Langsung ke konten utama

Raja Ampat, Identitas Wonderful Indonesia di Mata Dunia

Bicara soal Indonesia, terutama sektor pariwisata, takkan pernah ada habis rasanya. Bicara soal segala keindahan alam yang dimilikinya, tiba-tiba pikiran saya terbang ke beberapa bulan yang lalu ketika saya membaca sebuah buku berjudul ‘Ring of Fire – Indonesia Dalam Lingkaran Api’. Sebuah buku yang ditulis oleh Lawrence Blair yang menjelajahi berbagai pulau di Indonesia selama 10 tahun lamanya bersama sang adik, Lorne Blair.

Dalam buku ini disebutkan bahwa kekayaan alam Indonesia merupakan pendorong perubahan peradaban bangsa-bangsa di benua Eropa, dari jaman Renaisance hingga ke jaman revolusi industri. Legenda mengenai burung Phoenix yang terkenal dari bangsa Tionghoa bahkan juga ada dalam cerita Harry Potter, berasal dari burung cantik yang ada di kepulauan Indonesia, burung Cendrawasih dari Papua. Beberapa kehidupan di Indonesia bahkan menginspirasi bermunculannya film-film yang mendunia dan mencapai box office. Film Kingkong dan film Avatar katanya terinspirasi dari kehidupan penduduk di pulau Komodo dan kehidupan suku Punan Nomaden di Kalimantan.

Berpetualang dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, melihat gunung api di pulau Banda hingga mengarungi lautan bagian Timur Indonesia menggunakan kapal phinisi berlayar tinggi untuk melihat suku-suku pedalaman, melihat indahnya keanekaragaman Indonesia. Juga untuk mewujudkan mimpi mereka untuk dapat menemukan burung kuning besar yang memukau masyarakat Eropa, di ujung timur Indonesia, di Papua.

Menjejaki tanah-tanah terasing, melintasi ribuan kilometer dari perjalanan beresiko tinggi, mendengar suara alam dan melihat hal-hal yang belum terjamah seutuhnya. Membayangkan kisah cara hidup, adat, kebiasaan, sikap dan perilaku manusia terhadap sekitar yang begitu menarik untuk terus disimak. Membaca buku ini serasa dibawa berpetualang ke negeri impian nan eksotis, negeri yang elok dan penuh keragaman budaya. Dan sejenak saya terlupa, bahwa apa yang mereka tulis itu tentang tempat dimana sekarang saya berada, tentang Indonesia, salah satunya tentang Papua dan aneka keindahan yang ada didalamnya. 


RAJA AMPAT, SURGA DIVING MILIK INDONESIA YANG MENDUNIA

Seluruh pecinta wisata bawah laut di seluruh dunia sedang mengagungkan tempat satu ini. Begitu banyak dari mereka yang berbondong-bondong kemari untuk menikmati pemandangan bawah laut terbaik di dunia yang ada dimiliki Indonesia, di Papua. Ya, Raja Ampat! Konon, Raja Ampat atau ‘Empat Raja’ ini nama yang diberikan masyarakat setempat dan berasal dari mitos lokal.

Ternyata jika dilihat dari peta, posisi Raja Ampat biasa disebut sebagai Kepala Burung Papua dengan luas wilayah 46.108 kilometer persegi, dan hampir 80 persen wilayahnya merupakan laut. Jika bicara soal pantai, definisi saya adalah pasir putih yang berkilauan saat sinar matahari menyinarinya, air laut yang sebening Kristal, bergradasi warna dari biru muda, hijau tosca hingga biru tua yang menandakan kedalamannya. Oya, jangan lupa tambahkan pemandangan horizon tanpa batas antara laut dan langit kebiruan dengan awan putih sebagai hiasannya. Konon seperti itulah Raja Ampat.


Menikmati keindahan Raja Ampat dari tulisan-tulisan berbagai media membuat imajinasi tiap orang yang membacanya akan mengawang-awang. Membayangkan menyelam di bawah lautnya yang paling indah. Menjelajahi dinding bawah laut yang vertical. Seolah turut merasakan debaran detak jantung saat terombang-ambing arus laut. Juga, merasakan takjubnya menyaksikan kekayaan biota laut yang telah digadang sebagai perpustakaan hidup dari koleksi terumbu karang dan biota laut paling beragam di dunia. Ya, katanya disinilah rumah bagi 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan serta 700 moluska. 

Katanya, pertama kali menginjakkan kaki di Raja Ampat, orang akan merasakan dunia seakan berhenti berputar atau entah waktu yang tiba-tiba bergerak 10 kali lebih lambat dari biasanya. Antara takjub, haru, dan syukur akan terpanjat melihat lukisan Tuhan yang satu ini. Raja Ampat seolah jadi gambaran Tuhan akan serpihan kecil keindahan surga. Raja Ampat, salah satu maha karya Tuhan yang luar biasa.

Gambaran akan Raja Ampat melalui berbagai tulisan sangat membuat orang yang membacanya kian iri. Bagaimana mereka kebingungan untuk menggambarkan air laut yang seolah berwarna hijau atau biru muda karena sulit didefinisikan saking beningnya. Entah bagaimana rasanya jika saat menyelam seekor ikan dugong menghampiri seolah mengajak berenang besama. Atau bagaimana lucunya seekor kuda laut kecil mendekati tangan kita seperti mengajak bermain. Atau juga bagaimana mengagumkannya menlihat ikan-ikan hilir mudik seolah menjaga wilayahnya. Belum lagi jika beruntung bisa berjumpa penyu laut yang konon bisa berusia sampai 150 tahun lamanya. Tidak ada kata lain memang inilah Raja Ampat, inilah surga keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini.

SORONG. Titik awal bagi siapapun yang menuju taman laut Raja Ampat, Sorong terkenal sebagai salah satu kota deengan atribut peninggalan sejarah Heritage Nederlands Neuw Guinea Maschcapeij (NNGPM) atau kota yang penuh dengan warisan peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak Belanda. Dibandingkan dengan kota-kota lain di Papua, sorong adalah kota yang berkembang paling pesat dan dinamis. Disini pengunjung dapat menggunakan taksi, mobil sewaan, dan becak untuk berkeliling di kota Sorong.


PULAU MISOOL. Ada pulau Misool yang merupakan satu dari empat pulau terbesar di Raja Ampat, pulau yang berbatasan langsung dengan Laut Seram dan perairan laut lepas ini menjadi jalur lintas hewan besar termasuk paus. Bukan hanya kekayaan dan keindahan alam, Pulau Misool juga memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat dari masyarakat lokalnya. Peninggalan sejarah berupa lukisan di dinding-dinding gua juga dapat ditemukan di kawasan ini. Akan butuh banyak waktu untuk menjelajah tempat-tempat indah di kawasan yang masih alami dan sangat kaya ini.


WAYAG. Kepulauan Wayag terletak persis di coral triangle Asia Pasifik. Saking indahnya, bahkan sulit sekali mendefinisikan tempat ini dengan mengurai kata. Perairannya yang dangkal dan pulau-pulaunya yang kecil tapi menjulang seperti berlalu di outlet-outlet batu. Pasirnya putih, bersih seperti butiran gula pasir. Airnya tenang, setenang awan putih di langit yang biru di bulan Oktober. Tak jauh dari bibir pantai, terumbu karang seperti resort peristirahatan bagi ratusan ikan hias kecil yang hanya ditemui di aquarium hotel bintang lima.Lapisan demi lapisan warna laut tak perlu jauh dicari, karena Kepulauan Wayag muncul di muka bumi bagaikan miniatur Kepulauan Raja Ampat secara keseluruhan. Dan untuk menikmati Wayag seutuhnya pengunjung wajib untuk menyaksikannya dari puncak pulau tertinggi Wayag dengan perjuangan menaiki karang pulau karst dengan bayaran sepadan tentunya.


Ada peninggalan masyarakat kuno perairan yang sudah mengarungi celah-celah sempit dan lautan luas Raja Ampat sejak dahulu. Kebiasaannya dalam memperlakukan jenazah, sama seperti di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, atau sedikit seperti di Desa Trunyan, Bali. Jenazah disimpan di celah-celah karang, dan tengkorak bersama tulang belulangnya. Disimpan pula beberapa wadah seperti piring dan mangkuk yang berisi makanan yang disukai jenazah tersebut semasa hidupnya.Tak ada bau yang menyengat di sekitarnya.Garis-garis yang nampak di dinding karang tempat terletaknya tengkorak yang putih menjadi teka-teki, apakah alam atau selainnya yang menyebabkan gerusan itu.

TRADISI PENDUDUK & KEARIFAN LOKAL

Kondisi alam Raja Ampat sangat unik dan berbeda karena memiliki struktur tanah endemik, keanekaragaman biota laut, ekologi pantai, serta kebudayaan. Keindahan ini sempurna bersama tradisi penduduk dan kearifan lokalnya. 

Ada pertunjukan suling bambu tradisional atau disebut suling tambur di bagian Barat dan Utara Waigeo yang biasa diadakan pada festival keagamaan, Hari Kemerdekaan Indonesia dan saat ada kunjungan pejabat atau pemimpin penting. Di Tomolol, ada juga tarian perang berangkat dari sejarah masa Perang Dunia II. Hal lain ditawarkan dari Waigeo Selatan, tempat favorit penggemar diving ini ada tari Salay di Saonek, dapat melihat berbagai jenis burung di Desa Yenwaupnor dan Sawinggrai, serta menyaksikan pembuatan anyaman di Arborek. Oya, katanya Raja Ampat sedang diusulkan menjadi satu dari tujuh kawasan sebagai global geopark UNESCO.


***
Banyak yang bilang kalau lensa kamera dapat membekukan kenangan, waktu, kejadian atau apapun agar dapat terus diingat, agar tidak akan terlupa. Selama masih bisa, saya pun akan terus merekam apa yang terhampar di hadapan mata. Namun, saya yang saya tahu kamera hanya perwakilan mata. Satu frame untuk sebuah peristiwa. Satu frame untuk secercah keindahan alam yang indahnya jauh melebihi sudut mata. Memang, terkadang sebuah foto dapat memikat hati siapa saja yang melihatnya, membuat decak kagum penikmatnya, tapi melihat seluruh peristiwa atau keindahan tersebut secara langsung, bergerak bersamanya, menghirup udaranya, mendengar aneka suara dan bunyinya, akan terasa berkali-kali jauh lebih indah. Semoga suatu saat nanti saya bisa berada disana, di puncak tertinggi Wayag, untuk menikmati Raja Ampat seutuhnya.




*) Sungguh bangga rasanya menjadi warga negara Indonesia, semua keindahan serta potensi alam yang mungkin tidak dapat terdefinisikan dengan kata-kata. Hanya bisa memejamkan mata, menghela nafas panjang, tersenyum dan membuka mata sambil berkata ..damn, I Love INDONESIA!

Komentar

  1. Subhanallah bagus banget ya raja ampat

    BalasHapus
  2. keren euy. iya tah mbak, penyu bisa sampe 150 taun? tuwir dong. semoga kesampean bisa ksna mbak :)))

    BalasHapus
  3. amboi... indah nian. semoga kesampaian deh ke Raja Ampat... http://fajarmuchtar.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. Raja ampat, syurga dunia ya, Gis.
    Moga menang, ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indah banget ya dah, makanya disebut begitu juga :)

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …