29 April 2013

Main di Waterpark Kota Badak!

Minggu lalu saya dan teman-teman pergi ke sebuah waterpark di Kota Pandeglang, Banten. Sebetulnya ini diluar rencana, karena sebelumnya kami tadinya mau pergi ke sebuah pemandian di kaki gunung, tapi karena satu dan lain hal ternyata teman-teman lain merubah agenda acara jadi ke CAS Waterpark.



Lokasi CAS Waterpark ini sendiri berada di pusat kota Pandeglang, paling hanya sekitar 1 jam perjalanan dari arah Serang. Untuk tiket masuk setiap orang dikenai biaya 15ribu rupiah. Eits, tapi ini belum termasuk jika kita menaiki wahana-wahana permainan yang ada disana.

Begitu sampai, kami membeli tiket dan berjalan-jalan, walaupun hari sabtu lokasi terlihat tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Mini zoo menjadi tempat pertama yang kami datangi. Ternyata selain menawarkan permainan air dan wahana-wahana permainan, tempat ini juga dilengkapi dengan mini zoo/ taman satwa mini yang bisa jadi hiburan bagi anak-anak. Sayangnya saat saya kemari sedang ada renovasi dan sepenglihatan saya hanya sedikit hewan-hewan yang berada disana.


Sambil berkeliling melihat-lihat lokasi, saya dan teman-teman juga sempat berfoto-foto gila haha! Disini memang banyak patung-patung yang bisa dijadikan objek photo shoot alias narsis-narsisan. Dari brosur yang saya dapatkan ketika membeli tiket, ada banyak wahana yang terdapat di CAS Waterpark ini. Beberapa diantaranya ada mini train, perahu petualang, perahu pinisi, sepeda layang, motor-motoran buat anak-anak, becak mini, alap-alap baduy, motor ATV & cross mini, dan rumah hantu. Lagi-lagi sayangnya wahana arung jeram dan rumah hantu juga saat itu entah kenapa ditutup, walaupun kalau buka saya harus berpikir puluhan kali untuk mau masuk hihi.



24 April 2013

Indonesian Street Food, Dari Mulut Turun ke Hati

Indonesia tercipta bersama sejuta pesona yang takkan pernah gagal menghipnotis siapa saja yang ada didalamnya. Cantiknya panorama alam, adat, budaya serta keanekaragaman makanan khas juga merupakan suatu kebanggaan yang dimiliki negeri kita tercinta ini. Untuk itu akan sulit rasanya menolak jatuh cinta pada Indonesia, sungguh..

Ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga ke Merauke di wilayah kepulauan negara Indonesia juga termasuk dengan berbagai suku bangsa dan etnis didalamnya membuktikan betapa kayanya Indonesia. Begitu juga dengan keanekaragaman makanan khas yang tidak terlepas dari letak geografis Indonesia, dimana seperti yang kita tahu bahwa dari ribuan pulau di Indonesia, banyak kota bahkan daerah-daerah diantaranya mempunyai makanan khas masing-masing yang unik dan siap untuk memanjakan lidah.

Wisata kuliner sendiri sebetulnya sudah populer dilakukan setiap orang saat berkunjung atau berlibur ke suatu tempat, tetapi menurut saya wisata kuliner di Indonesia justru jauh semakin populer semenjak adanya pemberitaan media, baik elektronik maupun cetak. Salah satunya adalah sebuah acara di stasiun televisi swasta yang dibawakan oleh pak Bondan Winarno. Dalam acara tersebut, beliau menjadi reporter kuliner dari satu kota ke kota yang lain, juga dari sebuah resto bintang lima sampai warung kaki lima. Acara tersebut juga membuka mata kita bahwa wisata kuliner Indonesia juga merupakan salah satu potensi wisata yang takkan pernah ada habisnya untuk dinikmati. Nah, siapa coba yang tidak kenal motto 'Poko'e maknyusssss'?!

Mau 'Enak Makan' atau 'Makan Enak'?
Kalau berbicara soal kuliner di Indonesia memang tidak akan pernah ada matinya. Mulai dari restaurant bintang lima sampai warung kaki lima sungguh sangat banyak sajian aneka ragam kuliner khas Indonesia yang patut untuk dicicipi. Lalu soal selanjutnya adalah mau 'enak makan' atau 'makan enak'? Enak makan disini maksudnya adalah tempat makan yang nyaman dan enak untuk kita menyantap makanannya. Mungkin kalau diibaratkan 'Enak Makan' ini identik dengan tempat yang mewah diiringi gemerlap lampu yang tentu memiliki budget harga tinggi. Sedangkan, 'Makan Enak' yang saya maksud adalah dimana kita mencari makanan yang enak tanpa memikirkan soal tempat.

Street food atau yang lebih sering disebut jajanan pinggir jalan atau jajanan jalanan identik dengan 'makan enak' ini. Street food memang lebih dikenal dengan tempat-tempat pinggir jalan, warung-warung tenda, atau bangunan semi-permanen yang kerap menjadi incaran satpol pp karena mendirikan bangunan tanpa ijin, dimana tempat-tempat ini bisa dikatakan sederhana. Tapi selain itu juga penjajak jajanan dengan gerobak dorong, mobil, sepeda dan sepeda motor juga dapat dikategorikan sebagai street food. Eits, tapi jangan salah, walalupun berada di lokasi yang sangat sederhana tidak jarang bahkan kita dapat merasakan masakan bintang lima dengan harga kaki lima. Ayo buktikan!

Bagi saya yang notabene merupakan warga Bandung, dimana banyak yang bilang kalau Bandung merupakan surganya wisata kuliner, mendapatkan kuliner ala street food alias jajanan pinggir jalan bukan lah hal yang sulit. Kenapa demikian? Karena disetiap sudut jalan terdapat jajanan kuliner bahkan dari setiap penjuru Nusantara yang enak dan sayang untuk dilewatkan. Bahkan pedagang jajanan yang menggunakan gerobak dan sepeda motor banyak ditemui berkeliling di kawasan perumahan atau mangkal di tempat-tempat keramaian seperti sekolah, kantor, masjid, pasar dan tempat lainnya. Jenis jualannya juga variatif, dominasi jajanannya seperti bakso, sate, siomay, batagor, nasi goreng, kupat tahu dan sebagainya. Belum lagi adanya semacam food festival atau festival kuliner tahunan yang seringkali diadakan, dimana para pengunjung biasanya sengaja datang untuk mencicipi makanan-makanan yang unik dan legendaris yang jarang bahkan sulit ditemukan kecuali ada event seperti ini.


19 April 2013

50 Hal yang (Paling) Saya Rindukan dari Bandung

1. Perjalanan pajang jalan Soekarno-Hatta - Pasteur - Kampus,

2. Terjebak hujan di tengah Jembatan Pasupati, yang membuat saya selalu berpikir Bandung punya bagian awan yang berbeda,

3. J.Co Cihampelas Walk,

4. Sebrang jalan Hotel Novotel,

5. Coffee Break, Buah Batu,

6. Makan Ayam Goreng Caknur,

7. Rumah Kost Sarijadi beserta kamu, ajeng dan gandi-nya,

8. Kamar Kost Sofiya, tempat saya menunggu,

9. Bermain di Timezone, Ciwalk.

10. Makan Kepiting di Cocorico,

11. Insiden Gokana Ramen & Teppan,

12. Iga bakar aduhai-nya Igelanca,

13. Gunung Tangkuban Perahu,

14. Pemandian Air Panas di Ciater,

15. Ribut soal cari meja di Congo Cafe & Gallery,


16 April 2013

Mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat

Dalam rangka bingung-nggak-ada-tujuan-mau-kemana di weekend lalu, saya akhirnya mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan, dekat jembatan kereta api yang melintas di atas sungai cikapundung. Setelah sebelumnya sempat berputar-putar, dari arah Tubagus Ismail rencananya iseng mau jalan-jalan ke Museum Geologi, tapi berhubung hari itu hari minggu dan museum tutup tepat jam 2 siang, akhirnya kami berputar arah. Begitu juga dengan Museum Pos yang terletak tidak jauh dari sana, di Gedung Sate.

Bandung memang merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak sekali jejak peninggalan sejarah ya. Mulai dari Gedung Asia-Afrika di Jalan Braga, Penjara Banceuy dan berbagai gedung lain dengan beragam latar belakang sejarahnya..


Bangunan Gedung Indonesia Menggugat ini sendiri bergaya ala rumah-rumah jaman dulu, kalau sering dibilang sih 'rumah peninggalan belanda' gitu. Di satu sisi, saya sendiri suka sekali dengan jenis-jenis rumah atau bangunan seperti ini, mempunyai jendela kayu dan langit-langit yang tinggi.. tapi di sisi lain juga bangunan jenis ini sangat erat kaitannya dengan hal mistis ya hihi.

Teman saya bercerita kalau tempat ini dulunya merupakan tempat dimana Presiden Soekarno melakukan pembelaan yang dinamakan Indonesia Menggugat. Dulu gedung ini bernama gedung Landraad.  Dan dari informasi yang saya dapatkan setelah googling pembacaan pledoi atau pidato pembelaan 'Indonesia Menggugat ini' terjadi pada tanggal 18 Agustus 1930. "Bahwasannya, matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit!", kutipan kata-kata Presiden Soekarno yang sangat terkenal dalam pledoi tersebut.


Di dalam bangunan Gedung Indonesia Menggugat ini sendiri tidak banyak peninggalan sejarah yang bisa kita nikmati. Begitu masuk kita akan disuguhi dengan cerita dan foto yang berisi biografi dari Presiden Soekarno beserta serangkaian sejarah yang berkaitan dengan peristiwa 'Indonesia Menggugat'.

12 April 2013

Wisata Religi di Candi Cangkuang



Minggu lalu setelah menyelesaikan satu dan berbagai hal di Bandung, hari Sabtu pagi saya berangkat menuju Garut. Sayangnya hujan pagi itu terus mengguyur Bandung tanpa henti. Dari niat awal berangkat pukul 05.30, akhirnya kami berangkat pukul 8.00, itupun dengan kondisi cuaca yang masih gerimis kecil. Setelah melewati perjalanan panjang jalan Soekarno-Hatta, Ujung Berung, Cileunyi, dan Rancaekek, perjalanan sedikit terhambat dengan adanya kemacetan yang disebabkan banjir tapi selanjutnya sih lancar.

Candi Cangkuang terletak di Garut, atau lebih tepatnya di Kecamatan Leles, Kampung Pulo. Pemandangan menuju kemari juga lumayan indah, melewati pesawahan menghijau dan sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Begitu sampai kami memarkirkan kendaraan didepan sebuah rumah makan. Dari sana kami memasuki kawasan wisata dan membayar biaya masuk sebesar 3ribu rupiah per orang. Karena pagi itu cukup sepi, kami memutuskan untuk ngobrol-ngobrol dulu dipinggir danau dan nggak langsung menyebrang ke lokasi candi.

Jadi, nama Candi Cangkuang sendiri diambil dari nama desa tempat candi ini berada katanya. Candi Cangkuang merupakan salah satu cagar budaya, dimana lokasinya ini terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil atau kalau orang sunda sih lebih sering menyebutnya 'situ'.  Nah, untuk menyebrang ke tempat candi inilah kami harus menyebranginya dengan menggunakan sebuah rakit. 

Akhirnya setelah menunggu, beberapa rombongan lain datang untuk menyebrang dengan begitu kan biaya untuk menyebrang bisa dibagi rata dan jauh lebih murah. Satu rakit untuk menyebrang dihargai 80ribu, untungnya seorang bapak dari rombongan itu menawar dan akhirnya kami hanya cukup membayar 6ribu per orang.


Setelah menyebrang kemari, sebelum memasuki area candi kami melewati jajaran penjual souvenir disini. Ada yang berjualan makanan, baju bergambar candi cangkuang, lukisan, ukiran kayu dan beberapa jenis souvenir lainnya untuk dijadikan oleh-oleh oleh para wisatawan yang datang kemari.

Dari situ, saya melewati 7 buah rumah yang kemudian diketahui adalah rumah ada Kampung Pulo. Sebetulnya sih hanya ada 6 rumah dengan 1 musholla kecil. Rumah-rumah ini berbentuk rumah panggung, khas banget tatar sunda kan ya.

8 April 2013

The Hidden Paradise, Laguna Pari

Selepas berjalan-jalan di goa lalay, Laguna Pari menjadi destinasi selanjutnya. Melewati pemukiman penduduk, kami juga lagi-lagi melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu untuk menyebrang.


Pada awal perjalanan, jalanan menuju lagoon pari masih terlihat biasa seperti layaknya jalanan pemukiman warga di perkampungan. Lalu selepas dari jembatan, kami dihadapkan pada dua jalan berbeda, lurus dan menanjak.. Karena tidak ada petunjuk jalan, kamipun bertanya pada seorang ibu disana dan ternyata jalan yang harus kami tempuh ke arah atas. Dan dari sini petualangan dimulai...


Medan jalanan yang berbatu memang sedikit membuat perjalanan menuju laguna pari ini terasa lebih melelahkan. Melewati sungai kecil, perbukitan, padang ilalang.. wow! cuma itu yang bisa saya katakan. Ini belum seberapa ketika selesai melewati padang ilalang, hamparan sawah yang menghijau berundak-undak membuat saya berdecak kagum. Ditengah jalanan seperti ini, pemandangan indah menjadi salah satu hiburan tersendiri memang.

Laguna Pari atau Lagoon Pari ini mempunyai letak yang dapat dikatakan cukup tersembunyi dan sulit dijangkau bahkan dengan kendaraan bermotor sekalipun. Medan jalan yang menanjak dan berbatu ini terlihat agak mengerikan untuk dilewati menggunakan motor, menurut saya. Walaupun saat disana, banyak juga jasa ojeg dan penduduk sekitar yang menggunakan motor sebagai alat transportasi menuju kemari. 




4 April 2013

Menyusuri Kegelapan di Goa Lalay, Sawarna!


Hari kedua berlibur di Sawarna. Pagi itu setelah selesai sarapan, saya dan teman-teman bergegas untuk berkeliling kawasan Sawarna lagi, tepatnya pergi ke Goa Lalay. Menurut pentunjuk jalan, arah dari penginapan menuju Goa Lalay kurang lebih sekitar 2 KM. Nah berhubung kami kesana dengan menggunakan mobil dan nggak mau ribet cari parkir nantinya, setelah mengetahui bahwa disana nggak ada penyewaan sepeda dan menimbang-nimbang menggunakan ojeg, akhirnya jalan kaki menjadi pilihan paling bijaksana, halahh.

Menyusuri jalan menuju Goa Lalay ternyata banyak juga homestay yang disewakan, mungkin ini jadi pilihan terakhir para wisatawan karena kehabisan penginapan di dalam kawasan. Lalu setelah berjalan hampir 10 menit kami dipanggil oleh warga sekitar yang memberi tahu kami jalan alternatif menuju Goa Lalay. Menyusuri pematang sawah dan aliran sungai berair jernih..



Menyusuri jalan setapak diantara areal pesawahan disamping aliran sungai jernih mungkin juga bukan hal yang biasa dirasakan kebanyakan orang, terutama di kota-kota besar. Jadilah nggak heran kalau orang-orang kota nemu tempat beginian pasti narsis foto-foto. uhuk!

Diujung jalan kami lagi-lagi disambut oleh sebuah jembatan kayu, tapi bedanya jembatan ini terlihat jauh lebih kokoh daripada jembatan untuk masuk kawasan sawarna. Sebelum jembatan juga terdapat sebuah gambar dan petunjuk mengenai Goa Lalay.


3 April 2013

Berburu Sunset Cantik diantara Karang Tanjung Layar..

Sore itu langit perlahan-lahan tidak lagi membiru, hampir keabuan.. menjelang malam. Senja segera datang, bahasa lebih populernya. Setelah berjalan-jalan sejenak di Pantai Ciantir, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Layar, lokasi yang paling kesohor diantara tempat lainnya di kawasan wisata Sawarna. Membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit berjalan kemari, atau jika menggunakan sepeda motor paling hanya menghabiskan waktu kurang dari 5 menit. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Layar, di sebelah kiri jalan terdapat beberapa warung-warung penjual makanan. Oya, ada juga kumpulan orang yang sedang mendirikan tenda untuk beristirahat.

Begitu sampai, terlihat dua buah batu karang berbentuk seperti layar yang seolah seperti kapal yang siap berlayar. Hmm, mungkin ini ya filosofi diambil nama Tanjung Layar. Lokasi ini juga nggak kalah ramainya ternyata dengan pantai Ciantir, malah bisa dibilang jauh lebih ramai.

Pantai-pantai di daerah Bayah ini memang merupakan salah satu dari sekian banyak objek wisata di Indonesia yang diberi label 'Hidden Paradise' atau disebut-sebut sebagai surga tersembunyi yang jauh dari industri dan keramaian.
 

Di Tanjung Layar ini hampir seluruh lokasi dipenuhi oleh karang-karang cantik hasil pahatan alam. Ditambah lagi genangan air laut yang ada diantara karang yang seolah membentuk kolam-kolam kecil berisi ikan kecil dan bintang laut, wahhhh. Pemandangan menakjubkan juga belum berakhir sampai disitu, dibelakang dua karang berbentuk layar ini siap-siap juga untuk terpesona dengan pemandangan hempasan air laut yang terbentuk dari deburan ombak yang membentur karang setinggi tiga meter. Menakjubkan.




2 April 2013

Selamat datang di Pantai Ciantir, Sawarna!


Selamat datang di Kawasan Wisata Sawarna..

Tulisan itu yang menyambut kedatangan kami saat hendak memasuki Desa Sawarna. Riuh ramai suara kendaraan bermotor, antrian mobil yang berjejer hendak mencari tempat parkir dan juga desakan orang yang hendak menyebrang melewati jembatan menjadi pemandangan yang biasa di saat liburan panjang datang.

Sebelum memasuki kawasan Sawarna sendiri sudah berjejer beberapa villa dan cottage sepanjang jalan, hanya saja memang jumlahnya terbatas. Dulu pertama kali saya ingin kemari karena saya diberi sebuah postcard dengan foto Tanjung Layar dari seorang teman baru ketika kami berwisata ke Ujung Kulon dan Pantai Ciputih. Dalam postcard itu juga menunjukkan bagaimana keindahan pantai Ciantir yang diambil dari Bukit Cariang.

Begitu masuk kedalam kawasan kita akan dipungut biaya sebesar 5ribu rupiah per orang. Selama berjalan menuju penginapan kita menyusuri jalan setapak diiringi pesawahan yang mulai menguning, juga penginapan yang berjejer rapi. Dari apa yang saya lihat, ternyata banyak juga yang bernasib sama seperti kami, kehabisan villa. Kebanyakan dari para wisatawan memanfaatkan rumah-rumah penduduk sekitar untuk menginap.

Setelah mengontak pemilik penginapan, kami diajak ke sebuah rumah penduduk yang akan kami tempati malam itu. Dari awal memesan, Ibu Oom sang pemilik elsa homestay, sudah mengatakan bahwa rumah yang akan kami sewa nanti sederhana. Tapi not bad lah, lumayan daripada nggak ada sama sekali. Oya, lebih seru sih pas liat orang-orang yang touring naik motor lalu mereka membawa tenda dan peralatan kemah lainnya dipinggir pantai.

Berhubung saat kami tiba hari mulai sore, karena nggak mau buang-buang waktu, akhirnya kami pun bergegas menuju pantai ciantir, sawarna.

1 April 2013

Perjalanan Panjang Menuju Desa Sawarna

Holidaaaaaaaay! Mungkin itu juga yang ada di pikiran setiap orang pada minggu lalu. Ya, libur akhir pekan dari jumat itu banyak dimanfaatkan orang-orang untuk berlibur.. untuk sejenak melepas penat, untuk terlepas dari rutinitas sehari-hari, dari setumpuk pekerjaan, dari hingar bingar ibu kota juga dari gemerlap lampu dan polusi udara.

Ready to go! Yeiyy!
Nah, setelah merencanakan liburan kali ini dari jauh hari sebelumnya, akhirnya rencana ini nggak cuma jadi wacana semata, akhirnya. Dari sekitar bulan Januari, setelah kami pergi berlibur ke Sungai Ciberang untuk rafting, rencana untuk pergi ke Pantai Sawarna inipun dibuat dan Maret jadi bulan pilihannya. Maret, ada dua long weekend sebetulnya yang bisa dimanfaatkan untuk berlibur panjang, lalu tanggal 29 akhirnya yang dipilih jadi tanggal keberangkatan kami untuk berlibur.

Memulai perjalanan dari kota Serang sekitar pukul 09.30, kami melaju melewati daerah Petir, sawah gunung, gunung kencana dan beberapa daerah yang tidak saya hapal semua namanya. Hujan juga sempat mengiringi perjalanan kami menuju Sawarna siang hari itu. Berhubung hari jumat, perjalanan juga terpotong karena para lelaki harus shalat jumat dimana akhirnya kami berhenti disalah satu mesjid daerah Cileles.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...