Langsung ke konten utama

Pekan Kondom Nasional 2012; Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati!

Berdasarkan hasil penelitian, para ilmuan pada umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Sekarang ini AIDS bahkan telah berubah menjadi sebuah wabah penyakit dan telah menginfeksi hampir 38,6 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini merupakan salah satu wabah yang paling mematikan dalam sejarah karena telah diklaim menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa hanya pada tahun 2005 saja. Dan yang lebih menyedihkannya lagi adalah lebih dari 570.000 jiwa diantaranya merupakan anak-anak.



Di Indonesia sendiri, penderita HIV/AIDS kian hari kian bertambah jumlahnya. Sejak pertama kali ditemukan pada Tahun 1987 sampai dengan September 2012, kasus HIV/AIDS tersebar di 341 dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Berdasarkan hasil laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di website Komisi Penanggulangan AIDS pada Triwulan III Tahun 2012 lalu, jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 92.251 kasus dengan Jakarta sebagai jumlah tertinggi disusul Jawa Timur, Papua, Jawa barat dan Sumatera Utara. Sedangkan jumlah kumulatif kasus AIDS dilaporkan sebanyak 39.434 dengan jumlah terbanyak diduduki Papua yang kemudian diikuti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, dan beberapa wilayah lain dengan rentang usia 20-29 tahun. 
***

HIV/AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV, atau infeksi virus-virus lain yang mirip menyerang spesies lainnya (SIV, FIV dan lain-lain). Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) sendiri merupakan virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Nah, orang-orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.

Pada umumnya berbagai gejala AIDS tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Disini, HIV dan virus-virus sejenisnya bisa ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membrane mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal dan air susu ibu. Sedangkan cara penularannya sendiri dapat terjadi melalui hubungan intim, transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

Nah, berdasarkan info yang diberikan oleh Menteri Kesehatan RI, pada 2012 lalu pola penularan HIV/AIDS tertinggi yaitu melalui transmisi seksual sebesar 81,8%. Sedangkan pada penularan akibat penggunaan alat suntik yang tidak steril hanya 12,4%. Dan itu bisa berarti bahwa kesadaran untuk tidak bertukar jarum suntik para pengguna narkotika mulai meningkat. 




Penularan secara Seksual 
Penularan HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rectum, alat kelamin atau membrane mukosa mulut pasangannya. Nah, hubungan seksual reseptif yang dilakukan tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Tapi ini bukan berarti bahwa seks oral tidak berisiko lohhh. 

Adapun penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitol normal akibat adanya luka alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok/luka pada alat kelamin yang disebabkan oleh sifilis atau chancroid. Adapun resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga. 

STOP! 

Jalur utama masuknya virus HIV ke dalam tubuh seseorang dapat melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran. 

Tidak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman menyangkut upaya-upaya kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, saat melakukan hubungan seks. Yang lebih aman adalah dengan melakukan hubungan intim tersebut dengan pasangan sah saja dalam artian tidak berganti-ganti pasangan.

Sampai saat ini belum ada vaksin atau obat yang bisa menyembuhkan pasien HIV/AIDS sepenuhnya. Metode  satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). Metode ini memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu dan juga memiliki efek samping tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual dan lelah. 

Adapula terapi anti-retrovirus yang sangat aktif, HAART (highly active antiretroviral theraphy) yang merupakan salah satu cara penanganan infeksi HIV. Terapi ini juga tidak bisa menyembuhkan pasien dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya, ia hanya memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien. Konon, obat anti-retrovirus ini berharga mahal, dan mayoritas individu yang terinfeksi di dunia tidak memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan tersebut. 

Mencegah atau Mengobati?!

Bagaimana pun menurut saya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks bisa menjadi salah satu alternatif untuk dapat melakukan hubungan seks yang lebih aman serta terhindar dari bahaya penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS. 

Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antar individu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia. Banyak informasi keliru mengenai penggunaan kondom. Adapun di Indonesia sendiri, kondom tidak terlalu populer digunakan sebagai alat kontrasepsi karena adanya stigma buruk tentang penggunanya.

Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. walaupun demikian, tidak ada metode perlindungan yang 100% efektif, dan penggunaan kondom pun tidak dapat menjamin secara pasti perlindungan terhadap segala infeksi menular seksual (IMS). Nah, agar perlindungan kondom efektif, kondom tersebut harus digunakan secara benar dan konsisten. Penggunaan yang kurang tepat juga mengakibatkan lepasnya atau bocornya kondom sehingga menjadi tidak efektif.

Fyi, kondom yang biasa dipergunakan pria berbahan lateks, jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak, adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi penularan HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Para pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega dan minyak babi tidak digunakan bersamaan dengan kondom lateks, karena penggunakan bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang.

Tidak hanya pria sebetulnya yang bisa menggunakan kondom. Kondom wanita adalah alternatif selain kondom yang biasa digunakan pria. Kondom ini memiliki ukuran lebih besar daripada kondom pria, memiliki sebuah ujung terbuka keras yang berbentuk cintin dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan adanya kondom wanita, hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga hal ini bisa menjadi strategi pencegahan HIV yang penting. Namun sayangnya, kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sebagian besar wanita Indonesia. 


PEKAN KONDOM NASIONAL; PRO & KONTRA SOSIALISASI KONDOM
Banyak cerita pro kontra ketika kondom disosialisasikan. Beberapa tahun lalu di Indonesia pernah terjadi berbagai reaksi dalam menanggapi adanya ATM kondom. Nama aslinya sih condom vending machine, tapi di Negara kita disebut ‘ATM’ kondom, mungkin terdengar terlalu vulgar, atau entah mengapa langsung dianggap sesuatu yang negatif. Jangankan di Indonesia, di Negara liberal seperti di Amerika sekalipun pernah ada protes berat mengenai keberadaan alat tersebut. Para mahasiswa Arizona State Univesity, salah satu universitas di salah satu Negara bagian Amerika Serikat Arizona, melakukan protes keras karena kampus mereka dijadikan salah satu spot peletakan ATM kondom.



Kegiatan sosialisasi penggunaan kondom serupa pun sedang gencar dilakukan oleh berbagai instansi. Pekan Kondom Nasional 2012 yang dilaksanakan pada bulan Desember lalu, merupakan kegiatan yang diselenggarakan keenam kalinya pada tanggal 1 Desember selama 1 (satu) minggu penuh bertepatan dengan peringatan Hari AIDS sedunia. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama DKT Indonesia dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). DKT sendiri merupakan sebuah lembaga swasta Internasional yang didirikan oleh Phil Harvey di Washington, Amerika Serikat pada 1989 yang bertujuan untuk mempromosikan program Keluarga Berencana serta penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Kegiatan ini juga seiring dengan program KPAN yang selama ini telah gigih berjuang mengkampanyekan penggunaan kondom yang sebelumnya hanya sebagai salah satu alat kontrasepsi program Keluarga berencana, kemudian meluas menjadi salah satu cara mencegah penularan penyakit kelamin.

Pekan Kondom Nasional? Mungkin terdengar agak awam, begitupun waktu kali pertama saya mendengar mengenai acara ini. Sebagai orang awam, tidak dipungkiri bahwa pada awalnya saya pun berpikir bahwa program PKN seolah membolehkan seks bebas asal aman dengan penggunaan kondom yang jelas telah dilarang agama maupun norma di Indonesia. Bahkan, dalam perjalannya, PKN ini kerap kali dianggap sebagai salah satu upaya penggeseran pola pikir masyarakat atas legalisasi seks bebas serta terkandung nilai komersial didalamnya untuk ajang promosi sebuah brand tertentu oleh beberapa pihak.

Namun setelah mengetahui tujuan dari terselenggaranya acara ini yakni untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat penggunaan kondom dalam hubungan seks berisiko guna melindungi masyarakat Indonesia dari HIV/AIDS, saya mendukung sepenuhnya acara semacam ini. Sasaran utama dari PKN ini terutama adalah para sekelompok kunci dan wilayah dengan konsentrasi epidemik tinggi. Populasi kunci disini adalah orang-orang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS, yakni para pekerja seks komersial beserta pelanggannya, para kaum gay dan waria, juga para pengguna narkoba dengan jarum suntik.

Berbagai kegiatan dalam PKN 2012 lalu itu sangat bermanfaat menurut saya, selain bersifat menghibur dengan menggelar Konser Goyang Sutra di Lapangan Kopassus, Cijantung Jakarta yang mendatangkan berbagai artis ternama Ibu Kota, Juga ada ajakan mendidik masyarakat umum tentang pentingya penggunaan kondom untuk pencegahan HIV/AIDS. Ada edukasi di 12 kota besar di seluruh Indonesia khususnya di daerah resiko tinggi seperti pangkalan truk, pelabuhan dan lokalisasi dengan membagikan materi mengenai HIV/AIDS serta seks aman, juga menyediakan kondom dan lubrikan kepada sebuah klinik yang melayani kaum gay dan waria di Bali.

Jika mau dipikir ulang dan lebih mendalam, program semacam ini seharusnya mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, masyarakat, pemuka agama, instansi pemerintah maupun swasta. Kenapa? Karena tanpa adanya sinergi dari semua pihak sosialisasi semacam ini hanya akan jadi euforia semata. Diharapkan dengan adanya dukungan dan kerjasama berbagai pihak, kampanye ini akan berhasil sesuai misi awalnya mencegah tersebarnya HIV/AIDS dikalangan masyarakat.

Seperti awal yang sudah saya katakan, menurut saya hanya ada dua pilihan untuk mencegah HIV/AIDS, pertama tidak melakukan hubungan seks bebas atau melakukan dengan kondom. Kondom hanya salah satu alternatif yang bisa kita pilih, selebihnya semua pilihan kembali kepada masing-masing pribadi..


Ingat, bagaimanapun mencegah lebih baik dari mengobati..



Referensi:
Wikipedia
Komisi Penanggulangan AIDS
Jawa Pos National Network
Chicmagz
Majalah Gadis, 2008 Edisi Seks Bebas

Komentar

  1. tentu saja peran orang tua dan keluarga sangat penting untuk mengajarkan perilaku seks yang sehat ke anak dan generasi muda Mba Anggi, tapi pembagian kondom untuk pencegahan juga harus dilakukan karena mau tidak mau banyak sudah yang melakukan perilaku seks bebas.
    Jadi memang lebih baik mencegah daripada mengobati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mas Dani, semua pihak memang harus ikut turun tangan untuk sosialisasi ini, jangan tutup mata tutup telinga langsung menolak begitu dengar pembagian kondom. Semua itu kan ada maksud dan tujuannya :D

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …