya pernah aku lewati beberapa kali saat pertama kali ke Bangka dan nekat berkeliling cari tempat wisata sendirian ke arah Tanjung Gunung. Ah, jadi ingat pertama kali nyasar nyari Pantai Pasir Padi sampai ke Pelabuhan dan pasar ikan, pas sadar taunya petunjuk arah sebesar itu nggak terbaca baru sadar kebangetan banget memang.

Berada di perantauan yang benar-benar butuh 'effort', baik dalam segi materi, waktu dan berbagai hal lain, akhirnya bikin acara piknik gini jadi salah satu hiburan tersendiri. Kalau kata Amrina, 'Coba kalo nggak ada SK25 mungkin udah pada baper, cinlok dan nikah kali ya' hahaha iya, mungkin, bisa jadi. Dari pengalaman ditempat lama sampai saat ini sih aku belum pernah ngalamin baper apalagi sampai cinlok, jadi agak susah mendeskripsikannya.


7 Oktober 2015

Pura Luhur Uluwatu; Perjalanan ke Bagian Selatan Bali

Sesampainya di Pura Luhur Uluwatu ini aku tak henti senyum-senyum sendiri. Yeaaay, finally! Setelah perjuangan harap-harap-cemas karena jalanan yang rasanya nggak sampai-sampai juga setelah hampir satu jam. Pertama kali masuk kemari dikenakan biaya 2 ribu rupiah untuk parkir kendaraan. Sempat berputar-putar juga untuk cari parkiran, akhirnya memutuskan untuk parkir dekat pintu masuk supaya nggak kejauhan juga jalannya.

Untuk wisatawan domestik, pengunjung dikenakan biaya 15 ribu rupiah saja. Disana juga ada daftar tamu yang harus diisi tentang nama dan daerah asal. Oya, sebelum masuk juga diberi selendang, warnanya macam-macam ada ungu, kuning, dan beberapa warna lain yang harus dikenakan selama berada dalam Pura Luhur Uluwatu ini. Sempat berbincang sebentar, beliau bilang kalau kain sarung dan selendang berwarna kuning bernama selempot ini menyimbolkan penghormatan terhadap kesucian pura. Lebih dari itu, ia mengandung makna sebagai pengikat niat-niat buruk dalam jiwa. 


Pura ini katanya termasuk salah satu pura tertua di Bali. Terletak di bagian paling selatan pulau Bali, yang jalanannya berkelok-kelok dan sepi sekali saat aku menuju kemari. Lokasi pura ini sendiri terletak diatas batu tebing. Oya, dari informasi yang aku baca disana, katanya Uluwatu punya makna.. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu. Sesuai dengan tempat ini dimana posisinya seperti batu-batu saling bertindih yang berbentuk kepala bertengger diatasnya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...