19 September 2016

SEPOTONG KUE

Suatu Petang, Bandara Soekarno-Hatta, 2016. Saya termenung sejenak saat terbangun menatap jendela. Suara khas Pramugari terdengar sedang memberikan informasi perihal cuaca diluar sana. Beberapa kali saya mengerjap, sembari mengumpulkan nyawa, lantas berdoa agar kami mendarat dengan sempurna. Perjalanan udara Bangka - Jakarta terhitung tidak lama, tapi entah kenapa saya selalu menikmati momen 'ketiduran' yang berdurasi hanya kurang dari satu jam. Seperti halnya tertidur di Bus antar kota. Tidur saya kadang terlampau nyenyak. Keenakan.

Seusai lepas landas orang-orang mulai sibuk berdiri dan mengantri agar lekas keluar. Semacam terburu-buru karena sedang ditunggu seseorang, semacam ingin lekas melepas rindu dengan keluarga tersayang, beberapa sisanya masih santai terdiam memandang keluar jendela, sama halnya dengan saya. Saat sudah benar-benar sepi, saya baru berdiri, mengambil tas berisi oleh-oleh yang saya taruh di kabin, sedang sisanya saya simpan dikoper yang sengaja saya taruh di bagasi.

Salam terakhir saya tutup dengan istigfar dan terburu melipat mukenah lekas keluar mushola. Saya berjalan cepat sambil tiada henti mengutuki kecerobohan diri sendiri. Masih tidak habis pikir bisa terlupa dengan barang bawaan sendiri, haha untung nggak hilang. Setidaknya ini tidak kelewat ceroboh dari menunggu hujan reda di salon selama hampir dua jam dan ternyata bawa jas hujan. Uh, gis!

16 September 2016

MENUJU BAIK ITU BAIK



Dalam beberapa bulan kebelakang ini rasanya saya terlalu banyak 'dikejutkan' dengan hal-hal yang cukup mengejutkan. Tidak ada yang namanya kebetulan. Pun dengan hal ini, pasti Allah sudah punya sebuah misi khusus untuk saya. Untuk kembali belajar, atau memberi pelajaran, untuk tidak terlampau lalai. 

Salahnya adalah ekspektasi saya terlampau tinggi ataupun harapan saya kelewat banyak. Padahal sebesar apa kita boleh berharap? Sebesar kapasitas hati kita untuk menampung rasa kecewa, kan? Ini yang selalu saya sesali kepada diri sendiri, tidak pernah belajar dari pengalaman.

Kecewa. Ya. Semacam sakit yang tak kunjung sembuh atau justru kecewa yang berulang kambuh. Semacam itulah.  

Ada hal-hal yang mungkin kita suka, tapi tidak dengan apa yang orang lain pikirkan. Well, dalam beberapa hal belajar mengabaikan pendapat orang boleh dilakukan, tapi dalam beberapa hal lain pendapat orang lain bisa jadi parameter kita dalam melakukan sesuatu yang bisa jadi sebetulnya memang tidak baik. Saat hati dan pikiran kita sedang tidak bisa berjalan beriringan, saat kamu sedang jatuh cinta misalnya. Tidak hanya bagi kita pribadi, terlebih bagi orang lain, bagi orang disekeliling kita. Setidaknya saya sudah mencoba menasehati berkali-kali, walaupun masuk kanan keluar kiri.

7 September 2016

#PESONA PANGKALPINANG; SELAMAT DATANG DI BUMI SERUMPUN SEBALAI

Saat mendengar Kepulauan Bangka Belitung disebut pikiran saya langsung megawang berapa banyak tempat-tempat indah yang wajib saya kunjungi ketika saya bisa berkunjung kesana. Entah kebetulan atau memang takdir yang menuntun hingga akhirnya saya mendapat 'tugas' di kepulauan ini. Tentu saya bersorak girang karena membayangkan betapa menyenangkan bisa berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu setiap akhir pekan, melihat alam, melihat laut, melihat kebudayaan dan hal-hal lain yang mungkin belum pernah saya lihat atau rasakan.


Pulau Bangka dan Pulau Belitung menurut saya bagai pinang dibelah dua. Keduanya sama-sama memiliki daya tarik luar biasa yang bisa menghipnotis angan setiap orang untuk menghabiskan waktu dengan liburan, liburan dan liburan. Saya sendiri yakin, bagi yang sudah pernah pergi mengunjungi kedua pulau ini pasti merasa ingin selalu kembali lagi dan lagi untuk kemari. Selalu ada sesuatu hal baru yang menarik, untuk bisa dijelajahi, untuk bisa dinikmati. 

Sebelum menginjakkan kaki di pulau yang terkenal keindahan alamnya itu saya mencari tahu informasi terkait objek wisata, makanan khas yang wajib dicicipi, hingga kebudayaan serta adat istiadat masyarakat setempat. Hingga akhirnya saya tiba di Pangkalpinang pada jam sebelas pagi-tepat, sesuai dengan perkiraan- menggunakan pesawat pagi dari Jakarta. Dikenal juga sebagai Bumi Serumpun Sebalai, kota ini merupakan salah satu kota di pulau Bangka. Di pulau ini ada banyak pilihan untuk mengeksplorasi sebagian kecil dari Indonesia yang perlu dijaga. Dan dikota ini saya memulai untuk liburan panjang yang menyenangkan juga petualangan seru. 

......Selamat Datang di Bumi Serumpun Sebalai!

31 Agustus 2016

SEPEREMPAT ABAD

Saya lahir dibulan kedelapan dalam hitungan tahun Masehi, dan dibulan kali ini saya menginjakkan tanggal dua puluh lima untuk usia ke dua puluh lima.

Seperempat abad.

Hari itu ditengah malam saya terbangun karena suara panggilan telepon salah seorang teman yang mengucapkan selamat menua. Seharian ponsel saya dipenuhi notifikasi dari berbagai messenger dan juga beberapa sosial media. Pun beberapa pesan dari orang-orang yang tidak terduga, terima kasih.

Untaian doa tak putus yang sejurus kemudian saya aamiin-kan satu per satu. Saya percaya, doa yang baik akan kembali lagi kepada yang mendoakannya. Begitu, kan?

Bahagia? Tentu saja.

Pagi hari, sudah ada panggilan video via Line dari orang rumah. Dilanjutkan panggilan telepon dari si bungsu yang menelpon diiringi lagu selamat ulang tahun yang dia setel dari kaset radio. Ditambah lagi surprise dari teman-teman kantor yang mendadak buka pintu, bawa kue dan joget-joget gak karuan. Ah, manisnya! Menjelang malam tiba-tiba mendapatkan notifikasi Whatsapp kiriman Video dari Mama yang ternyata membuat semacam acara syukuran dengan anak-anak rumah Tahfidz dirumah. Video yang kemudian membuat saya terisak saking terharunya.

21 Agustus 2016

UNTUK BENANG DAN LAYANG-LAYANG

Ini adalah kepulangan kesekian kali dimana saya memandangi antrian panjang kendaraan yang hendak pulang maupun berakhir pekan ke kota Kembang. Dan kepulangan kali ini dikarenakan sahabat saya, Ayam Kecil, akhirnya melepas masa lajang. Saat ini saya bahkan masih merasa tidak percaya akhirnya 'dilangkahi' haha kamu!

Saya ingat pada kepulangan saya hampir dua tahun lalu, ketika ia bercerita tentang seorang wanita. Dia jatuh cinta. Ayam kecil sahabat saya bercerita panjang dibawah jembatan Pasupati, di Taman Jomblo yang pada masanya sedang jadi tempat 'nongkrong' idola anak muda. Muka ricuhnya merona, senyum yang sama ketika dia selalu bercerita akan hal yang membuat dia bahagia. Saat dia bercerita soal beasiswa, soal mimpinya atau sepeda barunya (lagi). Dan kali ini dia bercerita kisah cintanya, tentang dia yang mengibaratkan dirinya sendiri sebagai Layang-Layang dan wanita itu sebagai Benang.


Benang,

...dan Layang-Layang.

Kemarin disaksikan ratusan pasang mata, dihadapan mereka kamu mengucap janji untuk Tuhanmu, bahwa wanita disamping kananmu itu menjadi tanggungjawab dunia dan akhiratmu kelak. Sayangnya saya tidak bisa datang saat itu. Semacam ada perasaan haru setiap kali selesai mendengar seseorang mengucap ijab Kabul dan dilanjutkan lantunan syukur dari semua saksi yang hadir. Memang seharusnya seperti itu, kan? The greatest thing a man can do for his woman is to lead her closer to God. Right?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...