27 Maret 2013

Perihal Niat

'Segala sesuatu itu yang penting gimana niatnya', ujar seseorang beberapa waktu lalu kepada saya. Katanya lagi, 'Kalau niatnya baik kelak hasil yang didapat juga akan baik. Hal yang sama berlaku untuk sebaliknya. Jika niat kita melakukan sesuatu untuk tujuan yang buruk atau kurang baik, begitupun hasil yang akan kita dapat.' Iya, gitu katanya..

Masalahnya sekarang adalah bahwa nggak semua niat baik diartikan untuk tujuan yang baik, maksudnya gini, mungkin seringkali kita berniat baik untuk membantu orang dengan tulus ikhlas, tapi bisa jadi kan disalah artikan oleh orang lain menjadi sesuatu yang buruk atau bahasa kerennya su'udzon.

Innamal a'malu binniat, sesungguhnya segala sesuatu itu ditentukan oleh niatnya. Terdengar sesederhana itu, sungguh. Tapi nyatanya dalam niat itu ada suatu proses panjang untuk menjadikan niat itu menjadi suatu tindakan nyata. Niat itu juga bisa terwujud dari proses diskusi panjang antara pikiran dengan perasaan yang juga dicampurin oleh akal manusia. Seorang teoritis yang saya lupa namanya pernah menuliskan bahwa sebetulnya niat juga merupakan proses dialog panjang antara ego dan superego untuk menghasilkan suatu mufakat untuk melakukan satu hal sebagai sebuah keputusan bersama.

Niat. Kalau bicara perihal niat pasti bukan cuma keinginan semata ya, tapi keinginan yang mungkin diolah, ditimbang baik-buruknya, benar-salahnya.. sehingga nanti niat itu diproses sedemikian rupa menjadi tekad. Yang bahayanya kalau ternyata tekad ini kelak berubah wujud menjadi nekad. wah, bisa jadi lain perkara kalau soal ini. Niat memang menjadi satu awal dalam sebuah perjalanan, tapi ia juga berpengaruh dalam setiap episode demi episode perjalanan kita.

Ini juga yang sedang saya alami sekarang ini. Ketika ada seseorang yang berbuat baik kepada saya, saya senang tentu saja juga berterima kasih, tapi ketika perilaku orang tersebut terlampau baik lama kelamaan saya malah jadi berburuk sangka. Duh, sulit rasanya menghilangkan pikiran buruk atas perbuatan baik yang orang lain lakukan sekarang. Mungkin dia, orang yang berbuat baik kepada saya itu, mempunyai niat baik tanpa mengharap sejenis imbalan atau semacamnya, mungkin.. tapi toh saya nggak tau, saya bukan peramal, saya nggak bisa baca pikiran orang dan pikiran-pikiran buruk inipun rasanya sangat sulit untuk dihilangkan.

Saya juga pernah mengalami kejadian dimana saya berniat baik tapi dikira bertujuan buruk, iya pernah. Benar ya kata orang, apapun yang dimulai dengan kebaikan akan menemui yang namanya ujian, salah satunya ya itu prasangka buruk tadi.

Niat juga pilihan, terserah kita mau memilih apa. Pilihannya bebas, tetapi ketika sudah memilih, kita bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Kita akan memikul apa yang sudah diniatkan dari awal. Jika menanam bibit mangga, maka yang tumbuh juga pohon dan berbuah mangga, bukan semangka. Yang diniatkan kebaikan akan tumbuh menjadi kebaikan juga.

Kembali lagi sih, Innamal a'malu binniat..

pic from here

16 Maret 2013

Takut, Ah!

Belakangan kata-kata ini sering kali saya rasa dan saya dengar di lingkungan sekitar saya. Mungkin hal ini juga nggak terlepas dari pemberitaan-pemberitaan media massa yang kian hari kian membuat kita mengelus dada. Kenapa? Coba deh liat seberapa sering tindakan kriminal terjadi, terutama di kota-kota besar, terutama Ibu Kota. Dari sebuah stasiun TV saya mendengar info bahwa berdasarkan hasil laporan Polda Metro Jaya, sedikitnya dalam satu hari ada dua sampai tiga kasus pembunuhan. Mirisnya lagi, pembunuhan dengan mutilasi seolah-olah sedang tren untuk dilakukan.

Belum lama, ada kasus mayat yang sudah dimutilasi dibuang di tol cikampek dimana pelakunya tidak lain suaminya sendiri beserta sekelumit kisah yang menatarbelakanginya. Belum lagi dengan kasus serupa ditemukan juga sesosok mayat di sebuah apartemen di Jakarta, dan beberapa kasus lain sejenisnya. 


Jangan jauh-jauh deh soal pembunuhan, beberapa waktu lalu juga sempat terjadi kasus yang menimpa seorang mahasiswi dalam angkutan kota, dimana katanya dia menjatuhkan diri dari angkot karena dirampok dan takut diperkosa. *sigh* Seberapa pun pemberaninya seorang perempuan pastilah ada hal-hal yang nggak bisa dikendalikan. Pasti, ada kalanya nyali kita juga ciut dan akhirnya jadi gampang parno. Iya kan?

Saya sendiri udah beberapa kali mengalami 'kejadian-tidak-menyenangkan' dalam kendaraan umum. Dulu saat SMA, hampir 3 kali saya hampir kecopetan. Modusnya semua hampir sama. Para pelaku bergerombol, memenuhi angkutan kota, kemudian ada dua orang mengapit kita.. lalu yang satu berakting kepanasan dan mencoba membuka jendela dibelakang saya, sedang yang satu berpura-pura muntah atau keram kakinya. Well, see? Polanya sama. Belum lagi saat kejadian angkutan yang kita tumpangi mendadak menjadi semakin kencang melaju. Lalu saya berontak, mencoba mengamankan tas berisi handphone dan dompet. Untungnya, setiap kesempatan itu saya selalu berhasil bebas tanpa kehilangan satu barang apapun walau itu dengan resiko yang terbilang cukup berbahaya.



12 Maret 2013

Sepotong Cinta di Kolam Renang..

Oke, jadi ceritanya beberapa bulan belakangan ini saya lagi rajin-rajinnya berenang, seminggu tiga kali. Pertama, hari Sabtu sama Minggu kalau nggak pulang ke Bandung, Kedua; pulang kantor, itupun dengan catatan kalau nggak lembur. Yaa itung-itung olahraga rutin gitu deh, mumpung kuliah belum dimulai. Dulu sempet rutin lari pagi, sepedahan juga, tapi karena satu dan lain hal akhirnya malah males-malesan lagi, haduhh. Padahal bisa dibilang berenang bukan hobby saya sebetulnya, berenangnya aja masih hmm..boleh dibilang amatiran deh, gayanya nggak bener, asal maju, asal bisa nafas, gitu doang, krikkk! Kalau niat dari dulu pun harusnya rajin, eeh baru sekarang-sekarang senengnya, mudah-mudahan tetep konsisten aja deh ya. Tapi bukan itu yang mau saya tulis sekarang, bukan soal pentingnya olahraga apalagi manfaat berenang. Bukan, bukan itu.. ini soal pelajaran yang saya ambil semenjak saya rajin berenang..

Krakatau Country Club. Tempat dimana saya biasa berenang. Setiap kali berenang saya selalu dapat kenalan baru, entah itu ibu-ibu, bapak-bapak, oma-oma, opa-opa, adek-adek, banyak. Mungkin karena sering ketemu jadi mau nggak mau kita, saya sama si kenalan baru, saling senyum.. bahkan saling sapa dan akhirnya panjang lebar ngobrol kesana-sini. Ah, sayangnya belum ada tuh laki kece yang nemu disana *eh* *kemudian ditoyor bakso* haha! Skip.

Nah, ada beberapa hal yang selama ini menarik perhatian saya. Saya suka melihat seorang bapak mengajari anak-anaknya berenang, ibunya menunggu dipinggir kolam sambil tangan kirinya memegang sebuah buku sedang tangan kanannya memegang sendok untuk menyuapi anaknya sehabis berenang. Sedikit absurd memang, but it's really sweet. Beberapa kali, dua entah tiga kali saya bertemu bapak itu. dipertemuan terakhir minggu lalu, dia menyapa saya.. sekedar bertanya, biasa basa-basi. Singkat cerita dia bercerita kalau dia bekerja di salah satu anak perusahaan KS Group, mempunyai 3 anak, tapi yang satu statusnya masih calon. Hi, you know what? Yep, istrinya lagi hamil. And there's nothing I can say, except how sweet they are. Little-sweet-family, saya bilang sih.

Hari ini, pada Hari Raya Nyepi dimana orang-orang yang beragama Hindu dilarang untuk melakukan aktifitas apapun, sejak semalam saya sudah bertekad untuk tidak hibernasi, alias cuma tidur seharian. Akhirnya saya juga memutuskan untuk berenang dan setelahnya berniat untuk membuat beberapa kreasi di hari Nyepi, hihi.



8 Maret 2013

Membuat Afirmasi, Mewujudkan Imajinasi

Sewaktu saya membaca buku 'The Secret' beberapa tahun lalu, saya mendapat begitu banyak pengetahuan baru soal hubungan antara kita (manusia), semesta dan 'Dia'. Katanya, diri kita adalah akibat dari apa yang sudah kita pikirkan.. Dimana pikiran menciptakan kata-kata yang kita ucapkan, perasaan yang kita rasakan dan juga tindakan yang kita lakukan. Pikiran. Intinya disitu katanya..

Buku itu juga menjelaskan bagaimana kekuatan pikiran kita akan menjelma menjadi suatu gelombang, lalu kemudian ia terpancar ke semesta. Semacam sebuah mercusuar yang baru saja dinyalakan lampunya ketika malam tiba. Memancarkan seberkas cahaya. Semesta mendengarkan pikiran kita! Iya, mungkin terdengar begitu tak masuk logika, tapi tidak, sungguh ia nyata.

pic from here
Sebelum membaca buku ini saya seringkali mendapati diri saya terkaget-kaget akan beberapa hal yang terjadi. Hal-hal yang terjadi bahkan diluar kemampuan dan kapasitas diri saya. Hal-hal yang terjadi atas hasil apa yang ada didalam pikiran saya. Hal-hal yang bahkan saya pikir sangat mustahil mewujud jadi nyata.

Dalam agama saya, Islam, mungkin ini yang dinamakan iman. Keyakinan diri akan suatu pikiran, harapan juga doa yang kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa..



6 Maret 2013

Bahagia itu sederhana..

Banyak yang bilang kalau bahagia itu sederhana.. Iya, bahagia itu terkadang tercipta dari hal-hal biasa yang tidak kasat mata. Sederhana bukan berarti tidak memiliki makna, justru banyak hal luar biasa yang terbentuk dari keping-keping kaca bernama 'sederhana'.

Iya, bahagia itu sederhana..

Bagi orang tua, melihat gadis atau jagoan kecilnya menjelma menjadi sesosok manusia dewasa yang bertanggung jawab dan membuat dirinya berguna juga merupakan secercah bahagia yang sederhana.

Bagi para tunawisma, sedikit kepedulian kita dapat menumbuhkan jutaan harapan serta mencipta bahagianya mereka.

Bagi sepasang manusia yang sedang jatuh cinta, berkhayal tentang masa depan jika nanti mereka bersama juga salah satu cara paling sederhana untuk merasa bahagia.

Bagi orang yang mencinta, melihat orang yang dicinta bahagia juga salah satu bentuk nyata dari kesederhanaan bahagia.

Bahagia. Iya, sesederhana itu katanya..

Sedangkan bagi saya, mencoba mengajarkan diri sendiri bahwa untuk merasakan bahagia itu memang bisa sangat sederhana, seperti halnya bisa membahagiakan orang lain terutama kedua orang tua, itu saja.


Bahagia mempunyai arti dan rasa beragam. Bahagia, semuanya hanyalah kata berbeda yang mempunyai arti yang sama. Bahagia itu sederhana..

pic from here

xx,
agistianggi

5 Maret 2013

(Bukan) Pemaaf yang baik..

Dari dulu saya punya kebiasaan, yang entah menurut orang baik atau malah justru sebaliknya. Menuliskan agenda harian dalam sebuah schedule board yang tertempel dengan rapi pada dinding kamar saya.. menuliskan apa yang akan saya lakukan kemudian hari, menuliskan apa yang telah saya lalui hari ini atau hanya menggambarkan sebuah emoticon yang menggambarkan hari. Konyol? Mungkin iya. Tapi bagi saya ini ada maksud dan tujuannya.

Saya merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang mungkin memiliki daya ingat yang tidak terlalu baik, katakanlah pelupa, begitu sih mereka bilang. Dengan menuliskan apa yang akan dan telah saya lakukan, saya berharap kelak, suatu hari nanti, saya bisa membaca lagi tulisan-tulisan itu.. bisa mengingat apa-apa saja yang pernah saya lalui dan saya lakukan.

Sampai suatu hari sesuatu hal terjadi dalam hari saya, sesuatu yang tidak pernah saya harapkan terjadi, ya sesuatu yang teramat membuat hati saya sakit hati. Foto schedule board di bulan September 2011 ini kali terakhir dimana saya rajin menuliskan agenda harian saya, karena tepat dipergantian bulan selanjutnya terjadi hal yang sama sekali tidak akan pernah ingin saya ingat.

Saya bukan pemaaf yang baik. Jika seseorang melakukan kesalahan kepada saya, mungkin saya masih bisa mengatakan saya memaafkannya, tapi tidak bisa melupakannya. Buruk? Memang. Ck.

Semenjak hari itu, saya tidak pernah lagi menulis di schedule board itu. Semenjak hari itu, saya sadar, saya bukan pemaaf yang baik..
Sekarang, haruskah memulai semua dari awal? Melupakan apa yang dinamakan kenangan buruk? Mungkin, bisa jadi. Tapi rasanya tidak pun tak apa, tak ada bedanya..

3 Maret 2013

Quotes of The Day

If there's one thing I've learned in life, it's to not trust anyone but yourself.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...