Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari Oktober, 2012

My Handmade!

Akhirnya setelah sekian lama, saya bikin lagi kerajinan tangan lagi nih. Berhubung pas hari raya Idul Adha kemarin nggak pulang ke Bandung, jadilah saya membuat bros-bros kecil dari barang yang menurut saya sudah nggak terpakai lagi. Ceritanya sih mau reuse, reduce dan recycle gitu, ciee..

Jadi, setelah bongkar-bongkar isi lemari sama tempat harga karun alias tempat nyimpen segala macem aksesoris dirumah minggu lalu, saya mendapati ada banyak item yang sebenernya udah lama nggak saya pakai dan beberapa sudah tidak layak pakai. Dan memang mungkin udah dasarnya nggak mau diem, jadilah benda-benda ini ingin saya sulap jadi benda yang bisa dipakai lagi. Simsalabim! Lumayan, sambil ngisi waktu luang selagi nggak ada inspirasi buat nulis ceritanya sih.
Belum banyak sih yang saya buat, minggu lalu saya cuma sempet bikin 3 item bros aja ..dari tali sepatu bekas. Dan itupun belum sepenuhnya rapih, lagian peniti untuk nempel brosnya baru ada 2 biji. Tapi gapapa, mari berkreasiiiiiiii (!) \o/

Al…

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Para Pemuda!

"Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."28 Oktober 1928
84 tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928 ikrar ini disuarakan oleh kelompok pemuda-pemuda dari berbagai daerah di Tanah Air kita, Indonesia. Saat itu, mereka berkumpul untuk satu tekad bersama, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda!
Dan tepat di hari ini, hari setelah 84 tahun yang lalu ikrar itu beramai-ramai digema-kan, hari ini peringatan itu diperingati kembali oleh seluruh rakyat Indonesia. Salah satu tujuan utama dari adanya sebuah acara peringatan adalah untuk mengingat kembali rentetan kejadian dalam sejarah agar tidak tergerus jaman dan terpatri dalam ingatan setiap generasi bangsa. Bukan begitu?! 
Sejarah, bukan salah satu pelajaran yang terlalu saya su…

Ayo Lawan Koruptokrasi!

Rumah Perkara | Emil Heradi
“Kang, jadi lurah itu harus melindungi warganya! Yang susah di bantu, yang sakit diobati.” “Bu, kamu juga ikut-ikutan mau nyalahin aku? Ini bukan buat aku bu” “Lantas buat siapa kang? Kamu jadi lurah itu buat siapa sih? Bagaimana nanti warga melihat keluarga kita. Aku hanya mikirin anak kita kang”, keluh istrinya. “Kamu itu nggak tau ya, ini itu buat kamu, buat anak kita”, bela Pak Lurah.
 Itu adalah sepenggal cuplikan dialog antara seorang Lurah, bernama Yatna (Teuku Rifnu Wikana) dengan istrinya. Pada cerita ini mengambil latar belakang suasana daerah di sebuah pinggiran kota, dimana seorang lurah menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya untuk membantu proses penggusuran rumah warga yang hendak dijadikan sebuah proyek real estate. Pada prosesnya, lurah tersebut melakukan hal tersebut dengan mengiming-imingi para warga dengan menjanjikan penghidupan yang lebih baik dengan mengatas namakan Tuhan. 
 ***
Aku Padamu..| Lasja F. Susatyo “Semua prosedurnya kan udah ki…

Salah Satu Pemenang Kontes Blog #Harapan Untuk PLN

Akhirnya pengumuman pemenang lomba menulis bertemakan 'Harapan Untuk PLN' yang diselenggarakan atas kerjasama antara PT. PLN dengan blogdetik kemarin sore resmi diumumkan. Adapun periode event lomba ini dimulai dari tanggal 21 September sampai dengan 18 Oktober. 
Nah, kompetisi menulis ini di prakarsai atas beberapa isu yang hendak di angkat oleh PLN sendiri. Disini, dijelaskan bahwa Manajemen PT PLN (Persero) telah menegaskan komitmennya untuk menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat. PLN berkehendak kuat untuk membangun sistem yang baik dan bisa menangkal praktek korupsi. Jika sistem yang baik itu bisa dibangun dan berjalan dengan baik pula, maka akan bisa menangkal praktek-praktek korupsi.
Dari situlah kompetisi menulis ini berasal, para peserta diminta untuk menuliskan harapannya untuk …

Untuk Aku di Masa Mendatang

Bandung, 31 Desember 2017

Teruntuk : Anggi usia 27 tahun
Dear, anggi..
Hai, Anggi! Apa kabar? Aku adalah kamu saat usia 21 tahun. Aku adalah kamu di masa lalu. Aku adalah kamu. Sudah 6 tahun berlalu dari hari dimana aku menulis surat ini untukmu loh. Sungguh waktu berjalan dengan cepat, ya?! Ah, sungguh, semoga kamu tidak melewatkan apapun. Semoga kamu menikmati perjalanan kehidupanmu seiring berjalannya waktu. 
Hey, sudah 6 tahun berlalu! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa di umurmu yang ke 27 ini kamu masih bergelut dengan setumpuk pekerjaan kantor, menjadi seorang wanita karir ataukah kamu sudah mengikuti impianmu untuk membuka sebuah katering dan sebuah cafe?! Apapun itu, aku yakin itu yang jalan terbaik yang Allah berikan untuk kamu ..untuk kita. Seperti yang selalu kamu ucap dalam doa ..'semoga Allah menuntunku pada jalan terbaik dan diridhoi olehNya'.
Eh, ngomong-ngomong, apakah kamu sudah menemukan tambatan hati? Ah, tentu saja. Bukankah kalau tidak ada aral melintang d…

KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!

Korupsi?! Korupsi berasal dari bahasa latin ‘coruptio’ yang bermakna busuk, menggoyahkan, rusak, memutarbalik atau menyogok. Sedangkan secara harfiah, korupsi itu merupakan suatu perilaku pejabat publik, baik politisi maupun aparatur negara yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. [1] Korupsi bukan merupakan hal yang asing lagi ditelinga kita sekarang ini, bukan?! Bahkan bisa dikatakan kata ‘korupsi’ ini merupakan santapan sehari bagi setiap pasang indera pendengaran seluruh masyarakat Indonesia. Mulai dari pemberitaan seluruh media massa, seperti berita TV nasional maupun lokal, headline Koran-koran, tema sebuah forum diskusi, bahkan sampai obrolan kecil di sebuah metromini pun pernah saya dengar membahas hal ini. Ya, korupsi! Sedih? Tidak! Saya, kami, seluruh masyarakat Indonesia merasa kecewa. Bukankah ini bisa dikatakan sebagai hal yang sangat miris? I…

2nd winner of Padjajaran Writing Competition! \o/

Sabtu, 13 Oktober 2012
Hmm.. pagi itu dimulai dengan setumpuk kegiatan hectic beres-beres seisi rumah karena habis ditinggal mama hampir sebulan penuh. Setelah selesai beres-beres, saya segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Sasana Budaya Ganesha, ITB, mengikuti job expo ..sendirian. Ha! Ya, sendirian. Celingak-celinguk di tengah keramaian seperti yang saya suka, ber-autis-ria dengan smartphone saya yang padahal sama sekali nggak ada yang bbm, sms ataupun telpon, berjalan dengan tegap seolah semua berjalan biasa saja ..padahal tidak demikian. Kalau ada teman saya liat pasti cuma geleng-geleng kepala, prihatin ck! Belajar mandiri..
Setelah puas berkeliling isi Sabuga menyebar buntelan dokumen berisi curricullum vitae dan resume, juga mengikuti antrian panjang entry data untuk salah satu perusahaan, yang antriannya melebihi antrian sembako di kantor kelurahan, duh.. Sekitar jam setengah 12 saya dijemput oleh teman saya, wishnu, untuk menuju destinasi selanjutnya. Makan di gelap nyawang I…

Enak, Sehat & Bermanfaat; Ini Asli Sunda Pisan euy!

Sebagai masyarakat sunda memang sudah selayaknya saya pribadi merasa bangga terhadap kekayaan kuliner tradisional yang dimiliki tanah kelahiran saya ini. Bila didata lebih lengkap bisa jadi ada lebih dari ratusan jenis makanan dan minuman tradisional khas yang berasal dari Sunda loh. Mulai dari makanan pembuka sampai hidangan utama, seperti Soto Bandung, hayam bakakak, cumi hideung, reuceuh, sambel goreng ati, semur jengkol, ulukutek leunca, ase cabe hejo, dan makanan lain yang rasanya sungguh sangat menggugah selera makan.
Selain itu juga ragam makanan penutup yang mayoritas memiliki cita rasa manis (dalam bahasa sunda sering dikatakan ‘amis’), seperti kelepon, ali agrem, putri noong, katimus, awug, misro, gurandil, dan sebagainya. Belum lagi minuman khas seperti dawet, es goyobod dan es cingcau. Juga dari jenis makanan ringan, dalam bahasa sunda diistilahkan dengan ‘hahampangan’, seperti opak, kolontong, keremes, borondong, kalua jeruk, semprong dan lain sebagainya.
Selama ini, sa…