4 April 2013

Menyusuri Kegelapan di Goa Lalay, Sawarna!


Hari kedua berlibur di Sawarna. Pagi itu setelah selesai sarapan, saya dan teman-teman bergegas untuk berkeliling kawasan Sawarna lagi, tepatnya pergi ke Goa Lalay. Menurut pentunjuk jalan, arah dari penginapan menuju Goa Lalay kurang lebih sekitar 2 KM. Nah berhubung kami kesana dengan menggunakan mobil dan nggak mau ribet cari parkir nantinya, setelah mengetahui bahwa disana nggak ada penyewaan sepeda dan menimbang-nimbang menggunakan ojeg, akhirnya jalan kaki menjadi pilihan paling bijaksana, halahh.

Menyusuri jalan menuju Goa Lalay ternyata banyak juga homestay yang disewakan, mungkin ini jadi pilihan terakhir para wisatawan karena kehabisan penginapan di dalam kawasan. Lalu setelah berjalan hampir 10 menit kami dipanggil oleh warga sekitar yang memberi tahu kami jalan alternatif menuju Goa Lalay. Menyusuri pematang sawah dan aliran sungai berair jernih..



Menyusuri jalan setapak diantara areal pesawahan disamping aliran sungai jernih mungkin juga bukan hal yang biasa dirasakan kebanyakan orang, terutama di kota-kota besar. Jadilah nggak heran kalau orang-orang kota nemu tempat beginian pasti narsis foto-foto. uhuk!

Diujung jalan kami lagi-lagi disambut oleh sebuah jembatan kayu, tapi bedanya jembatan ini terlihat jauh lebih kokoh daripada jembatan untuk masuk kawasan sawarna. Sebelum jembatan juga terdapat sebuah gambar dan petunjuk mengenai Goa Lalay.



Selepas dari jembatan kami berjalan melewati pemakaman, hihi, sedikit serem memang. Lalu kemudian terlihat sekumpulan orang yang menjaga pintu masuk ke dalam lokasi goa, hmm bisa dibilang loket kali ya. Dengan membayar biaya retribusi sebesar 5ribu rupiah per orang, kita bisa menikmati kegelapan di Goa Lalay. Iya kegelapan, karena begitu masuk benar-benar seperti nggak ada cahaya, maka dari itu di pos penjaga tiket tadi terdapat penyewaan senter sebagai sarana penerangan didalam.

Medan tanah goa terbilang cukup licin, perlu kehati-hatian ekstra untuk berjalan masuk, salah-salah malah jatuh bisa bahaya. Goa Lalay ini termasuk ke daerah Kampung Cipanas, dari petunjuk yang saya baca sih. Sedangkan Lalay sendiri dalam bahasa sunda artinya kelelawar, karena katanya disana dulu menjadi tempat tinggal kelelawar. 


Di mulut goa lain yang digunakan sebagai pintu keluar, panjangnya cukup lebar tetapi atapnya rendah. Saat keluar saya lebih memilih untuk menyusuri batu pinggir dibandingkan harus masuk ke dalam aliran sungai yang dalamnya hingga lutut.

Tanpa ada bantuan penerangan dari senter, rasanya gua ini benar-benar gelap karena sumber cahaya hanya dari mulut goa tadi. Untungnya saat kemari sedang tidak hujan, sehingga debit air tidak terlalu tinggi.

Setelah puas berkeliling kawasan Goa Lalay dan beristirahat kami pun berniat untu pergi, tapi bukan pulang ke penginapan. Lagoon pari atau yang lebih sering disebut dengan legon pari menjadi destinasi selanjutnya. Wohoooooo!

Eh, oya ada oleh-oleh sedikit pemandangan lucu saat hendak menuju Lagoon Pari dari Goa Lalay... Kwekwekwekkkk! Duckyyyyyy!



Happy Holiday!
agistianggi

1 komentar:


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...