27 November 2016

Jadi, kenapa?

Random Thought.

_________________________________________________________________________________

Membaca buku adalah salah satu pekerjaan paling sulit yang saya tahu — dan itulah alasan kenapa banyak orang tidak suka membaca buku. Bagi saya, dibandingkan menonton film, saya lebih suka membaca bukunya dulu. Ada proses menyenangkan saat membayangkan tokoh-tokoh dalam buku itu seolah menjelma nyata dalam imajinasi kita. Maka dari itu banyak sekali orang yang kerap kecewa ketika menonton film layar lebar yang diangkat dari buku yang sudah mereka baca.

Hanya saja, sayangnya tidak banyak dari kita yang mau merelakan sedikit waktu lebih lama untuk berproses. Kita cenderung lebih suka segala sesuatu yang cepat, singkat dan instan.

Good thing takes time.

Semacam itulah katanya kira-kira.

Klasik, ya?

Iya.

Hingga saat saya menulis ini, definisi bahagia versi saya masih sama.. Bahagia adalah saat saya berhasil meraih cita-cita, mengerjakan hal-hal yang saya suka, tanpa harus mengorbankan waktu saya dengan keluarga.

​Kembali lagi, semua cuma soal waktu. 

Keluar dari zona nyaman itu sulit, memang. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing itu pun sama.  

Allah kalau ngasih kejutan memang nggak tanggung-tanggung. Serius.

Everything still feels surreal.

Kadang sering ada selintasan pertanyaan 'Kenapa harus, Anggi?'. ​

Mungkin itu juga sebabnya kebanyakan dari kita kadang asal bicara tanpa memikirkan ada perasaan lain yang juga perlu kita jaga. Jaga tutur kata, eliminasi pemikiran yang tidak baik. Yang seharusnya tidak diucapkan, ya jangan diucapkan. Gitu.

​Dan semua hal yang tidak saya sebutkan di sepanjang tulisan ini sudah cukup untuk membuat kita — atau setidaknya saya — percaya bahwa setiap kata bisa mewujud jadi doa yang nyata. 


Jadi, kenapa harus Anggi?

Karena bukan Angga.



Life should be that simple, right?



*random.
**sorry.


19 November 2016

HIJAB; BEHIND THE SCENE

pic source

There is always a first time for everything. 

Begitu, kan?

Beberapa tahun lalu ketika saya akhirnya mengambil keputusan untuk menggunakan hijab rasanya butuh waktu dan pertimbangan yang matang, walaupun sebetulnya tidak perlu pertimbangan khusus pun bagi setiap wanita yang sudah baligh hukumnya wajib. Nah, biasanya sebelum memutuskan untuk berhijab, perempuan pasti harus mempersiapkan banyak hal, termasuk untuk urusan pakaian. Biasanya kita harus menyisihkan pakaian-pakaian lama yang tidak cocok dipadukan dengan hijab.

Pemikiran semacam 'Wah sayang banget nanti dress lucu aku nggak bisa terpakai lagi kalau pakai hijab' atau 'Nanti baju lama banyak kebuang' dan aneka pemikiran dangkal lainnya kadang-kadang terbersit muncul dipikiran. Atau pikiran jeleknya lagi 'Pipi aku tambah tembem kalau pake jilbab' dan bla bla blaaa. Okay, that's me. Ha!

Intinya sih segala sesuatu itu ujung-ujungnya kembali lagi perihal niat sih ya. Dulu awalnya saya pun karena 'dipaksa' lingkungan pekerjaan yang memang bisa dibilang cukup concern soal ini. Justru berawal dari paksaan ini akhirnya tidak lagi pernah ada terpikirkan untuk buka tutup. Awalnya panas, merasa belum biasa, tapi rasanya nyaman. Nyaman. Semacam ada perasaan lebih terjaga, perasaan lebih aman. Bagi saya pribadi.

Nah jadi ingat beberapa hal yang saya lakukan saat akhirnya memutuskan benar-benar menegenakan hijab!

↷Meluangkan Waktu untuk Memeriksa Isi Lemari
Ini penting! Keputusan untuk berhijab memang harus diiringi dengan kesungguhan niat dari hati. Jadi, saat itu saya mencari waktu luang untuk memeriksa isi lemari. Dimulai dari memilah dan menyisihkan pakaian-pakaian yang saya rasa sudah tidak sesuai dengan gaya berhijab. Untungnya kebanyakan baju saya memang berlengan panjang, kalaupun pendek bisa dipadu padankan dengan cardigan atau outer panjang. Nah, kalaupun sudah dipisahkan kamu tidak harus membuang pakaian-pakaian tersebut kok, pakaian yang masih layak pakai bisa diberikan untuk mereka yang mungkin membutuhkan.

↷Memulai dengan Gaya Hijab yang Simpel
Dulu saat sebutan Hijaber belum berjaya pada masanya, gaya hijab simpel menggunakan kerudung model paris segi empat saja mudah sekali. Mulailah berhijab dengan gaya yang simpel. Tanpa membuang-buang waktu untuk menentukan gaya hijab, sebetulnya banyak yang terlihat lebih cantik jika memilih gaya yang sederhana. 

↷Berburu Busana Muslim di Toko Online
Berhubung saya bukan tipikal orang yang betah tawaf berjam-jam di Mall, bagi kamu yang mungkin juga tidak punya banyak waktu untuk membeli busana muslim langsung, kita bisa beli busana muslim online di MatahariMall loh. Toko online terpercaya ini menyiapkan ragam busana muslim terbaik untuk wanita dari semua kalangan usia. Kita pun tidak perlu repot-repot membeli busana muslim secara terpisah. Karena semua pilihannya tersedia secara lengkap di MatahariMall.

↷Pelajari Pula Bahan-Bahan Hijab dan Busana Muslim yang Nyaman
Kita pasti tidak ingin menggunakan hijab dan busana muslim yang membuat kita merasa gerah. Demi menghindari hal ini, maka kita pun bisa mempelajari aneka jenis bahan hijab dan busana muslim. Lain kali kita pasti tidak akan salah memilih bahan busana muslim. Sehingga kita leluasa bergerak dan tetap kelihatan nyaman dengan jenis hijab yang digunakan. Untuk bahan, saya cenderung menghindari bahan yang licin, karena ujungnya susah diatur dan kesel sendiri hehe.

Niat yang baik pasti akan mendapatkan jalan yang mudah, saya percaya. Oh satu rahasia lagi, dulu saya belum mau berjilbab karena pernah dengar selentingan akan susah mendapatkan pekerjaan loh. And, that's a big NO! Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan hari-hari yang akan kita jalani selanjutnya. Mari bulatkan tekad dan menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lagi dari hari ke hari. Insha Allah.


Assalamualaikum, Beijing. Eh, Ukhti... ☺



Bumi Serumpun Sebalai, Hujan Badai seharian.
.....dan, hai!


8 November 2016

ALAM PUNYA CARANYA SENDIRI

Adalah seorang Bapak, yang berprofesi sebagai sebagai seorang pemulung, ditengah hujan deras saat saya berada di daerah Koba berjalan terhuyung sembari menggendong anak kecil yang mungkin usianya baru 3 tahun. Anak itu tertawa, sesekali menatap wajah Ayahnya terlihat nampak bahagia seolah diajak bermain air.

Adalah seorang Bapak yang berprofesi sebagai pekerja bangunan salah satu rumah sakit terbesar di kota yang bercerita perihal rutinitas bulanannya mengirim uang untuk anak istrinya di ujung pulau Jawa sana, ditengah siang hari, dengan wajah berpeluh nan sumringah.

Adalah seorang Ibu, yang juga berperan ganda sebagai seorang Bapak untuk keempat anaknya, yang pagi siang hingga malamnya dia gunakan untuk berjualan aneka makanan di pasar tempat saya membeli sayuran. Untuk biaya sekolah dan aneka kebutuhan lain, katanya.

Adalah seorang Bapak, yang konon Saudagar kaya, berkisah soal suksesnya walau hanya tamatan sekolah dasar, mengobrol panjang di sebuah lahan pertanian miliknya di Kimak. Mempunyai aset dimana-mana. Dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri sana. Wajahnya bangga dan terlihat bahagia, tapi sama sekali tidak terlihat ada segurat sombong disana.

Adalah seorang anak yang tanpa sengaja terjebak hujan ditepi ATM bersama saya, yang ketimbang harus meminta-minta, ia lebih suka menjual tissue dan minuman botol dijalanan untuk tambahan biaya membeli buku sekolah dan sepeda impiannya.

Adalah seorang Ibu paruh baya, yang bercerita soal caranya bertahan hidup selepas ditinggal suaminya meninggal dunia, saat ia ingin komplain perihal pembayaran rekening di loket pelayanan kantor saya.

***

Semuanya seperti film yang kembali berputar di ingatan.

Ada sesuatu yang berdesir halus muncul di hati ketika mengingat peristiwa itu kembali. 

Hal yang membuat hati saya bergetar, mata saya berkaca-kaca, tapi ada sesuatu yang membuat saya tidak meneteskan air mata, sesuatu yang saya sendiri tidak tau kenapa. 

Malu, sepertinya.


Dulu, saya percaya, apapun pekerjaan impian kamu pasti membutuhkan pendidikan yang mumpuni. Sebab, bukan hanya pekerjaan yang akhirnya kamu kelola dalam hidupmu. Tapi sekarang saya yakin pada akhirnya pendidikanmu (tidak selalu) menjadi tolak ukur bagi kamu untuk mendapatkan rezeki.

Kita hidup di masa yang penuh kecurigaan dan saya pikir itu perangkap besar yang bisa membuat kita tidak mampu, atau tidak mau, berbuat apa-apa untuk orang lain. Kita cuma mau melakukan hal-hal tertentu demi kepentingan diri sendiri. Tampaknya kita memang belum bisa dan belum terbiasa berlaku adil. Kita selalu menuntut hal terbaik dari orang lain, tetapi tidak mampu melakukan hal sebaliknya. Begitu, kan?

Manusia tidak lantas mati jika tidak punya pekerjaan. Alam punya caranya sendiri. Semua sudah ada porsinya. 

Rezeki sudah ada kadarnya sendiri.

Kata Sujiwo Tejo, menghina Tuhan tidak perlu dengan mengumpat dan membakar kitabNya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja sudah cukup menghina Tuhan.


Dan roda terus berputar. 





Pesan untuk diri sendiri yang disimpan selalu dalam benak :

Jangan tamak.
Be smart, be human.




6 November 2016

NIKMATNYA MAKAN BEDULANG IKAN GANGAN KHAS BELITONG

“Ayo, dimakan ikannya, nggak usah malu ya kalau disini,” Ujar Bude dengan bahasa Indonesia logat Melayu yang khas sambil menyodorkan semangkuk ikan dengan kuah kuning yang menggoda. Saya yang pada saat itu baru menginjakkan kaki di pulau Bangka dan baru mengenal Bude sekeluarga masih merasa kikuk berada dilingkungan baru. Sebagai perantau yang mendadak ‘ditampung’ dirumah orang yang bahkan hanya saya kenal dari temannya teman, Budhe dan keluarga keluarga sudah menjadi seperti rumah kedua buat saya diperantauan sekarang. “Eh, iya Bude, terima kasih”, ucap saya saat itu masih sungkan sembari mengambil sepotong kecil ikan yang tersaji. Hal yang kemudian saya sesali karena hanya mengambil potongan kecil :))

Pada suapan pertama saya dibuat berbinar-binar dengan rasa ikan ini. Enak banget, asli. Perpaduan rasa ikan dengan aroma kunyit yang kental, cabai rawit merah nan pedas, asam, serta potongan nanas muda menciptakan sensasi rasa segar, asam, gurih, dan pedas menggigit. Sajian yang detik selanjutnya saya kenal dengan nama Gangan, salah satu masakan khas dari Pulau Belitung, tempat kelahiran Bude.



Lahir dan besar di kota Bandung menjadikan saya cenderung jarang menikmati aneka sajian olahan laut. Sekalipun Ibu punya usaha catering dan kantin, untuk urusan masakan ikan Ia lebih sering memasak ikan darat ketimbang ikan laut. Namun setelah melewati perjalanan panjang terjal nan berliku hingga akhirnya kini saya terdampar di Kepulauan Bangka Belitung, Pulau yang terkenal akan keindahan wisata baharinya dan selanjutnya aneka penganan olahan hasil laut menjadi santapan sehari-hari.

Nah, jika selama ini kamu lebih sering menikmati ikan dengan cara dibakar atau digoreng, kuliner bernama Gangan yang satu ini sangat layak untuk dicoba. Sajian ikan yang dimasak dalam bentuk sup dengan rasa yang segar. Berbeda dengan sop ikan khas Cianjur yang disajikan dengan kuah bening, atau ikan pallumara, salah satu menu khas di Makassar, dengan kuah sedikit bening bahkan cenderung gelap kehitam-hitaman dengan dominasi rasa asam.

28 Oktober 2016

ALTERNATIF

Setelah menimbang beberapa opsi tempat yang ingin saya datangi selama cuti untuk sekedar mencari kesunyian, hal yang mungkin lebih kamu kenal sebagai liburan, piknik, pelesir atau apapun itu namanya. Tetapi bagaimanapun, manusia memang adalah makhluk yang aneh kan? Kebanyakan kita menghabiskan banyak uang berlibur untuk mencari ketenangan, tetapi pergi ke tempat-tempat ramai. Saya salah satu diantaranya.

Pada suatu pagi yang dingin di kota Bandung pertengahan bulan Oktober, tidak seperti biasanya, saya terbangun karena suara alarm yang berisik dari handphone, di rumah. Adalah entah hobi atau kebiasaan, bukannya bergegas bangun lantas mengambil air wudhu untuk sholat subuh, hal pertama yang dilakukan -yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan- adalah mengecek notifikasi handphone. Bad habit, actually.

pic source: pinterest
Bandung sedang kurang bersahabat menurut saya. Selain diguyur hujan hampir setiap harinya, macet dan banjir rasanya jadi sajian sehari-hari sekarang. Andai rumah saya tidak berada di Bandung, mungkin akan dua tiga kali berpikir untuk kemari. Jadi, selama hampir 10 hari pulang, hampir 70% waktu lebih sering saya habiskan dirumah, sesekali jalan-jalan dengan keluarga dan beberapa teman dekat juga atau bahkan sendirian. Sempat juga beberapa kali menghabiskan waktu disebuah kedai kopi yang-tidak-perlu-saya-sebutkan-namanya selama beberapa jam, karena harus menyelesaikan beberapa hal terkait 'pekerjaan'. Dan berakhir dengan 3 porsi french fries dan 2 gelas milk tea.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...