31 Juli 2013

Cinta Luar Biasa di Sebuah Sekolah Luar Biasa

Sewaktu kecil saya punya sejuta impian. Ketika ada yang bertanya mau jadi apa kelak saat dewasa, di satu waktu saya akan dengan mantap menjawab dokter, di waktu lain saya akan menjawab aktris, selanjutnya polisi wanita, guru, designer dan lain-lain-lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, seiring bertambah usia dan berkembangnya pola pikir seseorang, maka impiannya pun akan berubah-ubah. Begitu juga saya.

Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, bagi saya guru adalah orang tua kedua disekolah. Bahkan terkadang saya lebih sering menuruti apa yang diperintahkan atau disarankan oleh ibu dan bapak guru daripada orangtua sendiri. Guru mempunyai tempat tersendiri di hati para muridnya. Seorang guru yang baik dapat membangun dirinya untuk dapat mendidik, menginspirasi, menggerakkan anak didiknya untuk mengubah diri mereka menjadi jauh lebih baik.
 

Lebih jauh, perilaku seorang guru kerap kali dijadikan panutan bagi anak-anak didiknya. Karena tanggung jawab seorang guru bukanlah sekadar menjelaskan subyek atau materi pelajaran, selain memberikan contoh sikap, ia juga harus menunjukkan kepada para anak didiknya bahwa kemauan untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan potensi diri. 

Seiring berjalannya waktu, beberapa waktu lalu sebuah mata kuliah menuntun saya untuk sedikit mencicipi bagaimana rasanya menjadi seorang guru. Bukan guru biasa, melainkan menjadi seorang guru untuk anak-anak luar biasa di sebuah sekolah yang juga luar biasa. Dan dari sana saya belajar bahwa menjadi guru itu tidak mudah, diperlukan suatu usaha dan kerja keras untuk mencapainya..

Sebuah bangunan sederhana dibangun diatas sebidang tanah yang berukuran cukup luas untuk para siswa bermain-main sesuka hatinya, walaupun lokasinya agak terpencil—Sekolah Luar Biasa di daerah Sarijadi, Bandung. 


Sebelumnya, setiap hari, baik itu saat akan berangkat ke kampus maupun pulang, saya selalu melewati tempat ini. Tempat yang kerap kali menarik perhatian saya, juga mungkin setiap orang yang lalu lalang melewatinya. Tempat dimana ada sekelompok anak ‘tidak biasa’, walaupun beberapa diantaranya tidak pantas untuk disebut anak-anak jika melihat wajah dan tekstur tubuhnya. Mereka berkumpul dan bermain dengan senang riang. 



Saat itu saya kerap bertanya-tanya sendiri sebetulnya seperti apasih anak-anak ini, dan akhirnya mata kuliah ini mengiring saya untuk menuntaskan rasa penasaran yang menggelayuti pikiran dan hati saya. Saya diharuskan untuk bekerja secara sukarela selama 6 bulan penuh dihari libur bersama tiga teman lainnya. Dan secara kebetulan, tempat ini yang diarahkan Tuhan untuk saya. Ya, sekolah ini. :)

*** 

28 Juli 2013

Kenapa Kita?

“Kenapa kita harus saling menasehati? Jawabannya bukan karena kita sudah bijak pol, sudah keren maksimal menjalani hidup ini jadi pantas memberi nasehat. Tapi karena justru kita sering mengalami masalah, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika orang-orang pergi, tidak peduli, tidak ada yang membesarkan semangat dengan satu dua potong kalimat baik penuh hikmah.

Kenapa kita harus menolong orang lain? Bukan karena kita ini sudah jadi superman, sudah jago menolong siapapun. Melainkan, karena justru kita pernah mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika tiada yang bersedia menolong.
Dan terakhir, kenapa kita harus senantiasa memberi? Jawabannya juga bukan karena kita ini sudah kaya raya, punya segalanya, bukan karena itu. Melainkan, karena kita pernah tidak punya apa-apa, dan kita tahu rasanya tidak memiliki apapun.
Inilah sajak kenapa kita. Sungguh beruntung orang-orang yang paham.”
-Tere-liye


27 Juli 2013

Sahur on The Road; Ketika Semua Orang Menjadi Master Chef

Ini kali ketiga saya melakukan sahur on the road di bulan Ramadhan sama keluarga dan ngg..teman tersayang haha. Dari sekian banyak hal yang bikin kangen di bulan yang penuh berkah ini, kayak sahur, buka puasa bersama, sholat tarawih (walaupun bolong-bolong, hiiiii), jadi ajang reuni sama teman lama ....bagi saya sahur on the road ini juga sangat sangat berkesan dan ingin selalu diulang. Kenapa? Karena seisi rumah mendadak jadi Master Chef, hihi.

Jadi, sebagai salah satu ungkapan syukur, kami menyisihkan sekian persen pendapatan untuk berbagi dengan orang lain. Berhubung dana yang dikumpulkan terbatas, sedangkan jika kami memesan makanan ditempat-tempat makan jumlahnya akan sangat terbatas. Akhirnya saya dan mama menyiasatinya dengan memasak makanan sendiri, packing sendiri, dan lain sebagainya sendiri. Lalu, seisi rumah berubah menjadi Master Chef. Bahkan sampai adik saya paling kecil, Aurellia yang usianya belum genap 4 tahun, pun ikut ngerecokin masak-masak. Dia hobby bikin kue, di tab. Krik krik. Anak jaman sekarang..

Perjalanan dimulai dari berbelanja bahan-bahan apa yang akan kami masak nanti. Berbelanja di pasar dengan aneka jenis bau, mulai dari ikan, daging, sayur, belum lagi abang-abang jualan baju, kaos, semua campur aduk jadi satu. Berhubung si kecil paling anti sama pasar soalnya suka riweuh sendirian, akhirnya dia ditinggal dirumah aja biar nggak rewel (walaupun udahnya rewel juga telponin karena nggak diajak) Ish, uwen!

24 Juli 2013

[DIY] Membuat Kalung dari Material Bekas

Dalam rangka bingung-mau-ngapain-dari-pada-bengong, minggu lalu saya akhirnya mulai ngubek-ngubek lagi isi box. Kemarin-kemarin, sebelumnya sempet kerajinan bikin bros tiap minggu, eeh kesininya lupa aja gitu. Berhubung bulan puasa dilarang bengong, apalagi stalking timeline mantan (ups!), terlebih lagi searching baju online shop yang berakhir penyesalan karena kalap *astagfirulloh* *cek mutasi rekening* *kemudian nangis gugulitikan* it's a big no! saya rasa bikin kerajinan tangan kayak gini bisa sedikit membuat waktu-waktu saya terpakai nggak percuma. Horaaaaaaaay!


Berhubung saya tipikal orang yang suka berpikir dua kali saat mau buang barang-barang yang nggak terpakai, jadilah dirumah dan dikosan numpuk box-box yang isinya beginian. Kadang ada sisa kain bekas, sisa pita, pin-pin kecil, bahkan sampai mainan adik saya yang paling kecil juga sering saya daur ulang jadi benda-beda ajaib. Kadang tiba-tiba jadi tempelan dinding, kadang tiba-tiba jadi gantungan kunci, kadang tiba-tiba jadi baju barbie, kadang.. Cuma sekedar menyalurkan hobi sih, menghabiskan waktu saya yang sangat sangat luang di hari sabtu atau minggu :)

[Book Review] Milana, Karya Bernard Batubara

Judul Buku: Milana
Pengarang: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Ilustrasi Sampul dan Isi: Lala Bohang
Tebal: 192 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Karena penasaran sering sekali baca review kumcer ini, saya akhirnya memesan lewat @bukabuku. Dan ya, saya terkesan sepanjang perjalanan membaca cerpen-cerpen karya Bara yang satu ini. Meskipun nggak semua cerpen dalam kumcer Milana: Perempuan Yang Menunggu Senja ini bermuatan kesedihan, tapi banyak kesedihan yang bisa dikumpulkan selama pembacaan dengan gaya bercerita yang berbeda-beda. Cinta adalah faktor penyebab kesedihan terbesar, tapi bukan satu-satunya.

Dalam cerpen berjudul 'Milana' yang kemudian namanya menjadi judul buku ini. Cerpen ini sebenarnya sudah pernah saya baca di blognya bara dengan judul 'Senja di Jembrana' tapi katanya untuk keperluan buku ini judul diganti. Bara menceritakan 2 tokoh dengan apik, pecinta senja melalui lukisan dan fotografi. Milana selalu menaiki feri yang menyebrangi Selat Bali, dari Banyuwangi menuju Jembrana hanya untuk memindahkan senja ke atas kanvas untuk menunggu seseorang, Are, seorang travel phographer yang menyukai senja dan menjebaknya dalam lensa kamera. Tapi dua tahun telah berlalu, hanya Milana sendiri yang merekam senja dan menunggu sambil meyakinkan dirinya bahwa Are pasti akan datang, karena Are sudah tiada.. "Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Untuk mendengar sebuah "Halo, ini aku, sudah pulang." (hlm. 175). Milana adalah sebuah cerpen yang indah, melenakan, dan membuat sedih.

Beberapa cerpen, entah sengaja atau tidak, mengandung unsur mistis yang menurut saya tidak terlihat dipaksakan. Mengalir, dan itu susah sekali saat saya coba. Cerpen Tikungan, Jung dan Cermin cukup membuat yang membaca penasaran dan menunggu-nunggu akhir dari misteri cerita dibaliknya. Tikungan mengisahkan tentang tikungan misterius di sebuah kompleks pemukiman. Tikungan itu banyak mendatangkan masalah dan menyebabkan sejumlah kecelakaan. Apa sebenarnya yang salah dengan tikungan itu? Setelah kecemasan demi kecemasan yang melanda penduduk kompleks pemukiman, kita akan dibuat tersenyum oleh pengungkapan identitas sumber masalah itu.


19 Juli 2013

Hujan Jangan Marah..

Mereka memanggilku hujan, entah siapa yang pada awalnya memberiku nama begitu, karena aku tak punya orang tua. Ah, tapi apalah arti sebuah nama, mereka bilang. Hujan, nama yang cantik bukan? 

Bentukku kasat mata dan aku suka berkeliling dunia, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Disapu angin dari satu kota ke kota lainnya. 

Aku suka ketika anak-anak kecil menari denganku sambil bermain bola. Mereka terlihat sangat bahagia. Berguling di atas tanah dan rumput yang baru saja aku basahi. Berguling, berlari. Mereka tertawa. Mereka tampak bahagia.

Tapi sekarang..

Aku sedang berduka. Banyak yang menghina kedatanganku. Ketika intensitas kedatanganku meningkat, katanya banyak manusia yang jatuh sakit dan selalu aku yang disalahkan. Banyak yang mengeluh atas kehadiranku. Banyak yang menghinaku.

Aku sedang berduka. Aku sering mendengar manusia berkata, 'Ah, sial!' saat aku hendak menyapa kota mereka. Katanya aku sering merusak jadwal manusia yang sudah terencana, entah untuk bermain ataupun bekerja.

Aku sedang berduka. Banjir bandang, luapan sungai, semua bencana yang terjadi disinyalir karena aku yang terus-terusan datang. Padahal aku ingin membela diri, manusia lah yang tidak bisa menjaga lingkungan! Tapi aku hanya bisa diam.

Aku sedang berduka. Aku dibenci banyak orang. Para petani bawang, petani garam, perusahaan-perusahaan kontraktor, para tukang bangunan dan masih banyak lagi orang. Mereka bilang aku menganggu pekerjaan mereka.

Aku sedang berduka. Aku bahkan punya musuh sekarang, para pawang hujan. Mereka kerap kali berupaya keras agar tidak pernah turun hujan.

....Aku sedang berpikir keras. Bukankah aku merupakan rezeki bagi manusia? Itu yang dikatakan Tuhan.

Nyatanya banyak orang yang membenciku. Aku sangat sedih dan berduka. Aku bercerita pada Tuhan, dan meminta ijinnya untuk pergi lalu bersembunyi. Aku tak mau lagi bertemu dengan manusia..

***

15 Juli 2013

Passion [Not Fashion] Show

Berawal dari cerita seru sambil les bahasa inggris online dari cambridge-academy, saya dan seorang teman bercerita sedikit pengalaman temannya-teman yang pada akhirnya membuat saya lebih mengerti kenapa passion memang sudah seharusnya saya miliki. Saya cari, lalu saya kejar dengan pasti.

Jadi, dia cerita soal temannya yang mendapatkan beasiswa short-course selama 2 minggu di Belanda dari sebuah organisasi. Dia juga menunjukkan cerita-ceritanya dalam blognya, tapi nggak berani saya publish karena harus dapet perijinan dulu dari yang punya. Dari situ berlanjut deh malem ini saya tadi baca, ubek-ubek ceritanya satu per satu. Panggil saja dia teteh 'S'.

.....ceritanya, udah beberapa tahun terakhir S ngejar banyak beasiswa untuk bisa kuliah di Belanda, tapi semua applynya selalu berakhir dengan penolakan. Puluhan kali nerima email dari universitas yang menolak permohonan beasiswanya. Sedih? Dia bilang 'ya!'. Buat S, kuliah di luar negeri udah jadi mimpinya dari dulu. Berhubung satu dan lain hal yang nggak memungkin dia menggunakan uang pribadi, beasiswa jadi satu-satunya harapan untuk mewujudkan mimpinya yang satu ini.

Dalam ceritanya lagi, S yang berkali-kali kecewa tetap nggak mau putus asa. Dia cari tahu apa sih yang jadi kekurangannya; memperbaiki CV, personal statement, dan sampai ikut tes TOEFL lagi untuk terus bisa mencari peluang kesempatan merealisasikan mimpinya belajar di Belanda. Daaaaaaaan, hasil usahanya nggak sia-sia. Mungkin kesempatan untuk melanjutkan S2-nya di Belanda belum diizinkan sama yang Maha Punya, tapi dia mendapat kesempatan short-courses di kota yang sama dengan mimpinya. 'Mungkin belum waktunya, mungkin belum saatnya atau mungkin belum rezekinya. Tapi suatu saat pasti tercapai!', ujarnya.

But, I always believe that Allah is kind, and this, for whatever reason, was for the best.

14 Juli 2013

Suatu Pagi di Hari Minggu..

Lelaki itu berdiri didepan kaca. Ia tampak gagah menggunakan kemeja dan jas hitam. Dasi bermotif putih biru menambah kharismanya. Ia menyisir rambut putihnya agar terlihat rapi dan tampan. 
pic from here
          ”Abah mau kemana?” tanya seorang wanita. 

          “Ada jadwal ngajar hari ini, Bu. Nanti abah telat,” tuturnya bersemangat. 

Wanita itu merapikan dasi suaminya sambil tersenyum. “Lupa ya, ini kan hari minggu dan abah udah pensiun." 

         “Astaga.” 


Kontes Unggulan: Enam Puluh Tiga




12 Juli 2013

Pilihan? Atau?

Hallo, Hai!

Tiba-tiba kepikiran nulis soal ini, soalnya kemarin malam chat di Yahoo Messenger dengan seorang teman lama dan akhirnya ingat lagi kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu.

Teman saya yang satu ini non-islam, dia menganut agama Hindu. Kenalan dari suatu event menulis yang sama-sama kami ikuti beberapa tahun lalu. Sebetulnya udah lama juga sih saya nggak buka Y!M berhubung aneka macam free aplikasi kian menjamur, saya sendiri lebih prefer pakai whatsapp, bbm, gtalk sama line, makanya pas liat dia online langsung saya sapa. Dulu saat pertama kali kenalan saya belum pakai jilbab, nah kemarin dia liat saya udah pake jilbab, terus terjadilah suatu perbincangan panjang.. 

Teman: Cieeee jadi anak Hijabers?
Saya: Hah? Kagak. 
Teman: Kok pakai jilbab? Kan lebih cantik kalau nggak pake (*terbang*). Di Islam emang lagi musim ya pakai jilbab? Kan lagi rame tuh Hijabers-Hijabers. 
Saya: Bukan, ini bukan musiman, tapi ini perintah. Dalam agama saya, bagi setiap wanita yang sudah baligh wajib hukumnya menutup aurat. 
Teman: Lah terus yang lain gimana? Kan banyak banget di Indonesia yang bilangnya Islam tapi nggak pakai jilbab, dan fine-fine aja toh.
Saya: Iya memang banyak, tapi belum pakai aja kali. 
Teman: Kenapa? 
Saya: mmm.. ya itu kan pilihan masing-masing individu za. 
Teman: oh.. jadi bebas ya kita mau pakai atau enggak? kenapa kamu memilih untuk pake? 
Saya: eh, itu bukan pilihan sih, eh tapi gimana ya.. *mulai bingung sendiri*

11 Juli 2013

Buanglah Sampah pada Tempatnya, Lalu Ajak Temannya!



Pernah menonton film Wall-E?! Ituloh film yang bercerita soal sebuah robot penghancur. Jadi ceritanya gini,  di abad ke-22, sebuah perusahaan "raksasa" Buy N Large (BnL) menguasai perekonomian di Bumi, termasuk pemerintahan. Akibat dipenuhi sampah yang tidak didaur-ulang, maka Bumi menjadi sangat tercemar oleh sampah-sampah elektronik, sehingga kelangsungan hidup manusia menjadi terancam. Untuk mencegah kepunahan manusia, Shelby Forthright selaku CEO Buy N Large, melakukan pengungsian massal dari Bumi selama lima tahun diatas armada kapal luar angkasa eksekutif bernama axiom yang menyediakan setiap keperluan manusia, dan dilengkapi dengan robot-robot yang semuanya berjalan secara otomatis untuk melayani kebutuhan manusia.
  
Ratusan-ribu unit robot penghancur sampah yang dinamai dengan Wall-E ditinggalkan di Bumi untuk membersihkan Bumi. Robot-robot tersebut diprogram untuk memadatkan dan menumpuk sampah-sampah elektronik yang telah memenuhi seluruh daratan di Bumi, agar memudahkan untuk peleburan. Tumpukan sampah-sampah elektronik telah dipadatkan dan dikumpulkan oleh robot-robot Wall-E, tumpukan sampah tersebut telah setinggi gedung pencakar langit. Namun, proyek ini dibatalkan karena Forthright memperkirakan bahwa pada tahun 2110 Bumi sudah terlalu tercemar dan sudah tidak memungkinkan untuk dihuni oleh manusia. Pada tahun 2815, kira-kira 700 tahun kemudian, hanya satu Wall-E yang masih berfungsi. Serem kan?

Film ini hanya gambaran para kreatif film sebagai salah satu bentuk pemikiran akan adanya persoalan konsumerisme yang hingga kini semakin memburuk. Film ini dibuat untuk menarik anak-anak maupun orang dewasa, memperingatkan kita sebagai penontonnya akan bahaya konsumsi berlebihan, konsumerisme yang bodoh, kenyamanan kultural, ketidakpedulian lingkungan dan kemalasan di era yang serba instan. Ini adalah sebuah agenda sosial yang sebenarnya layak untuk dikagumi, terutama untuk anak kecil. Banyak nilai-nilai positif yang tergambarkan melalui inti cerita dalam film ini, namun peran sosial yang menggarisbawahi film ini merupakan isu paling penting. Pasti nggak mau kan kalau Bumi kita persis seperti yang digambarkan film Wall-E dimasa depan? Nope.


9 Juli 2013

Liburan Sekolah Seru di Waterboom Pantai Indah Kapuk!

Liburan sekolah tiba dan nggak kerasa sekarang sudah hampir selesai ya.. Dulu sih, jaman masih sekolah, masa-masa liburan adalah masa yang paling ditunggu sepanjang waktu. Setelah bergulat dengan angka dan berusaha sebisa mungkin merangkai kata atas nama ujian semesteran, menghabiskan waktu untuk berlibur dengan keluarga, leyehan di depan tivi seharian atau sekedar hangout bersama teman-teman, apalagi coba yang lebih menyenangkan untuk menghabiskan liburan, bukan?

Nah, berhubung euforia liburan sekolah walaupun notabene udah gak sekolah (Ha!), saya sama temen2 pergi bermain air di Waterboom Jakarta - Pantai Indah Kapuk. Sebulan sebelumnya saat browsing, liat deal murah dari sebuah situs, dapet harga 78ribu dari harga normal 200ribu. Setelah tanya temen-temen jadilah pada mau dan pesen 19 tiket. Glek. Walaupun pada akhirnya pergi pisah-pisah dilain hari berhubung satu dan lain hal.



And here we go!


5 Juli 2013

Sync

Really greatful to not to be a trying-hard person. I'm living my life as natural as I can. Everyday awake with what time and what I should do today, work as same as the to-do-list says. Little bit bored, actually. But, why I choose this way? Is because a mutual question from surround wall. I just play my role in this life, pay those with honesty and loyalty

Acceptances.

I mean, It is really let it flow terms. Everything seem in logic and real, But to make it balance, I still put my self in fantasy. With hope and effort. And I am very glad for having all of them. Yes, them. They are superb talented, passionate, crazy and wild. And the most important, they could accept my weirdness and become real love. No need a typically.

Just give the best to what you have when you still around them.




So I don't have any reasons to make my self looks terrible, then.

 
Well maybe you were right. The flaws doesn't belong to someone else.

But me.

 
I need a rest. Or somewhat somewhere who wants to be my shelter. Support, affection and love. a personal touch.


More than enough.

4 Juli 2013

Ilmu dari Talkshow dan Nongkrong #AntiMiras

Acara pada malam hari itu dimulai tepat pada pukul 7 di Steakology, Kawasan Tebet Jakarta. Dihadiri oleh para penggerak #GerakanAntiMiras, beberapa juri diantaranya ada Uni @fahiraidris, Ibu @ajengkol, Bapak @eshape, Bapak @amriltg, dan Bapak @emcivic. Acara yang juga dihadiri oleh Wakil Ketua MPR, Bapak Lukman Saifuddin, Bapak Iqrak Sulhin (Kepala Pusat Kajian Kriminologi FISIP Universitas Indonesia), Bapak Hamdi (Dosen Psikologi Universitas Indonesia) dan juga beberapa narasumber lain yang turut membagi ilmu dan sharing seputaran permasalahan ini.

Rasanya, alkohol bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan oleh anak muda jaman sekarang. Image 'keren' atau 'gaul' yang sengaja dilekatkan kepada peminum seolah sudah menjadi sebuah tolak ukur. Miris. 'Nggak keren kalo nggak mabok. Atau, boleh minum kok asal nggak sampai mabok', adalah mantra sakti perusak moral anak bangsa. Padahal satu teguk alkohol yang diteguk seseorang, konon sudah menghilangkan tingkat kesadaran sebesar 20%.



2 Juli 2013

Damn, I Love Bandung!

Home to hundreds of thousands of people, Bandung is the capital hub that reflects the other influences in town. Major shopping malls, business hotels, caf├ęs and a multitude of mobile phone retail or electronic outlets thread the main thoroughfares mainly road. 



There are periods of relative calm but you’ll find the place most lively in the early morning, when the farmers bring harvests into the city, flower growers spread baskets of blooms and freshly picked petals across the entrance at lembang , and the fruit sellers beckon you towards their teetering displays of tropical produce ..in Bandung.

The streets alongside the markets are equally appealing for determined shopper. Jalan Riau is adorned with a lot of a ready-to-wear clothing or people usually called ‘factory outlet’, and the ease at which one can bargain for beautiful fashion items and table linen in happy conversation is all part of the experience. Here you always reach a compromise with a smile. Only in Bandung.

Yet Bandung is not just about shopping – it is also very much a cultural centre and historical places, both as the guardian of Bandung history and the cradle of its contemporary talents. At Supratman Road, all the remains of the royal palace is a Gedung Sate, while the Pos Museums its next to it. 

Jalan Asia-Afrika and Jalan Braga are a glorious tree-lined avenue that houses dozens of head offices, government agencies, bank headquarters and some other cultural-hotels. On pretty side streets there are the building of Asian-Africa Conferences and Meja Bundar Conferences.

There are really a lot of fun places, actually. But I wouldn't go back, if I could. Not yet. 

Later, maybe.. 



Someday.. 

One day!

1 Juli 2013

Sebuah Puisi Tentang Jarak..



Rindu.


***

Notes: Jarak bukan hanya soal perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer. Jarak sesungguhnya adalah ketika kita dekat tapi terasa berjauhan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...