29 Juni 2015

Apalah Arti 'Sebutan'

Segan rasanya ketika ada yang menyebut dengan sebutan 'Traveler', karena memang masih kelewat jauuuuuh dari kata itu. Saya hanya orang hobi menulis yang gemar jalan-jalan, gitu sih kurang lebih tepatnya. Lebih suka menelusuri tempat-tempat berbau alam dibandingkan harus berkeliling mall atau duduk di kursi bioskop berjam-jam. Lebih suka menjelajah kota dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih suka memasuki museum. Lebih suka menuliskan cerita perjalanan dan hal sejenisnya.

Saat kemarin diminta interview dari redaksi detik untuk ditampilkan profile sebagai #dNewGeneration-nya detikTravel, rasanya masih segan dan kikuk aja sih. Diluar sana banyak sekali para pejalan yang keren luar biasa, udah menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Marauke-nya, dari Asia sampai pelosok-pelosok Benua lainnya. Saya? Masih nol kecil rasanya. Walaupun sempet kaget hasilnya jauh dari bayangan karena judulnya yang kelewat kontroversial 'Kisah Anggi, Hijab Traveler dari Bangka!' dari Bangka banget, sist? haha ini juga sih yang bikin tiba-tiba sosmed dipenuhi capture-an temen-temen yang nyindirin, sampai bos dan orang kantor pada tau soal ini duluan pas beritanya dimuat. Glek. Saya asli Bandung kok, serius!




Tapi mau gimanapun saya tetep ngerasa seneng kok, merasa diapresiasi, walaupun sempet denger obrolan satu dua orang yang mungkin kurang berkenan dengan berita itu. Secara pekerjaan, hobi saya ini jauh sekali memang, tapi dulu sempat rasanya terpikirkan untuk jadi travel writer, ala ala penulis berita di media gitu. Entah kenapa, tapi rasanya keren aja, wah. Walaupun akhirnya takdir berkehendak lain, ceilaah.

Kembali ke awalnya sih ya, saya nggak berani men-judge diri sebagai travel writer, apalagi traveler. Enggak. Lagi pula apasih arti sebuah 'sebutan'. Saya hanya sedang senang berjalan. Sedang senang secara diam-diam belajar, bertanya, dan meresapi makna perjalanan. Dan kemudian menuliskannya. Supaya suatu hari nanti saya bisa membacanya kembali, atau bisa jadi saat saya ingin bernostalgia masa-masa muda, mengingat lupa menjadi salah satu hobi saya sejak lama. Itu saja.

Dari pengalaman, berjalan mengajarkan saya bahwa tradisi bukanlah ritual belaka. Di tiap-tiap kisah dan sejarah selalu terselip doa untuk pencipta jagad raya. Ia membuat siapa saja yang melakukannya terkesima saking takjubnya. Karena mereka bilang, berjalan bukan hanya perkara mendatangi tempat-tempat yang indah, ia mengajarkan pelakunya arti hakiki dari hidup itu sendiri.



Pangkalpinang, menjelang tengah malam..
Akhir Juni menuju Juli!




10 komentar:

  1. jangan hiraukan yang gak suka :) tetap menulis

    BalasHapus
  2. Hai Traveler! Hihihi

    Santai saja, Nggi. Nikmatin saja apa yang kamu suka. ;)

    BalasHapus
  3. yang penting kita menikmati apa yang kita lakukan :)

    BalasHapus
  4. Bijaksana sekali Anggi :) selamat ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan bijak, okta. cuma mengungkapkan isi hati aja *jiaaa :D

      Hapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...