25 September 2015

Rahasia Besar Dibalik Keindahan Pantai Pandawa Bali


Dari awal rencana mau pergi ke Bali, Pantai Pandawa jadi rekomendasi teman-teman harus jadi salah satu tempat yang dikunjungi. Dan perjalanan kemari sempat muter-muter (lagi), karena perhatian aku teralihkan salah satu papan petunjuk jalan menuju ke sebuah pura di daerah Kutuh. Dasar memang. Karena bingung juga nggak ketemu, akhirnya langsung setting arah menuju Pantai Pandawa, eeh taunya rutenya muter karena dari awal nggak nurut *sigh*.

Jalanan menuju kemari sebetulnya nggak sulit sih, cuma medan jalannya masih dalam tahap pembangunan gitu ya. Jalanannya masih berupa tanah merah dan batu kapur. Berhubung punya pengalaman buruk jatuh dari motor karena ngebut dijalanan berpasir, kali ini aku membawa motor dua kali lebih hati-hati, dua kali juga berdoa lebih sering supaya nggak terjadi hal yang nggak diinginkan hehe. Untungnya pengunjung juga terbilang sepi sekali, cuma ada satu dua kendaraan yang lalu lalang.

Ternyata pantai ini lebih dikenal sebagai pantai Kutuh oleh masyarakat sekitar. Aku sendiri sebetulnya bingung menggambarkan arah jalanan sini karena jalanan berliku dan jarang petunjuk arah. Viva la Google Maps! Untuk masuk kawasan Pantai Pandawan sendiri dikenakan biaya retribusi Rp. 2.000/ orang. Sebelum menuju pantai seolah membelah bukit kapur, aku teringat waktu jalur lingkar nagreg masih dalam tahap pembangunan rasanya. Nggak sama sih, tapi mirip-mirip lah ya..

22 September 2015

Garuda Wisnu Kencana, Juru Foto dan Dilema Selfie

Google Maps beberapa kali membuat aku kecewa *halah bahasanya* karena sempat membuat salah jalan sebelumnya. Kali ini juga awalnya sempat ragu ketika diarahkan ke jalan yang justru memasuki kawasan pemukiman penduduk. Sempat mau berbalik, tapi saat lihat beberapa kendaraan lain melalui jalan yang sama dengan arahan maps akhirnya aku menuruti mereka. 

Ketika jalanan mulai sepi, rumah hanya tinggal satu dua, dan sampai diujung jalan perumahan, deg.. kebun! Tapi maps tetep kekeuh nyuruh aku buat belok kiri nyusurin jalanan kebun itu haha akhirnya cuma bilang bismillah aja semoga nggak nyasar dan eh ternyata memang sampai di lokasi Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Sempat melewati Universitas Udayana juga sih, tapi lokasinya aneh juga ya nyenclok gitu tiap jurusannya dengan jarak yang lumayan jauh. Bener-bener kebangetan dah ini jalan pintasnya, ha!


Sampai di lokasi GWK aku memarkirkan kendaraan. Tempat ini sendiri berlokasi di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Bali Selatan, sekitar 15 km dari arah hotel tempat aku menginap di Kuta. Butuh waktu sekitar 10 menitan dari arah Tanjung Benoa untuk sampai kemari. Hari itu cukup sepi, mungkin karena weekdays juga sih ya dan mayoritas pengunjung didominasi bule. Oya, ada juga pasangan yang lagi foto prewed dari korea, niat pisan ya mau prewed aja sampai terbang ke Bali.


19 September 2015

Tanjung Benoa, Surganya Permainan Pantai!

Hari kedua aku berencana untuk mengitari bagian Selatan Bali. Selesai sarapan aku menyetel maps dari Kuta ke arah Tanjung Benoa. Setelah sebelumnya sempat browsing tentang parasailing, katanya di tempat inilah surganya permainan pantai berada. Namun karena ragu aku nggak jadi pesan tiket online walaupun tertera harga diskon yang lumayan besar. Bukan takut, cuma bingung aja nanti taro tas dan perabotan lainnya dimana, berhubung emang riweuh banget pula.

Pagi itu jalanan Kuta sampai arah Tol dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai cukup padat. Pertama, mungkin memang karena jam pergi kantor, kedua mengingat Bali udah jadi destinasi wisata yang populer sekali dan ketiga mungkin memang biasanya seperti itu hehe. Awalnya sempat ragu saat GPS memberi informasi untuk lurus terus sedangkan arahnya sendiri berbelok kiri lewat jalan Tol. Akhirnya nekat belok kiri masuk tol ngikutin para pengendara lain, rasanya excited banget pas masuk tol dengan pemandangan laut, kapal dan hutan mangrove bergantian sepanjang jalan. 

Sayangnya karena sendiri nggak berani untuk sekedar berhenti sebentar terus foto-foto, selain norak (haha!) karena namanya jalan tol, angin kencang juga jadi bikin agak was-was. Kalau diperhatikan juga ada banyak rambu yang dipasang untuk keamanan berkendara di jalan tol ini. Seperti "Dilarang Menarik Kendaraan di Jalan Tol', 'Dilarang Membawa Penumpang dalam Bak Terbuka', 'Hati-Hati Angin Kencang Dari Samping' dan beberapa rambu lain sepanjang jalan. 

Dan akhirnya.. Selamat Datang di Kawasan Tanjung Benoa!



18 September 2015

Suatu Sore, Sendiri, di Pantai Kuta Bali!

'Surfing yoh, mbak?!', tutur seseorang tiba-tiba menghampiri saat aku baru tiba di Pantai Kuta sore itu. Aku menggelengkan kepala dan tersenyum, sebuah cara halus untuk menolak tawarannya. Setelah check-in hotel siang itu, mandi dan bersiap akhirnya aku move-on dari tempat tidur untuk terus mulai mengitari daerah Kuta. Suara Mbak Google Maps jadi teman setiaku berjalan-jalan liburan kali ini. Jalanan Kuta yang terbilang sempit karena lalu lalangnya kendaraan, parkiran ditepian jalan dan bule yang hilir mudik berjalan.

Setelah melarikan diri dari orang itu, nggak lama kemudian ada dua orang lagi yang menghampiri dan menawarkan hal yang sama. Tapi kali ini beda, mereka nggak memaksa. 'Sendirian, mbak?', tanyanya. Aku meng-iya-kan. Siapa sangka dari pertanyaan usilnya membuat kami terlibat dalam percakapan panjang dan bagiku bermakna dalam. Mereka perantau, mencoba mencari nafkah dan secercah harapan di Bali dengan bekerja serabutan, jadi Tour Guide dadakan, memberi jasa sewa kendaraan, menjadi coach surfing dan aneka pekerjaan sejenis lainnya. Bang Erwin berasal dari Jakarta, sedang Kang Iki dari Sumedang. Mungkin karena sama-sama berasal dari Sunda percakapan itu bisa cukup panjang. Karena entah kenapa, walaupun berbincang dengan orang asing aku merasa aman.


Keduanya bilang baru mau 2 tahun merantau di Bali. Dan yang jadi pertanyaanku, kenapa harus Bali? Dan lagi keduanya menggeleng bersamaan. Ketika ada kemungkinan yang lebih baik saat tinggal di kota-kota besar lainnya, tapi mereka memilih Bali. Tanpa ada keluarga, tanpa ada teman yang keduanya kenal. Perkenalan mereka pun lucu, dari 'sok akrab' hingga akhirnya jadi partner bisnis dan teman seperjuangan. Dan saat itu keyakinan aku semakin bertambah besar bahwa di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan.

13 September 2015

Kisah Para Teman Petualang dari Bagian Barat Nusa Tenggara

Snorkeling || Photo by Azhar
Nafasku tersenggal saat membuka path dan instagram beberapa teman lama yang ternyata Tuhan tuntun untuk menetap menikmati indahnya Kepulauan Nusa Tenggara Barat sementara waktu karena alasan pekerjaan. Hobi traveling menantang mereka untuk menjelajah setiap sudut lekuk indah kepulauan ini. Belum habis rasanya rasa penasaranku akibat siaran berita di media cetak, elektronik dan kini racun itu kian ‘menggila’ di media sosial. Novel Tere Liye berjudul Sunset Bersama Rosie juga dengan suksesnya membuat imajinasiku membayangkan bagaimana keindahnya Lombok dan kawasan sekitarnya. Menikmati setiap petualangannya melalui cerita dan hasil bidikan kamera mereka membuat aku tertawan pesona, seolah aku membayangkan saat berada langsung disana. 

Pulau ini mempunyai aneka tempat indah yang siap memukau siapapun yang berkunjung. Para penikmat alam dari berbagai penjuru dunia lebih dulu menjadikannya tempat berlabuh sebelum akhirnya traveling juga merambah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Indonesia. Mereka menyingkap satu demi satu sudut wajah Nusa Tenggara Barat dan terus menambah informasi tempat destinasi baru yang jarang terjamah. Mereka mencoba menghalau mitos tentang tempat yang dulunya tak lebih dianggap sebagai tempat wisata dengan budget yang 'luar biasa' untuk direalisasikan menjadi destinasi liburan impian ala backpackeran. 

Wujud kecantikan yang ingin disimak pun bisa dipilih. Pemandangan elok pantai Kuta, berjalan santai di Tanjung Aan, snorkelingan di Gili Air, Gili Meno, Gili Sundak dan Gili Nanggu, Treking ke air terjung Sendang gila dan Tiu Kelep, belajar menenun di Sentra Tenun Sukarara atau mengunjungi Desa Sade (Sasak Ende) yang terkenal akan adat budayanya. Atau sekadar menyatur dengan alam di berbagai pantai yang tersebar di sepanjang pesisir pulaunya.

9 September 2015

The Story Begin From Here, Hello Bali!

Udara dingin Bandung pagi itu terasa dua kali lebih dingin dari biasanya. Perjalanan Bangka-Jakarta-Bandung malam sebelumnya masih terasa melelahkan dan baru sampai sekitar pukul 11 malam, belum lagi tidur yang terasa setengah sadar karena takut kesiangan bangun mengingat aku harus mengejar jadwal pesawat pagi menuju Bali. Sesampainya di Bandara Husein Sastranegara aku berpamitan pada Papa.

Saat berada di check-in counter aku sempat senyum-senyum sendiri membayangkan bahwa hari ini akhirnya datang juga. Mulai flashback di awal tahun lalu saat aku menuliskan Bali jadi salah satu tempat yang harus aku datangi tahun ini. Lalu entah bagaimana caranya Allah menuntun aku hingga hal ini bisa terwujud. Berawal dari iseng ikut sebuah kompetisi menulis di website harian Jabartoday, H-1 aku mengirimkan tulisan yang aku pikir sangat seadanya. Nothing to lose. Memang nggak banyak berharap, lagi pula hadiah utamanya tiket PP Bandung-Batam. Hingga akhirnya sebuah email masuk menginformasikan bahwa aku jadi pemenang utama dengan hadiah tiket PP Garuda Indonesia Bandung-Bali. Aku yakin ini bukan kebetulan sih, semua udah ada yang ngatur. Siapa yang nyangka hadiah utama yang dari awal diumumkan Batam-Bandung justru diganti Bandung-Bali. Ah, rasanya luar biasa senang sekali, bahkan lebih dari itu. 

Ini kali pertama aku solo-travelling. Sebetulnya salah seorang teman, Asti, awalnya berencana ikut bahkan sudah beli tiket kereta dari comal-Surabaya dan tiket pesawat Surabaya-Bali. Tapi, karena satu dan lain hal akhirnya dia batal pergi. Awalnya aku juga sempat ragu, berani nggak yah, nanti gimana yah, dan bla bla bla.. tapi inget lagi sih kalau kesempatan kadang nggak datang dua kali. Soooo, here we go and the story begin from here.



5 September 2015

Potongan-Potongan Kebahagiaan

Senyum menyambut kehadiranku sepulang berlibur dari Bali akhir Agustus lalu di Bandara Husein Sastranegara. Senyum Abah dan adik perempuan kesayanganku. Seperti biasa, adikku menciumku disetiap sudut wajah, dan aku selalu dibuat tertawa karenanya. Aku mengecup tangan papa, dan papa mengelus kepalaku lembut. 'Sehat, kak? Kok item banget', itu komentar pertama yang ia lontarkan saat melihatku. Ada senyum bahagia juga getir diantara keduanya. Aku hanya bisa tersenyum.

Sepanjang jalan aku berceloteh kesana-kemari menceritakan bagaimana keseruan solo-traveling di Bali selama 4 hari. Bagaimana keteledoranku meninggalkan tas di toilet bandara dan baru ingat saat keluar terminal, bagaimana aku bertemu Pak Made, bagaimana aku masih sering salah berbelok kiri dan kanan saat 'mbak google maps' menunjukkan arah, bagaimana aku bisa mendatangi begitu banyak tempat tanpa tau jalan selama disana, bagaimana aku berkenalan dengan orang pribumi juga bule-bule yang aku temui dan yang pasti bagaimana bisa aku bawa kardus sebesar itu sepulang dari sana hahaha!


Senyum mama jadi satu hal yang paling aku syukuri setibanya di rumah. Aku mencium tangan dan kedua pipinya. 'Selamat ulang tahun, ma! Selamat empat puluh lima ya', tuturku yang langsung disambut dengan todongan oleh-oleh dan hadiahnya. Walaupun kadang berselisih paham, nggak ada satuan apapun yang bisa menggambarkan betapa aku sayang padanya. Setiap kebahagiaan dan keberuntungan yang aku rasa adalah hasil dari kata dan juga doa yang terlontar dari bibirnya, dari setiap sholat dan sujudnya. Tidak ada surprise yang aku berikan memang, hanya menelponnya saat pagi hari untuk melantunkan doa dan harapan kedepannya, tapi murid-murid mengajinya yang memberikan kejutan, memberinya kue dan kado sebagai hadiah di hari dimana usianya bertambah. Dan dia terlihat begitu bahagia saat menceritakannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...