21 Agustus 2016

UNTUK BENANG DAN LAYANG-LAYANG

Ini adalah kepulangan kesekian kali dimana saya memandangi antrian panjang kendaraan yang hendak pulang maupun berakhir pekan ke kota Kembang. Dan kepulangan kali ini dikarenakan sahabat saya, Ayam Kecil, akhirnya melepas masa lajang. Saat ini saya bahkan masih merasa tidak percaya akhirnya 'dilangkahi' haha kamu!

Saya ingat pada kepulangan saya hampir dua tahun lalu, ketika ia bercerita tentang seorang wanita. Dia jatuh cinta. Ayam kecil sahabat saya bercerita panjang dibawah jembatan Pasupati, di Taman Jomblo yang pada masanya sedang jadi tempat 'nongkrong' idola anak muda. Muka ricuhnya merona, senyum yang sama ketika dia selalu bercerita akan hal yang membuat dia bahagia. Saat dia bercerita soal beasiswa, soal mimpinya atau sepeda barunya (lagi). Dan kali ini dia bercerita kisah cintanya, tentang dia yang mengibaratkan dirinya sendiri sebagai Layang-Layang dan wanita itu sebagai Benang.


Benang,

...dan Layang-Layang.

Kemarin disaksikan ratusan pasang mata, dihadapan mereka kamu mengucap janji untuk Tuhanmu, bahwa wanita disamping kananmu itu menjadi tanggungjawab dunia dan akhiratmu kelak. Sayangnya saya tidak bisa datang saat itu. Semacam ada perasaan haru setiap kali selesai mendengar seseorang mengucap ijab Kabul dan dilanjutkan lantunan syukur dari semua saksi yang hadir. Memang seharusnya seperti itu, kan? The greatest thing a man can do for his woman is to lead her closer to God. Right?

11 Agustus 2016

RITME


Satu pagi di bulan Juli lalu, saat bumi Laskar Pelangi dilanda hujan yang seolah tiada henti setiap hari. Sebuah email masuk kedalam kotak pesan saya dan lantas menjadi awal senyum sumringah sampai saat saya menulis ini. Saat ini.

Sebuah pesan yang jika diibaratkan hujan, adalah satu hal yang membuat seorang anak kecil tergelak tawa, ceria, berlari riang.

Bahagia.

Salah seorang sahabat terdekat saya minggu depan melepas masa lajang.

Dan saya berjanji untuk datang atau lebih tepatnya -diteror-diancam-you named it- untuk datang. Haha!

Karena bagi saya, setiap janji yang terucap juga termasuk dalam salah satu kategori hutang yang harus dibayar. Jadi, InshaAllah saya datang. Walaupun entah seperti apa kelak rasanya badan saya melewati perjalanan darat, laut dan udara berjam-jam lamanya. Saya sudah janji dan kali ini akan saya tepati.

***

22 Juli 2016

THE BUTTERFLY EFFECT

'Lucu ya, dari awal temenan kita sampai sekarang ceritanya nggak bisa diduga', ujar Vitha malam itu saat kami makan disebuah kafe di Bangka. Dan untuk ini saya meng-iya-kan. Perkenalan awal saya dan Vitha dimulai karena rasa jealous dia karena saya dan pacarnya dulu, yang notabene kakak kelas saya sekantor, kerap pulang bersama naik bus malam ke Bandung. Alasannya jelas, saya baru kali pertama merantau dan masih takut pulang malam. Berawal dari situ justru kami lebih sering jalan, nonton ataupun sekedar ngopi-ngopi bersama. Lucu. 

Saya ingat, dulu, saat itu saya sedang addict-addictnya dengan yang namanya travelling. Mengingat Vitha yang memang orang Bangka, kami sempat berwacana untuk kapan-kapan saya berkunjung kesana. Dan taraaaaa! 3 tahun kemudian takdir justru menuntun saya untuk bisa 'berlibur' sementara di pulau ini dalam waktu beberapa tahun kedepan.


14 Juli 2016

CINTA SEMBILAN PULUH JUTA


***
Tulisan ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, mungkin itu adalah kebetulan semata atau bisa jadi ada sedikit unsur kesengajaan. lol

***
pic source

Di suatu kota, menjelang petang. 

Mika menutup lacinya perlahan lantas memutar kunci ke sebelah kiri sebanyak dua kali, kemudian berjalan menyusuri koridor untuk menuju mesin absensi sambil membetulkan letak earphonenya. Dia membiarkan suara David Cook meracuni pikiran kalutnya.

“Tumben jam segini sudah mau pulang,” ujar suara itu tiba-tiba.

Mika refleks membalik. Albara, –pemilik suara itu, laki-laki yang beberapa tahun belakangan menjadi tempat sampah dan teman curhatnya itu, sudah berdiri di belakangnya. Mika hanya tersenyum, kemudian meneruskan langkahnya disusul Bara.

Banyak yang mengatakan, mustahil bagi sepasang laki-laki dan perempuan untuk bisa membangun persahabatan tulus tanpa melibatkan perasaan, hati, atau cinta diam-diam. Namun kenyataannya, Mika dan Bara bisa menjalani itu. Atau setidaknya itu yang Bara rasa. Tidak pernah lebih. Pertanyaan setiap orang tentang “Kenapa kalian nggak pacaran?” bisa dengan singkat mereka jawab “Ah, ribet.” Dan kalau sudah begitu, orang-orang biasanya akan berhenti bertanya karena tahu alasan dibaliknya.

“Putus?” tanya Mika. “Lagi?”

10 Juli 2016

EID MUBARAK!

Gema takbir berkumandang yang menandakan datangnya hari kemenangan beberapa hari lalu. Di pagi buta seisi rumah sudah dibangunkan untuk persiapan shalat Ied di lapangan dekat rumah oleh Mama. Ini tahun kelima saya Idul Fitri di Bandung dengan status anak rantau dan rasanya ada sesuatu yang berbeda. 

Sudah lama rasanya saya tidak se-cengeng ini, mendengar gema takbir, lantunan shalawat, senyum sanak saudara juga tetangga, akhirnya membuat pertahanan saya menyerah juga. Antara haru dan malu. Lantunan syukur terucap kepadaNya. Itu saja. Isak saya tahan justru saat Abah memeluk dan membisikkan beberapa 'pesan' lantas ditutup dengan Ia mencium kening saya. 'Doakan ya, Bah', tutur saya sambil menyeka air mata.

Idul Fitri kali ini kami tidak jadi 'mudik' mengunjungi sanak saudara karena satu dan lain hal. Setelah Kakek dan Nenek wafat beberapa tahun lalu rasanya Idul Fitri tidak lagi sama, semacam tidak lagi punya kampung halaman untuk dikunjungi setiap tahunnya. Kalaupun dulu Nenek masih ada, rumah tidak pernah sepi kunjungan semua keluarga besar, setelahnya justru kami yang berkewajiban mengunjungi Kakak Mama yang tertua.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...