28 Oktober 2016

ALTERNATIF

Setelah menimbang beberapa opsi tempat yang ingin saya datangi selama cuti untuk sekedar mencari kesunyian, hal yang mungkin lebih kamu kenal sebagai liburan, piknik, pelesir atau apapun itu namanya. Tetapi bagaimanapun, manusia memang adalah makhluk yang aneh kan? Kebanyakan kita menghabiskan banyak uang berlibur untuk mencari ketenangan, tetapi pergi ke tempat-tempat ramai. Saya salah satu diantaranya.

Pada suatu pagi yang dingin di kota Bandung pertengahan bulan Oktober, tidak seperti biasanya, saya terbangun karena suara alarm yang berisik dari handphone, di rumah. Adalah entah hobi atau kebiasaan, bukannya bergegas bangun lantas mengambil air wudhu untuk sholat subuh, hal pertama yang dilakukan -yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan- adalah mengecek notifikasi handphone. Bad habit, actually.

pic source: pinterest
Bandung sedang kurang bersahabat menurut saya. Selain diguyur hujan hampir setiap harinya, macet dan banjir rasanya jadi sajian sehari-hari sekarang. Andai rumah saya tidak berada di Bandung, mungkin akan dua tiga kali berpikir untuk kemari. Jadi, selama hampir 10 hari pulang, hampir 70% waktu lebih sering saya habiskan dirumah, sesekali jalan-jalan dengan keluarga dan beberapa teman dekat juga atau bahkan sendirian. Sempat juga beberapa kali menghabiskan waktu disebuah kedai kopi yang-tidak-perlu-saya-sebutkan-namanya selama beberapa jam, karena harus menyelesaikan beberapa hal terkait 'pekerjaan'. Dan berakhir dengan 3 porsi french fries dan 2 gelas milk tea.

5 Oktober 2016

RINDU PERJALANAN

Source: Pinterest

Ada sesuatu dari perjalanan yang membuat saya merasa terus jatuh cinta. 

Lagi.

...dan lagi.

Tidak dapat disebutkan secara jelas. Tapi, menikmati perasaan saat menatap jalanan, berlari santai atau berjalan kencang, mencoba hal-hal baru, atau sekedar berkelakar dengan penduduk lokal mungkin adalah beberapa hal yang dapat saya sebutkan serta paling dirindukan.

Sudah hampir 10 tahun saya jatuh cinta dengan dunia tulis menulis. Sejak saya masih menggunakan seragam putih abu. Menjadi jurnalis sekolah ala kadarnya. 

Saya punya rahasia besar, dulu, saya pernah bercita jadi travel journalist, profesi yang saya yakini adalah salah satu profesi paling menyenangkan sedunia. Wara-wiri ke berbagai pelosok Nusantara bahkan aneka penjuru dunia. Berbagi kisah suka duka selama perjalanan. Dan aneka pengalaman yang hanya didapat dengan melakukan perjalanan.

Selain perjalanan ke Yogyakarta bersama Sang Adik tersayang beberapa bulan lalu, Bali mungkin jadi kali terakhir saya benar-benar 'jalan-jalan'. Sendirian.

Saya rindu travelling. 

Travelling yang benar-benar travelling.

1 Oktober 2016

MENDADAK DI UJUNG GENTENG


Saya bersorak sorai ketika dari kejauhan melihat birunya lautan, padahal notabene setiap saat dikelilingi pantai. Disusul kemudian kedua teman saya membuka kaca mobil. Sayup-sayup suara ombak pantai terdengar semakin jelas; kami berhenti di salah satu sisi pantai. Rasanya ingin berlarian ke tengah, bermain air seharian. Byur!

Saat pertama masuk ke lokasi ini, seorang penjaga memberikan kami semacam peta lokasi yang berisi spot-spot pantai yang bisa dikunjungi disana. Holiday by accident, karena dari awal pergi kami sama sekali tidak ada niatan untuk berkunjung, apalagi saya yang pada saat perjalanan dari Jakarta Bandung baru mengetahui kalau lokasi nikahan teman itu ternyata berjarak kurang lebih 6 jam perjalanan dari Bandung, paling cepat. Semacam jreng-jreng-moment, mau dicancel sudah setengah jalan, mau dilanjut sudah pasti badan rasanya babak belur.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...