27 Juni 2013

Perihal 'Untung'



Untung..

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), untung artinya suatu keadaan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa bagi perjalanan hidup seseorang; singkatnya nasib. Sedangkan dalam bahasa Inggris, untung itu disebutnya 'lucky' .

Kata dasar dari ber-untung yang artinya kita mendapatkan suatu hal yang baik. Mendapatkan suatu kesempatan baik.

Entah kenapa setiap kali mendengar seseorang berkata ‘untung’ rasanya seringkali ada yang janggal, sedikit menggelitik dan tak jarang membuat bibir saya langsung tersenyum tak terkendali.


Untung.. 






24 Juni 2013

Juara I Kompetisi Menulis #GerakanAntiMiras


Sekitar 2 bulan yang lalu saya mengikuti kompetisi menulis yang diadakan oleh Organisasi #GerakanAntiMiras, dimana tema isi tulisan yang diusung harus bisa menjawab dengan baik dan jelas  2 (dua) pertanyaan umum, yakni:
  • Sejauh mana pemahaman masyarakat akan bahaya miras bagi diri sendiri dan lingkungannya
  • Bagaimana peran masyarakat dalam pernyebaran akan bahaya miras dan harapannya kepada pemerintah dalam mengkampanyekan serta menyikapi bahaya miras

Lalu, dengan berbagai bermodal referensi yang berisi informasi terkait, saya membuat sebuah artikel berjudul Lifestyle, Setenggak Miras dan Sehelai Nyawa. Nah, ternyata setelah hampir sebulan dan mendekati batas dateline yang semula ditentukan, melihat antusiasme peserta yang banyak maka lomba diperpanjang hingga 10 Juni lalu. 

Singkat cerita, pada Kamis pagi hari itu tiba-tiba notifikasi handphone saya berbunyi, ada sebuah mention di twitter. Ternyata tulisan saya menjadi satu dari sepuluh tulisan terbaik, dari keseluruhan peserta yang mencapai 132 tulisan. Waw!


19 Juni 2013

Kenangan dalam Kardus Tak Bertuan

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.



 

Katanya, cinta terlihat ketika ada dua mata yang saling menatap lebih lama dari biasanya. Katanya, cinta terdengar ketika ada dua kata yang saling menyaut, mengalun dalam nada suara seirama. Katanya, cinta bisa tercipta dari tertukarnya canda juga diiringi tawa. Katanya, cinta teraba ketika dua tangan bergengaman erat tak ingin saling melepaskan. Katanya, cinta terbaca ketika ada dua kepala yang mengangguk seiya-sekata. Katanya, cinta lahir ketika ada satu komitmen yang disepakati bersama atas dua hati yang saling menguatkan, meyakini berada pada jalan yang sama.

Iya, setidaknya itu juga yang aku percaya perihal cinta. Atau paling tidak, sebelumnya..

Kisah kali ini sungguh tidak lebih memilukan dari kisah-kisah sebelumnya. Ini soal cinta yang lagi-lagi karam, tandas, hilang, lalu tenggelam. Soal cinta yang sibuk membuat hati kacau berantakan, seperti kapal yang jatuh dari ketinggian. Seperti kiri yang katanya ditinggal kanan, hanya bertepuk sebelah tangan. Seperti halnya kedatangan yang pasti diakhiri dengan sebuah kepergian. 





18 Juni 2013

The 'Unusual' Youth

Imagine you’re sitting in your home on a lazy Saturday morning, watching spongebobs squarepants with a cup of tea or coffee on your hand, just minding your own business to spend the day, when suddenly your phone beeps. You pick it up only to see a text or message from old-friends or unknown number bearing a cryptic message: ‘Sorry, test contact!’ or ‘Hy, gi apz?’. Err!

Congratulations, you’ve just had a close encounter with an alay that ruin your day in the morning haha!

Like last Sunday, when I was go to swimming, then when I received message from my old friend which just said, ‘Hae, pha kaBar?’ wait, no matter how handsome he is, no matter how beautiful our story was ..but it’s really makes me want to laugh, so loud!

You might have heard the word alay used in a disparaging manner before – as in ‘Dasar alay!’ – or more commonly to refer to the hordes of teenagers with tacky clothing who like to flock en masse to public toilets and use the large mirrors therein for impromptu self-portrait sessions while striking supposedly cool poses (The latter are often referred to as ‘putu-putu narziz’ sessions) lol. Well, for the last, I’m just doing that when I was in high school. Silly, huh? What a shame.
 
The fact is, there is no real, fixed definition of the word alay. Wikipedia (yes, the phenomenon is notable enough to warrant a complete, non-stub article on Wikipedia’s main site) simply describes it as ‘a pop culture phenomenon in Indonesia,’ spanning a ‘wide array of styles in music, dress an messaging.’ The more widely accepted definition, however, is that alay is a portmanteau word meaning ‘anak layangan’. This is because most of these commonly referred to a alay are – or act like- people from the 'kampung' who are going through culture shock after coming to a big city.

But I was thinking, what exactly makes somebody alay instead of simply having a horrible sense of style? Music, for one. Contemporary pop and rock musician in Indonesian are favoured by the alay crowd, hmm you-know-what-I-mean band. Then, fashion is also another main identifier, although this usually means something tacky, with clashing colours and mistached outfits. Think bright green trousers, a chequered shirt, bright red shoes an blue-rimmed sunglasses. I think they’re supposed to be a rainbow cake.



13 Juni 2013

Be a Good Listener is Good




Belakangan ini saya sering mendengarkan orang lain bercerita soal masalahnya. Soal urusan pribadi mulai dari kisah-kisah percintaan, persahabatan, pekerjaan, karir, sampai urusan pelik soal keluarga dan kondisi ekonominya..

Setiap orang mempunyai masalahnya sendiri. Satu hikmah yang saya pelajari, lagi.

Saya sendiri bukan orang yang terbebas dari hantu bernama ‘masalah’ itu. Saya juga hidup dengan dihinggapi berbagai masalah. Dari masalah kecil sampai yang menurut saya sangat rumit. Soal hati, persepsi sampai terpikirkan urusan mati. Saya juga orang yang ‘bermasalah’. Tapi katanya masalah akan jadi masalah jika dipermasalahkan. Uhuk!





12 Juni 2013

Cara Menikmati Bandung yang Menyenangkan

Seorang temanku bercerita tentang caranya menikmati Bandung. Dia mengayuh sepedanya ke sebuah desa yang ia beri nama borderless village. Melewati jalan menanjak, bukit terjal dan juga lembah curam. Dia juga menyusuri pinggiran sungai hingga 26 kilometer jauhnya dari pusat kota.

Sama seperti sepedanya, dia juga orang yang sangat egois sekaligus seorang teman yang dibutuhkan dan terkadang jadi lawan paling menyebalkan. Teman yang paling setia mendengarkan juga yang paling sering aku kecewakan. Seorang pria kurus dengan seringai senyum yang kerap kali terlihat dipaksakan. Seorang teman dengan kategori mood paling berantakan sekaligus sering aku rindukan untuk sekedar berbincang dipojok perpustakaan. Seorang pria yang kini sedang bertarung dengan kerasnya Ibu Kota sambil mencari sebuah awan. Entah apa, entah bagaimana. Hanya awan dia bilang.



Dia dan sepedahnya sering bepergian.. Berjalan jauh dari beragam convenience store tempat anak muda nongkrong hanya agar terlihat gaya, tempat untuk melabel jidat dengan cat gaul dan kaum urban. Disana, di borderless village, dia menyaksikan orang-orang yang membawa tumpukan karung besar berisi padi di atas sepeda sambil berkeringat. Perjalanan yang tidak mudah memang tapi terbayar sudah, ceritanya.



10 Juni 2013

Sebuah Analogi dari Sepotong Omlette

Kemarin saya membuat sebuah omlette, tapi disini saya bukan mau cerita resep bagaimana cara membuat omlette yang enak dengan bumbu rahasia. Bukan. 

“We can’t make an omelette without breaking eggs”

Kata-kata itu yang terpikirkan oleh saya kemarin. Seseorang tidak bisa membuat sebuah omlette tanpa memecahkan sebuah telur. Lalu saya mendefinisikan dimana 'jika kita ingin menjadi seseorang yang baru, kita harus keluar dari zona nyaman kita atau istilah kerennya 'comfort zone'. Disisi lain juga saya mendefinisikannya bahwa kadang-kadang kita perlu kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Iya kan?

Seorang teman pernah berdiskusi panjang dengan saya disuatu sore. Dia bilang, there is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth zone. 'Nggak ada pertumbuhan di zona nyaman, dan nggak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan'. Dan pertumbuhan identik dengan growing up, ya?

Saya tidak menyanggah ataupun membenarkan, karena saya juga punya pembenaran sendiri akan hal ini. Tapi secara garis besar saya pun mengamini. Iya, setuju. 

Lagi, hidup cuma soal pilihan, pilihan dan pilihan. Dan kehidupan adalah serangkaian panjang pilihan, hasil juga konsekuensi.

8 Juni 2013

Serunya Menulis Fiksi di Writing Clinic Majalah Femina

01 Juni 2013 lalu, bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, saya berkesempatan diundang oleh Majalah Femina untuk mengikuti salah satu acara menulis, Writing Clinic! Nah, salah satu syaratnya adalah para peserta ini sebelumnya diminta untuk mengirimkan hasil karya mereka ke panitia melalui websitenya. Lalu setelah menunggu seminggu, saya dihubungi oleh pihak Femina terpilih menjadi salah satu peserta dari Writing Clinic ini. Dengan dresscode; Blue & Jeans. Soooooo exciting!

Singkat cerita setelah berjibaku dengan macetnya jalanan ibu kota dan sempat nyasar di daerah Kuningan, akhirnya saya sampai di Gedung Femina. Wah, ternyata para peserta yang lain udah pada datang, bahkan seorang teman kenalan disana bilang sudah sampai dari jam 8. 

Akhirnya acara pun dimulai. MC membuka acara pada pagi hari itu dengan salam dan sapa. Sambutan dari Redaktur Pelaksana Femina, Mbak Yoseptin memberikan sepatah dua patah kata sebagai pembuka Writing Clinic. Mbak Leila S. Chudori, seorang penulis, seorang jurnalis Tempo yang juga katanya seorang Ibu, membuka sesi pertama yang berisi tentang cerita dan tips-tips menulis bagi orang-orang yang bermimpi menjadi penulis, seperti saya dan teman-teman lainnya. Mbak Leila sendiri sudah menulis semenjak beliau kecil. Baru-baru ini juga baru meluncurkan sebuah novel berjudul; Pulang.

Banyak hal yang ia ceritakan soal dunia tulis-menulis, juga soal kisahnya sebagai seorang jurnalis Majalah Tempo. Yang menarik perhatian saya, dia menceritakan pengalamannya dulu saat menjadi jurnalis, ditugaskan dari satu liputan disuatu tempat menuju liputan lain ditempat yang berbeda, tanpa melihat hari apalagi waktu. Beliau juga menceritakan bagaimana seorang jurnalis membuat suatu tulisan yang kemudian masuk ke meja editor, setelah itu diedit habis-habisan oleh editor senior. Oya, ada lagi yang menarik saat ia menceritakan soal penulisan dan tata bahasa standar yang digunakan oleh Majalah Tempo. Dimana kadang ada hal-hal bersifat teknis untuk tulisan di Tempo yang berbeda dari standar lembaga Tata Bahasa Indonesia (saya lupa namanya apa).




7 Juni 2013

Wisata Bandung ke Trans Studio, dari Migrain hingga Vertigo!

Setelah kumat-kamit berdoa dari rumah saat mau pergi ke Trans Studio Bandung, karena seperti yang sebelumnya saya ceritakan, kalau tiket yang saya dapat dari detik sukses terbagi empat oleh adik saya. Memasuki kawasan Trans Studio Mall saya sudah mulai khawatir dan sempat berniat mengurungkan diri mencoba, ibarat kalah sebelum berperang, akhirnya mama memaksa saya untuk tetap mencoba. Ya, kalau kata mama sih setidaknya kalau pun bisa syukur, kalau gak bisa sukuuuuur! Haha, garing.

Saat tiba di loket tiket pertama, kami menghampiri seorang pria penunggu loket. Disana saya mulai bertanya dan menjelaskan maksud saya. Menceritakan detail peristiwa mulai dari bagaimana saya mendapat tiket sampai akhirnya si tiket itu sukses terbagi empat *halah*. Si penjaga tiket awalnya terlihat kebingungan, mengerutkan kedua alis, lalu berkata ‘Aduh bu, ini mah enggak bisa dipake masuk’. Jleb. Lima ratus ribu hilang melayang-layang, pikir saya saat itu. Eeh, ternyata si mama belum putus asa, masih bujuk penjaga itu supaya tanya bagian yang bersangkutan.

Nggak lama berselang, datang seorang mbak cantik plus rok mininya menghampiri kami. Singkat cerita, dia akhirnya mengambil tiket dan mencoba cek menggunakan sebuah alat untuk ­­mengecek barcode yang ada didalam tiket (sepertinya). Dari kejauhan si mbak ini menggangguk, isyarat yang menandakan kalau kami boleh masuk ke dalam dengan memakai tiket robek tadi. Horaaaaay!




4 Juni 2013

TERIMA KASIH; Perihal terima, lalu kasih


“To get what you want, you have to give.”  Its mean that ‘give’ is one of the best ways to ‘get’ what you want.
Terima kasih..
Bukan hal yang asing rasanya ditelinga saat mendengar seseorang atau bahkan lidah kita sendiri mengucap kedua kata ini. Terima dan kasih. Terima kasih. Saat orang lain melakukan sesuatu hal untuk kita, terima kasih adalah salah satu ungkapan tulus yang bisa kita ucapkan sebagai salah satu bentuk penghargaan atas bantuan mereka. Atau, saat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, disadari ataupun tidak, kita juga mengharapkan kata ‘terima kasih’ sebagai bukti atas apa yang kita lakukan telah mereka hargai.
Terima kasih..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...