26 Desember 2013

Museum Keraton Yogyakarta Memang Istimewa


Saat libur Natal dan Tahun Baru, Yogyakarta bisa jadi destinasi seru. Kalau mau pengalaman berbeda selain belanja dan makan di Yogya, yuk coba datang ke Museum Keraton Yogyakarta.

Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Keraton Yogyakarta, merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mampirlah ke Museum Keraton Yogyakarta yang terletak di dalam area Keraton Yogyakarta.


Lukisan ini terdapat di salah satu gedung dalam kawasan Kraton Yogyakarta. Ketika berkunjung kemari Kraton sedang sepi pengunjung, lantas saya berjalan-jalan sendirian menyusuri satu per satu gedung. Namun tiba-tiba seorang abdi dalem menghampiri saya. Awalnya dia berbicara dalam bahasa Jawa yang pakem, setelah menjelaskan bahwa saya dari Sunda ia pun berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia.

Sang abdi dalem menjelaskan bahwa tidak banyak orang tahu lokasi ini, kalaupun melihat tidak semuanya tertarik untuk berjalan kemari apalagi sampai masuk ke dalam. Konon beliau bilang hanya orang-orang terpilih yang diperkenankan masuk oleh 'yang punya tempat'.

25 Desember 2013

Vision Statement:

"Menanamkan dalam hati prinsip kebahagiaan bersama tiga kunci, -kreatif, tenang dan mandiri- melalui karya nyata untuk seluruh insan dan semesta."

Saya sangat senang jika bisa membahagiakan orang tua juga orang lain. Cita-cita sekaligus passion untuk menjadi seorang penulis sangat medukung visi ini.

Guratan tinta dan deretan kata yang mampu memberikan makna pada setiap yang membacanya, membuat saya optimis kalau value dan manfaat yang ingin saya bagi, dapat diakses dan diterima oleh semua orang.

Dan tentunya selain untuk sesama, saya juga ingin kalau karya saya dapat menjadi jalan untuk meraih cinta Sang Pemilik Semesta. :')


Semoga Allah senantiasa menuntun jalan kita.. 
kapanpun dan dimanapun kita berada, aamiin.



Kota Hujan, 25 Desember 2013
Puncak, Hujan dan Angin.


18 Desember 2013

Mengintip Sejarah Kerajaan Banten di Mesjid Agung-nya

Jalan-jalan ke kawasan Banten Lama tak cuma mencari tahu cikal bakal Banten di Museum Kepurbakalaan. Masjid Agung Banten Lama rupanya juga punya peranan penting pada masa kejayaan Islam di Banten kala itu.

Ini masih dalam rangka menjelajahi objek wisata Banten Lama yang secara administratif terletak di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Kali ini saya tertarik dengan salah satu gambaran kejayaan kerajaan Islam Banten di masa lalu, yakni Masjid Agung Banten Lama.


Jadi ternyata objek wisata Banten Lama ini merupakan salah satu objek wisata Kerajaan Banten tempo dulu yang bernuansa Islami. Selain berkunjung untuk berwisata, kita juga bisa berziarah ke makam-makam para Sultan Banten beserta keluarganya.

Salah satu bangunan lain yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

    


Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, mayoritas masyarakat Banten memang masih memegang teguh adat budaya dari nenek moyangnya. Nyekar atau lebih sering dikenal dengan ziarah kubur pada para penyebar Islam di masa lalu, masih kerap dilakukan.

Beberapa kali setiap saya kemari pasti akan ada begitu banyak bus pariwisata dari berbagai penjuru kota yang hendak melakukan wisata religi. Konon katanya, hal ini dilakukan ketika seseorang mempunyai hajat atau keinginan yang dibacakan di depan makam agar segera dikabulkan oleh Tuhan. Wallahualam!


Sayangnya di hampir kawasan Masjid Agung ini, pengelolaan para pedangang kurang diperhatikan lokasinya. Sehingga menurut saya, kurang nyaman terlihatnya.




Tulisan saya lainnya bisa dilihat di detikTravel.


Kota Hujan, 18 Desember 2013
(Masih) Diklat dan ditemani hujan sepanjang malam.




*) Akan sangat merindukan tanah Banten, juga kalian geng! ;)

14 Desember 2013

Sehari Tanpa Gadget? Ah, biasa!



Dalam rangka satu dan lain hal selama sepuluh hari penuh ke Korea dan ketemu ayang Lee Min Hoo *dikeplak* jadi sehari tanpa gadget itu harus mulai biasa.. sepuluh dong sepuluh!! Belum lagi pas diklat cuma boleh pegang handphone sabtu minggu. Nggak kebayang kalo blog ini tiba-tiba udah ada sarang laba-labanya.. zzzz Kalau soal sosmed, terutama facebook dan twitter sih, udah bukan masalah.


Udah ngalamin syndrom -when twitter ruins your day- sih ya haha. Saya sudah mulai tidak nyaman dan malas berada berlama-lama di Twitter. Alasannya bisa macam-macam; merasa asing, dan sering kali baca timeline itu mampu mematahkan ide atau bahkan mood. Oh! atau mungkin yang terakhir itu karena saya salah following aja, ya.. Bisa jadi.. bisa jadi..


Ya, nostalgia jaman dulu waktu belum booming-boomingnya sosmed lah. Hidup senang, weekend tenang. Saat ‘memiliki’ akhir pekan itu adalah perkara luar biasa. I meant, luar biasa karena di luar kebiasaan. Selain itu juga karena sebagai penanda kalau saya ingin menghargai akhir pekan saya sebaik mungkin. Mulai menjauhkan diri dari aneka jenis benda berteknologi tinggi itu, terutama jika sedang berada dekat orang-orang tersayang ;)





Bye bye! ^^

12 Desember 2013

Desa Wisata Tembi, Kampung Seni yang Kreatif di Yogyakarta

Yogyakarta identik dengan keraton, gudeg dan Malioboro dan candi-candinya. Selain belanja dan berwisata kuliner, turis juga bisa berwisata budaya di Desa Tembi. Inilah wajah lain Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
Daerah Istimewa Yogyakarta tak henti menyuguhkan lokasi yang ingin dikunjungi, salah satunya Desa Wisata Tembi. Desa ini berlokasi di sebelah selatan Yogyakarta, tepatnya di Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kabupaten Bantul. Jika hendak pergi ke Pantai Parangtritis sebetulnya kita melewati jalan untuk masuk ke kawasan ini lho!





Desa Wisata Tembi sendiri merupakan nama yang diadaptasi menjadi sebuah lembaga kebudayaan Rumah Budaya Tembi. Di desa ini kita bisa menginap di cottage maupun rumah-rumah warga. Dengan membayar Rp 50-100 ribu per orang, kita sudah bisa menginap semalam dan juga diberi sarapan pagi. 

10 Desember 2013

Entah mau diberi judul apa..

Minggu. Entah mengapa, ketakutan tiba-tiba menghantui. Ini jawaban doa-doa yang saya sampaikan kepada Tuhan dalam sujud dan sholat saya. Ini jawaban yang tiba-tiba hadir di depan mata dan tinggal selangkah lagi diwujudkan. Saya sedikit merasa tidak tidak siap. Saya takut ini... Saya takut itu...

Jadi beberapa hari ini rasanya saya merasa kosong. Badan saya ada, tapi pikiran saya hilang entah kemana. Rasa rindu, senang, takut, khawatir, menghinggapi diri saya bercampur jadi satu. Rasanya detak jantung saya berdegup semakin kencang. Pikiran juga semakin melayang-layang. Hidup serasa tak tenang. Ah, sepertinya saya mengenal perasaan ini. Ya, sebuah perasaan kehilangan.

Apa saja yang harus saya lakukan kelak? Bagaimana nanti kehidupan saya di sana? Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Bagaimana Bagaimana Bagaimana? Pertanyaan demi pertanyaan itu terus berkecamuk.

Tapi saya sadar kenyataan dan takdir berkata lain. Saya memang harus terus berjalan ke depan. Banyak hal yang harus saya lakukan. Banyak hal yang harus saya perjuangkan. Ada banyak pengalaman yang harus saya jadikan pelajaran. Ada tangis dan tawa yang akan selalu jadi kenangan. Ada misi yang belum dan harus segera saya selesaikan. Terlebih, ada keluarga yang wajib saya utamakan.

Lebih dari itu, disini, di tempat ini saya mendapat pengalaman hidup yang sangat berharga. Saya belajar menghargai adanya perbedaan. Saya belajar untuk memahami perasaan dan menjaga pandangan orang. Saya belajar memahami bahwa setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Pembelajaran yang membuat pikiran saya juga lebih terbuka karenanya.

Dari dulu, tidak ada yang berubah dengan diri saya rasanya. Saya tetap orang yang sama. Hanya saja tempat ini sedikit merubah saya, ambil yang positif, lalu buang yang negatifnya. Tempat ini memberikan saya motivasi besar untuk terus berkembang, untuk terus belajar dan bersabar.

I didn’t say goodbye. Saya cuma bilang, I’ll see you soon!
 
 
 
Kota Baja, 11 Desember 2013
diperjalanan pulang ke kosan bersama hujan..

9 Desember 2013

Bergelut dengan Perasaan Khawatir

Pernah mengalami hal serupa? Semacam berperang dengan diri sendiri, dengan pemikiran sendiri, akan satu persatu perasaan khawatir yang berujung ketakutan berlebihan.

Katanya orang yang bergolongan darah A mempunyai tingkat rasa khawatir yang cukup tinggi, saya salah satunya. Panikan dan lain sebagainya. Saya sih tidak toh sepenuhnya percaya kalau sifat ini karena golongan darah, justru saya lebih berpikir kalau hal ini disebabkan cara berpikir atau keadaan yang ada. Situasional.  
Euh, cukup rumit rasanya. Serumit setiap skenario dalam pikiran yang menimbulkan kekhawatiran itu sendiri. Menyebalkan, memang. Mau marah pun bingung, harus marah pada siapa. Sungguh sangat menyebalkan. Begitu menguras energi, menyita pikiran dan kerap menghabiskan banyak waktu. Menyusahkan. 


7 Desember 2013

#BN2013; Cuci Mata di Malioboro Sampai Nongkrong Angkringan

Menyambung cerita sebelumnya tentang perjalanan sehari semalam menuju Jogja demi Blogger Nusantara. Setelah siang menuju sore hari akhirnya kami tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta!

Sebelumnya di kereta sempat bingung menggunakan apa kelak ketika sampai di stasiun, sebab info yang didapat dari website Blogger Nusantara, para peserta yang dijemput hanya yang datang diatas pukul 8 malam. Sempat wara-wiri mencoba sms Jogja Transport untuk menanyakan soal kendaraan menuju penginapan, tapi nggak juga dapat jawaban. Hingga akhirnya tiba di Lempuyangan, kami melihat beberapa orang melambai-lambai membawa sebuah kertas bertuliskan 'Blogger Nusantara 2013'. Aha, Panitia!



Setelah berkenalan dengan panitia kami menunggu sebentar untuk segera diantarkan ke Eduhostel, tempat dimana kami akan menginap malamnya. Kurang dari 15 menit akhirnya kami tiba di Eduhostel. Menyelesaikan urusan registrasi dan lain sebagainya, mendapat kunci kamar, menyimpan semua barang bawaan, kemudian kami bergegas lagi keluar untuk mencari makan ..dan tentunya berjalan-jalan!

Sebuah rumah makan kecil depan Eduhostel jadi pilihan. Satu porsi ayam kremes dan es teh manis juga habis tak tersisa dalam waktu sebentar saja. Maklum, lapar. Perjalanan lalu dilanjutkan lagi. Kali ini mencoba menawar becak untuk pergi ke kawasan Malioboro. Awalnya abang becak minta 10 ribu untuk pergi kesana, tapi karena sebelumnya saya udah pernah dan tau harganya bisa 5 ribu saja, jadi saya tawar mati-matian dengan logat sok jawa yang terdengar sangat dipaksakan, haha.

5 Desember 2013

2nd Anthology; Biarkan Hijabku Berkibar


"Kami muslimah dan kami tidak perlu sampai harus mempertontonkan dada kami supaya suara kami didengar. Kami tidak perlu menonjolkan lekuk tubuh kami untuk membuat kontribusi kami diakui oleh masyarakat atau bahkan dunia sekalipun. Kami menutup aurat dengan sempurna dan kami bertebaran di seluruh dunia membawa serta ilmu-ilmu yang kami dapat dari institusi-institusi ilmu terbaik di tanah air kami." (Kutipan kalimat tulisan Tazkia dalam tulisan 'Kami Tak Butuh Penyelamat!')

Ya, meski berbalut kain lebar, prestasi tidak akan tertutupi. Dengan penuh kesadaran, kami taati perintah-perintah Tuhan. Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Hati dan diri harus terjaga agar sepadan dengan pakaian kami. Ya, mungkin masih banyak yang sangsi. Menganggap bahwa pakaian tertutup akan menghambat laju prestasi. Tetapi, kami berkontribusi bukan dari tubuh, melainkan otak kami.

Lihatlah, kami bisa tunjukkan kiprah. Kami adalah dokter, guru, pegawai negeri, pendongeng, ilmuwan, pemandu wisata, penari juga pengabdi masyarakat. Kami tak diam, meski sebagian orang menganggap pakaian kami adalah pemenjara potensi. Kami teguh, meski sebagian orang menakut-nakuti, bahwa kelak jilbab yang tertempel di foto ijazah akan jadi hambatan dalam mencari pekerjaan. Bukan sekedar pakaian pembungkus tubuh, hijab kami adalah tanda cinta. Betapa Allah telah menyiapkan penjagaan istimewa.


 ***

4 Desember 2013

#BN2013; Sehari Semalam Menuju Jogja Demi Blogger Nusantara

Dalam rangka Blogger Nusantara 2013 tanggal 30 November sampai 1 Desember lalu, saya udah wara-wiri bingung juga awalnya mau ikut apa nggak. Kalau soal jatah cuti sih masih banyak. Masalahnya adalah bingung mau berangkat dari Merak, Jakarta atau Bandung. Jreng jreng tiba-tiba Bang Aswi ngasih info soal keberangkatan bareng teman-teman Bandung lainnya. Horeee, setelah komunikasi panjang via message facebook akhirnya diputuskan Teh Erry yang beli tiket kereta untuk kami berempat, saya, Teh Efi, Teh Ima plus si kecil, Bayan.

Kamis malam saya berangkat dari Serang menuju Bandung, setelah sholat maghrib. Sempat ada perasaan was-was juga sih soalnya sampai jam 8 bis menuju Bandung masih belum muncul, khawatir semakin malam artinya semakin subuh juga saya sampai dirumah. Nggak lama akhirnya si Bus pun datang dan singkat cerita saya tiba dirumah jam 2 subuh. Deg. Setelah membereskan beberapa pakaian yang mau dibawa, niatnya mau tidur sebentar terus nyalain alarm jam 4an. Etapi ya emang dasar, jam setengah 5 lewat baru bangun dan grasak-grusuk buat pergi ke stasiun. Boro-boro mikir sarapan, satu keresek belanjaan indomaret aja ketinggalan. Hiks.

Sesampainya di depan Stasiun, Teh Erry telpon saya karena kereta udah mau berangkat. Kalau Teh Erry saya udah rada apal mukanya *soalnya suka stalking cerita tour Korea-nya* *uhuk*, Teh Ima dan Teh Efi juga udah sempet cari-cari info juga supaya nanti nggak salah orang kalau pas ketemu. Begitu masuk, saya liat seorang perempuan yang saya yakini Teh Erry dan langsung aja gitu manggil. Disana juga ada Teh Ima yang diantar suaminya plus gendong-gendong seorang anak laki-laki lucu namanya Bayan. Nah, Teh Efi nih yang belum keliatan. Dan ternyata dia masuk dari pintu selatan stasiun Kiaracondong, bukan dari pintu utama dimana kami berada. Pokoknya setelah komunikasi singkat, kami mengantri tiket masuk, pemeriksaan KTP dan berjalan menuju kereta yang didekatnya udah ada Teh Efi menunggu. Selesai! Alhamdulillah nggak telat. Nggak terbayang aja udah sampai sini ternyata ketinggalan kereta, hiks menyedihkan.

Akhirnya kami berangkat menuju Jogja, meninggalkan Bandung dengan kabut yang masih menyelimutinya..


Didalam kereta mulai cerita kesana kemari. Soal dunia blog, tulis-menulis dan lain sebagainya. Beberapa kali juga saya tanya soal cerita Fun Tour Korea Teh Erry tahun lalu dan akhirnya nonton beberapa videonya. Seru! Terlupa lelah perjalanan semalam, padahal perjalanan kereta ini juga menghabiskan waktu lebih dari delapan jam!! Wow, saya menghabiskan waktu sehari semalam menuju Jogja demi Blogger Nusantara hehe.

Kereta terus melaju.. beberapa kali juga berhenti di stasiun yang dilewatinya. Cerita demi cerita bergantian menemani perjalanan kami menuju Jogja. Tapi ada satu hal yang nggak akan terlupa! Berhubung saya yang paling muda, jadilah saya tumbal untuk menghubungi panitia haha. Dan ternyata belum berhenti disitu aja, sudah acara Blogger Nusantara pun dijadiin bulan-bulanan yang sama oleh Mimi dan Mak-Mak lainnya. Hoho! Tapi keren, takkan terlupa!

Melewati hamparan sawah yang menghijau, melewati pegunungan berkabut, melewati hutan-hutan rimbun, aliran sungai yang deras sehabis hujan..



Jogja, kami datang..


29 November 2013
di dalam Kereta, menuju Jogja

3 Desember 2013

Menikmati Suasana Car Free Night di Kota Bandar Lampung

Menyambung tulisan dalam rangka jalan-jalan Menginjakkan Kaki Tanah Sumatera via Selat Sunda beberapa waktu lalu. Setelah sampai di Pelabuhan Bakauheni, perjalanan kami lanjutkan untuk menuju daerah kota. Kondisi jalanan dari arah Pelabuhan Bakauheni ini sangat buruk menurut saya. Bisa jadi karena jalan akses tersebut kerap dilewati berbagai angkutan besar yang memuat banyak barang bawaan seperti bis, truk, kontainer, dan kendaraan sejenisnya.

Sejujurnya sepanjang jalan saya merasa sangat ketakutan, bukan apa, dari awal beberapa puluh meter dari pintu keluar pelabuhan ada sebuah bangkai truk yang hangus terbakar habis kecelakaan. Hih, jadi sepanjang jalan mulut saya komat kamit baca doa, semoga diselamatkan, semoga diberi kelancaran. Atau sebetulnya memang sayanya aja yang takut berlebihan.

Setelah sekian lama kendaraan kami melaju, saya awalnya masih terheran ketika mendapati sebuah tulisan 'Selamat Datang di Kota Kalianda'. Loh? Lampungnya mana? pikir saya. Dan ternyata dari kawasan ini menuju kota Bandar Lampung masih memerlukan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan lagi.... *sigh*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...