Langsung ke konten utama

Perjuangan dalam Perjalanan untuk Pulang...



......Perjalanan akan membuatmu mengerti apa arti kata rumah dan pulang.


***

Lagu yang tersalur melalui earphone mengalun pelan dari list musik handphone saya, begitu mengena dengan suasana selama menemani perjalanan saya dari Jakarta menuju Surabaya.

Pemandangan indah melalui kaca jendela yang terlihat menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi setiap mata yang melewatinya. Pematang sawah yang terhampar hijau berpadu dengan langit biru menghasilkan nuansa yang begitu syahdunya. Sesekali waktu terbangun dan mendapati deburan ombak di lautan saat melewati jalur pantai utara. Lain waktu tersadar bahwa kereta sedang berada diatas rel yang dibawahnya merupakan sungai yang deras arusnya.

Ini perjalanan saya...

***

Saya termasuk orang yang senang berjalan, bagi saya berjalan layaknya memberikan suatu ketenangan juga kesenangan. Setiap orang pasti punya alasan untuk memulai sebuah perjalanan, mengunjungi suatu tempat, berpindah dari suatu keadaan ke suatu keadaan lainnya, atau definisi lain yang mungkin banyak macamnya. Saya tidak tahu apa alasan kebanyakan orang berjalan, tapi orang bijak bilang sebuah perjalanan akan mengajarkan pelakunya tentang makna yang sesungguhnya dari ‘rumah’ dan ‘pulang’. 

Perjalanan perdana saya lakukan beberapa tahun lalu untuk belajar di Ibu Kota dan sekaligus juga bekerja di salah satu kota Kawasan Industri Baja. Menumpuknya tugas kuliah disertai padatnya pekerjaan juga ternyata bukan hal yang gampang untuk dilaksanakan. Pengalaman pertama berpindah ke kota orang, jauh dari kenyamanan, jauh dari rasa aman, tanpa ada sanak saudara bahkan seorang kenalan disana awalnya sangat berat terasa. Tapi perlahan waktu mengajarkan segalanya. Menjadikan setiap waktu yang berlalu dan kejadian sebagai pengalaman. Sebagai pelajaran.

Perjalanan bukan hanya soal travelling, berlibur atau berjalan-jalan semata. Perjalanan bagi saya mempunyai banyak makna, terlebih tentang kehidupan dan segala ornamen didalamnya. Perjalanan perdana ini seolah jadi pintu awal dari begitu banyak hal yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Hobi travelling, mengunjungi satu demi satu kota ..mulai sebagian besar Pulau Jawa dari Barat, Tengah sampai Timurnya, menelisik keindahan Banten hingga ujungnya, Pulau Madura lewat Suramadu-nya, menyeberangi lautan untuk sampai di tanah Sumatera dan beberapa kota lainnya. Menjelajahi setiap inchi sudutnya, menikmati panorama alam budayanya, mencicipi makanan khasnya, mengamati keramahan penduduk didalamnya.. dan segala aneka macam pelajaran dan kesenangan yang hanya bisa kamu dapatkan dengan melakukan perjalanan. Setiap kota masing-masing memiliki ciri khasnya, memiliki makna tersendiri bagi setiap pengunjungnya.

Bulan kedua di tahun 2014 ini sudah terlewati lebih dari setengahya. Kalau menengok lagi ‘catatan perjalanan’ sebelumnya, banyak hal luar biasa yang sudah terlewati ternyata. Masa-masa tinggal dan berpindah dari satu kota ke kota lain rasanya ada asin ada manis dan pahit juga. Dan sekarang pun demikian, masih menunggu akan ditempatkan di kota mana kemudian berkenaan dengan pekerjaan. Lagi lagi harus melakukan perjalanan. Entah di sudut kota mana di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan mungkin Irian Jaya, syukur-syukur dapat di Pulau Jawa.. Entahlah.

Saya percaya bahwa Tuhan telah menakdirkan setiap orang untuk sebuah perjalanan. Perjalanan hidupnya masing-masing. Jika diibaratkan perjalanan itu seperti layaknya garis-garis tangan kita yang seperti peta, kita hanya perlu mengikutinya. Bagi sebagian orang sebuah perjalanan terkadang amat terjal dan berliku. Bagi sebagian lainnya perjalanan terkadang begitu amat terasa membosankan, sedang sisanya merasa itu merupakan hal yang harus dinikmati karena menyenangkan.

dan perihal..

pulang.

Sebuah kata yang mungkin tidak akan lama lagi menjadi keinginan. Sebuah kata yang selama ini terkatup rapat dalam dada. Belum ada rasa 'terlalu' untuk ingin segera pulang saat ini, tapi pada dasarnya setiap orang butuh pulang. Setiap orang butuh kembali ke sebuah tempat dimana ia ‘berasal’.

Mau bagaimana pun, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Rumah menjadi sesuatu hal yang banyak orang dambakan. Rindu pulang karena rindu percakapan sederhana dengan orang-orang didalamnya. Dan bagi saya, rumah adalah tempat berdiskusi yang menyenangkan. Tapi terkadang kita harus pergi menjauh meninggalkan orang tersayang untuk tau apa arti sesungguhnya dari rumah dan pulang. Bagi saya, rumah terbaik adalah tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman dan aman. Sebuah tempat dimana segala hal terasa selalu dirindukan.

Pulang, bukan berarti akhir. Ia adalah semacam labuhan. Dimana disana ada rindu panjang yang selama ini tertahan. Kamu ingin pulang untuk melepaskan segala rasa yang selama ini kamu tahan. Atau mungkin terkadang kamu ingin pulang, karena kamu terlanjur letih berjalan sendirian.

Ketika menuliskan ini ada sebuah pertanyaan besar di dalam hati bahwa, kapankah waktu yang tepat untuk pulang? 

Nanti..

Saat kedua orang tua sudah bangga bahwa gadis kecilnya kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang bertanggung jawab untuk membuat dirinya berguna.

Nanti..

Ketika saya sudah jadi 'siapa-siapa'.. 

Nanti..

Ketika sudah mejadi 'apa-apa'..

Nanti..

Ketika jalan yang benar menuntun saya menuju hal-hal yang besar.

Ketika perjalanan panjang penuh rintangan ini sudah bisa saya taklukan.

Nanti..

Belum sekarang...


Karena perjuangan sesungguhnya baru dimulai!





...and light will guide you home.



***

Tulisan ini diikutsertakan dalam #NubieTraveller Monthly Blog Competition bertema “Pulang” dari TravellersID

Komentar

  1. Terharu bacanya Nggi.
    Semoga apapun di depan sana yang mau diraih bisa diraih dengan sukses ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Masdan.

      Saling mengingatkan, selalu saling mendoakan juga yaa :')

      Hapus
  2. saya belum pernah merasakan merantau jauh2 sih,,, tetep semangat mb Anggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mbak suci lebih seneng di kota asal terus ya hehe semangat selalu :)

      Hapus
  3. untuk di hargai dan di banggakan tidak perlu menjadi siapa siapa cukup jadi dirimu sendiri,,dannn...tersenyumlah dalam setiap langkahmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan menjadi siapa-siapa, tetap jadi sendiri tapi jadi 'siapa-siapa' di kemudian hari mas.
      Tetap semangat dan lakukan yang terbaik! :D

      Hapus
  4. Selalu berharap ketika menemukan jalan pulang, kedua orang tua kita di sana sedang menanti dengan rasa kerinduan. Semoga mereka senantiasa sehat wal a'fiat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Pak. Selalu jadi doa utama kalo soal hal yang satu itu :)

      Hapus
  5. selamat bertualang mbak. semoga saat pulang nanti adl saat yg membahagiakan.

    BalasHapus
  6. Dan kini "perjuangan" sedang berjalan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan akan terus berjalan selama kaki belum lelah melangkah :)

      Hapus
  7. Perjalanan memang masih panjang... selama nafas masih ada selama itu juga perjalanan kita untuk mendapatka bekal untuk pulang nanti,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjalanan = bekal untuk pulang :)

      Terima kasih juga sudah mengingatkan mas.

      Hapus
  8. You're still young Anggi, and great journey is waiting for you. Sukses buat semuanya, Nggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih tetehhhh :)

      Sukses juga buat launching buku barunya, kereeeen!

      Hapus
  9. masih sibuk jalan2 neng?
    perjalanan membuatmu mengerti apa arti kata rumah dan pulang, what a genius quote...

    BalasHapus
  10. jangan menunda pulang hanya untuk membuktikan kita sudah jadi siapa, saat kita pulang, kita adalah anak yang sama yang kembali ke pangkuan orang tuanya

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …