Langsung ke konten utama

Pilihan? Atau?

Hallo, Hai!

Tiba-tiba kepikiran nulis soal ini, soalnya kemarin malam chat di Yahoo Messenger dengan seorang teman lama dan akhirnya ingat lagi kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu.

Teman saya yang satu ini non-islam, dia menganut agama Hindu. Kenalan dari suatu event menulis yang sama-sama kami ikuti beberapa tahun lalu. Sebetulnya udah lama juga sih saya nggak buka Y!M berhubung aneka macam free aplikasi kian menjamur, saya sendiri lebih prefer pakai whatsapp, bbm, gtalk sama line, makanya pas liat dia online langsung saya sapa. Dulu saat pertama kali kenalan saya belum pakai jilbab, nah kemarin dia liat saya udah pake jilbab, terus terjadilah suatu perbincangan panjang.. 

Teman: Cieeee jadi anak Hijabers?
Saya: Hah? Kagak. 
Teman: Kok pakai jilbab? Kan lebih cantik kalau nggak pake (*terbang*). Di Islam emang lagi musim ya pakai jilbab? Kan lagi rame tuh Hijabers-Hijabers. 
Saya: Bukan, ini bukan musiman, tapi ini perintah. Dalam agama saya, bagi setiap wanita yang sudah baligh wajib hukumnya menutup aurat. 
Teman: Lah terus yang lain gimana? Kan banyak banget di Indonesia yang bilangnya Islam tapi nggak pakai jilbab, dan fine-fine aja toh.
Saya: Iya memang banyak, tapi belum pakai aja kali. 
Teman: Kenapa? 
Saya: mmm.. ya itu kan pilihan masing-masing individu za. 
Teman: oh.. jadi bebas ya kita mau pakai atau enggak? kenapa kamu memilih untuk pake? 
Saya: eh, itu bukan pilihan sih, eh tapi gimana ya.. *mulai bingung sendiri*


Saya bingung jawabnya, temen saya juga bingung, akhirnya kita sama-sama bingung haha. Akhirnya ganti topik deh, di akhir saya bilang aja sama dia kalau ini pilihan saya. Titik, nggak boleh pake tanda tanya lagi.

Pilihan. Terlepas dari apapun alasan saya beberapa waktu lalu untuk pada akhirnya mengenakan jilbab, tapi memang inilah yang terbaik. Saya memang belum menjadi seorang muslimah yang baik, hijab yang saya gunakan juga masih sangat jauh dari syar’i. Tingkah laku masih banyak yang kurang terpuji walau secara sedikit demi sedikit berusaha untuk terus membenahi diri.

Jadi sebenernya, gimana sih seharusnya menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti tadi?


Pilihan? Atau?

Komentar

  1. Apa ya jawabnya? Yang jelas sih tanggung jawab masing-masing orang ya untuk pakai atau tidak. Hueee. Bingung juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia masdan, kalau yang tanya sesama muslim kan tinggal sodorin terjemahan qurannya, sedangkan untuk yang beda keyakinan bingung jelasinnya.

      Hapus
  2. wajib, hanya di negara kita emang belum dianggap wajib, booming pencarian nilai islam sendiri baru dimulai lagi pasca tumbangnya orde baru, seingat saya jaman suharto ada namanya islamophobia CMIIW. Bahkan guru agama saya di SD gak berani pake jilbab, hanya pake selendang yang dipakai dikepala untuk menandai beliau guru agama.

    jadi klo dibilang banyak yang belum make ada beberapa alasan, pertama belum memahami kewajibannya, kedua merasa kewajiban adalah sebuah tuntutan yang memberatkan sehingga mereka enggan memakainya. Jujur saja kita aja denger kata "wajib" pasti ada perasaan gak rela menjalaninya, tapi beda klo kita sudah merasa "butuh"

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah iya, aku inget jaman dulu selendang yang buat dikerudungin cuma formalitas diatas sasak para ibu-ibu pejabat, pun sekarang masih banyak kayak gitu ya. sedih juga sih kalau kewajiban ber-hijab dianggap orang nggak lebih dari sekedar 'tren' :(

      Hapus
    2. hijab sebagai style, ya sekarang ini emang lagi ngetrend, cuma berdasar tipikal orang indonesia aku agak was2 juga, klo ntar trend ini beralih lagi ke trend lain, besar kemungkinan berhijab pun akan ditinggalkan lagi oleh para pengikut mode. Sayang banget sekarang pemahaman hijab yang bener seperti aja masih belum banyak yang tahu baru sebatas mengenakannya saja

      Hapus
    3. Aduh, lain ceritanya itu mas kalau malah jadi tren sesaat mah ckck

      Hapus
  3. Coba dengan pendekatan adab Jawa, begini... dalam peribahasa Jawa ada yang bilang:
    "Ajining diri soko ing ati, ajining rogo soko ing busono, ajining urip soko ing laku" Artinya: Kemuliaan diri seseorang ditentukan dari ucapannya, kemuliaan tubuhnya ditentukan dari busananya, kemuliaan hidupnya ditentukan dari perilakunya.
    Begitu juga agama Islam merincikan setiap hak dari diri manusia. Jiwanya punya hak, raganya punya hak, fikiran juga punya hak, perasaan punya hak dan seterusnya. Semua ditunaikan dan diatur oleh agama.
    Jadi, sampaikan kepadanya bahwa "ini bentuk kesadaran saya untuk memenuhi hak yang ada pada diri saya. Jiwa saya punya hak untuk di-jilbabi dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, dengki, dll. Begitupun dengan raga saya juga punya hak untuk dijaga harga diri dan kemuliaannya. Aku ingin melindungi mahkotaku."

    Kalo menjelaskan kepada orang non-muslim dengan menggunakan dalil, maka akan sulit masuk, lha wong mereka belum tentu meyakini Al-Qur'an yang kita sampaikan.
    Jadi argumentasinya dengan pendekatan universal.

    Trus kalo ditanya dg pertanyaan sama: "Lho orang Islam yang lain gimana?"
    Jawab aja: "Alhamdulillah, saya bersyukur karena Allah memberikan kesadaran atas tubuh saya. Orang Islam lainnya yang belum memakai jilbab ya mungkin saja sudah diberikan kesadaran oleh Allah, tapi gak sadar kalo diberi, hehehe, ya... saya do'ain aja deh biar sadar juga, kesadaran memang gak bisa dipaksa kok, itu perlu proses"
    *jawabnya santai & ringan, khan :)

    Terus ditutup dengan begini:
    "Saya memakai jilbab ini adalah komitmen akan kesiapan saya berjumpa dengan-Nya. Memakai jilbab dalam Islam adalah perintah-Nya. Saya ingin saat malaikat maut mencabut nyawaku, saya sudah dalam kondisi mematuhi perintah-Nya, dan bisa tersenyum menemui-Nya. Ngeri deh, kalo menghadap Kekasihku, saya dalam kondisi ingkar. Bisa-bisa, Dia menoleh padaku pun enggan, hehehe. Untuk itu saya gak ingin lagi menunda-nunda lagi makai jilbab, sebab ajal itu pasti datang kepadaku dan kepada kita semua kapan saja."

    Nahh, dari situ malah bisa berkembang menjadi diskusi lebih dalam lagi tentang konsep hidup setelah mati, maka mbak Anggi bisa mengenalkan keindahan Islam lewat diskusi ini.
    Semoga temanmu mendapatkan hidayah-Nya. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga mau jelasin ke orang yang berbeda keyakinan bingung. ilmu saya juga belum banyak untuk ngasih penjelasan, hihi salah-salah nanti malah salah paham orangnya. tapi yang penting kitanya saling menghormati, ada saling toleransi.

      penjelasan sama pendapatnya jelas sekali, syukron ya pak iwan :)

      Hapus
  4. xixix aku juga bukan termasuk hijabers .. tapi apa ya jawaban nya :) tergantung diri masing-masing aja lah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. simpelnya gitu aja ya teh jawabnya kalau ada yang nanya hihi

      Hapus
  5. Bilang saja yang belum memakai hijab mungkin belum terbuka hatinya untuk mentaati perintah Allah dan Rasulullah Saw secara penuh. Mudah2an segera dibukakan pintu hatinya yaa.
    Gitu sudah cukup jawabannya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih pakdhe, tapi kalau bilang gitu takutnya banyak yang kesinggung juga hehe.
      Salam balik dari Bandung :')

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …