9 Desember 2013

Bergelut dengan Perasaan Khawatir

Pernah mengalami hal serupa? Semacam berperang dengan diri sendiri, dengan pemikiran sendiri, akan satu persatu perasaan khawatir yang berujung ketakutan berlebihan.

Katanya orang yang bergolongan darah A mempunyai tingkat rasa khawatir yang cukup tinggi, saya salah satunya. Panikan dan lain sebagainya. Saya sih tidak toh sepenuhnya percaya kalau sifat ini karena golongan darah, justru saya lebih berpikir kalau hal ini disebabkan cara berpikir atau keadaan yang ada. Situasional.  
Euh, cukup rumit rasanya. Serumit setiap skenario dalam pikiran yang menimbulkan kekhawatiran itu sendiri. Menyebalkan, memang. Mau marah pun bingung, harus marah pada siapa. Sungguh sangat menyebalkan. Begitu menguras energi, menyita pikiran dan kerap menghabiskan banyak waktu. Menyusahkan. 


Khawatir akan hal-hal yang mungkin sebenarnya takkan pernah terjadi, hanya dibikin-bikin sendiri. Tidak berguna sebetulnya. Ah, kalau logika dan hati sedang berdamai bisa perlahan merasa santai, mencoba mengabaikan. Tapi sebaliknya, kalau keduanya sedang bertengkar, habislah sudah.. segala hal jadi rasanya tak karuan. Wassalam!

Beberapa waktu lalu, entah kebetulan atau tidak, dapat wejangan dari seseorang soal 3 sifat manusia. Manusia pertama, ketika dia berbuat baik kepada seseorang, maka ia pun mengharap feedback yang sama. Jika tidak, ia kecewa dan melakukan hal yang serupa. Contoh ini kebanyakan wanita. Manusia kedua, ia melakukan sesuatu sesukanya, tak perduli feedback apa yang orang lain berikan. Yang ini katanya kebanyakan pria. Nah, ini dia, manusia ketiga! Hampir mirip dengan yang kedua, hanya saja disini dia berbuat tanpa mengharap apa-apa, hanya berpegang tidak melanggar aturan dari Sang Maha Punya. Apapun yang orang katakan tentangnya, tak ia indahkan. Kalau bahasa kerennya, ‘no matter what they say’ lah gitu.

Jadi, sekarang masih terus belajar dan mencoba jadi tipikal manusia ketiga. Supaya hati tenang, hidup senang. Sedikit demi sedikit mengurangi segala rasa kekhawatirkan. Melupakan hal-hal yang sekiranya akan ‘merugikan’. Hanya menjalani yang ada kedepan. Berjalan dan terus berjalan.

Apapun solusinya, tentu saja tidak semudah yang dikatakan. Tetapi, jika dengan mencoba terus mengingatkan diri sendiri tentang betapa sedikitnya yang terjadi dari apa yang dikhawatirkan sepanjang hidup kita, Kita dapat mulai melepaskan lebih banyak rasa khawatir yang menggangu kehidupan kita dari pikiran. Terus belajar untuk merasakan hidup yang menyenangkan. Mencari apa yang sebenarnya hati ini inginkan. 
Berjalan dan terus belajar!


Don't worry, be happy! Cheers*



Pray more | Love strong | Smile & laugh often |
Worry less

5 komentar:

  1. terima kasih sudah diingatkan mbak, semoga kita bis amenjadi orang ketika itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin bun. Senantiasa berusaha diiringi doa ^^

      Hapus
  2. saya juga berdarah A mbak, memang kadang suka khawatir sendiri, tp biasanya khawatirnya karena belum menjalani sebuah step kita udah terlalu berimajinasi terhadap berbagai kemungkinan, terutama kemungkinan terburuk. Cara terbaik menghilangkan kekhawatiran itu ya jalani saja, ketakutan terbesar manusia hanya berada di pikirannya, tidak di dunia nyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas priyooo, akupun sering ngerasa gitu. Makanya ini belajar dan berusaha perlahan mengubah kebiasaan buruk yg satu itu. Semangat, A!
      :D

      Hapus
  3. perasaan vs pemikiran..
    hayoo menang siapa hehe

    ayoo belajar menjadi manusia yang ketiga, semoga dimudahkan Nya aamiin

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...