Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari Desember, 2015

Selamat Hari Ibu, Mama!

Mama, Ibu, Ummu, Selamat Hari Ibu..
Mama, ucapmu penawar segala resahku, setiap kata-mu adalah doa bagiku, dan doa-mu senantiasa menjadi pelindung keseharianku. Aku tak bisa memberikan gelimang harta untuk membalas, cukup hanya bakti dan taatku untuk menjaga hatimu selalu. Hanya doa untuk kesehatan dan keselamatanmu. Hanya doa untuk selalu Allah berikan bahagia dalam detik kehidupanmu. Hanya doa dalam setiap sujud dalam shalatku. Dalam setiap hela nafasku. Selalu. Itu saja.
Mama, terima kasih sudah menjadi teladan bagiku. Terima kasih sudah mengajarkan aku untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan. Terima kasih sudah memaafkan semua kesalahanku.
Mama, jangan pernah berhenti menyebut namaku dalam setiap doamu. Jangan pernah bosan mendengar segala keluh kesahku. Jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan jika aku melakukan kesalahan.
Mama, aku menyayangimu.
Sehat, panjang umur dan senantiasa bahagia selalu ya, Mama. 


Salam, Anakmu.


Ceking Terrace Bali; The Grass is Always Greener on The Other Side

The grass is always greener on the other side banget, sist? cieeee. Sayangnya ini bukan soal selimut, eh rumput tetangga yang konon lebih hijau, ha! Ceking Terrace berlokasi di Tegallalang, yang katanya dekat Ubud ini udah jadi salah satu di list where-to-go saat liburan di Bali kemarin. Dan memang walaupun pake acara drama bolak-balik dan kesasar nggak nyesel memang kemari. 
Perjalanan dari Kuta untuk list pertama memang untuk mengunjungi Sanctuary Sacred Monkey Forest yang berada di Ubud. Nahhh, setelah puas dari sana barulah saya mulai menyetel arah ke Ceking Terrace di Google Maps. Sayangnya setelah dicoba berkali-kali tidak muncul juga lokasi ini. Akhirnya mencoba bertanya ke masyarakat sekitar soal lokasi Ceking Terrace, dan masalah lain ternyata kebanyakan nggak tau tempat ini karena ada sebutannya desa ceking. Dang! Jadi, untuk akhirnya bisa sampai kemari saya mencoba menjelaskan rinci hingga akhirnya cari foto cekking terrace ini dari internet dan menunjukkannya, baru lah me…

Quarter Life Crisis..

Saya tersenyum geli sendiri menuliskan judul diatas, Quarter Life Crisis, haha! Bukan apa, agak sensitif, rasanya agak gimana gitu ya. Menjelang Quarter Life Crisis, soal tujuan hidup di seperempat abad kehidupan jadi semacam 'trending topic' bahkan dalam setiap obrolan ringan. Dalam kesempatan berdiskusi dengan beberapa orang teman sempat terbersit pertanyaan akankah kita benar-benar bekerja dan hidup sesuai passion kita, atau hanya memaksakan keadaan karena.. konon katanya hidup benar-benar kejam. Lebih kejam dari Ibu tiri apalagi Ibu Kota. Cie, alamak.
Kadang saya sering merasa kok sekarang ini rasanya sulit banget ya untuk menemukan sebuah keheningan. Things get so noisy. Semacam hiruk pikuk yang nggak berkesudahan. Dulu rasanya biasa aja tiduran di kamar sambil denger siaran radio lokal atau puter kaset pita -pada jamannya- tanpa sibuk sama gadget. Gitu aja udah terasa sangat menyenangkan. Sekarang? Adiksi terhadap sosmed di era digital ini bikin keheningan jadi semacam …