26 Februari 2016

YOU TOOK MY HEART AWAY, BANDUNG!

Konon, Bumi Pasundan diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Setidaknya itu tulisan yang saya lihat terpampang jelas disalah satu ruas jalan utama kota ini. Alasannya? Banyak. Mungkin kamu bisa bertanya pada setiap ‘turis asing’ yang pada saat weekend, long weekend maupun hari libur nasional memilih untuk membanjiri kota ini dengan kuda besi dari kota asal mereka. Jujur, sebagai warga yang di KTP-nya tertera berkelahiran di kota Kembang, saya dan mungkin banyak diantara kalian setuju bahwa kini kota ini tidak senyaman dulu. Terlalu hectic. Terlalu bising. Terlalu ramai. Terkadang harus menghabiskan waktu berjam-jam dijalan untuk tiba di satu tujuan.

Wanawisata Batu Kuda, Kaki Gunung Manglayang
Pagi itu saya tiba pukul 2 pagi di pool Bus Primajasa setelah sebelumnya terbang dari Pulau Bangka menuju Jakarta dilanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam. Sudah beberapa kali dan kali ini saya masih merasa asing. Angin berhembus seiring dengan hentakan kaki saya saat turun dari bis, dingin, tapi sejurus kemudian senyum seorang pria yang berjalan dari tempat parkir membuat hati saya terasa hangat.

Walaupun masih merasa mengantuk, tapi saya tidak ingin membuang waktu. Jadi saya mengajak pria itu untuk segera menjelajah Bandung tepat setelah ayam jantan berkokok. Kondisi jalan yang masih basah sehabis hujan, membuat perjalanan menjadi lebih lama, karena sepeda motor yang kami tumpangi harus sedikit melambat apabila melewati medan yang becek, licin, dan tidak beraspal. 


24 Februari 2016

[GIRL THINGS] DARI ISI TAS SAMPAI PEMILIHAN JAM TANGAN

Setelah sempat heboh beberapa waktu lalu soal tantangan berantai 'What's-on-your-bag-nightmare-game' di social media sampai-sampai dalam beberapa minggu timeline dipenuhi item-item isi tas wanita-wanita sosialita, ihiy. Mulai dari barang-barang branded tas, dompet, lipstik 500k (maybe), dan aneka item branded yang jujur aja saya nggak suka mampu beli hahaha. Berhubung jarak dari rumah ke kantor hanya kurang dari 5 menit jadi isi tas ya memang hanya itu-itu-saja. Make up pouch yang isinya bedak, lipstik, eyeliner, peniti, kayu putih dan body mist, selain itu juga paling kacamata, headset, notebook, pena, dompet, tissue, power bank dan ID card. Lain halnya kalau sedang berlibur, wuihhh bisa riweuh penuh sama item nggak penting dalam tas.

Holiday -must-have-item- package!
Jadi sepanjang melihat isi tas teman-teman lain saya cuma manggut-manggut dan ber-oh-oh ria, sesekali boleh lah ber-wow-ria. Ya gitulah, selera saya masih sama ternyata, nggak terlalu tertarik dengan barang-barang branded yang konon harganya bisa bikin puasa daud sebulan penuh. Krik. Saya masih gini-gini aja, masih lebih suka foya-foya buat makan enak daripada beli barang yang harganya nggak masuk akal, masih lebih suka diajak ngobrol sambil makan sepanjang malam di warung kopi dibanding nonton bioskop, masih lebih suka datang dan menjelajah tempat baru ketimbang masuk ke satu mall ke mall lainnya.

Kalau bicara isi tas pasti nggak jauh dari pergi somewhere out there gitu kan yah, bisa jadi hanya sekedar jalan-jalan. Saya pribadi tipikal orang yang nggak bisa kalau harus nggak bawa apa-apa kalau pergi keluar rumah. Minimal; dompet, itu pun kalau cuma pergi ke tukang pecel lele buat makan. Sedangkan kalau jalan-jalan harus banget bawa tas, walaupun kecil yang penting judulnya tas. Entah kenapa. Beberapa teman pernah tanya juga kok kesannya rempong amat, tapi ya itu tadi entah kenapa. Oya, selain itu juga wajib pakai jaket ataupun kardigan dan Jam Tangan! Harus. Titik. Seringkali saya sampai sengaja balik lagi ke rumah karena kedua benda tersebut kelupaan. Jreng.

18 Februari 2016

WHAT MAKES GOOD PEOPLE GOOD?

Masih merasa tertohok dengan pertanyaan dan pernyataanmu saat beberapa waktu lalu saat pulang ke Bandung awal tahun. 'Ata kok ada orang kaya ada orang miskin, ya?', tanyanya polos. 'Tuh orang pada punya mobil bagus. Nanti kalau Ata uangnya udah banyak dede uwen beliin juga ya?'. Saya tersenyum. Bingung. Adik bayiku sudah semakin besar ternyata.


Anak kecil yang kini usianya 6 tahun ini sudah semakin pintar, anak kecil yang sudah hapal Juz 30 ini sudah mulai bisa menjabarkan apa yang dia pikirkan dari apa yang dia lihat, anak kecil ini sudah terlampau sering bertanya hal-hal yang kadang saya sendiri bingung menjawabnya, anak kecil ini kini bahkan sudah tidak pernah lagi merengek-rengek sambil menangis jika ia ingin dibelikan sesuatu dan kerap mengeluarkan satu jurus pamungkasnya 'Nanti kalau Ata udah punya uangnya kita beli itu ya?' tidak pernah memaksa. Anak pinter.

Anak kecil yang sudah berani mengolok kakaknya dengan bertanya, 'Aa mana ta?' Haha! Duh, dek. Dan aneka pertanyaan demi pertanyaan kritis yang kamu lontarkan sering bikin pusing tujuh keliling untuk menjawabnya. So, I think one day you'll ask me this question: 'What makes good people good?'. Suatu hari nanti kita akan berdiskusi soal ini, dek. Suatu hari nanti saat kamu sudah pandai menggunakan internet dan kepo-in kakakmu seperti ummu dan abah sekarang ini, jangan ragu bertanya apapun ya.

Dan heeey, tahun ini hampir mau 7 tahun saja. Kini kamu semakin cantik, semakin pintar, dengan bangga bilang kalau kamu juara dua di sekolah, sudah mau masuk sekolah dasar, sudah hapal Juz 30 -yang kakaknya pun kalah, sudah hapal aneka doa sehari-hari, sudah bisa sedikit bahasa Jepang, sudah berani ikut lomba ini-itu, sudah bisa nyanyi banyak lagu bahkan dangdut, suka menari, suka tertawa, suka makan banyak, suka balon, suka eskrim, suka sekali yupi, suka sekali kalau diajak ke Kebun Binatang, oya sudah pintar selfie dan suka sekali menghitung hari kalau saat tahu kakaknya ini akan pulang. Terus tumbuh ya dek, pinter, soleh, sehat, kuat, cerah, ceria, berbunga, berbuah, sehat, selalu bahagia.



Ata lovee you!
See you very soon, bayi besarku...

15 Februari 2016

[TIPS] LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARIPADA SAKIT HATI, YAKIN?

Sebagai salah seorang yang konon katanya mengaku pecinta jalan-jalan dan kuliner, saya mengaku sering lupa diri kalau sudah bertemu dengan yang namanya makanan super enak. Aneka jenis makanan panas atau dingin serta manis atau gurih akan segera dilahap tanpa pikir panjang bahwa hal itu bisa membuat garis timbangan geser ke arah sebelah kanan dengan jumlah yang tidak sedikit, hiks. Sayangnya, hobi berwisata kuliner yang tidak dibarengi dengan perawatan gigi bisa membuatnya jadi mudah rusak lho.

Kalau versi lagu dangdut Meggy Z sih dia bilang 'Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati' uuuuuh~ yakiiiiiin? Saya sih noooooo, nggak mau keduanya, hih!

pic source from here

14 Februari 2016

Oase di Tengah Hutan; Warung Kelontong dan Para Pengecer BBM

Sudah terhitung dua kali saya ditempatkan di Kota kecil, yang pertama di Kota Prabumulih, sebuah kota di Provinsi Sumatera Selatan dan kali kedua hingga saat ini di Pangkalpinang, salah satu kota di Kepulauan Bangka Belitung. Secara garis besar dua kota ini memang berbeda, yang satu merupakan kota terkecil di tengah Sumatera Selatan, sedang yang satunya berada di sebuah Kepulauan yang dianugerahi banyak destinasi yang begitu indah. Jika ditilik dari segi pekerjaan, penduduk Kota Prabumulih mayoritas bekerja dalam bidang perdagangan dan industri serta perkebunan. Lain halnya dengan masyarakat Pulau Bangka yang notabene terletak di pulau kecil, selain menjadi pekebun lada, sawit dan karet mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. 

Salah satu hal yang saya rasa selama tinggal di daerah/kota kecil adalah minimnya kehadiran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Berbeda dengan kota-kota besar dimana SPBU milik Pertamina bisa ditemui disetiap tikungan jalan bahkan selama 24 jam setiap harinya, di kota-kota kecil terutama pelosok, SPBU resmi semacam ini jarang sekali dapat ditemui. Kalau pun ada jumlahnya tidak banyak dan harus ditempuh dengan jarak yang cukup jauh, itupun dengan waktu operasi yang biasanya hanya sampai jam 5 sore saja. Oh ya dengan tambahan, terkadang hari Sabtu dan Minggu tutup. Awalnya saya sempat merasa kaget memang, tapi ternyata memang begini, lantas apa kabar wilayah yang memang sangat pelosok sekali dimana bisa jadi pasokan bahan bakar minya didistribusikan dengan jarak cukup jauh atau melewati drama panjang perjalanan darat laut bahkan udara.




Terkadang untuk beberapa alasan, seperti pekerjaan maupun sekedar hanya ingin pergi wisata akhir pekan, kami harus melewati jarak yang cukup jauh untuk tiba ditempat tujuan. Dan selama perjalanan pemandangan yang dilewati adalah hutan, kebun, pemukiman penduduk, hutan lagi, kebun lagi, hutan lagi, pantai dan hutan lagi. Memang begitu keadaannya. Tak terbayang rasanya jika mogok atau kehabisan bahan bakar ditengah hutan yang tidak begitu ramai lalu lalang kendaraan.



10 Februari 2016

Edisi; Terlalu Rindu Rumah

Mungkin kamu tidak bisa mengubah dunia, tapi kamu bisa berusaha membuat keluargamu bahagia. Mudah-mudahan itu cukup untuk membuat hidupmu bermakna. 
-Fahd Pahdepie





Whatever you are going through nothing can help you more than the belief in yourself, the faith in your heart, and the family around you.


Dream, Faith, Fight, agistianggi!


Rindu Serindu-rindunya. Kangen Sekangen-kangennya.
Hey, I'm going home, wait me :)



Bangka, Awal Februari.
Sudah lima hari hujan tak kunjung berhenti.
Bencana banjir hampir disetiap daerah.
Untuk kamu, saya titip doa untuk kami dan Saudara lainnya ya.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.
Terima kasih...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...