Langsung ke konten utama

2nd Anthology; Biarkan Hijabku Berkibar


"Kami muslimah dan kami tidak perlu sampai harus mempertontonkan dada kami supaya suara kami didengar. Kami tidak perlu menonjolkan lekuk tubuh kami untuk membuat kontribusi kami diakui oleh masyarakat atau bahkan dunia sekalipun. Kami menutup aurat dengan sempurna dan kami bertebaran di seluruh dunia membawa serta ilmu-ilmu yang kami dapat dari institusi-institusi ilmu terbaik di tanah air kami." (Kutipan kalimat tulisan Tazkia dalam tulisan 'Kami Tak Butuh Penyelamat!')

Ya, meski berbalut kain lebar, prestasi tidak akan tertutupi. Dengan penuh kesadaran, kami taati perintah-perintah Tuhan. Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Hati dan diri harus terjaga agar sepadan dengan pakaian kami. Ya, mungkin masih banyak yang sangsi. Menganggap bahwa pakaian tertutup akan menghambat laju prestasi. Tetapi, kami berkontribusi bukan dari tubuh, melainkan otak kami.

Lihatlah, kami bisa tunjukkan kiprah. Kami adalah dokter, guru, pegawai negeri, pendongeng, ilmuwan, pemandu wisata, penari juga pengabdi masyarakat. Kami tak diam, meski sebagian orang menganggap pakaian kami adalah pemenjara potensi. Kami teguh, meski sebagian orang menakut-nakuti, bahwa kelak jilbab yang tertempel di foto ijazah akan jadi hambatan dalam mencari pekerjaan. Bukan sekedar pakaian pembungkus tubuh, hijab kami adalah tanda cinta. Betapa Allah telah menyiapkan penjagaan istimewa.


 ***


Jadi dalam rangka kompetisi menulis beberapa waktu lalu dari HijabWare bertema 'Hijab Oke, Prestasi Hore', ternyata tulisan saya dinyatakan masuk dalam 20 besar finalis yang hasil karyanya dibukukan dalam sebuah buku antologi. 

Keseluruhan isi tulisan sih sebetulnya sama, merupakan pengalaman pribadi para finalis yang menggambarkan bahwa jilbab bukan penghalang meraih prestasi dan mengaktualisasikan diri. Dari semua cerita yang ada didalamnya begitu banyak jenis prestasi, sungguh tidak dibatasi, ada yang berprestasi dalam bidang akademik, organisasi, keagamaan, seni, pengalaman masyarakat, atau sejenisnya. Saya sendiri? Hanya menceritakan sekelumit kisah perang batin saat hendak mengenakan jilbab hingga beberapa prestasi juga 'keajaiban-keajaiban' kecil yang saya raih setelahnya.

Membaca satu persatu kisah teman-teman lain cuma satu hal yang bisa saya katakan, 'Keren!'.




Terima kasih HijabWare, terima kasih teman-teman, kalian sungguh menginspirasi!


Komentar

  1. asiiik,,, mantap tuh...
    keren keren......

    BalasHapus
  2. selamat ya buku antaloginya sudah terbit

    BalasHapus
  3. Keren Anggi bukunya...
    sekarang juga banyak ya yang ndak suka hijab, ada juga tuh hijab only for fashion akhiranya hanya nuruti fasyion tapi syar'i -nya hilang entah kemana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak soal itu memang disayangkan, pake jilbab supaya bisa ikut trend fashion hijaber aja. Aduh kan aduh.

      Hapus
  4. Dulu jaman abege saya gak seneng lho ma cewe berjilbab, tapi gitu masuk di SMA yang islami mpe sekarang malah lebih suka liat mereka yang berjilbab, IMHO mereka terlihat lebih anggun n elegan daripada yang gak pake

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu jaman abege ya mas? sekarang kan udah nggak abege lagi hueheuehe *kabur

      Hapus
    2. jangan ingetin ituhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh #tepok2sandal

      Hapus
    3. huahahahaha *kabur* *ntar gak akan dijamu lagi kalo ke jogja*

      Hapus
  5. Wih keren buku antologinya.
    Ya, muslimah sejati itu berhijab dan berkarya.

    BalasHapus
  6. Wih keren buku antologinya.
    Ya, muslimah sejati itu berhijab namun tetap berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum.. *benerin poni* *ehhhhh

      Hapus
  7. hasil pencapaian yang bagus bisa masuk 20 besar finalis, tetep semangat hijabers :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha semangat patlimaenam, Oom Dege! :P

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …