31 Agustus 2016

SEPEREMPAT ABAD

Saya lahir dibulan kedelapan dalam hitungan tahun Masehi, dan dibulan kali ini saya menginjakkan tanggal dua puluh lima untuk usia ke dua puluh lima.

Seperempat abad.

Hari itu ditengah malam saya terbangun karena suara panggilan telepon salah seorang teman yang mengucapkan selamat menua. Seharian ponsel saya dipenuhi notifikasi dari berbagai messenger dan juga beberapa sosial media. Pun beberapa pesan dari orang-orang yang tidak terduga, terima kasih.

Untaian doa tak putus yang sejurus kemudian saya aamiin-kan satu per satu. Saya percaya, doa yang baik akan kembali lagi kepada yang mendoakannya. Begitu, kan?

Bahagia? Tentu saja.

Pagi hari, sudah ada panggilan video via Line dari orang rumah. Dilanjutkan panggilan telepon dari si bungsu yang menelpon diiringi lagu selamat ulang tahun yang dia setel dari kaset radio. Ditambah lagi surprise dari teman-teman kantor yang mendadak buka pintu, bawa kue dan joget-joget gak karuan. Ah, manisnya! Menjelang malam tiba-tiba mendapatkan notifikasi Whatsapp kiriman Video dari Mama yang ternyata membuat semacam acara syukuran dengan anak-anak rumah Tahfidz dirumah. Video yang kemudian membuat saya terisak saking terharunya.

21 Agustus 2016

UNTUK BENANG DAN LAYANG-LAYANG

Ini adalah kepulangan kesekian kali dimana saya memandangi antrian panjang kendaraan yang hendak pulang maupun berakhir pekan ke kota Kembang. Dan kepulangan kali ini dikarenakan sahabat saya, Ayam Kecil, akhirnya melepas masa lajang. Saat ini saya bahkan masih merasa tidak percaya akhirnya 'dilangkahi' haha kamu!

Saya ingat pada kepulangan saya hampir dua tahun lalu, ketika ia bercerita tentang seorang wanita. Dia jatuh cinta. Ayam kecil sahabat saya bercerita panjang dibawah jembatan Pasupati, di Taman Jomblo yang pada masanya sedang jadi tempat 'nongkrong' idola anak muda. Muka ricuhnya merona, senyum yang sama ketika dia selalu bercerita akan hal yang membuat dia bahagia. Saat dia bercerita soal beasiswa, soal mimpinya atau sepeda barunya (lagi). Dan kali ini dia bercerita kisah cintanya, tentang dia yang mengibaratkan dirinya sendiri sebagai Layang-Layang dan wanita itu sebagai Benang.


Benang,

...dan Layang-Layang.

Kemarin disaksikan ratusan pasang mata, dihadapan mereka kamu mengucap janji untuk Tuhanmu, bahwa wanita disamping kananmu itu menjadi tanggungjawab dunia dan akhiratmu kelak. Sayangnya saya tidak bisa datang saat itu. Semacam ada perasaan haru setiap kali selesai mendengar seseorang mengucap ijab Kabul dan dilanjutkan lantunan syukur dari semua saksi yang hadir. Memang seharusnya seperti itu, kan? The greatest thing a man can do for his woman is to lead her closer to God. Right?

11 Agustus 2016

RITME


Satu pagi di bulan Juli lalu, saat bumi Laskar Pelangi dilanda hujan yang seolah tiada henti setiap hari. Sebuah email masuk kedalam kotak pesan saya dan lantas menjadi awal senyum sumringah sampai saat saya menulis ini. Saat ini.

Sebuah pesan yang jika diibaratkan hujan, adalah satu hal yang membuat seorang anak kecil tergelak tawa, ceria, berlari riang.

Bahagia.

Salah seorang sahabat terdekat saya minggu depan melepas masa lajang.

Dan saya berjanji untuk datang atau lebih tepatnya -diteror-diancam-you named it- untuk datang. Haha!

Karena bagi saya, setiap janji yang terucap juga termasuk dalam salah satu kategori hutang yang harus dibayar. Jadi, InshaAllah saya datang. Walaupun entah seperti apa kelak rasanya badan saya melewati perjalanan darat, laut dan udara berjam-jam lamanya. Saya sudah janji dan kali ini akan saya tepati.

***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...