29 Oktober 2012

My Handmade!

Akhirnya setelah sekian lama, saya bikin lagi kerajinan tangan lagi nih. Berhubung pas hari raya Idul Adha kemarin nggak pulang ke Bandung, jadilah saya membuat bros-bros kecil dari barang yang menurut saya sudah nggak terpakai lagi. Ceritanya sih mau reuse, reduce dan recycle gitu, ciee..


Jadi, setelah bongkar-bongkar isi lemari sama tempat harga karun alias tempat nyimpen segala macem aksesoris dirumah minggu lalu, saya mendapati ada banyak item yang sebenernya udah lama nggak saya pakai dan beberapa sudah tidak layak pakai. Dan memang mungkin udah dasarnya nggak mau diem, jadilah benda-benda ini ingin saya sulap jadi benda yang bisa dipakai lagi. Simsalabim! Lumayan, sambil ngisi waktu luang selagi nggak ada inspirasi buat nulis ceritanya sih.

Belum banyak sih yang saya buat, minggu lalu saya cuma sempet bikin 3 item bros aja ..dari tali sepatu bekas. Dan itupun belum sepenuhnya rapih, lagian peniti untuk nempel brosnya baru ada 2 biji. Tapi gapapa, mari berkreasiiiiiiii (!) \o/


Alat dan Bahan : 
  1. Lem tembak 
  2. Tali Sepatu
  3. Benang dan Jarum Jahit
  4. Gunting 
  5. Peniti bros 
  6. Lem serbaguna 
  7. Manik-manik/ kancing atau sejenisnya (hanya pelengkap) 


Pertama...
Benda pertama yang saya buat itu bros bunga. Nggak susah sih, jadi ceritanya si tali sepatu itu digulung-gulung sampai menyerupai bentuk bunga. Nah, sambil digulung, antara satu bagian sama bagian lainnya dijahit supaya nggak lepas.


Step 1

Step 2

Setelah merasa gulungan tali yang mau dibuat bros ini cukup, terus saya memotong tali dan menjahit sisanya ke bagian bawah supaya nggak keliatan. Nah, dari sini barulah ditempel ke peniti bros pake lem lilin tadi.
(Hampir) Selesai

Lalu hasilnyaaaa...

Bros Bunga

Ini sebetulnya belum bener-bener finishing, karena saya rencananya nanti mau pasang hiasan dan aksesoris lainnya biar lebih bikin bunganya ini lebih cantik. Tapi berhubung disini rasa-rasanya amat sulit cari bahan buat bikin kerajinan sejenis ini, jadi paling nanti setelah saya di Bandung baru deh cari-cari bahannya. 


Kedua..
Saya potong tali sepatunya kurang lebih sekitar 10 cm-an, lalu saya jahit diujung-ujungnya dengan jarak 1 cm dari ujung satu ke ujung lainnya. Ini supaya nanti saat tali ditarik itu lebih mudah.

Step 1

Step 2; Tali siap di gulung 

Nah, setelah selesai jahit tadi, tali sepatunya saya gulung sehingga jadi semacam ada kerutan-kerutan berbentuk bunga, hehe bunga lagi bunga lagiiiiii..

Step 3; Kerutan Tali

Abis itu, baru deh bikin satu lagi kerutan dengan panjang tali yang lebih panjang dari tali sebelumnya..

Step 4

Ready to fit up!

Yayyyyy! Ready.

Second Brooch! Yayyy!



Dan terakhir...
Hmm.. dan yang ketiga juga saya bikin bentuk bunga lagi, krikrik! Haha! Yasudahlah tak apa, mungkin memang sekarang ini saya lagi ngidam dikasih bunga gitu ..bunga bank. #okeskip #laincerita

Yang ketiga ini ceritanya sih buat ngabisin tali aja, berhubung sisanya juga nggak terlalu banyak jadi saya pikir dibentuk seperti ini pasti cukup. Jadi, saya potong tali berukuran kurang lebih 2 cm, terus setiap ujungnya dijahit jelujur gitu aja biar gampang.

Step 1; Separated

Nah, abis itu tiap bagian dari potongan-potongan tali digabung, tentunya dengan cara dijahit juga...

Step 2; Mix!

Step 3; All in One


And, Done! Yayyy!

Baru segitu sih yang saya buat, lumayan lah bisa dipake buat sendiri. Lain kali saya mau buat yang lebih kreatif aah, dengan catatan nggak ada dateline tulisan dan rasa malas, haha! Dasar.





Oya, beberapa minggu lalu juga saya buat tas, bukan tas biasa, tas ini saya buat dari bekas rok saya yang sudah nggak terpakai. Lumayan, buat dipake main. Tapi karena nggak ada niat untuk share, saat itu sama sekali saya nggak buat dokumentasi pas bikin.

Walaupun masih pake jahitan tangan dan belum sepenuhnya rapi, tapi lumayan kuat kok bisa dipake main asal jangan bawa barang yang berat-berat aja di dalem tasnya, hihi.



xxo,
agistianggi

28 Oktober 2012

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Para Pemuda!

"Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."
28 Oktober 1928

84 tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928 ikrar ini disuarakan oleh kelompok pemuda-pemuda dari berbagai daerah di Tanah Air kita, Indonesia. Saat itu, mereka berkumpul untuk satu tekad bersama, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda!

Dan tepat di hari ini, hari setelah 84 tahun yang lalu ikrar itu beramai-ramai digema-kan, hari ini peringatan itu diperingati kembali oleh seluruh rakyat Indonesia. Salah satu tujuan utama dari adanya sebuah acara peringatan adalah untuk mengingat kembali rentetan kejadian dalam sejarah agar tidak tergerus jaman dan terpatri dalam ingatan setiap generasi bangsa. Bukan begitu?! 

Sejarah, bukan salah satu pelajaran yang terlalu saya sukai saat duduk di bangku sekolah dasar. Seingat saya, dulu, tidak pernah saya mendapat nilai ujian lebih dari 70 untuk mata pelajaran yang satu ini. Ah, sungguh daya ingat saya untuk mengingat tanggal sangat buruk. Sedangkan dalam hidup, beberapa sejarah itu saya beri nama masa lalu, yang terkadang harus dicabut sampai akarnya agar tidak meninggalkan jejak untuk masa depan. Ha! 

Menurut saya, Sumpah Pemuda bukan semata berbicara mengenai cinta Tanah Air, bukan semata sebagai suatu peringatan dan pelengkap pengetahuan, tapi esensi dari ikrar Sumpah Pemuda yang identik dengan semangat persatuan inilah yang harus terus dilestarikan secara nyata dan berkelanjutan. 

84 tahun yang lalu, Sumpah Pemuda dicetuskan karena adanya sebuah mimpi akan negara yang merdeka dan berdaulat, Sumpah Pemuda merupakan salah satu bentuk gambaran ikrar para pemuda dalam menjunjung persatuan untuk Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan saat ini, ikrar Sumpah Pemuda harus terus digemakan oleh para pemuda untuk terus mempertahankan sikap cinta Tanah Air, namun dengan medan perang dan cara yang berbeda. Mereka, para pemuda, dipercaya merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Semoga semangat Sumpah Pemuda dapat menginspirasi para pemuda untuk memiliki suaatu tekad dan keinginan untuk berbuat hal yang lebih bermakna, tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk masa depan bangsa. Maka dari itu, ayo terus maju para pemuda-pemudi Indonesia!



Selamat Hari Sumpah Pemuda, Pemuda-Pemudi Indonesia! \o/


Salam,
Anggi Agistia

25 Oktober 2012

Ayo Lawan Koruptokrasi!




Rumah Perkara | Emil Heradi
Kang, jadi lurah itu harus melindungi warganya! Yang susah di bantu, yang sakit diobati.”
Bu, kamu juga ikut-ikutan mau nyalahin aku? Ini bukan buat aku bu
Lantas buat siapa kang? Kamu jadi lurah itu buat siapa sih? Bagaimana nanti warga melihat keluarga kita. Aku hanya mikirin anak kita kang”, keluh istrinya.
Kamu itu nggak tau ya, ini itu buat kamu, buat anak kita”, bela Pak Lurah.

 Itu adalah sepenggal cuplikan dialog antara seorang Lurah, bernama Yatna (Teuku Rifnu Wikana) dengan istrinya. Pada cerita ini mengambil latar belakang suasana daerah di sebuah pinggiran kota, dimana seorang lurah menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya untuk membantu proses penggusuran rumah warga yang hendak dijadikan sebuah proyek real estate. Pada prosesnya, lurah tersebut melakukan hal tersebut dengan mengiming-imingi  para warga dengan menjanjikan penghidupan yang lebih baik dengan mengatas namakan Tuhan. 

 ***

Aku Padamu..| Lasja F. Susatyo
Semua prosedurnya kan udah kita jalanin, bayar orang kayak gini kan udah biasa”, ucap Vano kepada Laras. 
Kalau semua orang kayak kamu, calo kayak gitu itu bakalan hidup terus. Semua masalah besar itu berasal dari masalah yang kecil. Dan kamu adalah cerminan rumah kamu”, tanggap Laras.
Apa?”, Tanya Vano heran.
Iya, kamu itu cerminan rumah kamu.

Cuplikan dialog ini terjadi antara Vano (Nicholas Saputra) dengan Laras (Revalina S. Temat) yang terjadi di depan kantor KUA. Mereka hendak kawin lari karena orang tua Laras yang tidak menyetujui hubungan mereka, namun karena tidak adanya satu syarat administrasi untuk kelengkapan untuk menikah, lantas Vano berpikir untuk menggunakan seorang calo untuk memuluskan niat mereka untuk dapat segera menikah. Tapi, Laras tidak mau, dia teringat pada sebuah memori masa kecilnya tentang seorang guru yang bernama Pak Arwoko (Ringgo Agus Rahman) yang menjadi salah satu dari sekian banyak korban sistem yang tidak adil.
Kalau belum nikah aja kamu udah berani nyogok Tuhan, gimana ntar?”,ujar Laras.
Sampai akhirnya Vano sadar dan berkata,“If you wanna do right thing, let’s do it in the right way”

 ***

Selamat siang, Risa! | Ine Febriyanti
Ini adalah kebijaksanaan dari kantor untuk Mbak Risa. Ini baru 250 ribu dollar aja cash. Nanti masih ada lagi bulan depan setelah proyek dimulai, sekitar 12 bulan terserah mau dipecah berapa”, ujar seseorang yang hendak menyogok Risa untuk memudahkan proses perijinan sebuah proyek di ruang kerjanya.
Lalu, ingatannya kembali ke memori masa kecilnya, dimana Ayahnya, Armoko (Tora Sudiro) bekerja menjadi seorang mandor gudang yang memiliki sikap tegas yang jujur dan taat aturan. Namun, ketika itu sikap ayahnya tersebut diuji ketika adiknya menderika sakit parah sementara ia dan istri (Dominique) sedang tidak memiliki uang untuk mengobatinya.
Sebelumnya saya sudah meminta persetujuan atasan Anda untuk hal ini, beliau berkata Anda penanggung jawab gudang ini. Saya mohon bantuan Anda, Pak. Karena jika tidak saya akan rugi besar
Diantara kebimbangan akan kebutuhan dan beban tanggung jawabnya dia berkata, “Saya rasa ko abeng harus mencari gudang yang lain. Ini diluar tanggung jawab saya, saya belum pernah berada pada situasi seperti ini
Semua hal sudah selesai saya urus, tinggal gudang ini yang berada dalam wewenang pak Moko saja.”
Tapi..”
Pak Moko, saya tau Pak Moko ini sedang membutuhkan uang. Saya juga kalau ada tempat lain, tidak mungkin kemari, tapi jika tidak saya bisa rugi besar. Pak Moko, saya tidak tau lagi harus berkata apa. Entah saya yang tidak tahu malu atau Pak Moko yang terlalu jujur. Terus terang uang itu tidak ada artinya buat saya pak, maka dari itu saya bisa memberikan lebih untuk Bapak. Semua orang butuh uang pak, jaman sedang sulit. Tapi semua terserah bapak”, rayunya lagi.
Semua orang butuh uang, semua orang lagi susah, semua orang butuh makan, butuh beras. Tapi kenapa orang yang sukses seperti Anda ini malah menimbun beras. Mungkin saya bodoh pak, mungkin saya salah. Tapi kesalahan dan kebodohan saya tidak akan pernah saya sesali sampai mati.”, tegas Pak Moko.
           
Cuplikan dialog itu mengiang sampai Risa beranjak dewasa, keteguhan sikap Ayahnya untuk menolak segala bentuk suap walaupun dalam kondisi kesusahan membuat risa sadar akan banyak hal bahwa Semua hal kembali dari asal, dari mana kita, bagaimana kita berasal. Kebaikan lahir dari kebaikan sebelumnya, hal yang mungkin terdengar absurd di jaman ini. Tapi minimal masih ada yang mampu bertahan..
Dan dengan tegas diruangan itu Risa mengembalikan amplop tersebut sambil tersenyum dan berkata, “Maaf, Pak. Saya tidak bisa”.

 ***
Psssst… Jangan bilang siapa-siapa.. | Chairrun Nissa
Cerita ini berkisah tentang penelusuran salah seorang siswi sekolah menengah atas di sekolahnya tentang mudahnya pembibitan sebuah tindakan korupsi kecil yang bahkan sudah dimulai dari lingkungan keluarga dan sampai akhirnya terbawa sampai dengan kehidupan sehari-hari dilingkungan sekolah. Dimana seolah-olah tindakan ini merupakan hal kecil yang telah legal hukumnya kemudian dianggap sepele dan biasa saja. Hal ini terlihat dari persekongkolan guru untuk mencari keuntungan dari penjualan buku dengan memanfaatkan siswanya sampai dengan permintaan pembayaran buku kepada orang tua yang di mark-up harganya dan dibiarkan begitu saja.. 
Kok mereka merasa benar ya walaupun melakukan hal yang salah. Menurut kalian siapa yang salah?”, ucap Githa di akhir video yang dia unggah di salah satu media internet.


***

Keempat cuplikan dialog tersebut adalah cuplikan sebuah film omnibus yang berisi gabungan empat film pendek berjudul Kita Versus Korupsi. Pernah dengar sebelumnya? Atau barangkali kamu sudah pernah tonton film ini? Apa malah kamu baru tahu? Ya, film ini memang tidak diliris secara luas di layar lebar dan hanya dirilis  secara terbatas dengan memutarkannya melalui rangkaian kegiatan roadshow yang digelar dari satu kota ke kota lain di seluruh Indonesia. Film ini di produksi oleh Transparency International Indonesia (TII), United State Agency International Development (USAID) yang dirilis pada bulan Januari 2012 lalu. Saya sendiri mengetahui film ini ketika beberapa bulan yang lalu, sebuah perusahaan BUMN terkemuka di Indonesia melakukan nobar alias nonton bareng film ini. Jika kamu penasaran, kamu juga bisa menonton film dengan durasi kurang lebih satu jam ini melalui media YouTube loh. 

‘Kita Versus Korupsi’ sungguh sebuah film yang kaya akan pesan moral yang hendak disampaikan oleh keempat sutradara pembuat film ini. Sebuah cara penyampaian pesan yang sangat apik dan tegas untuk menghantarkan sebuah kisah dengan menyinggung problematika dunia politik Indonesia saat ini, ya apalagi kalau bukan korupsi.

Film ‘Kita Versus Korupsi’ menggambarkan berbagai hal yang berkenaan dengan tindak pidana korupsi di Negara kita yang tercinta ini. Suatu tindak pidana yang bahkan dapat dikatakan sudah menjadi penyakit yang kian mewabah, tidak saja hanya di kalangan elite politik tapi juga sampai ruang lingkup terkecil, keluarga. Inilah yang saya salut dari film ini, ditengah perfilman Indonesia yang kian carut marut dibumbui dengan film berbau pornografi dibalut dengan horror, film ini akan membawa suatu kesan tersendiri bagi pecinta film tanah air. Tapi, jangan bayangkan bahwa film ini mencoba untuk menggambarkan suatu proses perlawanan terhadap tindakan-tindakan korupsi dalam skala besar, film ini justru lebih menunjukkan bahwa sebenarnya suatu tindakan korupsi ternyata bisa saja terjadi dalam berbagai sudut kehidupan, dalam kegiatan kita sehari-hari. Dalam keluarga kecil kita.

Menariknya lagi, film ini sedikit pun tidak memberikan sebuah tudingan atas sebuah tindakan korupsi, melainkan dengan penyampaian setiap cerita yang berbeda dimana nyatanya sebuah tindakan korupsi yang dilakukan oleh seseorang secara perlahan tapi pasti akan memberikan dampak bagi para pelaku maupun orang sekitarnya. Sebuah penyampaian pesan yang patut diacungi jempol, dimana kita para penonton diajak untuk dapat melihat dan mengambil hikmah atas dampak korupsi yang dilakukan. Film ini juga menurut saya dapat nilai-nilai kejujuran serta kesadaran untuk selalu ‘bersih’ dari segala kegiatan yang menyalahi aturan.


Teknologi dan Media, Suatu Cara Menyuarakan Gerakan Anti-Korupsi..
Perjuangan untuk melawan tindak pidana korupsi harus gencar disuarakan dan dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia.  Penggunaan film sebagai salah satu media untuk menyuarakan gerakan anti-korupsi, dalam hal ini film ‘Kita Versus Korupsi’, dapat menjadi salah satu dari sekian banyak media untuk mengingatkan masyarakat untuk menghindari tindakan ini. Film, disadari bahwa dari sebuah film itu dapat mempengaruhi suatu pandangan umum, cara berpikir dan bersikap dari penontonnya. Film menawarkan suatu cara baru dalam kampanye anti-korupsi, membentuk suatu gambaran sederhana bahwa nyatanya korupsi tidak melulu soal para pejabat pemerintah saja, di suatu perusahaan saja, melainkan juga ada di sekitar kita ..di jalanan, di sekolah, dan bahkan dapat terjadi di rumah kita sendiri. Juga, tidak melulu orang lain berpangkat tinggi, bahkan diri kita sendiripun bisa mempunyai peluang untuk melakukannya. Film bisa jadi sebuah cermin, pantulan dari apa yang sehari-hari kita lihat, kita dengar dan kita rasakan.

Selain film, media jejaring sosial juga bisa digunakan sebagai salah satu gerakan anti-korupsi, seperti misalnya Twitter, Blog, Facebook dan media sejenis lainnya. Ya, memang seiring perkembangan jaman kegiatan untuk menyuarakan gerakan-gerakan melawan korupsi tidak lagi hanya dilakukan dengan turun langsung ke jalan, melakukan aksi demonstrasi yang sudah kita ketahui seringkali hanya berujung pada tindakan anarkis yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Pemanfaatan media jejaring sosial ini akan sangat lebih efektif dan efisien untuk mengembangkan dan menyuarakan gerakan anti-korupsi, mengingat sudah tidak adanya batasan usia maupun gender bagi pengguna internet di Indonesia. 

Yang saya ingat beberapa minggu lalu, pada gerakan ‘Save KPK’ yang ramai dilakukan banyak masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, baik tua sampai muda, melalui media sosial Twitter. Coba saja buka hagstag #SaveKPK yang pada saat itu langsung menjadi trending topic di Twitter sebagai salah satu gambaran dukungan dari masyarakat Indonesia terhadap KPK saat penyidik Polri hendak menyeret kompol Novel dan soal isu memanasnya hubungan antara KPK dengan Polri. Sudah barang tentu ini menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia, selain karena pemberitaan yang kian hari kian marak di media elektronik dan menjadi headline media cetak.

Media lain yang tidak kalah berpengaruh adalah blog. Ya, pengguna blog di Indonesia yang jumlahnya tidak sedikit juga bisa dijadikan salah satu media kampanye gerakan ini. Media ini cukup efektif, karena dalam blog itu para penggunanya bisa dengan bebas menyampaikan gagasan dan opininya atas suatu hal atau topik tertentu. Hal ini tidak jarang membuat sebuah blog dapat berpengaruh dalam penyebaran suatu pesan atau isu tertentu di masyarakat. Blog juga sekarang ini mempunyai suatu komunitas-komunitas yang sudah banyak jumlahnya. Melalui acara gathering komunitas atau sejenisnya, gerakan kampanye via blog juga sangat efektif dalam menentukan sasaran pembelajaran anti-korupsi.


Gerakan #SaveKPK!
Konflik terakhir yang marak diberitakan seluruh media massa di Indonesia adalah mengenai isu memanasnya aroma perseteruan antara KPK dengan Polri, terkait dengan konflik di balik kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara di Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara RI, yang melibatkan petinggi Polri itu sendiri. Sungguh ironi bukan?! Aparat hukum sebagai pilar dalam perang melawan korupsi justru saling 'berperang' dengan aparatus hukum lainnya untuk melindungi anggotanya yang korup. Yang terlihat di mata publik kini adalah bahwa Polri yang secara terstruktur dan didukung otoritas kekuasan melakukan aneka bentuk pertahanan diri, melalui tindakan pre-emtif penangkapan, penghalangan dan penyerbuan terhadap pihak-pihak yang dianggap mengancam khususnya unsur-unsur KPK.

KPK merupakan satu-satunya intitusi penegak hukum yang sekarang ini masih diharapkan rakyat untuk dapat memberantas para poli-‘tikus’ pelaku korupsi yang merugikan Negara dan seluruh rakyat Indonesia. Nyatanya, kenyataan sekarang yang terlihat adalah kian banyak tindakan-tindakan yang dilakukan oknum-oknum yang berusaha untuk merobohkan tiang-tiang penyangga KPK, agar ia pincang atau bahkan kalau bisa sampai dihilangkan. Mulai dari isu bahwa KPK akan dibubarkan, hingga saat ini yang terlihat adalah dimana upaya Komisi III DPR RI yang sedang mencoba menggodok revisi UU no. 30 tahun 2002 yang bertujuan untuk menghapus wewenang KPK dalam melakukan penuntutan dan penyadapan. Yang saya lihat dari hal ini bahwa para koruptor beserta para sekutunya semakin secara terbuka berusaha melakukan berbagai cara untuk melemahkan upaya KPK untuk melawan korupsi. Kalau memang sudah merasa melakukan hal yang benar, kenapa harus takut disadap? Sungguh miris.

Sebenarnya KPK maupun Polri memiliki peran yang sama, yakni mengarahkan, mengendalikan atau menjaga gestur, perilaku, opini atau wacana, agar bersih dari korupsi. Nyatanya ketika otoritas digunakan dalam membela anggota yang terlibat kejahatan, disana kekuasaan bersimbiosis dengan kejahatan. Hal ini jelas menciptakan semacam keadaan darurat yaitu kondisi ketakseimbangan antara hukum publik dan fakta politik. Prinsip demokrasi~di mana kekuasaan berada di tangan rakyat~kini menjelma jadi 'koruptokrasi' (corruptocracy), dimana kekuasaan politik dipegang oleh para pejabat, politikus, dan aparat korup dengan rakyat sebagai korbannya.

Rakyat harus terus bergerak! Rakyat harus secara langsung turun tangan dan terjun ke lapangan! Ini satu-satunya cara yang dapat dilakukan guna menghadapi situasi politik Indonesia yang semakin tidak terkendali ini. Gerakan #SaveKPK di media sosial Twitter merupakan salah satu cara yang terbukti ampuh membuat ribuan masyarakat menyambangi KPK saat bersitegang dengan Polri hingga bahkan menarik perhatian Presiden yang mendengar aspirasi masyarakat yang kian menderas melalui media ini. Seiring dengan perkembangan jaman, tentu saja hal ini harus bisa kita manfaatkan, terutama dalam mengoptimalkan kemajuan teknologi dan informasi dengan sebaik mungkin juga mengantisipasi terjadinya akibat negatif dari hal tersebut. Dapat dilihat kan bahwa perlawanan terhadap korupsi tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata, tapi juga bisa dilakukan di dunia maya.

Di luar hal itu semua, di luar seberapa efektifnya media sosial, media massa atau media cetak untuk melawan korupsi dan menyuarakan gerakan anti korupsi, semua itu kembali kepada pribadi masing-masing orang tersebut. Maka dari itu mari kita, seluruh masyarakat Indonesia, bersama-sama menumbuhkan gerakan anti-korupsi mulai dari diri sendiri, mulai dari lingkungan sekitar, mulai dari keluarga kecil kita. Karena setiap tindakan kecil yang dilakukan sebagai pembelajaran untuk tidak melakukan tindakan korupsi dalam bentuk apapun dalam nilai sekecil apapun, itu akan menjadi sebuah tembok pembatas agar kita tidak bertindak demikian. Ingat, Semua hal kembali dari asal, dari mana kita, bagaimana kita berasal. Bahwa kamu adalah cerminan rumahmu. Kebaikan lahir dari kebaikan sebelumnya, hal yang mungkin terdengar absurd di jaman ini. Tapi minimal masih ada yang mampu bertahan..

“If you wanna do right thing, let’s do it in the right way”. Jadi, untuk melakukan hal yang benar, mari kita lakukan dengan jalan yang benar. Begitu bukan?!
                            Melawan Korupsi?! Siapa Takut!                                                             


24 Oktober 2012

Salah Satu Pemenang Kontes Blog #Harapan Untuk PLN

Akhirnya pengumuman pemenang lomba menulis bertemakan 'Harapan Untuk PLN' yang diselenggarakan atas kerjasama antara PT. PLN dengan blogdetik kemarin sore resmi diumumkan. Adapun periode event lomba ini dimulai dari tanggal 21 September sampai dengan 18 Oktober. 

Nah, kompetisi menulis ini di prakarsai atas beberapa isu yang hendak di angkat oleh PLN sendiri. Disini, dijelaskan bahwa Manajemen PT PLN (Persero) telah menegaskan komitmennya untuk menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat. PLN berkehendak kuat untuk membangun sistem yang baik dan bisa menangkal praktek korupsi. Jika sistem yang baik itu bisa dibangun dan berjalan dengan baik pula, maka akan bisa menangkal praktek-praktek korupsi.

Dari situlah kompetisi menulis ini berasal, para peserta diminta untuk menuliskan harapannya untuk PLN dengan cara membuat tulisan dan mengunggahnya dalam blog pribadi. Dan, ya, kemarin sore, hampir malam sih, dari informasi yang saya buka dari blogdetik versi mobile saya mendapati sebuah pengumuman mengenai hasil akhir kompetisi ini..

Dengan judul 'Ini Dia Pemenang Hadiah Motor Kontes Blog #HarapanUntukPLN', 
Announcement
 
Saya mendapati ada nama saya disitu, iya, Anggi Agistia. Saking tidak percayanya saya sampai me-reload link yang sedang saya buka tersebut beberapa kali, haha. Oke, memang bukan saya yang mendapatkan sepeda motor, ataupun uang dengan nominal-nominal tinggi sebagai sebuah apresiasi atas tulisan yang dituliskan untuk mengikuti lomba ini. Hanya sebuah voucher belanja dengan nominal yang tidak terlalu besar. Hmm, bisa dikatakan memang hadiah yang saya dapat tidak seberapa, tapi ini bukan soal nilai, ini bukan soal angka rupiah ..ini soal bentuk apresiasi. Lagi, lagi..


23 Oktober 2012

Untuk Aku di Masa Mendatang

Bandung, 31 Desember 2017


Teruntuk : Anggi usia 27 tahun

Dear, anggi..

Hai, Anggi! Apa kabar? Aku adalah kamu saat usia 21 tahun. Aku adalah kamu di masa lalu. Aku adalah kamu. Sudah 6 tahun berlalu dari hari dimana aku menulis surat ini untukmu loh. Sungguh waktu berjalan dengan cepat, ya?! Ah, sungguh, semoga kamu tidak melewatkan apapun. Semoga kamu menikmati perjalanan kehidupanmu seiring berjalannya waktu. 

Hey, sudah 6 tahun berlalu! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa di umurmu yang ke 27 ini kamu masih bergelut dengan setumpuk pekerjaan kantor, menjadi seorang wanita karir ataukah kamu sudah mengikuti impianmu untuk membuka sebuah katering dan sebuah cafe?! Apapun itu, aku yakin itu yang jalan terbaik yang Allah berikan untuk kamu ..untuk kita. Seperti yang selalu kamu ucap dalam doa ..'semoga Allah menuntunku pada jalan terbaik dan diridhoi olehNya'.

Eh, ngomong-ngomong, apakah kamu sudah menemukan tambatan hati? Ah, tentu saja. Bukankah kalau tidak ada aral melintang dan Ia sudah mengijinkan kamu ingin menikah di usia muda, bukan? 24. Setidaknya itu yang sekarang selalu aku ucap dalam doa. Semoga di usiamu sekarang ini kamu sudah bertemu lelaki yang tepat untuk kamu jadikan imam ya. 

Lalu, seperti apa dia? Ah, sungguh aku penasaran dibuatnya. Aku ingin segera mengetahui seperti apa dia, impianku saat ini, masa depan yang kini bersamamu itu. Boleh aku tebak? Ya, tanpa persetujuanmu pun aku akan mencoba menebak seperti apa dia.. Hmm, dia pasti sosok penyayang, cerdas, pekerja keras,  penyabar juga tampan. Hahaha, entahlahh. Apakah selera kita masih sama walaupun usia kita sudah berbeda saat kamu membaca surat ini. Ingat nggi, seperti apapun dia, siapapun dia, aku harap dia adalah lelaki yang bisa menjadi imam bagimu, bagi anak-anak kalian kelak, untuk keluargamu. Oya, aku harap juga dia adalah sosok lelaki yang bisa menyayangi keluargamu, diluar segala kekurangan dan kelebihannya ..menyayangi kedua orang tuamu, juga kedua adik kecilmu. Semoga ya.

Oya, aku harap, hmm lelakimu itu kelak bukanlah seorang yang berkepala batu, keras kepala sama halnya denganmu ya. Karena jika tidak, entahlah, aku tak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika batu bertemu batu. Semoga tidak ya. Eh, tau tidak? Aku di umur 21 ini sering berharap jika kelak lelaki yang kelak menjadi suamiku adalah lelaki yang bertanggung jawab, setia dan pastinya selalu mau mendengarkan aku dan menjadi sosok yang mendukungku. Lalu bagaimana? Apa harapanku di usia ke 21 itu terwujud? Lagi lagi aku hanya bisa berkata semoga.

Sebuah rumah sederhana yang kamu impikan dibangun dari cinta dan setumpuk harapan dengan lelakimu dengan diiringi suara tangis anak-anak kalian, apakah sudah terwujud? Bagaimana buah hatimuu? Apakah laki-laki atau perempuan? Atau bahkan sudah keduanya? Hihi, aku amini dari sini ya. Apapun jenis kelamin mereka, aku harap semoga mereka merupakan anak-anak yang cerdas, cantik dan tampan, berbakti kepada kedua orang tuanya dan selalu mencintai Tuhannya :)

Apakah kamu masih suka menulis? Aku harap demikian. Atau apakah di umurmu yang ke 27 ini kamu telah menghasilkan suatu karya yang dapat membuat orang-orang disekelilingmu bangga? Menulis sebuah buku, impianmu. Ingat, ketika banyak hal yang tidak bisa kamu sampaikan secara lisan, tulislah.. keluarkan semuanya, tuangkan dalam bentuk deretan kata yang bisa menggambarkan apa yang ingin kamu katakan. Ayo buktikan pada dunia kalau kamu bisa!

Kabar keluargamu bagaimana? Semoga seiring berjalannya waktu pula, kamu bisa mengikis satu persatu luka yang mereka torehkan ya. Semoga dengan semakin dewasanya kamu, bertambahnya usiamu, kamu bisa memaafkan mereka ..belajar ikhlas dan melupakan semuanya. Karena sejujurnya, saat ini, di umurku yang ke-21 aku masih belum bisa melupakan apa yang mereka lakukan terhadap kedua orang tuamu. Tapi aku janji, aku akan terus belajar ..to forget and forgive. Seperti biasanya, take and learn, segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan indah yang sudah Tuhan persiapkan untuk kamu. 

Semoga Allah selalu menyertai dan menuntun setiap langkahmu dan orang-orang yang kamu sayangi, Anggi. Aamiin.


Tertanda,

Anggi, 21 Tahun


19 Oktober 2012

KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!

Korupsi?! Korupsi berasal dari bahasa latin ‘coruptio’ yang bermakna busuk, menggoyahkan, rusak, memutarbalik atau menyogok. Sedangkan secara harfiah, korupsi itu merupakan suatu perilaku pejabat publik, baik politisi maupun aparatur negara yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. [1]
Korupsi bukan merupakan hal yang asing lagi ditelinga kita sekarang ini, bukan?! Bahkan bisa dikatakan kata ‘korupsi’ ini merupakan santapan sehari bagi setiap pasang indera pendengaran seluruh masyarakat Indonesia. Mulai dari pemberitaan seluruh media massa, seperti berita TV nasional maupun lokal, headline Koran-koran, tema sebuah forum diskusi, bahkan sampai obrolan kecil di sebuah metromini pun pernah saya dengar membahas hal ini. Ya, korupsi!
Sedih? Tidak! Saya, kami, seluruh masyarakat Indonesia merasa kecewa. Bukankah ini bisa dikatakan sebagai hal yang sangat miris? Indonesia adalah Negara yang katanya berlandaskan hukum dan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Lalu, implementasinya? Ah, sudahlah..
Korupsi. Ya, lagi dan lagi korupsi. Persoalan korupsi di Indonesia sudah bisa jadi dikatakan sebagai suatu ‘penyakit’ yang melekat pada orang-orang tak bertanggung jawab. Bukan lagi menjadi suatu hal yang membudaya, tapi sudah membudidaya, semacam beranak-pinak, sudah mendarah daging bagi setiap pesakitan-nya. Korupsi bagaikan sudah menjadi suatu wabah penyakit yang menular di berbagai level golongan, tidak hanya dari aparatur negara tingkat paling tinggi, bahkan juga sampai aparatur negara level bawah. Ironi.
Beragam upaya telah dilakukan guna mengatasi tindak pidana yang satu ini, pendirian lembaga-lembaga terkait, adanya reformasi birokrasi, dan setumpuk upaya lainnya. Lalu apa? Nyatanya hal itu belum sepenuhnya berhasil untuk dapat memberantas korupsi. Bagaimana tidak, yang terlihat sekarang adalah bahwa satu persatu kegagalan atas pengadilan para koruptor lebih sering terjadi. Bahwa nyatanya para koruptor berduit dengan mudahnya menyuap sana-sini, kanan-kiri, atas-bawah, untuk bisa lepas dari jerat hukuman pidana. Belum lagi beberapa kasus korupsi skala besar yang terbengkalai tanpa akhir yang jelas. Duh, Indonesia oh Indonesia..
            Tidak hanya kacaunya sistem politik dan fungsi pemerintahan di Indonesia, terkurasnya uang negara serta ketidakadilan, dampak lain yaitu pada perekonomian negara yang jelas akan berimbas kepada kesejahteraan umum, terutama para rakyat kecil. Korupsi juga nyatanya bisa melemahkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dalam menjalankan program pembangunan yang juga akan menghambat upaya pengurangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.
Potensi untuk melakukan tindakan korupsi sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Bibit korupsi itu bisa hadir dalam diri setiap orang bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Keluarga, dalam hal ini lingkungan dan masyarakat sekitar merupakan satu scope kecil yang turut mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang kelak dikemudian hari.
…Korupsi itu adalah ketika seorang anak berani meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli buku dengan melebihkan nominal harga buku tersebut.
…Korupsi itu adalah ketika seseorang berusaha memberi ‘upah’ ketika ia membuat SIM agar prosesnya dapat dipercepat.
…Korupsi itu adalah ketika seorang pemimpin mengingkari amanah rakyat untuk memperkaya diri sendiri.

Keberhasilan-keberhasilan dalam melakukan satu persatu korupsi kecil bisa membuat orang terbiasa melakukannya, sehingga suatu saat bukan tidak mungkin pelakunya bisa melakukan korupsi besar. Korupsi kecil bukan melulu soal dan berupa uang, tetapi juga bisa bermulai dari korupsi waktu dan hal lainnya. Yang perlu diingat adalah bahwa segala sesuatunya itu bermula dari hal-hal kecil.
Namun, pada dasarnya ada dua motif yang mendorong seseorang melakukan tindak korupsi, diantaranya dorongan kebutuhan (need driven) dan dorongan kerakusan (greed driven). Diluar itu semua, sebenarnya tindak pidana korupsi bisa terjadi karena memang ada niat dan kesempatan.

Upaya apa yang harus dan sudah dilakukan untuk mengatasi masalah ini?!
            KPK memang merupakan salah satu alat dalam upaya memberantas tindak pindana korupsi yang selama ini gencar disuarakan oleh pemerintah. KPK merupakan suatu lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas serta wewenangnya bersifat independen, artinya tidak boleh ada intervensi atau campur tangan dari pihak lain dalam penyelidikan ataupun kegiatan terkait lainnya.
            Lahirnya KPK sebagai hasil dasar pemikiran dunia hukum, dimana korupsi disadari merupakan salah satu tindak kejahatan yang sungguh sangat luar biasa. KPK dibentuk atas hasil dari pemikiran para anggota parlemen ‘bersih’ yang berharap pemberantasan korupsi dapat dilakukan lebih intensif, tapi sekarang yang terlihat adalah bahwa banyak anggota parlemen ‘kotor’ yang secara terselubung maupun terang-terangan mencoba untuk mengamputasi kewenganan KPK dengan berusaha bergotong-royong dengan sekutunya untuk membunuh karakter lembaga satu ini dihadapan masyarakat.
            Hambatan demi hambatan datang terus silih berganti untuk membuat kinerja lembaga satu ini mengalami kepincangan atau bahkan kelumpuhan total dengan berbagai cara. Perlawanan balik dari para koruptor dan para pendukungnya mulai tampak nyata yang menuntut dihentikan penyelidikan bahkan menutup kasusnya, upaya pemangkasan kewenangan melalui penyusunan revisi UU KPK, pembangunan wacana untuk membentuk suatu opini buruk dari publik atas eksistensi KPK, tindakan fitnah kepada pimpinan KPK sampai dengan ancaman/terror terhadap para pegawai dan pimpinan KPK hanya beberapa contoh dari tindakan pembunuhan lembaga ini. Banyak hal lain yang dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan guna merobohkan tiang-tiang KPK.
Selama ini banyak kasus korupsi yang dibongkar oleh KPK, ada yang tuntas sampai selesai tapi ada juga yang sampai sekarang penanganannya belum berujung dan menggantung. Pengananan beberapa kasus yang tidak berkesudahan oleh KPK disinyalir menghadapi kendala dalam hal independensi dalam penegakan hukum, terutama jika kasus tersebut memiliki kaitan dengan para penguasa besar, terlebih yang melibatkan aparat penegak hukum, para elit politik internal serta mafia bisnis kelas kakap. Dalam hal ini, tidak bisa kita pungkiri bahwa memang uang dan kekuasaan itu bersuara. Bukan begitu?!

Selanjutnya apa?
Seperti yang diketahui bahwa suatu negara terdiri dari tiga komponen utama, yakni pemerintah, masyarakat dan swasta.  Dan, keberhasilan suatu negara sangat bergantung pada kinerja dan kerja sama dari ketiga komponen ini. Jadi selain tugas dari pemerintah, peran aktif dari masyarakat juga sangat diperlukan dalam upaya perbaikan bangsa, dalam hal ini tentunya upaya untuk memberantas tindak pidana korupsi. Korupsi itu musuh kita bersama. Jadi, tanpa adanya dukungan segenap masyarakat Indonesia, segala upaya apapun yang dilakukan untuk pemberantasan korupsi tidak akan pernah berjalan efektif.
Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa dalam hal ini, korupsi, KPK bukan segala-galanya. Keterbatasan para pengawas atau personil dari KPK dibandingkan dengan jumlah tindak pidana korupsi yang ada di seluruh penjuru Indonesia sungguh sangat berbanding terbalik. Disinilah dibutuhkan ‘bantuan’ masyarakat untuk bersama-sama mengawasi, memberikan aduan dan pembinaan/sosialisasi mengenai gerakan bebas korupsi untuk meminimalisir terjadinya tindak korupsi, mulai dari lingkungan sekitarnya, juga mulai dari diri sendiri. Demi mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan bebas dari korupsi!
 Masyarakat, secara pribadi, bisa mulai menerapkan gerakan ‘Say no to Corruption’ kepada dirinya sendiri. Mulai dari kegiatan sehari-harinya, dilingungan rumah dan sekitarnya. Dalam hal ini, moral dan pengetahuan bisa jadi dasar bagi setiap masyarakat untuk menghindari praktik tindak korupsi. Selebihnya, iman dan ketakwaan adalah rambu-rambu dan pedoman. Adapun pembinaan spiritual melalui agama, acara sosialisasi umum maupun kegiatan sejenis lainnya penting dilakukan untuk menjaga moral masyarakat. Selain itu juga bisa dilakukan gerakan ‘bersih’ di lingkungan bermasyarakat ditempat kita tinggal, mulai dari tingkat RT, RW sampai dengan tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita, lalu darimana lagi?!
Selain itu, masyarakat juga mempunyai hak untuk menyampaikan suara, baik itu saran atau pendapat secara bertanggung jawab kepada para penegak hukum mengenai perkara tindak pindana korupsi. Dalam hal ini, masyarakat yang mengetahui atau melihat adanya indikasi terjadinya praktik-praktik korupsi dapat segera melaporkannya kepada KPK melalui web KPK Whistleblower’s System sebagai salah satu media online monitoring system.
Sistem ini merupakan sarana bagi whistleblowers untuk memberikan pengaduaan dugaan adanya tindak pidana korupsi yang telah terjadi maupun akan terjadi, yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggaraan negara dan orang-orang yang ada kaitannya dengan tidak pidana korupsi yang dilakukan olehnya. Tidak perlu bimbang, ragu, apalagi khawatir. Masyarakat yang melakukan pelaporan telah dijamin dan dilindungi identitasnya oleh Undang-undang. Dengan hal ini, Anda telah mengambil bagian penting dalam upaya perjuangan bangsa melawan korupsi.
Selain itu juga, masyarakat nyatanya memiliki suatu energi yang luar biasa besar untuk mengawal proses pengusutan kasus korupsi yang dilakukan oleh pihak berwenang. Dalam hal ini masyarakat berperan sebagai controler (pengawas). Kegiatan unjuk rasa, dengar pendapat, audiensi, diskusi publik dan kegiatan sejenis lainnya merupakan salah satu sarana yang kerap kali digunakan oleh kelompok masyarakat untuk mendorong percepatan penanganan tindak kejahatan yang satu ini.
Semua pilar-pilar yang saling berkaitan dengan upaya dan proses penegakan hukum harus saling menopang dan menguatkan, sehingga diharapkan tindak korupsi dapat ditekan seminimal mungkin. Memang yang perlu kita sadari adalah bahwa korupsi tidak akan hilang sepenuhnya, sekalipun pada negara yang sistem pemerintahannya sudah baik, tetapi melalui gerakan bersama-sama memerangi korupsi dan dengan strategi yang jelas, maka diharapkan tindakan korupsi ini akan banyak berkurang.
Dengan tidak membayar ‘uang saku’ pada petugas terkait saat membuat SIM adalah salah satu bentuk pencegahan terhadap tindak korupsi. Dengan tidak melebihkan permintaan uang buku kepada orang tua adalah salah satu bentuk pencegahan diri untuk berbuat korupsi. Mulai tanamkan dari diri sendiri, dari hati, meyakini bahwa korupsi bukan satu-satunya jalan keluar untuk menuju hidup yang lebih baik.
Maka, tunggu apalagi? Sekarang saatnya untuk kita mengambil bagian dalam misi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran akibat korupsi! Ingat, segala bentuk tindak kejahatan muncul bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan.
Lihat! Lawan! Laporkan! #SaveKPK



Tulisan ini dibuat untuk sebagai sebuah sumbang saran atas keprihatinan dan pemikiran pribadi melihat semakin maraknya tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia. Juga untuk mengikuti lomba menulis nasional dari 'Indonesia Menulis' dalam rangka Lomba Menulis dan Lokakarya Nasional dengan tema “Peran Serta Masyarakat dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi”.

16 Oktober 2012

2nd winner of Padjajaran Writing Competition! \o/

Sabtu, 13 Oktober 2012

Hmm.. pagi itu dimulai dengan setumpuk kegiatan hectic beres-beres seisi rumah karena habis ditinggal mama hampir sebulan penuh. Setelah selesai beres-beres, saya segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Sasana Budaya Ganesha, ITB, mengikuti job expo ..sendirian. Ha! Ya, sendirian. Celingak-celinguk di tengah keramaian seperti yang saya suka, ber-autis-ria dengan smartphone saya yang padahal sama sekali nggak ada yang bbm, sms ataupun telpon, berjalan dengan tegap seolah semua berjalan biasa saja ..padahal tidak demikian. Kalau ada teman saya liat pasti cuma geleng-geleng kepala, prihatin ck! Belajar mandiri..

Setelah puas berkeliling isi Sabuga menyebar buntelan dokumen berisi curricullum vitae dan resume, juga mengikuti antrian panjang entry data untuk salah satu perusahaan, yang antriannya melebihi antrian sembako di kantor kelurahan, duh.. Sekitar jam setengah 12 saya dijemput oleh teman saya, wishnu, untuk menuju destinasi selanjutnya. Makan di gelap nyawang ITB dan yap, New Majestic Braga! 

New Majestic, Braga

NEW MAJESTIC, BRAGA...
Menggunakan motor CB jaman dulu milik wishnu lengkap dengan helm itali tanpa kacanya, favorite saya, Jam 1 kurang 10 menit saya baru sampai di lokasi. Terlambat dari jadwal yang ditentukan sih memang, tapi untungnya acara Talkshow belum di mulai. 



15 Oktober 2012

Enak, Sehat & Bermanfaat; Ini Asli Sunda Pisan euy!

Sebagai masyarakat sunda memang sudah selayaknya saya pribadi merasa bangga terhadap kekayaan kuliner tradisional yang dimiliki tanah kelahiran saya ini. Bila didata lebih lengkap bisa jadi ada lebih dari ratusan jenis makanan dan minuman tradisional khas yang berasal dari Sunda loh. Mulai dari makanan pembuka sampai hidangan utama, seperti Soto Bandung, hayam bakakak, cumi hideung, reuceuh, sambel goreng ati, semur jengkol, ulukutek leunca, ase cabe hejo, dan makanan lain yang rasanya sungguh sangat menggugah selera makan.

Selain itu juga ragam makanan penutup yang mayoritas memiliki cita rasa manis (dalam bahasa sunda sering dikatakan ‘amis’), seperti kelepon, ali agrem, putri noong, katimus, awug, misro, gurandil, dan sebagainya. Belum lagi minuman khas seperti dawet, es goyobod dan es cingcau. Juga dari jenis makanan ringan, dalam bahasa sunda diistilahkan dengan ‘hahampangan’, seperti opak, kolontong, keremes, borondong, kalua jeruk, semprong dan lain sebagainya.

Selama ini, saya sering dipanggil sebagai si penjelajah kuliner oleh teman-teman saya, hal ini karena hobby saya untuk berwisata kuliner di kota Parahyangan, Bandung, kota yang terkenal akan surga wisata kulinernya ini. Mulai dari mie aceh sampai dengan coto makassar sudah pernah saya rasakan karena sekarang mudah didapati di Kota ini. Mulai dari makanan khas kampung sampai makanan ala eropa sudah pernah saya cicipi. Mulai dari makanan nggak enak, enak, agak enak sampai enak banget juga sudah sering saya coba. Mulai dari makanan kaki lima sampai beberapa restoran bintang lima juga pernah saya datangi.

Maka, saat membaca info mengenai blog writing competition dari Sari Husada melalui website Nutrisi Untuk Bangsa tentang Jelajah Gizi mengenai ‘Apa Makanan Khas Daerahmu?’ Jujur saya merasa sangat bingung mengingat begitu banyaknya makanan khas sunda. Juga, pertanyaannya tidak hanya sampai disitu. Selain menanyakan apa makanan khas dari daerah kita, pertanyaannya dilanjutkan dengan ‘Bagaimana kandungan gizinya?’, ‘Bagaimana seluk beluk makanan itu?’‘Adakah manfaatnya?’. Aaaa! Sungguh bingung rasanya.

Dan setelah berpikir keras, dari sekian banyak makanan khas Sunda, saya sangat tertarik untuk menceritakan kandungan gizi dari dua jenis makanan khas sunda ini loh, mereka adalah ulukutek leunca dan tutut, yang notabene adalah makanan khas Sunda favorit saya yang belum banyak orang tahu akan kandungan gizi dan manfaatnya yang luar biasa.

Kenapa?
Kalau ditanya kenapa saya tertarik untuk menelisik lebih jauh mengenai makanan ini dan kandungan gizi serta manfaat didalamnya yaitu karena pada kenyataan sehari-hari yang saya temui, banyak sekali orang-orang yang saat mendengar nama kedua jenis makanan ini langsung berkata tidak suka, padahal kebanyakan dari mereka belum pernah mencicipinya loh. Kebanyakan sih tidak menyukai makanan karena mereka mendengar istilah 'kata orang...' dari makanan ini, seperti misalnya.. katanya ulukutek leunca rasanya pahit saat dimakan. Juga, tutut yang merupakan sejenis keong yang hidup di pesawahan dan dianggap jorok dan kotor. Padahal dua jenis makanan khas tanah Parahyangan ini sungguh kaya akan gizi dan manfaat loh. Yuk, kita coba kupas satu per satu..


1. Ulukutek Leunca
Pernah dengar sebelumnya? Agak aneh ya kedegarannya. Bila kita datang ke rumah makan khas Sunda, pasti salah satu menu andalan yang disajikan adalah makanan yang satu ini. Kalau saya bilang rasa dari masakan ini sungguh sangat enak, terlebih jika disantap dengan nasi panas, goreng asin peda dan sambel terasi, hmm manknyuuuus! (Serius harus coba!!) Biasanya sih, leunca lebih banyak dikonsumsi sebagai lalapan atau sayuran. Saya sendiri sih lebih suka leunca ini masak menjadi ulukutek leunca atau karedok. Nikmatnya nggak ada dua, serius!

Di kota Bandung sendiri rumah makan atau restoran khas Sunda yang menyajikan makanan ini cukup banyak kok. Hampir semua rumah makan khas Sunda saya rasa menyajikan makanan ini sebagai salah satu pilihan dari sekian banyak jenis makanan Sunda lainnya. Seperti halnya ciri khas masakan Sunda lain yang terkenal dengan rasa yang enak, gurih dan memiliki aroma yang memikat, ulukutek leunca ini juga menghasilkan suatu sensasi baru saat memakannya.

Sumber: klik here

Apasih leunca?
Pernah denger mengenai buah satu ini? Tanaman ini banyak dikonsumsi orang mulai dari daun, bunga hingga buahnya karena konon memiliki banyak manfaat luar biasa bagi kesehatan. Tanaman ini buahnya berupa buah buni, bulat-bulat kecil dan berisi banyak biji dengan penampang sekitar kurang lebih 1 cm.

Kandungan Gizi dan Manfaatnya
Nilai gizi dari leunca ini diantaranya adalah mengandung kalori (45 kal), vitamin A (1.900 SI), protein (4,7 gr), kalsium (210 mg), lemak (0,5 gr),  fosfor (80 mg), besi (6,1 mg), karbohidrat (8,1 gr), vitamin B1 (0,14 mg) dan vitamin C (40 mg).
Berdasarkan sumber yang saya baca dari hasil penelitian konon tanaman ini mengandung senyawa solasonine, solasodine, solamargine, dan solanine yang menghambat pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali. Adapun solasodine mempunyai efek menghilangkan sakit (analgetik), penurun panas, antiradang dan antishok. Sedangkan solamargine dan solasonine mempunyai efek anti bakteri dan sebagai antimitosis. Lagi, berdasarkan beberapa studi ilmiah menunjukan bahwa leunca memiliki aktivitas anti ulserogenik yang berhubugan dengan sistem saraf, lambung, dan sebagai agen anti neoplastic serta memiliki peran sitoprotektif melawan kerusakan sel ginjal.

Hal ini buktikan juga di China, dimana tanaman yang buahnya renyah, sedikit pahit dan agak langu ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakatnya sebagai antibiotik, antiradang, diuretik (peluruh air kemih), menghilangkan bengkak, melancarkan aliran darah, peluruh dahak, antipruritus (menghilangkan gatal), pereda batuk dan penurun demam.Wow, ternyata makanan kesukaan saya ini mengandung berbagai macam manfaat loh.

Nah untuk memasak masakan ini juga terbilang mudah kok, saya sering buat sendiri dirumah. Yuk coba masak dan rasakan sensasi nikmat yang saya ceritakan!
Ayo coba memasak sendiri!
Bahan:
6 sdm minyak sayur, 1 cm lengkuas, 2 lembar daun salam, 16 buah cabai rawit merah (iris kasar), 40 helai kemangi, 200 gram leunca (bersihkan), 300 gram oncom (dimemarkan)

Bumbu Halus:
8 butir bawang merah, 6 siung bawang putih, 6 buah cabai merah, 2 cm kencur, 1 sdt gula pasir, 2 sdt garam

Cara membuat:
Pertama-tama tumis terlebih dahulu bumbu halus bersamaan dengan lengkuas dan daun salam hingga wangi. Lalu, tambahkan cabai rawit, aduk hingga layu. Setelah itu masukkan kemangi, oncom dan leunca, aduk hingga rata dan jika diperlukan tambahkan sedikit air. Masak hingga oncomnya agak kering dan buah leunca layu. Kemudian tmbahkan garam dan penyedap, cicipi, aduk merata. Angkat, sajikan bersama nasi hangat dan siap disantap!

Ulukutek Leunca

Satu lagi nih, oncom yang merupakan salah satu bahan untuk memasak ulukutek lenca itu merupakan salah satu jenis bahan makanan yang terbuat dari bahan sisa, yaitu ampak dari kacang tanah bekas membuat minyak. Oncom ini dibuat dari bungkil atau ampas kacang tanah dengan ditambah beberapa campuran bahan lain, yang paling umum adalah ampas tahu. Nah, setelah bungkil bersama campuran-campuran lain disamsak, kemudian ragi oncom (jamur oncom) disimpan beberapa hari. Tapi walaupun demikian, seperti halnya tempe, oncom juga memiliki peranan tinggi di dalam susunan menu makanan sehari-hari loh.

Makanan tradisional khas Sunda ini dijamin membuat selera makan Anda tiimbul deh. Rasa leunca yang renyah pahit beradu bersama lembutnya oncom dan pedasnya ulekan cabai. Wah, dijamin deh apabila disantap bersama nasi putih hangat rasanya sedap, nikmat dan tentunya bermanfaat kan! Oya, selain manfaat dari ulukutek leunca yang saya sebutkan diatas, ada satu lagi nih manfaat dari makanan khas Sunda yang satu ini yaitu memberikan rasa kenyang ketika penyakit kelaparan melanda perut kita, hehe.


2. Tutut Keong
Bukan! Ini bukan suara kereta api dalam sebuah lagu anak-anak itu, serius bukaaaan! Tutut ini sejenis siput atau keong yang hidup di sawah. Tutut sendiri merupakan panggilan orang-orang sunda. Menurut ibu saya, filosofi nama tutut ini diambil dari cara makan keong ini a la Sunda yang di sedot (dalam bahasa Sunda disebut 'dikecrok'). Jadi, cara memakan tutut dengan menyedot dibagian depan ini merupakan salah satu cara makan tutut sensasional yang khas dikalangan orang Sunda. Menurut saya, cara makan tutut dengan cara ini dan dengan mengambil daging menggunakan tusuk gigi ini jauh berbeda loh.

Mungkin ada yang sudah pernah mencoba enaknya daging keong ini? Atau barangkali masih ragu saat membayangkan tubuhnya yang berlendir dan hidup ditempat yang berlumpur? Nah, sekarang ini tutut nyatanya mulai populer sebagai salah satu pilihan menu kuliner khas Sunda loh. Karena selain harganya yang terjangkau, tutut ini juga disadari kaya akan protein hewani bermutu tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan loh. Tapi untuk mengkonsumsi penganan ini, kita harus memastikan bahwa pengolahan tutut ini sudah benar untuk dikonsumsi.


Apa itu tutut?!
Tutut adalah sejenis keong yang hidup di sawah. Tutu ini paling banyak diketemukan di sawah, dimana air sawah yang agak berlumpur tapi juga relatif bening. pada siang ahri tutut-tutut ini bersembunyi didasar lumpur sehingga sulit dicri dan dikumpulkannya. Nah, barulah pada malam hari para tutut ini menyebar menempel-nempel pada batang padi atau tumbuhan lainnya yang ada disekitar. 
Kandungan gizi dan Manfaat
Tutut mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi, juga mengandung mikronutrien yang berupa mineral yaitu kalisum yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Protein sendiri menunjang keberadaan setiap sel tubuh, juga berperan dalam proses kekebalan tubuh. Konsumsi protein hewani ini jelas dibutuhkan oleh tubuh disamping protein nabati. Selain itu juga kandugnan lemak yang terdapat dalam tutut merupakan asam lemak esensial dalam bentuk asam linoleat dan asam linolenat.

Lagi, adapun kandungan vitamin dari keong ini juga cukup tinggi dengan didominasi vitamin A, vitamin E, niacin, dan folat. Vitamin A sendiri berperan dalam pembentukan indra penglihatan (mata) yang baik, terutama di malam hari. Sedangkan, vitamin B3 berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemat dan protein. Selain itu di dalam tubuh, vitamin B3 mempunyai peranan penting dalam menjaga kadar gula darah,  penyembuhan migrain, tekanan darah tinggi dan juga vertigo loh.

Belum selesai sampai disitu aja loh, kandungan vitamin E pada tutut juga berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan, mulai dari jaringan mata, kulit, sel darah merah sampai hati. Sedangkan folat berpungsi dalam membantu pembentukan sel darah merah, mencegah anemia dan berbagai manfaat lain. Belum lagi manfaat kandungan mineralnya berupa kalsium, magnesium, kalium, zat besi dan fosfor yang berperan penting pada tubuh guna pengaturan kerja enzim, pemeliharaan keseimbangan asam dann basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti pembentukan hemoglobin.

Wow, ternyata dibalik penampilan keong tutut yang bagi sebagian orang agak menjijikan ini ternyata sungguh banyak kan kandugan gizi serta manfaat dari hewan satu ini ya..

Nah sedangkan untuk memasak masakan ini (menurut saya sih) agak sedikit ribet dan membutuhkan waktu, maka dari itu saya lebih suka membelinya, hehe.
Ayo coba memasak sendiri!
Bahan:
1 kg keong tutut, 3 cm lengkuas (dimemarkan), 2 lembar daun salam dan batang serai, 2000 ml santan, 1 sdt asam jawa, dan minyak goreng secukupnya. 

Bumbu halus:
1,5 sdm ketumbar (disangrai), 1/2 sdm jintan sangrai, 3 butir buah kemiri, 1/2 sdm merica butiran, 2 sdt garam, 5 cm kunyit (dibakar), 5 siung bawang putih, 10 siung bawah merah, 1,5 sdm kencur cincang, 1,5 sdm jahe cincang, dan 2 sdt terasi matang.

Cara memasak:
Pertama-tama, rendam keong tutut di dalam air bersih selama satu malam, agar kandungan lumpur pada tubuhnya berkurang, terus pecahkan ujung cangkangnya dengan cara dipukul hingga berlubang untuk membuang kotoran yang terdapat dalamnya. Lalu, cuci bersih keong tutut tersebut sambil dibersihkan ujung cangkangnya, agar memudahkan saat proses makannya. Kemudian tumis semua bumbu halus beserta daun salam, serai dan lengkuas sampai harum dan terlihat matang. Adapun bumbu-bumbu tersebut selain untuk menciptakan aroma yang enak juga untuk menghilangkan aroma amis dari keongnya loh. Dan setelah matang, tuang santan sampai mendidih. Terakhir, masukkan keong tutut, kecilkan api, terus masak hingga seluruhnya matang. Biasanya sih dimasak selama kurang lebih 2-3 jam. Dan selanjutnya, tutut khas sunda dengan rasa yang menggugah selera siap dihidangkan.
Tapi jika kamu merasa malas untuk memasaknya sendiri, kamu juga bisa loh beli hasil olahan tutut yang kini banyak di jual di pasaran. Harganya pun terbilang sangat murah loh, hanya sekitar Rp. 5000 saja untuk satu porsi tutut ini.  
Sumber: klik here


Gimana gimana? Ternyata dibalik tampilannya yang bagi sebagian orang agak menjijikan ini, keong tutut bisa menjadi olahan makanan yang amat lezat dan bernilai gizi tinggi bukan? Jadi yakin masih ragu untuk mencoba makanan khas Sunda yang satu ini?!


DAN...
Terbukti kan bahwa makanan-makanan khas tanah Sunda ini selain enak juga sangat bergizi serta kaya akan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Dengan terus menggali dan mencari tahu nilai-nilai kandungan gizi yang terdapat pada makanan khas, selain untuk pengetahuan pribadi juga bisa menjadi salah satu cara melestarikan makanan khas daerah agar tidak hilang ditelan jaman. Tetap sehat, tetap semangat supaya bisa terus jalan jalan dan makan-makan makanan khas Indonesia! *ala Pak Bondan*

Salam Pecinta Kuliner,
Anggi Agistia

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...