31 Januari 2016

Definisi; Bahagia itu Sederhana [2]

Dalam beberapa minggu sekarang hingga 2 bulan kedepan nampaknya memang akan sangat disibukkan urusan pekerjaan yang tak berkesudahan. Engga, saya bukan tipikal orang yang gila kerja, tapi memang untuk kali ini entah kenapa sibuk kesana-kemarinya lebih semangat rasanya. Lebih excited. Mungkin hayati mulai lelah cuma duduk-duduk lucu dibalik layar komputer tiap harinya, haha ceilah!

Di kantor tempat saya bekerja, pun semua unit di seluruh Indonesia, semua pasti sedang disibukkan dengan urusan survey pencocokan basis data pelanggan soal TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan). Perihal pelanggan subsidi tepat sasaran. Dan untuk hal ini targetnya tak tanggung-tanggung jumlahnya. Bukan apa, kalau dipikir pakai logika dengan jumlah pegawai unit yang hanya belasan orang harus survey hampir 11 ribu pelanggan dalam waktu 40 hari rasanya nggak masuk akal. Baik, skip soal ini.


Jadi, hampir 2 minggu ini keluar masuk desa untuk mendata masyarakat setempat sesuai dengan data yang diberikan. Seru sih. Jarak dari desa ke desa lainnya cukup jauh. Biasanya kami berangkat jam 9 pagi dan baru sampai di desa tersebut sekitar jam 11 siang, yap hampir 2 jam. Daaaaan, nggak ada sinyal! Bahkan provider yang terkenal sinyal paling kuat seantero Indonesia ini pun nihil sinyalnya, -if you know what i mean.

Oya, balik ke topik awal. Selama bolak-balik ke desa ini banyak sekali rasanya pelajaran yang diambil. Melihat orang-orang yang mungkin 'tidak seberuntung' kita jadi membuat saya banyak-banyak bersyukur, banyak ngelus dada, banyak tepuk jidat kalau udah keseringan ngeluh ini itu. Awalnya nggak pernah terpikir dijaman yang serba modern ini, serba canggih, serba kekinian, justru ada orang-orang yang bahkan 'hidupnya' belum terbayangkan sebelumnya. 

Menyederhanakan definisi bahagia memang perlu ternyata, agar kita lebih banyak bersyukur daripada kufur~


27 Januari 2016

Memilih Souvenir Pernikahan Unik di Bandung

Banyak yang bilang tahun 2016 ini tahun kondang-in-nya anak-anak yang lahir tahun 90an. Iyuhhhh~~ Ya kan ya kan? Tiap minggu pasti ada aja undangan teman, sanak saudara atau keluarga yang mengumumkan hari bahagianya. Alhamdulillah, doain semoga dilancarkan sampai hari baiknya dan minta doa balik semoga cepet ketularan aja *eh.

Nah untuk bulan Juli nanti sudah diminta bantuan teman untuk ikut membantu aneka persiapannya menuju pernikahan. Berhubung keterbatasan jarak, jadi cuma bisa bantu hal-hal kecil yang perintilan. Sedia setiap saat diminta pendapat soal ini-itu, salah satunya. Ternyata memang riweuh itu lah justru hal yang kecil-kecil, karena banyak jadi harus agak detail. Souvernir salah satunya..



Nah, tentu dong setiap pasangan ingin pernikahan selalu dikenang. Salah satu hal yang membuat sebuah pernikahan selalu diingat adalah pemberian souvenir pernikahan yang bermakna. Memberikan souvenir untuk tamu undangan pada hari pernikahan memang sudah menjadi hal yang lumrah. Banyak pasangan pengantin yang memilih berbagai macam bentuk dan desain souvenir yang berbeda tergantung dari keinginan masing-masing pasangan. Souvenir pernikahan selalu memberikan sesuatu yang berkesan dan memiliki arti bagi yang menerimanya. Memang sebaiknya souvenir yang diberikan adalah barang yang berguna dan bisa dipakai, akan sangat disayangkan jika souvenir yang kamu berikan hanya sebagai pemanis, tidak berguna, dan terbuang percuma. Setiap pasangan harus benar-benar memikirkannya, karena souvenir akan menjadi buah tangan manis bagi tamu undangan yang hadir di hari spesialmu.


26 Januari 2016

Weekend + Free Time + Hobby = HAPPINESS!

Apa yang kamu rasakan waktu pertama kali jatuh cinta? Pasti rasanya seperti ada sebuah tank di dalam hatimu sedang menembakkan peluru besinya ke udara, ya? Bumm! Bummmmm! Bisa jadi gemuruhnya sampai naik ke kepalamu atau bisa jadi seperti ada karnaval didalam sana. Ah, bahagianya. Bukan, bukan. Ini bukan soal jatuh cinta, kali ini bukan. Bukan pada seseorang tapi lebih kepada sesuatu. Kalau soal itu nanti saja, di saat yang benar-benar tepat dengan alasan yang hebat. Serahkan saja padaNya. Senyum.

Kali ini mari belajar jatuh cinta pada diri sendiri. Ha, yap, do what you love, love what you do. Menggambarkannya dengan kalimat sederhana sebisa mungkin. Kalau versi buku 'How to be Interesting' sih katanya harus dengan tulus nikmati diri sendiri. Bagaimanapun memang iya sih, kekhawatiran bisa menghalangi pengalaman. Pergilah keluar. Nikmati hal-hal yang menurutmu kurang pas. Pasang mimik lucu. Tertawa sepuasnya. Bersenandung saat dengar musik. Jadilah diri sendiri. Beri izin kepada diri sendiri untuk menyenangkan diri.

Karena kamu punya hak untuk bersenang-senang... 
Punya hak untuk bahagia... 
Karena dirimu sendiri punya hak untuk dihargai...


Setelah menulis, merajut jadi hal kesekian yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Bagaimana pun tidak ada yang lebih menyenangkan dari hobi yang dibayar, kan? Yeiyyyy. Melakukan keisengan yang bermanfaat, mungkin itu hal yang pas untuk menggambarkannya. Hanya berawal dari rasa kagum kepada seorang teman dengan hobi yang sama dan kemudian penasaran muncul.

18 Januari 2016

Dilema Dibalik Keindahan Danau Air Bara Bangka

Pertama kali terbang menuju Bangka tahun 2014 lalu, aku terjaga sepanjang perjalanan. Melihat pemandangan kawasan padat penduduk pulau Jawa yang berganti dengan hamparan biru lautan. Perjalanan udara dari Jakarta menuju Bangka yang bandaranya berlokasi di Pangkalpinang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit saja. Nah, saat sudah mulai memasuki Pulau Bangka awalnya aku sempat terpukau pemandangan indah danau-danau biru yang tersebar. Sebelum kemari sempat mencari informasi tempat wisata di Pulau ini dan Danau Kaolin jadi salah satunya. Danau yang kemudian bisa dibilang cukup malang ini.

Berangkat dari weekend yang biasa dihabiskan untuk mengunjungi destinasi wisata karena minimnya tempat hiburan seperti mall dan bla bla bla, tiba-tiba tercetuslah ide untuk sekedar jalan-jalan ke salah satu Danau Kaolin yang berada di daerah Koba. Tempat yang memang beberapa saat lalu sangat hits karena banyak foto instagram-able yang diambil disana.


Perjalanan kali ini di dominasi para wanita, tidak seperti biasanya. Maklum, tempat dimana aku bekerja memang didominasi laki-laki sebagai pegawainya. Setelah berkali-kali berwacana untuk pergi kesana kemari, kali ini tanpa ada rencana dari jauh-jauh hari akhirnya jadi juga kami pergi untuk jalan-jalan. 

14 Januari 2016

Tentang Matahari Terbenam di Pura Tanah Lot Bali

Pura Tanah Lot jadi penutup hari ketiga saat liburan di Bali. Tempat yang aku tempuh paling lama karena perjalanan panjang dari Ubud ke kawasan Tabanan. Tempat yang sekaligus paling berkesan. Bukan, bukan karena berkenalan dengan bule kece dari Timur Tengah, wleee! tapi karena ditempat ini aku nyasar saat hendak pulang hingga 2 jam lamanya.

Dari kawasan Ubud sekitar pukul 15.30 waktu setempat, lagi-lagi sempat ragu karena jarak yang harus ditempuh berdasarkan informasi dari Google Maps kurang lebih sekitar 40 KM dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit. D a a a a n g! Entah kenapa, tanpa pertimbangan matang, sempat terpikirkan juga belum tau kapan bisa ke Bali-gratisan-lagi jadilah bermodal Basmallah pergi kesana.




Tanah Lot adalah salah satu obyek wisata terkenal di pulau Bali yang wajib dikunjungi. Terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Jika berangkat dari Bandar udara Ngurah Rai dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam-an dengan kendaraan bermotor jika tidak terjadi kemacetan. Nah, berhubung saat itu aku sedang berada di Ubud, perjalanan lebih panjang lagi melalui jalanan berkelok tapi ditemani hamparan sawah yang menghijau.


10 Januari 2016

Bright Welcome to 2016, Hello!


Alhamdulillah. Hanya kata itu yang terucap saat melewati pergantian tahun ini. Karena tahun baru bukan soal jam 12 yang menunjukan pergantian hari seiring dengan pergantian tahun, tapi tentang hari dimana menghabiskan waktu bersama keluarga dalam kebersamaan yang beberapa tahun ini agak sulit untuk sering dilakukan. Tentang dengan siapa kamu memilih untuk menikmati setiap waktu yang kamu punya. Karena ternyata ya memang benar katanya, pada akhirnya yang membuat hidup layak dijalani adalah perihal kepada siapa kamu berbagi kebahagiaan setelah kerja yang melelahkan. 

Menikmati pergantian tahun masehi dengan bisa menatap wajah ummu sembari dipeluk erat adik tersayang jadi hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saking senangnya. Atau menggoda Abah yang sibuk bakar jagung untuk anak-anak santri yang ikut meramaikan acara makan-makan selepas pengajian. Si anak ABG? Cuma sibuk dengan handphone, headset, dan lantunan lagu band indie yang nggak jelas alirannya. Harus pinter-pinter cari cara menasehati tanpa terkesan menggurui itu sulit ternyata. Berhubung jarak usia yang cukup jauh 9 tahun, adik abg satu ini alhamdulillah udah mulai mau curhat-curhat dikit kalau lagi ada masalah. After all, I'm blessed.

6 Januari 2016

Mengenal Sejarah Hindu-Budha di Goa Gajah Gianyar Bali

Masih soal Bali dan aneka perjalananya. Selepas melihat monyet-monyet lucu di Sanctuary Sacred Monkey Forest di Ubud, saya berniat untuk pergi ke Ceking Terrace yang katanya memang masih dekat kawasan tersebut. Akan tetapi sebuah papan petunjuk jalan bertuliskan 'Objek Wisata Goa Gajah' menarik saya untuk mampir sejenak ke tempat ini.

Objek Wisata Goa Gajah ini terletak di Banjar Goa, Desa Bedulu, kabupaten Gianyar yang berjarak tidak jauh dari Ubud. Jika pergi dari arah Sanctuary Sacred Monkey Forest, tempat ini berada di sebelah kanan jalan. Jika dilihat dari luar sih tidak tampak bahwa tempat ini adalah objek wisata sebab dari gerbang masuk kita hanya melihat kios-kios penjual cinderamata saja. Sedangkan untuk sampai ke Goa-nya sendiri harus berjalan menyusuri tangga terlebih dahulu.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...