Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari April, 2013

Main di Waterpark Kota Badak!

Minggu lalu saya dan teman-teman pergi ke sebuah waterpark di Kota Pandeglang, Banten. Sebetulnya ini diluar rencana, karena sebelumnya kami tadinya mau pergi ke sebuah pemandian di kaki gunung, tapi karena satu dan lain hal ternyata teman-teman lain merubah agenda acara jadi ke CAS Waterpark.


Lokasi CAS Waterpark ini sendiri berada di pusat kota Pandeglang, paling hanya sekitar 1 jam perjalanan dari arah Serang. Untuk tiket masuk setiap orang dikenai biaya 15ribu rupiah. Eits, tapi ini belum termasuk jika kita menaiki wahana-wahana permainan yang ada disana.
Begitu sampai, kami membeli tiket dan berjalan-jalan, walaupun hari sabtu lokasi terlihat tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Mini zoo menjadi tempat pertama yang kami datangi. Ternyata selain menawarkan permainan air dan wahana-wahana permainan, tempat ini juga dilengkapi dengan mini zoo/ taman satwa mini yang bisa jadi hiburan bagi anak-anak. Sayangnya saat saya kemari sedang ada renovasi dan sepenglihatan saya hanya sedikit …

Indonesian Street Food, Dari Mulut Turun ke Hati

Indonesia tercipta bersama sejuta pesona yang takkan pernah gagal menghipnotis siapa saja yang ada didalamnya. Cantiknya panorama alam, adat, budaya serta keanekaragaman makanan khas juga merupakan suatu kebanggaan yang dimiliki negeri kita tercinta ini. Untuk itu akan sulit rasanya menolak jatuh cinta pada Indonesia, sungguh..
Ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga ke Merauke di wilayah kepulauan negara Indonesia juga termasuk dengan berbagai suku bangsa dan etnis didalamnya membuktikan betapa kayanya Indonesia. Begitu juga dengan keanekaragaman makanan khas yang tidak terlepas dari letak geografis Indonesia, dimana seperti yang kita tahu bahwa dari ribuan pulau di Indonesia, banyak kota bahkan daerah-daerah diantaranya mempunyai makanan khas masing-masing yang unik dan siap untuk memanjakan lidah.
Wisata kuliner sendiri sebetulnya sudah populer dilakukan setiap orang saat berkunjung atau berlibur ke suatu tempat, tetapi menurut saya wisata kuliner di Indonesia justru jauh…

50 Hal yang (Paling) Saya Rindukan dari Bandung

1. Perjalanan pajang jalan Soekarno-Hatta - Pasteur - Kampus,

2. Terjebak hujan di tengah Jembatan Pasupati, yang membuat saya selalu berpikir Bandung punya bagian awan yang berbeda,
3. J.Co Cihampelas Walk,

4. Sebrang jalan Hotel Novotel,

5. Coffee Break, Buah Batu,

6. Makan Ayam Goreng Caknur,

7. Rumah Kost Sarijadi beserta kamu, ajeng dan gandi-nya,

8. Kamar Kost Sofiya, tempat saya menunggu,

9. Bermain di Timezone, Ciwalk.

10. Makan Kepiting di Cocorico,

11. Insiden Gokana Ramen & Teppan,

12. Iga bakar aduhai-nya Igelanca,

13. Gunung Tangkuban Perahu,

14. Pemandian Air Panas di Ciater,

15. Ribut soal cari meja di Congo Cafe & Gallery,


Mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat

Dalam rangka bingung-nggak-ada-tujuan-mau-kemana di weekend lalu, saya akhirnya mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan, dekat jembatan kereta api yang melintas di atas sungai cikapundung. Setelah sebelumnya sempat berputar-putar, dari arah Tubagus Ismail rencananya iseng mau jalan-jalan ke Museum Geologi, tapi berhubung hari itu hari minggu dan museum tutup tepat jam 2 siang, akhirnya kami berputar arah. Begitu juga dengan Museum Pos yang terletak tidak jauh dari sana, di Gedung Sate.
Bandung memang merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak sekali jejak peninggalan sejarah ya. Mulai dari Gedung Asia-Afrika di Jalan Braga, Penjara Banceuy dan berbagai gedung lain dengan beragam latar belakang sejarahnya..

Bangunan Gedung Indonesia Menggugat ini sendiri bergaya ala rumah-rumah jaman dulu, kalau sering dibilang sih 'rumah peninggalan belanda' gitu. Di satu sisi, saya sendiri suka sekali dengan jenis-jenis rumah atau b…

Wisata Religi di Candi Cangkuang

Minggu lalu setelah menyelesaikan satu dan berbagai hal di Bandung, hari Sabtu pagi saya berangkat menuju Garut. Sayangnya hujan pagi itu terus mengguyur Bandung tanpa henti. Dari niat awal berangkat pukul 05.30, akhirnya kami berangkat pukul 8.00, itupun dengan kondisi cuaca yang masih gerimis kecil. Setelah melewati perjalanan panjang jalan Soekarno-Hatta, Ujung Berung, Cileunyi, dan Rancaekek, perjalanan sedikit terhambat dengan adanya kemacetan yang disebabkan banjir tapi selanjutnya sih lancar.
Candi Cangkuang terletak di Garut, atau lebih tepatnya di Kecamatan Leles, Kampung Pulo. Pemandangan menuju kemari juga lumayan indah, melewati pesawahan menghijau dan sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Begitu sampai kami memarkirkan kendaraan didepan sebuah rumah makan. Dari sana kami memasuki kawasan wisata dan membayar biaya masuk sebesar 3ribu rupiah per orang. Karena pagi itu cukup sepi, kami memutuskan untuk ngobrol-ngobrol dulu dipinggir danau dan nggak langsung menyebrang k…

The Hidden Paradise, Laguna Pari

Selepas berjalan-jalan di goa lalay, Laguna Pari menjadi destinasi selanjutnya. Melewati pemukiman penduduk, kami juga lagi-lagi melewati sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu untuk menyebrang.

Pada awal perjalanan, jalanan menuju lagoon pari masih terlihat biasa seperti layaknya jalanan pemukiman warga di perkampungan. Lalu selepas dari jembatan, kami dihadapkan pada dua jalan berbeda, lurus dan menanjak.. Karena tidak ada petunjuk jalan, kamipun bertanya pada seorang ibu disana dan ternyata jalan yang harus kami tempuh ke arah atas. Dan dari sini petualangan dimulai...

Medan jalanan yang berbatu memang sedikit membuat perjalanan menuju laguna pari ini terasa lebih melelahkan. Melewati sungai kecil, perbukitan, padang ilalang.. wow! cuma itu yang bisa saya katakan. Ini belum seberapa ketika selesai melewati padang ilalang, hamparan sawah yang menghijau berundak-undak membuat saya berdecak kagum. Ditengah jalanan seperti ini, pemandangan indah menjadi salah satu hiburan ters…

Menyusuri Kegelapan di Goa Lalay, Sawarna!

Hari kedua berlibur di Sawarna. Pagi itu setelah selesai sarapan, saya dan teman-teman bergegas untuk berkeliling kawasan Sawarna lagi, tepatnya pergi ke Goa Lalay. Menurut pentunjuk jalan, arah dari penginapan menuju Goa Lalay kurang lebih sekitar 2 KM. Nah berhubung kami kesana dengan menggunakan mobil dan nggak mau ribet cari parkir nantinya, setelah mengetahui bahwa disana nggak ada penyewaan sepeda dan menimbang-nimbang menggunakan ojeg, akhirnya jalan kaki menjadi pilihan paling bijaksana, halahh.
Menyusuri jalan menuju Goa Lalay ternyata banyak juga homestay yang disewakan, mungkin ini jadi pilihan terakhir para wisatawan karena kehabisan penginapan di dalam kawasan. Lalu setelah berjalan hampir 10 menit kami dipanggil oleh warga sekitar yang memberi tahu kami jalan alternatif menuju Goa Lalay. Menyusuri pematang sawah dan aliran sungai berair jernih..


Menyusuri jalan setapak diantara areal pesawahan disamping aliran sungai jernih mungkin juga bukan hal yang biasa dirasakan ke…

Berburu Sunset Cantik diantara Karang Tanjung Layar..

Sore itu langit perlahan-lahan tidak lagi membiru, hampir keabuan.. menjelang malam. Senja segera datang, bahasa lebih populernya. Setelah berjalan-jalan sejenak di Pantai Ciantir, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Layar, lokasi yang paling kesohor diantara tempat lainnya di kawasan wisata Sawarna. Membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit berjalan kemari, atau jika menggunakan sepeda motor paling hanya menghabiskan waktu kurang dari 5 menit. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Layar, di sebelah kiri jalan terdapat beberapa warung-warung penjual makanan. Oya, ada juga kumpulan orang yang sedang mendirikan tenda untuk beristirahat.

Begitu sampai, terlihat dua buah batu karang berbentuk seperti layar yang seolah seperti kapal yang siap berlayar. Hmm, mungkin ini ya filosofi diambil nama Tanjung Layar. Lokasi ini juga nggak kalah ramainya ternyata dengan pantai Ciantir, malah bisa dibilang jauh lebih ramai.

Pantai-pantai di daerah Bayah ini memang merupakan salah satu dari…

Selamat datang di Pantai Ciantir, Sawarna!

Selamat datang di Kawasan Wisata Sawarna..
Tulisan itu yang menyambut kedatangan kami saat hendak memasuki Desa Sawarna. Riuh ramai suara kendaraan bermotor, antrian mobil yang berjejer hendak mencari tempat parkir dan juga desakan orang yang hendak menyebrang melewati jembatan menjadi pemandangan yang biasa di saat liburan panjang datang.

Sebelum memasuki kawasan Sawarna sendiri sudah berjejer beberapa villa dan cottage sepanjang jalan, hanya saja memang jumlahnya terbatas. Dulu pertama kali saya ingin kemari karena saya diberi sebuah postcard dengan foto Tanjung Layar dari seorang teman baru ketika kami berwisata ke Ujung Kulon dan Pantai Ciputih. Dalam postcard itu juga menunjukkan bagaimana keindahan pantai Ciantir yang diambil dari Bukit Cariang.

Begitu masuk kedalam kawasan kita akan dipungut biaya sebesar 5ribu rupiah per orang. Selama berjalan menuju penginapan kita menyusuri jalan setapak diiringi pesawahan yang mulai menguning, juga penginapan yang berjejer rapi. Dari apa y…

Perjalanan Panjang Menuju Desa Sawarna

Holidaaaaaaaay! Mungkin itu juga yang ada di pikiran setiap orang pada minggu lalu. Ya, libur akhir pekan dari jumat itu banyak dimanfaatkan orang-orang untuk berlibur.. untuk sejenak melepas penat, untuk terlepas dari rutinitas sehari-hari, dari setumpuk pekerjaan, dari hingar bingar ibu kota juga dari gemerlap lampu dan polusi udara.
Nah, setelah merencanakan liburan kali ini dari jauh hari sebelumnya, akhirnya rencana ini nggak cuma jadi wacana semata, akhirnya. Dari sekitar bulan Januari, setelah kami pergi berlibur ke Sungai Ciberang untuk rafting, rencana untuk pergi ke Pantai Sawarna inipun dibuat dan Maret jadi bulan pilihannya. Maret, ada dua long weekend sebetulnya yang bisa dimanfaatkan untuk berlibur panjang, lalu tanggal 29 akhirnya yang dipilih jadi tanggal keberangkatan kami untuk berlibur.
Memulai perjalanan dari kota Serang sekitar pukul 09.30, kami melaju melewati daerah Petir, sawah gunung, gunung kencana dan beberapa daerah yang tidak saya hapal semua namanya. Huj…