Langsung ke konten utama

Bandung, Taman Pasupati dan Teman yang Menyebalkan

Cerita yang bersamaan ditulis oleh Yudith Tri Susetio...


Selama diberi kesempatan 12 hari berlibur kemarin di Bandung, ada begitu banyak tempat yang saya datangi rasanya. Beberapa ada yang saya lalui dengan hanya sekedar berjalan-jalan sendirian berkeliling dan sejenisnya, beberapa ada pula yang saya lewati dengan bertemu teman-teman dan sahabat terdekat.

Berawal dari pembicaraan panjang via whatsapp ketika saya masih menjalani pendidikan di Pandaan. Entah kenapa saya selalu merasa bersalah ketika chatting dengan orang satu ini, seorang sahabat kecil luar biasa yang selalu mengaku dirinya masih berusia 17 tahun, karena saya masih berhutang sebuah kado di ulang tahunnya tahun lalu juga sebuah oleh-oleh dari Jogja yang saya beli saat event Blogger Nusantara dan sekarang entah berada dimana. Kami berjanji untuk meluangkan satu hari ketika saya berlibur, dia akan datang ke kota Kembang, disamping 'jadwal padatnya' menyelesaikan banyak tugas kuliah dan pekerjaan. Tentu, tidak lupa dengan sepeda yang selalu setia ia bawa kemana-mana.


Sabtu malam dia berangkat dari Ibu Kota, meninggalkan pesan di whatsapp dan menentukan waktu serta tempat kami akan bertemu keesokan harinya. Pukul 06.00 di Car Free Day Dago. Tapi sayangnya pas hari H saya terlambat bangun dan akhirnya baru sampai di lokasi sekitar jam 9 hehe, maklum malam sebelumnya habis bertemu teman-teman kuliah sekaligus teman SMA dan terus lupa waktu menghabiskan segelas kopi hingga lewat tengah malam. Kebiasaan.

Tidak banyak hal yang berubah dari Bandung sebetulnya, diluar aneka terobosan baru yang diluncurkan Ridwan Kamil ya, Bandung tetap Bandung.. yang dijadikan selingkuhan orang kota-kota tetangga untuk menghabiskan akhir pekan terutama libur panjang. Tetap Bandung yang macet dan dipenuhi 'penghuni-penghuni' asing yang menurut saya tidak seramah penduduk aslinya. Tetap Bandung dengan udara asrinya dan akan selalu saya rindukan untuk bisa menjalani hari-hari didalamnya.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam perjalanan dari rumah, akhirnya saya sampai di Dukomsel, tempat dimana akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Dari sana kami berjalan menyusuri jalan Juanda yang riuh ramai untuk mencari makan sekitar jalan Ganesha hingga akhirnya tetap saja makan di Gelap Nyawang ITB.

Seporsi nasi goreng keju kornet dan nasi ayam menjadi makanan pembuka kami sekaligus pembuka pembicaraan panjang tentang cerita kami masing-masing seharian di hari itu. Saya bercerita banyak soal pendidikan yang dari Desember tahun lalu sedang saya jalani. Dan dia, bercerita banyak soal seorang wanita-yang-tidak-boleh-saya-sebut-namanya. Dia sedang jatuh cinta..


Sosok ayam kecil yang sedari dulu kerap jadi teman saya berkeluh kesah sekarang sudah berani bicara soal cinta, soal aneka macam kesedihan yang ditimbulkan karenanya. Aih, lucu rasanya. Selama berteman hampir 6 tahun, kami jarang atau bahkan tidak pernah rasanya berbicara soal hal-hal ini. Dan dia galau sejadi-jadinya. Pembicaraan panjang itu saya potong dengan memberikan sebuah buku yang menurut saya bagus berjudul 'Pulang' karya Leila S Chudori sebagai kado ulang tahun yang tertunda.

Taman Pasupati atau Taman Jomblo, taman yang heboh beberapa waktu lalu ini di Bandung karena sebutannya, menjadi tempat kami berdua untuk nostalgia. Dia bercerita banyak juga soal kuliahnya di FE UI yang sepertinya akan terlambat, tentang nilainya yang harus diulang, tentang ibu, tentang piwi adiknya dan tentang banyak hal.





Ditengah kemacetan Jembatan Pasupati yang disesaki mobil ber-plat B juga hujan besar yang datang, taman Pasupati siang itu kian ramai oleh para pengguna sepeda motor yang berteduh. Ada beberapa komunitas juga yang berkumpul, para pecinta reptil salah satunya.

Banyak yang saya ingat tentang teman yang satu ini. Saat kuliah dulu, kami berdua kerap dijuluki penjaga perpustakaan karena saking seringnya berdiam di perpustakaan untuk mengerjakan Tugas Akhir. Teman yang baik juga sekaligus yang paling menyebalkan karena sifatnya kerap kekanak-kanakan. Teman yang setiap tersenyum selalu terlihat dipaksakan, entah apa dan kenapa tapi sepertinya ada banyak hal yang dia simpan sendirian. Teman yang selalu memperlihatkan semangat dan perjuangan untuk setiap apa yang dia ingin dan dia cita-citakan. 


Semangat selalu ayam kecil! Banyak hal indah yang terbentang, ada dua orang wanita cantik yang harus kamu jaga dan bahagiakan. Tetap menjadi yudith dulu ya, yudith yang umurnya setiap tahun terus bertambah tapi selalu merasa tujuh belasan haha! Sampai ketemu dilain kesempatan. Janji ya, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, kita bertukar kisah yang menyenangkan saja ya.. Cheer up!




Taman Pasupati, Bandung
..bersama ayam kecil yang sedang menyebalkan.


thank you bukunya, btw ^^

Komentar

  1. sekarang bandung tiap weekend tumplek orang jakarta ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa bunda, macetnya udah ga ketulungan hehe

      Hapus
  2. Anggi, dari wajahnya sih emang iya. Kayak gak bisa senyum ikhlas, ya. Hahaha

    Kalau dibarengi jalan, nostalgianya sampai Belanda, ya?. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah emang gitu dia mbak. Nostalgianya dari ujung timur sampai utara mbak hihi :D

      Hapus
  3. pengen nyobain taman2 di Bandung, ah

    BalasHapus
  4. sayang pas kemaren ke bandung taman ini blm jadi :"(

    BalasHapus
  5. sekarang bukan di jakarta saja yang amcet, di bandung juga tidak kalah macetnya :)

    BalasHapus
  6. Beberapa tempat wisata yang saya sukai seperti.

    - wisata jogja

    - wisata semarang

    - wisata lembang

    - wisata bali

    Menjadi daya tarik sendiri untuk menikmati alam indahnya indonesia.

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …