5 Desember 2013

2nd Anthology; Biarkan Hijabku Berkibar


"Kami muslimah dan kami tidak perlu sampai harus mempertontonkan dada kami supaya suara kami didengar. Kami tidak perlu menonjolkan lekuk tubuh kami untuk membuat kontribusi kami diakui oleh masyarakat atau bahkan dunia sekalipun. Kami menutup aurat dengan sempurna dan kami bertebaran di seluruh dunia membawa serta ilmu-ilmu yang kami dapat dari institusi-institusi ilmu terbaik di tanah air kami." (Kutipan kalimat tulisan Tazkia dalam tulisan 'Kami Tak Butuh Penyelamat!')

Ya, meski berbalut kain lebar, prestasi tidak akan tertutupi. Dengan penuh kesadaran, kami taati perintah-perintah Tuhan. Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Hati dan diri harus terjaga agar sepadan dengan pakaian kami. Ya, mungkin masih banyak yang sangsi. Menganggap bahwa pakaian tertutup akan menghambat laju prestasi. Tetapi, kami berkontribusi bukan dari tubuh, melainkan otak kami.

Lihatlah, kami bisa tunjukkan kiprah. Kami adalah dokter, guru, pegawai negeri, pendongeng, ilmuwan, pemandu wisata, penari juga pengabdi masyarakat. Kami tak diam, meski sebagian orang menganggap pakaian kami adalah pemenjara potensi. Kami teguh, meski sebagian orang menakut-nakuti, bahwa kelak jilbab yang tertempel di foto ijazah akan jadi hambatan dalam mencari pekerjaan. Bukan sekedar pakaian pembungkus tubuh, hijab kami adalah tanda cinta. Betapa Allah telah menyiapkan penjagaan istimewa.


 ***


Jadi dalam rangka kompetisi menulis beberapa waktu lalu dari HijabWare bertema 'Hijab Oke, Prestasi Hore', ternyata tulisan saya dinyatakan masuk dalam 20 besar finalis yang hasil karyanya dibukukan dalam sebuah buku antologi. 

Keseluruhan isi tulisan sih sebetulnya sama, merupakan pengalaman pribadi para finalis yang menggambarkan bahwa jilbab bukan penghalang meraih prestasi dan mengaktualisasikan diri. Dari semua cerita yang ada didalamnya begitu banyak jenis prestasi, sungguh tidak dibatasi, ada yang berprestasi dalam bidang akademik, organisasi, keagamaan, seni, pengalaman masyarakat, atau sejenisnya. Saya sendiri? Hanya menceritakan sekelumit kisah perang batin saat hendak mengenakan jilbab hingga beberapa prestasi juga 'keajaiban-keajaiban' kecil yang saya raih setelahnya.

Membaca satu persatu kisah teman-teman lain cuma satu hal yang bisa saya katakan, 'Keren!'.




Terima kasih HijabWare, terima kasih teman-teman, kalian sungguh menginspirasi!


20 komentar:

  1. asiiik,,, mantap tuh...
    keren keren......

    BalasHapus
  2. selamat ya buku antaloginya sudah terbit

    BalasHapus
  3. Keren Anggi bukunya...
    sekarang juga banyak ya yang ndak suka hijab, ada juga tuh hijab only for fashion akhiranya hanya nuruti fasyion tapi syar'i -nya hilang entah kemana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak soal itu memang disayangkan, pake jilbab supaya bisa ikut trend fashion hijaber aja. Aduh kan aduh.

      Hapus
  4. Dulu jaman abege saya gak seneng lho ma cewe berjilbab, tapi gitu masuk di SMA yang islami mpe sekarang malah lebih suka liat mereka yang berjilbab, IMHO mereka terlihat lebih anggun n elegan daripada yang gak pake

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu jaman abege ya mas? sekarang kan udah nggak abege lagi hueheuehe *kabur

      Hapus
    2. jangan ingetin ituhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh #tepok2sandal

      Hapus
    3. huahahahaha *kabur* *ntar gak akan dijamu lagi kalo ke jogja*

      Hapus
  5. Wih keren buku antologinya.
    Ya, muslimah sejati itu berhijab dan berkarya.

    BalasHapus
  6. Wih keren buku antologinya.
    Ya, muslimah sejati itu berhijab namun tetap berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum.. *benerin poni* *ehhhhh

      Hapus
  7. hasil pencapaian yang bagus bisa masuk 20 besar finalis, tetep semangat hijabers :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha semangat patlimaenam, Oom Dege! :P

      Hapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...