23 Mei 2015

#2 || Pantai Romodong dan Cerita di Balik Dua Batu Raksasa

Semenjak tinggal di pulau yang penuh dengan kawasan wisata, main ke pantai bagi saya bukan lagi liburan sebutannya, tapi cuma sebatas jalan-jalan aja. Mungkin sedikit jenuh juga kali ya, berhubung transportasi yang minim dan tempat hiburan yang 'itu-itu' aja. Karena biasanya yang namanya liburan itu go somewhere out there, get lost and suddenly in the middle of nowhere-gitu hahaha.

Nah, jalan-jalan kali ini sebetulnya agak mendadak karena ada yang mau ngasih surprise datang tiba-tiba tapi gagal lantaran keburu panik denger saya beli tiket balik ke Bandung, krik!


***

Jumat pagi saya membawa sepeda motor saya menuju bandara Depati Amir. Setelah menunggu beberapa lama, senyum kami bertemu ketika dia keluar dari pintu kedatangan. Seperti biasanya.

Sebetulnya dia bilang dari awal agar saya membuat itinerary rinci tempat-tempat yang bisa kami kunjungi saat dia kemari, seperti yang dia lakukan ketika saya mengunjunginya di Surabaya beberapa tahun lalu. Tapi, berhubung lebih suka hal-hal yang sifatnya spontan jadilah semua acara dibuatnya dadakan *alasan* ha!. Biar lebih seru aja sik.

Di hari kedua. Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Belinyu, salah satu kota di ujung kepulauan Bangka. Perjalanan kemari sendiri membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Lucu aja sih liat ekspresi dia yang masih keliatan excited dari awal sampai di Bangka, liat jalanan yang sepi, nggak ada yang namanya macet, ngomentari bahasa orang-orang yang agak ke-melayu-melayuan, dan aneka ocehan cerewetnya sepanjang perjalanan.


Setelah hampir 2 jam perjalanan dia terus tanya 'masih jauh nggak sih? masih jauh nggak sih?' hahaha saya sih bilang paling 10 menit lagi, padahal mah lumayan juga perjalanannya. Jadi, tujuan kami ke Pantai Romodong, Pantai Penyusuk terus nyebrang ke Pulau Putri.

Sebelum sampai di Pantai Romodong, dia sempat berhenti di salah satu tempat bekas galian timah. Sayang banget memang ekploitasi timah di kepulauan ini dari jaman dulu nggak seiring dengan perbaikan agar alamnya nggak rusak. Di banyak tempat di kepulauan ini, jika sedang berada diatas pesawat bisa dilihat bahwa banyak sekali bekas galian timah yang dibiarkan gitu aja.

28 April 2015

Perempuan Kesayangan

Aku mengenal seorang perempuan yang mencintai laut. Katanya, laut adalah hidup yang melahirkan kehidupan. Katanya, laut semacam arena yang luas tak berbatas di kepalanya. Katanya, laut semacam riak arus hidup yang tak berkesudahan, seolah diterpa angin dan selalu kejar-kejaran. Katanya, laut semacam gambaran setiap kehidupan. Selalu bergerak, berubah, tidak dapat ditebak. Itulah mengapa ia sangat menyukai laut. Alasan yang sangat sederhana, kataku. Dia mencintai sesuatu yang mengajarkan kehidupan. Seperti itu ia mencintai ibunya.

Dia memiliki mata yang unik—kornea matanya berwarna coklat kehitaman. Kantung matanya mengisyaratkan berapa lama waktu ia tidur setiap malam. Sesekali terlihat ia menghela nafas panjang, bukan mengeluh, hanya sebuah refleks tubuh ketika ia mulai sangat kelelahan. Senyumnya lebih menenangkan dari apapun juga. Ketika ia bersedih, bibirnya menjadi tempat yang menampung segala duka yang ia tuang dalam doa. Dia lebih suka meminum air matanya sendiri daripada dibagi-bagi, bahkan untuk sebuah sapu tangan sekalipun.

Ia tersenyum sambil mendongak ke langit, melihat gumpalan awan hitam pertanda hujan akan segera datang. Memperbaiki posisi duduk dan menghela nafas yang panjang. Selama rintik hujan belum turun, ia selalu meneruskan perjalanan membawa sesuatu untuk dijajakan. Membawa sepeda motor yang juga merupakan kawan lama yang ia beli hampir sepuluh tahun silam. Dari satu tempat ke tempat lain yang ia tuju dari awal. Dari pagi buta hingga menjelang petang.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya ketika gerimis mulai jatuh perlahan. Wajahnya yang merona karena diterpa polusi kendaraan seharian pun mulai terlihat masam. Ia bergegas mengenakan mantel kesayangan yang juga seumuran dengan kawan yang mengantar ia berkeliling seharian. Ia tidak mengeluh karena hujan, ia bergegas pulang karena para anak didiknya pasti sudah menunggu di mushola sambil berlarian.

Gerimis hanyalah pemberi kabar untuk datangnya hujan. Begitulah cara kerja langit sebelum memberikan hal baik pada bumi. Hujan kali ini tidak lagi ia ratapi dengan kesedihan, karena sesungguhnya ia tahu selalu ada harapan bagi siapa pun, karena Tuhan Maha Penyayang juga Maha Pemurah. Ia selalu mengajarkanku untuk selalu mencoba dengan kesabaran dan keikhlasan, untuk memperbaiki diri. 

'Jangan sepelekan kemanjuran doa bagi hati yang ikhlas berserah. Berserahlah dalam upayamu, berdoalah dalam keikhlasanmu, lalu perhatikan apa yang terjadi,' nasihatnya sore itu ketika aku berkisah soal keraguan.


***



"Ibu, aku mencintaimu. Seperti hujan yang rela jatuh memeluk bumi"



...Akhir April, menjelang tengah malam


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...