4 Januari 2013

Pekan Kondom Nasional 2012; Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati!

Berdasarkan hasil penelitian, para ilmuan pada umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Sekarang ini AIDS bahkan telah berubah menjadi sebuah wabah penyakit dan telah menginfeksi hampir 38,6 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini merupakan salah satu wabah yang paling mematikan dalam sejarah karena telah diklaim menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa hanya pada tahun 2005 saja. Dan yang lebih menyedihkannya lagi adalah lebih dari 570.000 jiwa diantaranya merupakan anak-anak.



Di Indonesia sendiri, penderita HIV/AIDS kian hari kian bertambah jumlahnya. Sejak pertama kali ditemukan pada Tahun 1987 sampai dengan September 2012, kasus HIV/AIDS tersebar di 341 dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Berdasarkan hasil laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di website Komisi Penanggulangan AIDS pada Triwulan III Tahun 2012 lalu, jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 92.251 kasus dengan Jakarta sebagai jumlah tertinggi disusul Jawa Timur, Papua, Jawa barat dan Sumatera Utara. Sedangkan jumlah kumulatif kasus AIDS dilaporkan sebanyak 39.434 dengan jumlah terbanyak diduduki Papua yang kemudian diikuti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, dan beberapa wilayah lain dengan rentang usia 20-29 tahun. 
***

HIV/AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV, atau infeksi virus-virus lain yang mirip menyerang spesies lainnya (SIV, FIV dan lain-lain). Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) sendiri merupakan virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Nah, orang-orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.

Pada umumnya berbagai gejala AIDS tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Disini, HIV dan virus-virus sejenisnya bisa ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membrane mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal dan air susu ibu. Sedangkan cara penularannya sendiri dapat terjadi melalui hubungan intim, transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

Nah, berdasarkan info yang diberikan oleh Menteri Kesehatan RI, pada 2012 lalu pola penularan HIV/AIDS tertinggi yaitu melalui transmisi seksual sebesar 81,8%. Sedangkan pada penularan akibat penggunaan alat suntik yang tidak steril hanya 12,4%. Dan itu bisa berarti bahwa kesadaran untuk tidak bertukar jarum suntik para pengguna narkotika mulai meningkat. 




Penularan secara Seksual 
Penularan HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rectum, alat kelamin atau membrane mukosa mulut pasangannya. Nah, hubungan seksual reseptif yang dilakukan tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Tapi ini bukan berarti bahwa seks oral tidak berisiko lohhh. 

Adapun penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitol normal akibat adanya luka alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok/luka pada alat kelamin yang disebabkan oleh sifilis atau chancroid. Adapun resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga. 

STOP! 

Jalur utama masuknya virus HIV ke dalam tubuh seseorang dapat melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran. 

Tidak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman menyangkut upaya-upaya kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, saat melakukan hubungan seks. Yang lebih aman adalah dengan melakukan hubungan intim tersebut dengan pasangan sah saja dalam artian tidak berganti-ganti pasangan.

Sampai saat ini belum ada vaksin atau obat yang bisa menyembuhkan pasien HIV/AIDS sepenuhnya. Metode  satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). Metode ini memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu dan juga memiliki efek samping tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual dan lelah. 

Adapula terapi anti-retrovirus yang sangat aktif, HAART (highly active antiretroviral theraphy) yang merupakan salah satu cara penanganan infeksi HIV. Terapi ini juga tidak bisa menyembuhkan pasien dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya, ia hanya memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien. Konon, obat anti-retrovirus ini berharga mahal, dan mayoritas individu yang terinfeksi di dunia tidak memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan tersebut. 

Mencegah atau Mengobati?!

Bagaimana pun menurut saya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks bisa menjadi salah satu alternatif untuk dapat melakukan hubungan seks yang lebih aman serta terhindar dari bahaya penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS. 

Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antar individu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia. Banyak informasi keliru mengenai penggunaan kondom. Adapun di Indonesia sendiri, kondom tidak terlalu populer digunakan sebagai alat kontrasepsi karena adanya stigma buruk tentang penggunanya.

Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. walaupun demikian, tidak ada metode perlindungan yang 100% efektif, dan penggunaan kondom pun tidak dapat menjamin secara pasti perlindungan terhadap segala infeksi menular seksual (IMS). Nah, agar perlindungan kondom efektif, kondom tersebut harus digunakan secara benar dan konsisten. Penggunaan yang kurang tepat juga mengakibatkan lepasnya atau bocornya kondom sehingga menjadi tidak efektif.

Fyi, kondom yang biasa dipergunakan pria berbahan lateks, jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak, adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi penularan HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Para pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega dan minyak babi tidak digunakan bersamaan dengan kondom lateks, karena penggunakan bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang.

Tidak hanya pria sebetulnya yang bisa menggunakan kondom. Kondom wanita adalah alternatif selain kondom yang biasa digunakan pria. Kondom ini memiliki ukuran lebih besar daripada kondom pria, memiliki sebuah ujung terbuka keras yang berbentuk cintin dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan adanya kondom wanita, hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga hal ini bisa menjadi strategi pencegahan HIV yang penting. Namun sayangnya, kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sebagian besar wanita Indonesia. 


PEKAN KONDOM NASIONAL; PRO & KONTRA SOSIALISASI KONDOM
Banyak cerita pro kontra ketika kondom disosialisasikan. Beberapa tahun lalu di Indonesia pernah terjadi berbagai reaksi dalam menanggapi adanya ATM kondom. Nama aslinya sih condom vending machine, tapi di Negara kita disebut ‘ATM’ kondom, mungkin terdengar terlalu vulgar, atau entah mengapa langsung dianggap sesuatu yang negatif. Jangankan di Indonesia, di Negara liberal seperti di Amerika sekalipun pernah ada protes berat mengenai keberadaan alat tersebut. Para mahasiswa Arizona State Univesity, salah satu universitas di salah satu Negara bagian Amerika Serikat Arizona, melakukan protes keras karena kampus mereka dijadikan salah satu spot peletakan ATM kondom.



Kegiatan sosialisasi penggunaan kondom serupa pun sedang gencar dilakukan oleh berbagai instansi. Pekan Kondom Nasional 2012 yang dilaksanakan pada bulan Desember lalu, merupakan kegiatan yang diselenggarakan keenam kalinya pada tanggal 1 Desember selama 1 (satu) minggu penuh bertepatan dengan peringatan Hari AIDS sedunia. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama DKT Indonesia dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). DKT sendiri merupakan sebuah lembaga swasta Internasional yang didirikan oleh Phil Harvey di Washington, Amerika Serikat pada 1989 yang bertujuan untuk mempromosikan program Keluarga Berencana serta penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Kegiatan ini juga seiring dengan program KPAN yang selama ini telah gigih berjuang mengkampanyekan penggunaan kondom yang sebelumnya hanya sebagai salah satu alat kontrasepsi program Keluarga berencana, kemudian meluas menjadi salah satu cara mencegah penularan penyakit kelamin.

Pekan Kondom Nasional? Mungkin terdengar agak awam, begitupun waktu kali pertama saya mendengar mengenai acara ini. Sebagai orang awam, tidak dipungkiri bahwa pada awalnya saya pun berpikir bahwa program PKN seolah membolehkan seks bebas asal aman dengan penggunaan kondom yang jelas telah dilarang agama maupun norma di Indonesia. Bahkan, dalam perjalannya, PKN ini kerap kali dianggap sebagai salah satu upaya penggeseran pola pikir masyarakat atas legalisasi seks bebas serta terkandung nilai komersial didalamnya untuk ajang promosi sebuah brand tertentu oleh beberapa pihak.

Namun setelah mengetahui tujuan dari terselenggaranya acara ini yakni untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat penggunaan kondom dalam hubungan seks berisiko guna melindungi masyarakat Indonesia dari HIV/AIDS, saya mendukung sepenuhnya acara semacam ini. Sasaran utama dari PKN ini terutama adalah para sekelompok kunci dan wilayah dengan konsentrasi epidemik tinggi. Populasi kunci disini adalah orang-orang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS, yakni para pekerja seks komersial beserta pelanggannya, para kaum gay dan waria, juga para pengguna narkoba dengan jarum suntik.

Berbagai kegiatan dalam PKN 2012 lalu itu sangat bermanfaat menurut saya, selain bersifat menghibur dengan menggelar Konser Goyang Sutra di Lapangan Kopassus, Cijantung Jakarta yang mendatangkan berbagai artis ternama Ibu Kota, Juga ada ajakan mendidik masyarakat umum tentang pentingya penggunaan kondom untuk pencegahan HIV/AIDS. Ada edukasi di 12 kota besar di seluruh Indonesia khususnya di daerah resiko tinggi seperti pangkalan truk, pelabuhan dan lokalisasi dengan membagikan materi mengenai HIV/AIDS serta seks aman, juga menyediakan kondom dan lubrikan kepada sebuah klinik yang melayani kaum gay dan waria di Bali.

Jika mau dipikir ulang dan lebih mendalam, program semacam ini seharusnya mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, masyarakat, pemuka agama, instansi pemerintah maupun swasta. Kenapa? Karena tanpa adanya sinergi dari semua pihak sosialisasi semacam ini hanya akan jadi euforia semata. Diharapkan dengan adanya dukungan dan kerjasama berbagai pihak, kampanye ini akan berhasil sesuai misi awalnya mencegah tersebarnya HIV/AIDS dikalangan masyarakat.

Seperti awal yang sudah saya katakan, menurut saya hanya ada dua pilihan untuk mencegah HIV/AIDS, pertama tidak melakukan hubungan seks bebas atau melakukan dengan kondom. Kondom hanya salah satu alternatif yang bisa kita pilih, selebihnya semua pilihan kembali kepada masing-masing pribadi..


Ingat, bagaimanapun mencegah lebih baik dari mengobati..



Referensi:
Wikipedia
Komisi Penanggulangan AIDS
Jawa Pos National Network
Chicmagz
Majalah Gadis, 2008 Edisi Seks Bebas

2 komentar:

  1. tentu saja peran orang tua dan keluarga sangat penting untuk mengajarkan perilaku seks yang sehat ke anak dan generasi muda Mba Anggi, tapi pembagian kondom untuk pencegahan juga harus dilakukan karena mau tidak mau banyak sudah yang melakukan perilaku seks bebas.
    Jadi memang lebih baik mencegah daripada mengobati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mas Dani, semua pihak memang harus ikut turun tangan untuk sosialisasi ini, jangan tutup mata tutup telinga langsung menolak begitu dengar pembagian kondom. Semua itu kan ada maksud dan tujuannya :D

      Hapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...