30 November 2012

Hujan di Awal Bulan Desember..

Aku suka hujan. Sungguh, dan kamu tau itu..
Aku suka hujan, terlebih di awal bulan Desember,

Seperti hari ini..
Aku dan kamu, kita, di kotamu..
Sebelumnya rintik hujan hanya menciptakan rasa sedih diantara sepi.
Menciptakan sepi atas merdunya paduan suara air menghujani bumi
.
Membuat gemericik sunyi akan dentang jam yang seakan lambat mengiringi.
Membiarkanku mengecap rindu dan membuatku teringat masa yang penuh dengan warna pelangi.

Dan seringkali memaksa aku terbangun dari riuh indahnya mimpi.
Tapi lain halnya dengan hari ini.
Aku tidak lagi sendiri..
Akhirnya hujan hari ini membawaku lagi dalam bias memori. 

Sebelumnya, bahagia tidak pernah sesederhana seperti halnya hari ini.
Aku hanya ingin menyederhanakan semua detik ini.
 
Ya, aku suka hujan.
Terlebih jika ada kamu disini..

Surabaya, 30 November 2012

pic from tumblr



xx,
agistianggi

29 November 2012

10 Finalis Lomba Blog AntiKorupsi; Me Vs Korupsi!

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba mengikuti satu kompetisi menulis yang diselenggarakan atas kerjasama antara TII (Transparency International Indonesia), KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Cangkir Kopi, USAID, MSI, dan VHRMedia, yang bertema 'Melawan Korupsi, Siapa Takut!'.

Transparency International Indonesia (TII) sendiri merupakan salah satu chapter Transparency International, sebuah jaringan global NGO antikorupsi yang mempromosikan transparansi dan akuntabilitas kepada lembaga-lembaga negara, partai politik, bisnis, dan masyarakat sipil. Bersama lebih dari 90 chapter lainnya, TII berjuang membangun dunia yang bersih dari praktik dan dampak korupsi di seluruh dunia. Sebagai gerakan sosial, TII aktif terlibat dalam berbagai koalisi dan inisiatif gerakan antikorupsi di Indonesia. TII juga merangkul mitra lembaga lokal dalam melaksanakan berbagai program di daerah.


27 November 2012

Quotes-love of the day!

It is okay to be alone and feel lonely for a while, just to know that after the silent break, you can learn how to respect the time you'll spend with ones you love way better than before. That little old soul need to rest sometimes, luce.

P.S: Because life is tough, and I just want you to be strong sunshine!

xx,
agistianggi

26 November 2012

The 35th Jazz Goes To Campus; Freedom of Jazzpression!

Kemarin, Minggu 25 November 2012, diselenggarakan suatu pagelaran besar di Lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jazz Goes To Campus! Ya, acara ini konon katanya merupakan festival Jazz tertua di Indonesia loh, karena ini merupakan gelaran yang diselenggarakan untuk ke 35 kalinya. Wow! Dan kali ini saya berkesempatan hadir di acara besar ini.

FEUI
Booth Penjual Aksesoris Sepanjang Jalan..

Rundown per stage
Welcom, JGTC 2012!
JGTC sendiri diselenggarakan oleh para mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dimana dengan idealismenya, mereka ingin menunjukan musik Jazz yang telah terasimilasi dengan musik modern sehingga tercipta sub-genre Jazz baru yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. JGTC sendiri merupakan media ekspresi bagi semangat dan kecintaan mereka terhadap musik Jazz. Dan menurut saya, mereka berhasil dengan hal itu.

JGTC merupakan suatu gambaran kecintaan akan musik Jazz, dan untuk menjaga hal itu, diperlukan adanya upaya menumbuhkan semangat kecintaan dan suatu media untuk mengekspresikannya tanpa membiarkan hal lain membelenggu idealisme dan kreativitas yang melandasi Jazz Goes To Campus hingga kapanpun. Dan dengan membayar tiket masuk seharga 58ribu, kita sudah bisa menikmati begitu banyak sajian musik Jazz dengan berbagai musisi yang sukses membawa kita kedalam alunan musik yang mereka bawakan.

"Freedom of Jazzpression"
Tema yang diangkat kali ini adalah 'Freedom of Jazzpression', yang mana kurang lebih makna yang diangkat adalah untuk menggambarkan kebebasan musik Jazz dalam berekspresi. Dan ini terbukti saat event berlangsung, berbagai sub-genre Jazz ditampilkan dan juga menunjukan bahwa Jazz memiliki sisi keragaman.

Nah, disini juga bisa melihat-lihat sejarah musik Jazz dengan memasuki 'Museum Jazz'. Didalam museum ini kita bisa melihat-lihat sejarah musik Jazz, jalan ceritanya, para musisi Jazz dunia dan masih banyak lagi. Oya, disini juga dijual banyak dijual poster-poster yang berisi gambar para musisi Jazz, kalau tidak salah sih rate untuk satu poster seharga 200ribu. Ada poster om Faris RM, Tulus, The Groove dan masih banyak lagi musisi Jazz dari dalam maupun luar negeri.

Jazzpression
Museum Jazz
                     
                                

                               

Selain mempertunjukan banyak sejarah dan asal muasal genre Jazz beserta sub-genrenya, di dalam Museum Jazz ini juga dipamerkan sebuah kaos panitia Jazz Goes To Campus tahun angkatan 1985.

T-Shirt JGTC '85
Setelah puas berkeliling dan melihat lebih jauh mengenai sejarah serta segala hal terkait dengan genre musik yang satu ini, kita juga bisa mengitari booth makanan maupun para penjual aksesoris yang kebanyakan merupakan anak Fakultas Ekonomi UI sendiri loh. Hmm, jenis makanan yang dijajakan pun beragam, mulai dari es teh manis sampai iga bakar, sushi sampai green tea, aneka jenis makanan tersedia disini, hanya saja tentu harus diiringi rasa sabar luar biasa mengingat pengunjung event ini lebih dari ribuan orang.

JGTC Artist

Lucunya lagi, saya sempat diajak bermain di salah satu booth majalah wanita, CitaCinta. Permainannya sih simple, hanya bermain kata. Untungnya bukan bermain rasa, cieee..  Jadi saya diminta untuk memilih satu dari beberapa tumpukan abjad, kemudian dalam waktu 45 detik saya harus menyusun sebanyak mungkin kata, dari bahasa Inggris, untuk mendapatkan doorprize. 4 kata berhasil saya kumpulkan, dan kemudian saya diberi satu tas goodie bag berisi beberapa keperluan perempuan, biasa lah..

Booth CitaCinta

Jadi dalam event ini dibagi kedalam 4 stage besar, Stage Vitacimin, Stage Mandiri, Stage, Jazzpression Stage dan Propaganda Stage. Oya, pengisi acara di event JGTC ini bukan hanya para musisi handal yang namanya sudah tak asing lagi buat kita loh, tapi juga para musisi yang memenangkan JGTC competition, yang merupakan suatu wadah dan ajang bagi para musisi Jazz muda untuk menyalurkan kreativitas bermusik mereka. Dan terbukti, dalam JGTC competition ini bermunculan musisi-musisi Jazz berbakat yang semakin memeriahkan blantika musik Jazz di Indonesia.

Saya sendiri berada di event ini dari siang hari, mencoba menikmati alunan Jazz dari satu panggung ke panggung yang lain, berjalan dari satu irama ke irama yang lain. Memang cukup melelahkan, mengingat jarak dari satu stage ke stage yang lain dapat dikatakan tidak begitu dekat, tapi semua itu terbayar lunas dengan semua penampilan sempurna paduan musisi Jazz di hari itu.

Jazzyone








             
Setelah berpindah dari panggung ke panggung *dangdut banget kata-katanya* Mulai dari menyaksikan perform BSO Band di Vitacimin Stage saat pertama kali datang, menyaksikan penampilan Tristan di Propaganda Stage lalu berpindah ke Mandiri Stage menonton penampilan dari Jazz Blues Funk dan Andi Wiriantono and Friends 'Tribute to Bubi Chen', yang kemudian dilanjutkan ke Jazzpression Stage melihat Jazzyone dan Funky Thumb feat Tompi. Yang mana semua itu membuat kaki saya sakit, hampir mati rasa saat malamnya bahkan sampai saat ini, ckck, tapi kembali lagi, semua itu sebanding dengan semua alunan melodi yang melebur dalam nada, Jazzy! As simple as that, actually..

Yang sangat disayangkan adalah, berhubung saya harus kembali ke Banten di malam yang sama, sendirian, saya gak bisa memaksakan diri untuk tetap stay di acara sampai selesai.. padahal semua main artist pagelaran ini tampil di akhir acara, hiks. Barry Likumahuwa Project, Tulus, Orang Pekoe, Bonita & The Hus Band, Tompi,  daaaaaaaaaaan The Groove. Jadilah, saya hanya ingin melihat Tompi tampil jam 8 malam itu, dan langsung berencana pulang. And that's really cool! Pretty awesome! Great! Amazing! Yeiyyyy. Tompi berhasil menghibur semua pengunjung, yang sepenglihatan saya hampir 70% berkumpul di Jazzpression Stage untuk melihat penampilannya, termasuk saya. 

Jam 9 tompi menutup performnya malam itu dengan sebuah lagu yang pasti gak asing lagi buat kita sedari kecil, Balonku! Wohooooo~ Dari situ, saya beralih ke Mandiri Stage, hendak berpamitan kepada dua teman saya yang lain untuk pulang duluan. Hmm, ternyata Benny Likumahuwa yang tampil, dan saya kembali terdiam lagi untuk menikmati satu sajian Jazz terakhir di malam itu.. And there are no one can't describe my feeling, than i love jazz ..as much. 






FREEDOM OF JAZZPRESSION!



Bye, Jazz Goes To Campus 2012! See you next years! Phaphayyy! \o/




xx,
agistianggi


24 November 2012

Kita dan Sepotong Tanda

Hey!

Suatu hari nanti, aku ingin mengajakmu mencuri-curi waktu ke tempat ini. Berdua. Ya, Hanya berdua. Hanya sekedar untuk diam, saling menatap tanpa berucap, hanya sekedar untuk meninggalkan jejak..

Aku ingin mengajakmu kemari, untuk menutup mata sejenak ..untuk membiarkan angin menyisir rambut kita ..membiarkan semilirnya membisik kecil di telinga ..membiarkan awan membawa serta semua asa dan rasa ..membiarkan debur ombak meracau semua alur masalah dalam kepala, membuat kita sejenak terlupa ..membiarkan semua isi pikiran kita berkelana kemana-mana, membiarkannya memikirkan hal-hal tak terduga.

Aku ingin segera mengajakmu kemari, menatap semesta diatas hamparan rumput hijau basah sehabis diterpa hujan semalam, di hadapan samudera, di bawah badan sebuah pohon besar yang meneduhi kita, selanjutnya mari kita nikmati wangi rumput basah yang membawa ingatan kita pada setiap lembaran cerita. Mari kita berdansa dengan semua kenangan, melupakan segala sakit yang mungkin pernah ada. Mari kita berdamai dengan realita..

Tetaplah terpejam. Aku akan membisikkan cerita-cerita kecil yang akan membuatmu tertawa. Kata yang membuatmu tak ingin berhenti tersenyum karenanya. Sssst, ingat ini rahasia kita berdua. Kita pernah membiarkan rasa tumbuh begitu saja, tanpa mengikatnya dengan apa-apa. Disini aku ingin kamu menyadari, sebenarnya kita tidak pernah benar-benar berpisah.

Dalam gelap, kita saling menggenggam, aku ingin kita mengerti semua pertanda. Aku ingin kita menyadari bahwa ada suatu alunan merdu dari semilir angin yang menggoda, ada suatu tekad dari ombak yang menabrak karang, ada suatu rasa dari wangi rumput sehabis diserang hujan, ada keindahan ketika dahan-dahan bergesekan, ada suatu kepasrahan saat daun jatuh dari tangkai, bahkan ada suatu kekuatan besar dari kerikil yang kita injak. Ada banyak tanda. Kita harus mengerti bahwa semuanya berjalan sempurna sesuai dengan apa yang diinginkan semesta. Dan kita tidak bisa menerka.



xx,
agistianggi

23 November 2012

[DIY] Let it flow(er) !

Yak, belakangan ini saya memang lagi suka bikin bros dari bahan-bahan sisa yang gak lagi terpakai, entah itu flanel, kain felt, baju bekas, apapun. Nah, kebetulan saya punya segulungan pita warna coklat yang gak pernah saya pakai lagi dan kececer gitu aja dirumah. Lalu saya pikir karena sayang kalau cuma jadi penghuni tempat sampah, saya nyoba buat bros. Oke, bisa dibilang ini gak begitu keren apalagi kece kayak bros-bros lain, tapi setidaknya saya buat ini sendiri hahahaaa.

Harta Karun

Beberapa minggu lalu saya buat lagi satu aksesoris dari pita. Ini bukan kali pertama saya membuat aksesoris dari bahan selain flanel sebetulnya, tapi ya gitu deh.. jahitan dan ini-itunya masih mencong-mencong gak beraturan.

Pita sisa

Nah, selain pita, saya juga pakai hiasan-hiasan kecil, peniti bros dan potongan kain flanel yang digunting membentuk lingkaran untuk alasnya. Sebetulnya kain apapun bisa sih, tapi berhubung bahan yang ada cuma itu, ya jadilah saya pakai. Oya, untuk menempelkannya, saya pakai lem lilin. Bisa juga sih pakai lem tembak atau lem UHU.

Benang sulam


Step 1; Jahit

Step 2; Gulung, dan kasih aksesoris tengah

Finish!


Berhubung satu dan lain hal, cerita Do It Yourselfnya cukup sekian dan terima kasih.


xx,
agistianggi

22 November 2012

Jogja, aku jatuh cinta.. #3rdDay

Sabtu, 17 November 2012

Hari terakhir liburan di Jogja.. Ah, betapa waktu terasa berputar begitu cepat ya kalau kita sedang menikmati sesuatu terutama liburan. Di hari ketiga itu, berhubung kami diburu waktu dengan jadwal pulang, jadilah rencana hari itu kami hanya akan ke beberapa lokasi ..Malioboro (lagi), Pasar Beringharjo dan kawasan sekitarnya..

Entah kenapa, hari itu mood saya roller-coaster sekali, super moody. Jadilah hari itu saya pergi dibalut rasa malas luar biasa. Perjalanan pagi itu dimulai pukul 9 pagi, destinasi pertama yang hendak kami kunjungi kawasan Malioboro, hendak berbelanja untuk membawakan oleh-oleh ceritanya.. Tapi sayangnya, arus kendaraan yang ramai luar biasa membuat kami harus berputar-putar hanya untuk sekedar mencari tempat parkir. Setelah merasa putus asa, kami akhirnya memutuskan untuk pergi mencari tempat makan dulu.

Warung SS alias Warung Serba Sambal menjadi pilihan kuliner kami pagi itu. Jadi, konsep utama yang ditawarkan di tempat makan ini adalah aneka macam sambal yang akan disajikan bersama dengan pilihan lauk yang kita pilih. Mulai dari sambal bajak, sambal tempe, sambal terong dan berbagai macam jenis sambal lain yang tidak saya hapal semua.

Nah setelah selesai makan, perjalanan pagi itu kami lanjutkan kembali, kali ini menuju ke terimal Lempuyangan untuk menukarkan tiket online dan ke Kotagede, pusat kerajinan perak di Jogja. Lokasi perajin perak ada di hampir setiap sudut Kotagede ini. Menurut penglihatan saya, hampir sepanjang jalan Kotagede terdapat puluhan toko yang berjejeran untuk menjual aneka aksesoris yang terbuat dari perak. Saya sendiri karena berhubung sedang moody dan cuaca panas terik akhirnya memilih untuk menunggu di mobil, ngobrol. Setelah sekitar 30 menit, teman-teman lain yang hendak membeli kerajinan akhirnya kembali dan lagi kami pergi ke Malioboro.

Stasiun Lempuyangan

Tiket Kereta
 Lagi, sesampainya disana kami dipusingkan dengan sulitnya mencari tempat parkir, tapi untungnya setelah berkeliling kami pun mendapat tempat. Saya dan teman-teman lain berpisah disana dan berjanji untuk bertemu lagi ditempat ini sekitar pukul 4 sore harinya. Dan disinilah petualangan dimulai...

Saya berpisah dengan teman-teman lain. Sendirian. Setelah selesai solat dzuhur, saya masuk ke kawasan Pasar Beringharjo. Lucunya, pagi hari sebelum kami berangkat, saya dan masden sempat menonton salah satu acara tv yang kebetulan sedang meliput tentang wisata kuliner Jogja ..ituloh si bapak maknyus! Ha. Pasar Beringharjo siang itu sungguh ramai luar biasa dan ditengah keramaian itu saya celingak celinguk sendirian kayak anak ilang, duh. Disini saya mulai melihat-lihat barang yang sekiranya bisa saya bawa sebagai oleh-oleh, ya nggak jauh dari batik, aksesoris dan benda sejenisnya.

Oya, saat menonton liputan TV sebelumnya, saya melihat Pak Bondan membeli makanan di depan Pasar Beringharjo, Nasi Pecel! Berhubung lapar, saya juga nekat cari ke tempat Pak Bondan itu dan makan lah saya dengan lahap ..sendirian di tengah keramaian. Seru sih sebenarnya, saya suka seperti ini. Get lost, ditempat asing, dan sendiri.. Sensasinya beda. Setelah makan, saya kembali cari-cari oleh-oleh. Harga batik disini juga ternyata pas saya tanya penjualnya nawar dengan harga tinggi, duh. Berhubung bisa sedikit bahasa Jawa, sedikit banget malah, saya nekat coba nawar pake bahasa Jawa tapi si Mas-nya malah ketawa terus nanya 'Asli sunda ya, mba?'. Oke, saya nggak bakat nyamar. Hahahaaa.

Di Pasar Beringharjo saya cuma dapat satu baju buat adik perempuan saya, batik untuk seorang teman dan beli beberapa phasmina buat saya sendiri. Krikk. Dari situ saya sempat ke salah satu toko batik di Jalan Malioboro dan beli satu buah batik couple, ceritanya sih buat saya sama papah. Romantis banget kan ya :\ Tapi saya bertekad, kalau lain kali saya kemari lagi harus latihan dulu bahasa Jawa supaya bisa nawar. Titik!

Setelah hampir 2 jam berjibaku dengan padatnya arus lalu lalang orang di Pasar Beringharjo dan Malioboro, teman saya mengabari kalau mereka udah selesai dan menunggu di mobil, yang artinya saya harus cepat kembali untuk bersiap pulang. Masih ada beberapa item sih sebenarnya yang ingin saya beli, tapi karena berhubung waktu yang terbatas, juga uangnya, ehm. Lalu, ditengah jalan saya bertemu masden yang kebetulan juga sedang berusaha menghubungi saya. Hmm, sempat mengitari beberapa toko sih buat cari barang yang ingin saya beli, tapi hasilnya nihil. Akhirnya saya menyerah. Dari situ dia mengajak saya untuk pergi ke pabrik bakpia, Bakpia 25 katanya yang terkenal, naik becak! Waw. Dengan tarif 5000 satu kali perjalanan, si tukang becak ini mengantar kami ke tempat tujuan, tapi kemudian satu fakta baru terungkap ..cie bahasanya. Sebelum kemari saya sempat baca sebuah thread di kaskus soal wisata jogja, nah salah satunya ada yang menginformasikan kalau kita mau pakai becak disini harus hati-hati, biasanya tukang becaknya udah punya koneksi dengan tempat-tempat tertentu untuk nawarin barang, ceritanya sih jadi marketing gitu deh. Dan benar ternyata, oknum tukang becak satu ini juga, dia kekeuh menawarkan salah satu pabrik bakpia 9X, dan menjelek-jelekan toko lain. Ih..

Toko Bakpia XX

Akhirnya, semua selesai. Kami bergegas untuk pulang ke rumah kiky, untuk berkemas dan bersiap pulang karena kereta yang kami tumpangi nantinya berangkat pukul 19.34 dari Stasiun Kereta Lempuyangan. Saat hendak pulang ini juga ada insiden lucu.. berhubung jarak dari rumah kiky ke stasiun katanya dekat dan bisa naik motor kesananya, jadi pada leha-leha buat ke stasiun, saya sendiri dari awal udah sewot supaya kami berangkat sehabis magrib. Etapi ya dasar, masuk kuping kiri keluar kuping kanan, gak didenger. Nah, pas menit-menit menjelang waktunya, semua was-was takut ketinggalan kereta, sampai ngerepotin 2 orang teman kiky lain buat anter ke stasiun ..dan setelah verifikasi identitas diri, mencocokan data diri dengan nama ditiket ....jrengjreng~ ada sebuah pengumuman bahwa kereta Gaya Baru Malam jurusan Surabaya - Jakarta baru akan datang jam 20.10. Hahaha, sial.




Ini kali pertama saya naik kereta api, haha cupu ya? Biar. Dari dulu saya memang ingin coba naik kereta, tapi belum pernah kesampaian. Nah, kali ini akhirnya kesampaian juga, walaupun naik kereta Ekonomi AC yang ternyata tempat duduknya luar biasa nggak nyaman. Tegap. Hampir 90 derajat. Can you imagine? But, I really enjoy this trip. Entah saya yang berlebihan apa gimana, tapi rasanya super excited aja naik kereta dari Jogja ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, sampai kira-kira jam 2 subuh, saya tetap terjaga ..menikmati perjalanan, mencoba melihat jalanan ditengah gelapnya malam. Sambil sesekali bersenda gurau sama masden juga mas awal, karena mba sinta sama mas ilmi udah tepar duluan. Sampai akhirnya saya tertidur dan terbangun tepat pukul 5 pagi. Coba tebak apa, cuaca diluar sungguh sangat cerah dan saya bisa melihat hamparan sawah yang mulai menguning saat kami baru sampai di sekitar daerah cikampek pagi itu. 1 jam berselang, akhirnya kami sampai di Stasiun Pasar Senen..

Liburan telah usai. Sekarang waktunya kembali melihat fakta dan realita kalau besok nyatanya kami harus bekerja lagi, ha!

Jogja menjadi kota penuh nostalgia bagi siapa saja yang berkunjung kesana. Bukan hanya karena pilihan tempat wisata yang beragam, mulai dari barisan pantai mengagumkan di Gunung Kidul, Pantai legendaris Parang Tritis, wisata religi yang beragam seperti candi dan makam, Malioboro yang menjadi denyut nadi perekonomian dan pusat budaya Jogja, aneka jenis kuliner, semua bisa kita temukan di Yogyakarta. Oya, ada satu lagi yang akan selalu saya rindukan dari kota satu ini, penduduknya yang ramah.

Ya ....Jogja, sebuah kota yang tidak akan pernah habis dibahas dalam sebuah tulisan, walaupun dengan puluhan halaman. Jogja dengan sejuta pesona-nya, dengan segala sejarah yang terkandung didalamnya, dengan keindahan yang bahkan terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tawa, canda, senyum, sapa.. Iya, Jogja, kota yang membuat saya jatuh cinta..

Masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi, terutama kawasan Gunung kidul yang terkenal dengan  deretan pantai dan gua. Ah, rasanya tak ingin berakhir menikmati setiap jengkal keindahan kota ini. Tidak melulu soal wisata, pantai, dan deretan alternatif wisata lainnya. pokoknya seluruh daerah di provinsi ini memiliki paras elok yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Di lain kesempatan, saya janji saya akan kemari lagi, membawa suatu cerita lain.

Jogja, aku jatuh cinta...


xx,
agistianggi

21 November 2012

Jogja, Kota dengan Pesona Sepanjang Masa.. #2ndDay

Jumat, 16 November 2012

Hari kedua liburan di Jogja rencananya kami mau berkunjung ke Candi Borobudur. Berhubung hari itu hari jumat, tentu kami diburu waktu ...selain para lelaki yang harus menunaikan ibadah solat jumat entah kenapa saya merasa kalau di setiap hari jumat itu waktu selalu terasa dua kali lebih cepat dari biasanya. Sungguh..

Dengan perjuangan ekstra bangun pagi itupun terasa 10 kali lebih sulit, haha mungkin karena malamnya kami baru sampai dirumah sekitar pukul 2 pagi. Nah, setelah mandi dan bersiap, sekitar pukul 10 pagi itu kami berangkat menuju ke Candi Borobudur, tapi sebelumnya kami mencari tempat makan dulu untuk sarapan. Dan sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan bernama 'Ayam Goreng Bonita' menjadi pilihan kami. Menurut saya sih harganya relatif murah dengan rasa ayam yang juaraaaaa. Entah karena memang rasanya yang enak atau saya yang kelewat lapar, makanan di piring pun habis tak bersisa, ha! Setelah itu perjalanan kami lanjutkan kembali.

Saat waktu menunjukan pukul 12 kurang, kami berhenti di sebuah masjid. Sambil menunggu para jagoan itu solat jumat, saya menunggu di halaman masjid, dan disana saya menemukan sebuah fakta baru.. seingat saya, hari sebelumnya dari Candi Prambanan selama perjalanan pulang saya melihat penjualan es dawet yang berjejeran, begitupun di masjid ini ada beberapa penjual dawet yang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak. Sebetulnya sih saya ingin coba, tapi berhubung kapasitas perut yang terbatas dan sebelumnya sudah diisi sampai full-tank dengan ayam kampung, niat ini saya urungkan. *sigh*

Setelah bergantian solat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Oya, sebelum kemari kami melewati tugu Jogja, sayangnya saat itu tugu sedang dalam masa renovasi. Sayang sekali padahal, belum sah ke Jogja katanya kalau belum foto disana, katanya.. Perjalanan ke Magelang dari Jogja menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam. Untungnya perjalanan saat itu ramai lancar, hanya saja cuaca tidak mendukung, mendung..

Selamat datang di Candi Borobudur..

Akhirnya.. Selamat datang di Candi Borobudur! Beberapa tahun lalu saya pernah juga kemari, acara study tour dari sekolah saat smp, tidak banyak yang berubah hanya saja lebih ramai oleh para penjual cendramata rasanya.. Dengan membayar tiket masuk seharga 30ribu per orang, masuklah kami ke kawasan wisata.

Welcome!
Jadi ceritanya Mas Deni, Mas Ilmi sama Mba Sinta bikin geng gitu, geng baju item dan jadinya foto-foto terus bertiga dan aku nggak di ajak. Krik! Ha. Mungkin karena memang sedang libur long weekend, pengunjung Objek Wisata inipun jumlahnya membludak, penuh ga keruan deh rasanya. Dan sayangnya lagi, gak lama berselang saat kami baru akan naik menuju puncak candi, hujan pun turun ..jadilah semua orang berhamburan mencari tempat berlindung supaya nggak kebasahan. Demikian juga kami, kami meneduh disebuah gazebo sebelum tempat pengembalian sarung. Oya, sebelum masuk kawasan candi juga kami diberi sebuah sarung untuk dipakai selama dalam kawasan, sewaktu di Candi Prambanan juga.




Sekitar pukul 2 siang itu hujan mengguyur Jogja selama hampir 30 menit dan membuat kami mau tidak mau harus menunggu hujan reda karena intensitas hujan yang cukup lebat. Sepanjang menunggu hujan reda, kami mengobrol, bercanda, tertawa, bercerita tentang banyak hal, tentang pengalaman, tentang teman, tentang apapun.. Kesana kemari. Seperti biasa. Sampai pada akhirnya hujan mereda, tidak berhenti, karena rintik hujan masih tetap menghujani kami dengan cara yang jauh lebih romantis. Gerimis..

Dengan setengah tergopoh-gopoh akhirnya kami sampai juga di puncak Candi, dan tentunya sama sekali tidak melewatkan momen ini untuk diabadikan melalui sebuah gambar. Selama di atas candi hujan juga tak kunjung berhenti, namun anehnya pengunjung candi kian ramai. Ya, mungkin pemikiran kami saat itu sama, tidak mau melewatkan kesempatan berkunjung kemari hanya karena hujan. Hmm, saya juga sempat mengambil banyak gambar saat di Borobudur dan hal yang paling membuat saya takjub adalah saat melihat pemandangan di balik bukit. Wow! Entah kenapa saya memang selalu seperti ini setiap kali disuguhi pemandangan alam. Tak henti dibuat takjub..

Candi Borobudur

A!
Saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang petugas keamanan di Candi Borobudur. Saya bertanya kenapa banyak patung-patung disini yang tidak utuh, apakah itu kepalanya hilang, tangannya dan lain sebagainya.. Nah, beliau bilang sih, memang keadaan candi saat ditemukan sudah demikian ..dulu kan candi ini terkubur seperti sebuah bukit. Hmm, saya sendiri sih beberapa waktu lalu sempat mendengar berita kalau patung-patung atau benda peninggalan sejarah seperti ini memang menjadi incaran banyak tangan-tangan tak bertanggung jawab untuk diperjual belikan secara ilegal berhubung harga jual yang cukup menggiurkan. Padalah kalau boleh dikata, nominal uang tidak akan pernah menggantikan nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Cie, anggi bijak.. #halah

Salah satu patung yang terbuka

Hari semakin gelap dan senja membuat kami mau tidak mau harus segera bergegas untuk pulang. Sayangnya, belum sempat kami membeli oleh-oleh khas borobudur, lagi lagi hujan deras mengguyur Magelang.. Kamipun segera menuju mobil untuk kembali menuju Jogja.

Tujuan kami selanjutnya adalah makan nasi kucing khas Jogja. Saya pun sebetulnya pernah makan nasi kucing sebelumnya, bedanya itu nasi kucing ala Banten, tentu rasanya pun akan berbeda. Lalu, meluncurlah kami menuju salah satu tempat angkringan yang menjajakan nasi kucing, angkringan dekat Stasiun Tugu, kalau saya nggak salah sih. Malam hari berjejer lesehan yang menawarkan aneka kuliner Jogja. Dan saya makan dua bungkus nasi kucing dengan 2 tusuk sate dan puyuh. Satu porsi nasi kucing itu harganya 1500, sedangkan puyuh dan sate masing-masing harganya 2000 dan 1500, jadi total saya makan malam itu cuma 6500. Murah bukan?! Juga karena penasaran saya juga mencoba salah satu minuman terkenal khas Jogja, Kopi Joss. Ya, kopi yang diberi arang yang panas membara itu.. Awalnya saya sempat ragu juga sih, tanya-tanya yang lain bagaimana rasanya, dan ternyata enak! Sungguh. Harganya juga cuma 3500 rupiah. Entah karena terbiasa minum kopi ala coffee shop yang harganya bisa sampai 10 kali lebih mahal dari ini, tapi saat minum kopi ini ada suatu sensasi beda yang saya rasakan. Nikmat, cuma itu yang bisa saya bilang.

Korban kebrutalan perut lapar


Nah, setelah puas makan. Kami menuju Malioboro (lagi) untuk mencari cendramata. Tujuan utamanya sih ke sebuah toko, namanya Mirota Batik, yang katanya bisa dibilang cukup lengkap dalam menjual berbagai macam buah tangan untuk dijadikan oleh-oleh. Dan memang benar, toko ini memang lengkap, mulai dari baju, hiasan, sepatu, tas, aksesoris, patung-patung dan masih banyak lagi jenis lainnya. Saya sendiri dapat satu baju batik, tapi karena diburu waktu toko yang mau tutup juga pengunjung yang kian membludak di kasir, saya nggak jadi beli. Besok aja sekalian deh, pikir saya.

Selanjutnya kami menuju Universitas Gajah Mada (UGM) cuma sekedar ingin tau dan lihat-lihat, yakali aja ada yang kece-kece *halah!* Dan ternyata UGM ini luasnya pake banget deh. Disana kami juga cuma berkeliling muter-muter liat gedung perkuliahan, nggak lama, soalnya keburu ditegur satpam kalau mobil ternyata nggak boleh masuk, haha. Dari situ kami pergi ke Plaza Ambarukmo, nongkrong-nongkrong kece didepannya haha. Pokoknya hari itu judulnya mengitari Jogja!

Ah, sungguh ya Jogja masih tetap mempesona baik malam maupun siang hari. Tapi berhubung dua teman yang lain tampaknya sudah sangat kelelahan dan lebih memilih untuk tidur di mobil, kami akhirnya memilih untuk segera pulang dan beristirahat. Yeiyyy! Ya, Jogja, Kota dengan Pesona Sepanjang Masa..


to be continue..

xx,
agistianggi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...