Langsung ke konten utama

Bergelut dengan Perasaan Khawatir

Pernah mengalami hal serupa? Semacam berperang dengan diri sendiri, dengan pemikiran sendiri, akan satu persatu perasaan khawatir yang berujung ketakutan berlebihan.

Katanya orang yang bergolongan darah A mempunyai tingkat rasa khawatir yang cukup tinggi, saya salah satunya. Panikan dan lain sebagainya. Saya sih tidak toh sepenuhnya percaya kalau sifat ini karena golongan darah, justru saya lebih berpikir kalau hal ini disebabkan cara berpikir atau keadaan yang ada. Situasional.  
Euh, cukup rumit rasanya. Serumit setiap skenario dalam pikiran yang menimbulkan kekhawatiran itu sendiri. Menyebalkan, memang. Mau marah pun bingung, harus marah pada siapa. Sungguh sangat menyebalkan. Begitu menguras energi, menyita pikiran dan kerap menghabiskan banyak waktu. Menyusahkan. 


Khawatir akan hal-hal yang mungkin sebenarnya takkan pernah terjadi, hanya dibikin-bikin sendiri. Tidak berguna sebetulnya. Ah, kalau logika dan hati sedang berdamai bisa perlahan merasa santai, mencoba mengabaikan. Tapi sebaliknya, kalau keduanya sedang bertengkar, habislah sudah.. segala hal jadi rasanya tak karuan. Wassalam!

Beberapa waktu lalu, entah kebetulan atau tidak, dapat wejangan dari seseorang soal 3 sifat manusia. Manusia pertama, ketika dia berbuat baik kepada seseorang, maka ia pun mengharap feedback yang sama. Jika tidak, ia kecewa dan melakukan hal yang serupa. Contoh ini kebanyakan wanita. Manusia kedua, ia melakukan sesuatu sesukanya, tak perduli feedback apa yang orang lain berikan. Yang ini katanya kebanyakan pria. Nah, ini dia, manusia ketiga! Hampir mirip dengan yang kedua, hanya saja disini dia berbuat tanpa mengharap apa-apa, hanya berpegang tidak melanggar aturan dari Sang Maha Punya. Apapun yang orang katakan tentangnya, tak ia indahkan. Kalau bahasa kerennya, ‘no matter what they say’ lah gitu.

Jadi, sekarang masih terus belajar dan mencoba jadi tipikal manusia ketiga. Supaya hati tenang, hidup senang. Sedikit demi sedikit mengurangi segala rasa kekhawatirkan. Melupakan hal-hal yang sekiranya akan ‘merugikan’. Hanya menjalani yang ada kedepan. Berjalan dan terus berjalan.

Apapun solusinya, tentu saja tidak semudah yang dikatakan. Tetapi, jika dengan mencoba terus mengingatkan diri sendiri tentang betapa sedikitnya yang terjadi dari apa yang dikhawatirkan sepanjang hidup kita, Kita dapat mulai melepaskan lebih banyak rasa khawatir yang menggangu kehidupan kita dari pikiran. Terus belajar untuk merasakan hidup yang menyenangkan. Mencari apa yang sebenarnya hati ini inginkan. 
Berjalan dan terus belajar!


Don't worry, be happy! Cheers*



Pray more | Love strong | Smile & laugh often |
Worry less

Komentar

  1. terima kasih sudah diingatkan mbak, semoga kita bis amenjadi orang ketika itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin bun. Senantiasa berusaha diiringi doa ^^

      Hapus
  2. saya juga berdarah A mbak, memang kadang suka khawatir sendiri, tp biasanya khawatirnya karena belum menjalani sebuah step kita udah terlalu berimajinasi terhadap berbagai kemungkinan, terutama kemungkinan terburuk. Cara terbaik menghilangkan kekhawatiran itu ya jalani saja, ketakutan terbesar manusia hanya berada di pikirannya, tidak di dunia nyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas priyooo, akupun sering ngerasa gitu. Makanya ini belajar dan berusaha perlahan mengubah kebiasaan buruk yg satu itu. Semangat, A!
      :D

      Hapus
  3. perasaan vs pemikiran..
    hayoo menang siapa hehe

    ayoo belajar menjadi manusia yang ketiga, semoga dimudahkan Nya aamiin

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …