Langsung ke konten utama

Mengarungi Arus Deras di Sungai Ciberang Banten!

Yeiyyyyy! Liburan singkat itu akhirnya terealisasi juga, setelah sempat hampir ditunda karena satu dan lain hal hohoooo. Ciberang, kami dataaaaaaaaang!

Sabtu kemarin, saya beserta 11 teman, eh 1 om-nya teman kantor, mencoba rafting di kawasan Sungai Ciberang. Nah, Sungai Ciberang ini terletak di Kampung Muara, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Setelah sebelumnya mencoba untuk rafting di Pangalengan, Sungai Ciberang memberikan suatu sensasi yang berbeda dari pengalaman rafting sebelumnya.

Kami memulai perjalanan melalui Kota Serang yang kemudian mulai memasuki kawasan Passanggrahan, Petir. Sepanjang jalan dari Serang menuju kemari, jalanan aspal begitu rapih tanpa ada lobang. Selain itu juga kami disuguhi pemandangan indah perbukitan, pepohonan rindang, dan hijaunya perbukitan. Namun sayangnya, begitu memasuki kawasan dekat pasar petir (bukan dalam arti sebenarnya, ha!) jalanan mulai berlubang disana-sini. 

Tak lama, jalanan seperti itu kami lalui sampai akhirnya mencapai Rangkasbitung. Setelah beristirahat sejenak untuk sarapan di sebuah minimarket, kamipun melanjutkan perjalanan itu.. Sesaat saya melihat sebuah keterangan jalan bahwa kami sedang berada di kawasan warung gunung. Entah apa filosofi pemberian nama daerah ini, tapi menurut saya ini agak sedikit aneh dan unik, hihi. Perjalanan yang terbilang cukup panjang itupun nyatanya tak membuat saya terlalu lelah. Kenapa? Karena lagi-lagi mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Ah! Hamparan lahan pertanian yang baru menguning, bukit, gunung, sungai...

Ternyata, baru saya tau kalau rangkasbitung ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menuju Bogor. Nah, perbatasan banten-bogor ini adalah kawasan cipanas, tempat pemandian air panas. Hujan menyambut kedatangan kami saat mulai memasuki kawasan cipanas, semua pemandangan indah juga kabut yang turun tak juga menurunkan kadar keindahan yang diciptakan Tuhan di tempat ini. Karena hujan semakin deras akhirnya kami menepi untuk meneduh di sebuah Pondok Pesantren Latansa.

Setelah hujan mereda, perjalanan kami lanjutkan lagi. Kali ini kami (tetap) disuguhi pemandangan indah, tapi dengan jalan yang cukup terjal dan berliku.. Sampai akhirnya kami tiba di lokasi point awal untuk keberangkatan rafting..


Begitu datang, hujan menyambut lagi kedatangan kami, gerimis. Sambil bersiap kami sebelumnya berganti pakaian dulu. Tempatnya lumayan bersih dan tertata rapi. Masing-masing ada 3 bilik kamar mandi untuk pria dan wanita. Yap, lalu kami diberi peralatan perang untuk segera berperang mengarungi arus deras Sungai Ciberang. Wo hoooooo!

Kondisi Sungai Ciberang ini memang sangat cocok untuk dijadikan lokasi arung jeram. Sungai Ciberang yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Nah disini kami memilih track pendek dengan jarak tempuh 10 KM dan menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam, dengan harga satu paket lengkap 205.000,-. Ada juga sih track panjang 25 KM dengan waktu tempuh yang katanya mencapai 5,5 jam seharga 350.000,-. Halah, tak terbayang lelahnya..

and we're ready!




Ready to go!
Lintasan arum jeram disini ternyata cukup menantang, beberapa kali perahu karet yang kami naiki terbawa arus deras dan terhalang bebatuan yang ukurannya cukup besar. Duh. Sempat tegang dan khawatir sih. Ada yang lucu dan juga menegangkan sih yang saya alami, saat melewati sebuah jeram, entah kenapa tiba-tiba teman saya jatuh.. Saya yang hendak berpegang ke tali perahu sama sekali tidak mendengar instruktur meminta untuk berpindah ke sebelah kiri dan akhirnya tercebur ke sungai. Arus sungai yang cukup deras itu awalnya masih membuat saya kaget, dan beberapa kali membuat saya terpaksa harus menelan air sungai yang saat itu berwarna kecoklatan karena hujan. Yaiks.

Tapi untungnya teman dan pemandu saya cukup sigap menarik pelampung saya agar tidak terus terbawa arus. Alhamdulillah. Saat didalam air kaki saya beberapa kali membentur batu kali dan begitu sampai kosan barulah saya lihat kalau bagian itu akhirnya bengkak dan mulai berwarna keunguan. Hiks. Itu semua sama sekali membuat saya kapok untuk merasakan arus-arus deras lainnya, it was soooooooooo fun! Really. Belum ngerasain rafting kalau belum kejebur, saya berkelit, haha.









Selama rafting pun kita akan melihat perbukitan yang indah dipenuhi pepohonan rindang dan bahkan air terjun kecil. Suasana pedesaan dan persawahan pun turut mengiringi perjalanan menempuh arus deras kami saat itu. Anak-anak kecil berlarian dan berenang di sungai, para ibu-ibu mandi juga dan mencuci di sungai. Woooow.

Menurut saya, lokasi ini cocok untuk dipakai melepas penat dari hingar bingar Ibu Kota. Cocok pula untuk wisata keluarga, karena pemandangan disini tidak kalah indah dengan pemandangan yang ada di Puncak. Terlebih akses menuju kemari masih bebas dari kemacetan lalu lintas dan tetap berudara sejuk.

Setelah selesai mengarungi Sungai Ciberang siang itu kami juga mendapat cemilan, kelapa muda dan makan siang. Ah, sungguh menyenangkan!






Rute Menuju Lokasi
Bagi para calon pengunjung yang akan datang ke lokasi Arum Jeram Ciberang terdapat tiga jalur, jalur pertama bisa masuk dari Ibu Kota Kabupaten Lebak, yakni Kecamatan Rangkasbitung langsung menuju Kecamatan Lebakgedong. Sedangkan dari Bogor kita bisa mengambil jalan menuju Jasinga - Kecamatan Lebakgedong. Untuk menuju jalur itu, jika dari Jakarta kita bisa mengambil arah menuju Balaraja, Kabupaten Tangerang - Rangkasbitung – Kecamatan Lebakgedong. Dengan melalui jalan ini, akan menghabiskan waktu tempuh sekitar 3 – 4 jam.

Sementara, jika perjalanan dari Jakarta menuju Jasinga, Bogor waktu tempuh yang yang dihabiskan akan mencapai 4 - 5 jam.

Perjalanan menuju ke Arum Jeram Ciberang ini juga, bisa melalui Serang - Pandeglang – Rangkasbitung. Jika kita berjalan dari Serang waktu perjalanan yang bisa kita tempuh sekitar 2 – 3 jam. 
Ayo berlibur lagi! 
Salam JalanJajan,
agistianggi

Komentar

  1. foto pas arung jeram ga ada ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru sore ini mau di ambil dari kantor manajemen raftingnya mas :D

      Hapus
  2. waaah kalo inget jadi senyum2 sendiri seru banget ciih hehe

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …