27 Juni 2016

[BOOK REVIEW] SABTU BERSAMA BAPAK



Judul Buku   : Sabtu Bersama Bapak 
Author          : Adithya Mulya
Penerbit        : Gagas Media

Finally! Itu satu kata yang akhirnya saya ucapkan saat menutup lembar terakhir novel ini. Sekitar tahun 2014 lalu, saat tengah berada di Palembang saya sempat membeli buku ini dan baru setengah jalan entah bagaimana caranya ia tertinggal di Udiklat. Sedih. Sempat terlupakan juga sih memang, tapi saat mulai ramai gembar-gembor soal buku ini yang difilmkan rasa penasaran saya muncul lagi dan berakhir manis antri di kasir Gramedia. Sekalian spoiler aja niatnya.

Dalam buku ini dikisahkan tentang bagaimana persiapan seorang Bapak, Pak Gunawan, mempersiapkan 'pendidikan' anak-anaknya kelak yang saat itu masih sangat kecil hingga dewasa ditengah pertempurannya dengan penyakit kanker. Melalui rekaman-rekaman video yang direkamnya, ia ingin tetap menjadi seorang Ayah yang baik dengan mendidik anaknya walaupun dengan cara yang sedikit berbeda. Selanjutnya, Sang Istri, Ibu Itje, yang juga mengidap kanker, sepeninggalnya suami harus berjuang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Dan pelajaran pun dimulai. Setiap Sabtu kedua anaknya, Satya dan Cakra, menonton video yang sudah direkam Bapak sesuai dengan jadwal dan waktunya.

Serius? Ah, nggak juga. Tapi syarat makna sekali ceritanya. Banyak pesan yang secara tidak langsung diselipkan, bahkan didalam lelucon-leluconnya. Dari mulai senyum-senyum, berkaca-kaca sampai tertawa setidaknya saya rasakan saat membaca novel ini. Seperti biasa, catatan-catatan kaki pada beberapa lembar cerita saja sudah bisa bikin pembaca senyum sendiri, terlebih lagi lelucon obrolan-obrolan teman sekantornya Cakra. Uh, gemas.

26 Juni 2016

HUJAN KALI KEDUA


Illustration from here
Satu hari di bulan Juni...


Percaya tidak?

Hujan dan sebuah pesan "Kamu apa kabar?" bisa mengacaukan segalanya.

Percaya tidak?

Segalanya bisa berarti perjuangan melupakan, gerakan move on, janji atau apalah saja katanya. Yang pasti segalanya disini berkaitan dengan apapun perkara cinta. Tapi, aku masih tidak percaya. 

***

Dulu, aku percaya hujan itu romantis.

Tapi, dulu..

Dulu.



25 Juni 2016

LEBARAN DENGAN GAYA, HIJABENKA & BERRYBENKA SAJA!

Idul fitri atau kerap kita disebut dengan lebaran adalah salah satu momen penting bagi semua umat islam di dunia, Hari Kemenangan. Semua Umat Islam umumnya merayakan hari raya ini dengan penuh suka cita. Dengan momen saling memaafkan kesalahan maupun dosa-dosa yang telah di perbuat satu sama lain. Lebaran juga menjadi suatu pertemuan untuk ajang silahturahmi untuk semua umat muslim, setelah melangsungkan ibadah puasa selama 30 hari lamanya di bulan Suci Ramadhan. *sungkem* 

pic source here
Ritual Idul Fitri di berbagai negara berbeda-beda. Untuk di Indonesia sendiri, setidaknya menurut pengamatan dan pengalaman pribadi, lebaran artinya berburu tiket mudik ke kampung halaman dan tentu saja baju lebaran! Yuhuuuuw~ Lagi pula, wanita mana sih yang nggak doyan belanja? ehehehe. Entah kenapa tradisi ini semacam menjadi adat budaya Indonesia setiap kali Lebaran tiba ya. Lebaran mejadi hari dimana semua orang mudik ke kampung halaman, bersilaturahmi, dengan memakai baju baru, juga tidak lepas dari hidangan ketupat, rendang dan opor ayamnya. 

Bicara soal baju lebaran, aneka toko offline maupun online saat ini sedang 'kebanjiran order' mengingat euforia lebaran yang hanya tinggal menghitung hari saja loh. Tengok saja aneka pusat perbelajaan saat ini, pasti tengah penuh sesak dengan masyarakat yang bersukacita hendak berbelanja perlengkapan demi merayakan Hari Raya.

23 Juni 2016

DENGAR, CUKUP DENGARKAN SAJA...

Hari ini saya awali dengan membuka mata karena terkejut dengan alarm handphone yang memang saya pasang dengan volume paling kuat, sedetik kemudian saya lanjutkan dengan membaca doa yang diajari Mama sedari balita. Selepas dua rakaat dipenghujung malam saya teringat untuk menghangatkan sisa masakan kemarin untuk sahur. Dan saat menulis ini saya sedang menikmati detik-detik menjelang imsak ditemani lantunan lagu dari playlist yang sengaja saya putar.

Beberapa waktu ini saya merasa cuaca kurang bersahabat atau mungkin saja badan saya yang sedang rentan. Sudah hampir dua bulan ini rasanya sakit saya tidak berkesudahan walaupun kumatnya angin-anginan. Dan kalau sudah begini rasanya selalu mellow ingat rumah lalu tiap akhir pekan ingin pulang *gaya :| 

Let Allah surprise you, adalah kalimat yang selalu saya tanamkan dalam hati ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maupun hal baik sekalipun. Ya gitu, apapun itu memang jangan pernah mendahului ketentuanNya. Terkadang memang kita sendiri perlu jeda, untuk menunda asumsi, untuk berhenti banyak berprasangka, intinya Allah knows best, itu aja. 

Kabar burung belakangan ini juga rasanya sedikit banyak membuat saya risau. Padahal, risau perkara esok bisa makan atau tidak saja sudah lebih cukup untuk menghina Allah yang sudah menetapkan perkara rezeki, apalagi hal yang lainnya kan? Jadi saat ini doanya sederhana, 'jika memang urusan ini baik bagiku, maka berkahilah, lancarkanlah, permudahlah. Tapi jika urusan ini justru tidak baik bagiku, maka semoga Allah dapat menjadikan aku agar mampu menerima ketentuanNya'. Sederhana. Jadi ingat pernah membaca suatu tulisan yang intinya adalah ketika cinta pada Allah di atas segalanya, maka jika hal lain datang menyakitkan Allah akan selalu ada untuk menyangga. Jadi kali ini saya hanya berharap didengar. Dengar, cukup dengarkan saja.


20 Juni 2016

HIII, MENGINTIP TEMPAT MANDI PUTRI DI TAMANSARI YOGYAKARTA!

Yogyakarta memang akan selalu menjadi destinasi liburan dan tempat menghabiskan akhir pekan yang mengasyikkan, setidaknya bagi saya. Selain berburu kuliner, kita juga bisa melihat tempat mandi putri keraton loh. Berkunjung ke Keraton Yogyakarta tidak lengkap rasanya kalau tidak berkunjung ke situs pemandian putri raja. Tempat ini bernama Taman Sari atau sering disebut Istana Air.

Setelah kali kelima berlibur ke Yogyakarta akhirnya saya berkesempatan untuk bisa mengunjungi tempat ini. Bangunan Taman Sari ini memiliki luas sekitar 10 hektar, terdiri dari lorong-lorong air dan kolam pemandian. Terletak di tengah pemukiman warga, Taman Sari dapat diakses dengan bebas oleh pengunjung untuk bagian lorongnya. Namun, kita harus membayar untuk masuk ke bagian kolam dengan biaya 8 ribu rupiah per orang.



Saat kemari saya dan Uwen sempat tersasar dipemukiman warga setelah memilih masuk melalui kawasan pasar, sehingga akhirnya disarankan untuk berjalan memutar oleh salah seorang petugas disana. 

Nah, selain itu di pintu gerbang pemandian terdapat 4 tempat yang sepertinya dianggap sakral karena adanya sesajen di setiap kamar. Para pengunjung juga bisa naik ke atas menara pintu masuk untuk melihat sekeliling area Taman Sari. Didalam kita juga bisa menemukan 4 pondokan yang mirip rumah kecil pada masa itu. Disana juga terdapat kolam dengan air berwarna toska dipadukan dengan bangunan tua yang berdiri kokoh. Oya, terdapat dua kolam di bangunan ini.

17 Juni 2016

HOTEL, SIMPANG LIMA DAN KEMBALI YOGYAKARTA

Masih soal Yogyakarta dan aneka pengalaman traveling sama anak kecil kesayangan satu itu. Selepas memesan tiket kereta api, hal pertama yang saya pikirkan adalah tempat menginap dan seperti biasanya didepan layar komputer jari saya langsung menari menuliskan www.traveloka.com lalu memilih Hotel dengan kata kunci Yogyakarta yang beberapa saat kemudian langsung berderet aneka pilihan hotel yang bisa dipilih.

Berhubung saat itu traveling dengan Uwen, hal pertama yang saya pikirkan soal penginapan adalah harus ada kolam renang, mengingat dia yang hobby sekali main air. Setelah mencari beberapa informasi dari referensi hotel di Traveloka, akhirnya saya dapat satu hotel dengan fasilitas yang lumayan dengan harga yang cukup terjangkau.

Hotel Cantya jadi pilihan saat itu. Setelah melakukan serangkaian proses mengisi data diri di website Traveloka dan membayar biaya, tidak sampai 5 menit kemudian e-tiket sudah mendarat di email saya ...and here we goooo, Yogyakartaaaaa!

8 Juni 2016

MUSEUM BENTENG VREDEBURG; MENGENALKAN SEJARAH REPUBLIK INDONESIA


Siang itu udara menunjukan temperatur luar biasa. Panas terik sinar matahari nyatanya tidak membuat anak kecil disamping saya merengek kepanasan atau ingin pulang, malah dia terus ingin jalan-jalan. Selepas dari Taman Pintar, kami melipir sebentar untuk masuk ke dalam Museum Benteng Vredeburg yang lokasinya sangat dekat.

Sebuah pagar kuno khas bangunan Belanda menyambut kedatangan kami dengan kokohnya seakan ingin menunjukan betapa kuat dan terawatnya bagunan ini.  Museum Benteng Vredeburg ini merupakan bagunan peninggalan Belanda yang saat ini dipugar sesuai bentuk aslinya. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. Aneka koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Dulunya, benteng ini dibangun jaman Pemerintahan Belanda untuk memudahkan dalam mengawasi dan mengontrol setiap aktifitas yang terjadi dalam Kraton Yogyakarta. Seiring dengan berjalannya waktu benteng ini mengalami begitu banyak perubahan dari segi fungsi tempat hingga beberapa renovasi hingga kini beralih menjadi museum. Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilesarikan. Akan tetapi walaupun dilakukan renovasi pada bentuk luar masih tetap dipertahankan sedang dibagian dalam disesuaikan dengan fungsinya sebagai ruangan museum.

5 Juni 2016

TAMAN PINTAR YOGYAKARTA; BELAJAR DARI A SAMPAI Z!

Hari kedua di Yogyakarta, saya sempat bingung hendak kemana sebetulnya.. setelah mencari informasi dari berbagai sumber dan bertanya pendapat dari beberapa teman yang memang notabene orang Yogyakarta, akhirnya didapatlah rekomendasi 'Taman Pintar' untuk kami kunjungi hari itu. Dari informasi google maps, jarak dari Borobudur Hotel tempat kami menginap menuju ke lokasi tersebut hanya sekitar 15 menit saja.

Perjalanan pagi hari itu diawali dengan cari sarapan yang agak mainstream, ayam KFC request sang anak kecil. Jalanan yang cukup padat hari itu membuat waktu perjalanan sedikit agak lama dari yang diperkirakan. Dari arah Malioboro kami berbelok ke sebelah kiri, dan tidak jauh dari perempatan jalan terlihatlah tanda lokasi Taman Pintar tersebut. 


Taman Pintar adalah salah satu lokasi eduwisata yang paling banyak dikunjungi di Yogyakarta. Pada bangunannya sendiri lebih menampilkan nuansa modern sekaligus ada unsur tradisionalnya. Tempat ini juga menyediakan sarana pembelajaran sains dan memang mayoritasnya adalah pelajar seumuran TK sampai dengan SMP, tidak hanya itu sih banyak juga orang dewasa yang turut menjadi pengunjungnya.

Dengan membayar biaya masuk seharga 18 ribu rupiah untuk orang dewasa dan 10 ribu rupiah untuk anak-anak, masuklah kami ke dalam lokasi Taman Pintar. Para pengunjung yang masuk dapat langsung mencoba dan menyaksikan hasil karya inovasi dan teknologi yang bermuatan edukasi. Disini para pengunjung, terutama anak-anak, dirangsang untuk dapat memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta kreterhadap iptek.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...