8 Juni 2013

Serunya Menulis Fiksi di Writing Clinic Majalah Femina

01 Juni 2013 lalu, bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, saya berkesempatan diundang oleh Majalah Femina untuk mengikuti salah satu acara menulis, Writing Clinic! Nah, salah satu syaratnya adalah para peserta ini sebelumnya diminta untuk mengirimkan hasil karya mereka ke panitia melalui websitenya. Lalu setelah menunggu seminggu, saya dihubungi oleh pihak Femina terpilih menjadi salah satu peserta dari Writing Clinic ini. Dengan dresscode; Blue & Jeans. Soooooo exciting!

Singkat cerita setelah berjibaku dengan macetnya jalanan ibu kota dan sempat nyasar di daerah Kuningan, akhirnya saya sampai di Gedung Femina. Wah, ternyata para peserta yang lain udah pada datang, bahkan seorang teman kenalan disana bilang sudah sampai dari jam 8. 

Akhirnya acara pun dimulai. MC membuka acara pada pagi hari itu dengan salam dan sapa. Sambutan dari Redaktur Pelaksana Femina, Mbak Yoseptin memberikan sepatah dua patah kata sebagai pembuka Writing Clinic. Mbak Leila S. Chudori, seorang penulis, seorang jurnalis Tempo yang juga katanya seorang Ibu, membuka sesi pertama yang berisi tentang cerita dan tips-tips menulis bagi orang-orang yang bermimpi menjadi penulis, seperti saya dan teman-teman lainnya. Mbak Leila sendiri sudah menulis semenjak beliau kecil. Baru-baru ini juga baru meluncurkan sebuah novel berjudul; Pulang.

Banyak hal yang ia ceritakan soal dunia tulis-menulis, juga soal kisahnya sebagai seorang jurnalis Majalah Tempo. Yang menarik perhatian saya, dia menceritakan pengalamannya dulu saat menjadi jurnalis, ditugaskan dari satu liputan disuatu tempat menuju liputan lain ditempat yang berbeda, tanpa melihat hari apalagi waktu. Beliau juga menceritakan bagaimana seorang jurnalis membuat suatu tulisan yang kemudian masuk ke meja editor, setelah itu diedit habis-habisan oleh editor senior. Oya, ada lagi yang menarik saat ia menceritakan soal penulisan dan tata bahasa standar yang digunakan oleh Majalah Tempo. Dimana kadang ada hal-hal bersifat teknis untuk tulisan di Tempo yang berbeda dari standar lembaga Tata Bahasa Indonesia (saya lupa namanya apa).





Banyak sekali ilmu dan motivasi yang saya dapat setelah mengikutin acara ini. Nothing is instant, kurang lebih sih gitu. Semua ada prosesnya, semua ada waktunya. Nah, Mbak Leila juga menceritakan soal 'bagaimana menjadi seorang penulis yang baik', ada faktor-faktor dibalik 'to be a good writer'. Dari catatan saya, ada beberapa point yang dibutuhkan seorang penulis untuk menghasilkan sebuah karya.

  • Bakat! 
          X-Factor, soal Minat Vs Bakat
  • Faktor Utama: Kerja Keras
          Hard work = Work hard!
  • Membaca, membaca, membaca
          Be a bookworm!
  • Be Humble
          Baik hati dan tidak sombong.


Di akhir sesi, para peserta dipersilahkan untuk bertanya dan yang mau nanya banyak banget. Mulai dari pertanyaan simpel soal writer's block, profesi penulis sampai tips-tips soal dunia tulis menulis. Yah, saya juga sebetulnya punya banyak pertanyaan tapi udah terwakili sama yang lain hehe.

Sekitar pukul 12 siang itu acara sesi satu selesai yang kemudian dilanjutkan dengan acara awarding penyerahan hadiah bagi pemenang lomba menulis cerita bersambung Femina. Juara Pertama jauh-jauh dari terbang dari pulau sebrang, Kalimantan, namanya Mbak Yohana yang mendapatkan hadiah total 15 juta rupiah *drolling* huwaaaa! Keren, sumpe! Berdasarkan laporan pertanggung jawaban Mbak Leila, selaku salah satu dewan juri, ada banyak kriteria dan pertimbangan yang membuat dewan juri juga bimbang karena semua naskah yang masuk bagus-bagus. Cerita dari para pemenang yang menggunakan setting daerah di Indonesia bukan sekedar cerita biasa tapi juga membaur dari cerita, kota, dan kata yang menarik. Mbak Yohana sempat menceritakan sedikit soal cerber-nya yang berjudul 'Pengorek' (bercerita soal penjualan organ di salah satu daerah di Kalimantan). Beliau yang juga berprofesi sebagai guru katanya sampai menghabiskan waktu 2 tahun untuk riset cerita tersebut. Waw!


Iwan Setyawan, Penulis 9 Summers and 10 Auntumn, menjadi pembicara di sesi kedua. Mas Iwan saat itu bercerita pengalamannya mulai dari awal membuat buku, proses hidupnya yang pelik, cerita masa lalunya juga diselingi kisah-kisah selama dia berada di New York. Fyi, Mas Iwan ini selama jadi pembicara sangat sangat kocak, gaya bahasanya yang lucu membuat kami, para peserta, terus tertawa. Dia juga bercerita bahwa awal mulanya ia ingin membuat sebuah buku adalah karena ingin cerita hidupnya bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sekitar pukul 1 siang itu, panitia sudah meminta Mas Iwan menghentikan sesi-nya, tapi karena keasyikan jadi dilanjut terus deh ceritanya. Ada satu hal yang sampai saat ini membekas diingatan saya, soal cerita Mas Iwan, katanya akan ada suatu titik dimana kita merasa bahwa kita tidak tau lagi harus melakukan apa, ada suatu titik dimana kita benar-benar merasa bosan dan jenuh akan hidup, dari situ kita harus terus menerus mencari apa yang bisa membuat hidup kita lebih hidup.

Makan siang dan foto bersama menjadi penutup acara Writing Clinic Femina siang hari itu.

What a day! Banyak ilmu yang saya dapat dari acara hari itu, banyak teman baru yang saya temuin, juga banyak cerita baru. Oya, disana ternyata saya ketemu Mbak Aria, salah seorang teman saat ke Pulau Tidung dulu. Aaaa~ saya sendiri lupa kalau Mbak Aria kerja di Femina, makanya saat ketemu pas acara agak kaget juga. Terus beberapa hari setelahnya saya baru tau kalau hari itu juga ada Mbak Sitta Karina dari account twitternya. Ah, nggak jeli sih mata saya :(




Terima kasih mbak Leila S. Chudori, terima kasih Mas Iwan Setyawan, terima kasih seluruh panitia Writing Clinic Femina, terima kasih temanku Maul yang ngasih panduan jalan ke Femina, terima kasih teman-teman baru, terima kasih untuk semuanya...

xx,
agistianggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...