Langsung ke konten utama

Lifestyle, Setenggak Miras dan Sehelai Nyawa..

Belakangan media massa diramaikan oleh maraknya pemberitaan yang kian hari kian mengkhawatirkan. Mulai dari perampokan, penangkapan sindikat narkoba, tawuran antar pelajar, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, pencabulan, dan segelintir tindakan kriminal lain yang silih berganti menghiasi layar kaca. Beberapa kasus terakhir yang menarik perhatian karena ramai dibicarakan adalah soal penganiayaan yang dilakukan beberapa artis Ibukota, dimana hal ini disinyalir tejadi karena pelaku berada dalam pengaruh minuman keras alias mabuk. Tidak hanya sebatas itu saja sebetulnya, ada setumpuk kasus kecelakaan, penganiayaan bahkan sampai pembunuhan yang diakibatkan oleh mengkonsumsi minuman ini. Sungguh, harga sebuah nyawa seorang manusia terlihat seolah hanya seperti sehelai kertas yang tidak ada nilainya.

Mungkin kita juga pernah mengingat dalam beberapa tahun terakhir ada kasus meninggalnya sekelompok orang saat sedang pesta miras dikampungnya, dimana hasil penyelidikan polisi menyatakan bahwa mereka tewas setelah mengkonsumsi miras oplosan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Jangan kan miras oplosan yang kadarnya tinggi dan dicampurkan dengan zat tertentu tanpa takaran yang seharusnya, minuman keras murni dengan kadar alkohol berberapa persen saja sudah berbahaya bagi tubuh, bukan? 

Bir, wine, arak, whiskey, vodka atau apapun nama-nama sebutan lain merupakan jenis dari minuman keras yang mengandung alkohol ini memang bukan hal baru lagi. Zat Etanol atau Etil-Alkohol (C2H5-OH) merupakan komponen organik utama yang terkandung dalam berbagai minuman beralkohol. Ia berwujud cairan bening, tidak berwarna, berbau tajam yang khas serta mudah menguap ini terbukti sangat berbahaya jika dikonsumsi. 

Dari hasil survey WHO (World Health Organization) tahun 2011 didapatkan fakta bahwa sekitar 320.000 anak muda antara umur 15-29 tahun meninggal karena miras. Di beberapa Negara, meminum miras memang menjadi semacam suatu tradisi dan banyak dilakukan dalam acara-acara tertentu, seperti upacara keagamaan, pesta perkawinan ataupun acara sejenisnya. Adapun di Negara yang mempunyai musim dingin, meminum bir dilakukan untuk membuat tubuh mereka tetap hangat dan tentu dalam dosis yang telah diatur.

Sumber dari sini
 Lantas bagaimana dengan di Indonesia? 



Di lingkungan sekitar, saya mendapati beberapa teman yang suka meminum miras bahkan sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dari hal tersebut saya penasaran tentang apa sih yang dipikirkan oleh para peminum ketika mereka pada akhirnya memutuskan untuk mencoba sampai ketagihan untuk meminum minuman haram yang satu ini. 

Sumber: data pribadi
Gambar disamping adalah sepotong percakapan saya dengan salah seorang teman melalui whatsapp di suatu siang. Menurutnya minuman ini biasa ia gunakan untuk menenangkan diri. Jika sedang dilanda stress karena suatu hal, dia mencoba untuk mengkonsumsi miras untuk merasa tenang dan mengalihkan pikiran dari permasalahan yang ia hadapi. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa dalam lingkungan pergaulannya, biasanya teman-teman geng, ada suatu anggapan bahwa dengan menkonsumsi miras adalah hal biasa dan meningkatkan tingkat ke-gaul-an seseorang. Padahal justru tidak demikian. Adapun kalau dia pada akhirnya memilih untuk tidak mencoba, teman-temannya akan mencemooh bahkan tidak jarang yang menjauhinya. Ironis bukan? 

Seluruh masyarakat bahkan peminum itu sendiri sebetulnya tahu perihal bahaya meminum miras bagi kesehatan, bahwa selain menimbulkan kecanduan yang kelak merusak saraf-saraf di otak dan merubah pola hidup seseorang, miras juga dapat merusak organ tubuh secara perlahan tapi pasti. Kerusakan hati, jantung, pankreas, peradangan lambung, mengganggu metabolisme tubuh merupakan beberapa dampak negatif dari mengkonsumsi miras. Juga ada dampak kejiwaan yang diakibatkan oleh miras yang dapat merusak secara permanen jaringan otak sehingga menimbulkan gangguan daya ingat, kemampuan penilaian, kemampuan belajar dan juga gangguan jiwa tertentu.

Selain merusak dan merugikan diri sendiri, miras juga ternyata bisa berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, keluarga terutama orang tua peminum. Kenapa? Karena hal tersebut dapat menimbulkan suatu beban mental, beban emosional dan tentu beban finansial. Bagi lingkungan, peminum miras dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan terhadap ketertiban, ketentraman serta keamanan masyarakat sekitar. 

AKSEBILITAS TANPA BATAS  
Menurut saya menkonsumsi miras pada akhirnya terlihat tidak lebih dari sekedar gaya hidup semata, terutama bagi masyarakat-masyarakat kelas atas di kota besar. Nongkrong di café atau restaurant-restaurant, daftar jenis minuman keras dengan berbagai merk sudah bertengger dengan cantik di buku menu. Bahkan ada anggapan bahwa semakin mahal harga dari minuman yang kita minum, menunjukkan status dan kelas sosial seseorang. 

Miras memang bukan merupakan barang langka, bahkan untuk mendapatkan barang haram ini sangat mudah sekali. Banyak diantaranya supermarket, minimarket, warung-warung, bahkan kios kecil pinggir jalan yang menjual minuman keras dengan berbagai macam merk. Adapun di Indonesia, miras yang diimpor peredarannya diawasi peredarannya oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (BJBC), Kementrian Keuangan. Dalam istilah Kepabeanan dan Cukai, setiap minuman beralkohol diseut MMEA (Minuman Mengandung Ethyl Alkohol). 

Selain mengatur impor miras dari luar negeri, Bea Cukai juga memiliki kewenangan untuk mengontrol secara penuh pendirian pabrik pembuat miras dalam negeri. Dimana setiap badan usaha yang hendak memproduksi miras, maka diwajibkan untuk memiliki NPPBKC (Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai). Tidak hanya oleh Bea dan Cukai sebetulnya, pemerintah daerah juga turut ambil andil dalam pengawasan peredaran miras di Indonesia.

Aparatur Pemerintahan juga seperti Kepolisian, Satpol PP, dan instansi-instansi terkait patut diacungi jempol atas kinerjanya dalam memerangi peredaran miras baik di kota besar maupun di daerah-daerah. ‘Operasi-operasi’ yang dilakukan di diskotik, café, kios-kios, dan tempat lain yang diperkirakan menjual miras oleh aparatur Negara harus lebih sering dilakukan sebagai salah satu bentuk antisipasi penyalahgunaan minuman keras terutama oleh anak dibawah umur.

Sumber dari sini
Perijinan miras ini harus lebih diperketat, terlebih jika sekarang melihat begitu banyak toko-toko ataupun minimarket yang menjual miras dengan terbuka alias terang-terangan. Lalu apabila ditemukan adanya penyalahgunaan ataupun pelanggaran terkait peraturan atas perijinan yang diberikan, pelaku harus ditindak tegas dengan dihukum untuk memberikan efek jera dan juga peringatan bagi para penjual lainnya.

Nah, jika sudah begini akan terjadi suatu tindakan berkesinambungan sebagai salah satu upaya untuk menekan maraknya peredaran miras di Indonesia. Selain pemerintah yang mempunyai kewenangan aturan berlandaskan hukum, masyarakat juga mempunyai andil besar untuk mensukseskan hal ini. Justru menurut saya, kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat akan jauh lebih efektif dilakukan untuk mengkampanyekan dan menyuarakan gerakan anti miras. 

Tahun ini RUU tentang Anti Minuman Keras harus segera disahkan dan sosialisasikan agar dipahami oleh semua orang mengingat bahaya yang ditimbulkannya kelak bagi tubuh peminumnya maupun lingkungan sekitar. Penerapan Undang-Undang serta Peraturan Daerah yang ketat akan menjadi suatu pedoman dan cambuk keras bagi para penjual dan peminum miras yang berniat melanggar aturan.

Menghilangkan secara total kebiasaan meminum minuman keras hampir mustahil dapat dilakukan, tapi setidaknya dengan memulai hal-hal kecil, memperbaiki sedikit demi sedikit, peredaran miras yang semakin merajalela di masyarakat saat ini dapat perlahan-lahan berkurang. Alkohol, gaya hidup, status sosial, semoga kelak hal-hal itu tidak lantas membuat sebuah nyawa seperti halnya sehelai kertas yang seolah tak bermakna dan tak berharga....

 "Live is good when you know how to live it well. Change your perspective! Enjoy the life you have! You don't live twice". - Anonymous
Safe your life, stay away from alcohol! 



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog #AntiMiras sebagai dukungan dan kepedulian kampanye publik anti-minuman keras di Indonesia.

***

Tulisan ini menjadi Juara I kompetisi menulis #AntiMiras

  

Komentar

  1. Yeaaah! ikut dukung antimiras! setuju banget sama uraiannya, bahanya lebih kompleks dari manfaatnyah. ^_^

    sukses buat lombanya,

    BalasHapus
  2. saya penikmat miras yang aktif lho mbak anggi, hampir tiap malam :) bener emang dengan minum itu bisa sedikit menenangkan pikiran, karena syarafnya emang jadi agak kendo, n bisa menambah rasa percaya diri juga. Tapi klo mau bener2 berhenti sebenernya gak perlu pake embel2 bertahap kok mbak, semua tergantung niat. Toh saya bisa langsung cut kebiasaan itu tanpa ngerasa tersiksa gimana2, klopun ngumpul sama temen2 yg belum berhenti mereka bisa kok menghargai prinsip kita klo kita menunjukkannya dengan tegas

    BalasHapus
  3. Ohh gitu ya mas priyo. Wah wah, nambah pengetahuan lagi nih soal peminum miras.
    tapi mau gimana pun jauh dari minuman keras akan lebih baik kan ;)

    BalasHapus
  4. Sharing yang menarik, mbak Anggi.
    Semoga RUU AntiMiras segera disahkan menjadi UU, demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

    BalasHapus
  5. selain sebagai tujuan penjualan obat2 terlarang, indonesia ternyata pernah menjadi pabrik pembuatan miras. pantes indeks pendidikannyanya di dunia paling bawah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka dari itu kita harus dukung secara penuh gerakan anti miras ini mas rusydi.

      Hapus
  6. Sahabat Komunitas Pejuang #AntiMiras

    Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh,

    Dalam berbagai kesempatan dialog, diskusi dan pertemuan lainnya, kita sepakat untuk menjadikan Gerakan Nasional Anti Miras adalah sebuah Gerakan Massal Masyarakat atas kesadaran terhadap bahaya latent yang diakibatkan oleh minuman beralkohol (minol) dan minuman keras (miras), khususnya bagi Anak dan Remaja di bawah 21 tahun;

    Sehubungan dengan itu, kita akan melaksanakan Traning for Trainers yg akan dipandu oleh teman2 dari @KomunitasSM dan @AntiMiras_ID , pada:

    Hari/Tgl : Sabtu-Minggu 6-7 Juli 2013
    Jam TFT : 08'00-17'00 wib
    Tempat : Rumah Damai Indonesia
    Jl H Saabun No20, Jatipadang, Margasatwa Pasar Minggu, Jakarta Selatan

    kiranya Sahabat dapat mengirimkan minimal 2 orang calon peserta, yang terlebih dahulu akan diseleksi dari data yang diisi calon peserta melalui formulir:

    http://www.mediafire.com/download/vb9pcdaiphf5p2k/FormPendaftaranTrainer.pdf

    Keikut-sertaan Sahabat dalam upaya2 Gerakan Nasional Anti Miras, InsyaALLAH akan meningkatkan kesadaran semua stake holder terhadap bahaya minol dan miras, khususnya Pemerintah dalam mengendalikan penjualannya.

    Training for Trainers Pejuang #AntiMiras - bhadiah HP Android Samsung Galaxy CHAT http://chirpstory.com/li/93088

    #BlogPost Training for Trainers Pejuang #AntiMiras

    http://antimiras.com/2013/07/training-for-trainers-pejuang-antimiras/

    Salam Sehat #AntiMiras
    @fahiraidris

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …