Langsung ke konten utama

Apalah Arti 'Sebutan'

Segan rasanya ketika ada yang menyebut dengan sebutan 'Traveler', karena memang masih kelewat jauuuuuh dari kata itu. Saya hanya orang hobi menulis yang gemar jalan-jalan, gitu sih kurang lebih tepatnya. Lebih suka menelusuri tempat-tempat berbau alam dibandingkan harus berkeliling mall atau duduk di kursi bioskop berjam-jam. Lebih suka menjelajah kota dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih suka memasuki museum. Lebih suka menuliskan cerita perjalanan dan hal sejenisnya.

Saat kemarin diminta interview dari redaksi detik untuk ditampilkan profile sebagai #dNewGeneration-nya detikTravel, rasanya masih segan dan kikuk aja sih. Diluar sana banyak sekali para pejalan yang keren luar biasa, udah menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Marauke-nya, dari Asia sampai pelosok-pelosok Benua lainnya. Saya? Masih nol kecil rasanya. Walaupun sempet kaget hasilnya jauh dari bayangan karena judulnya yang kelewat kontroversial 'Kisah Anggi, Hijab Traveler dari Bangka!' dari Bangka banget, sist? haha ini juga sih yang bikin tiba-tiba sosmed dipenuhi capture-an temen-temen yang nyindirin, sampai bos dan orang kantor pada tau soal ini duluan pas beritanya dimuat. Glek. Saya asli Bandung kok, serius!




Tapi mau gimanapun saya tetep ngerasa seneng kok, merasa diapresiasi, walaupun sempet denger obrolan satu dua orang yang mungkin kurang berkenan dengan berita itu. Secara pekerjaan, hobi saya ini jauh sekali memang, tapi dulu sempat rasanya terpikirkan untuk jadi travel writer, ala ala penulis berita di media gitu. Entah kenapa, tapi rasanya keren aja, wah. Walaupun akhirnya takdir berkehendak lain, ceilaah.

Kembali ke awalnya sih ya, saya nggak berani men-judge diri sebagai travel writer, apalagi traveler. Enggak. Lagi pula apasih arti sebuah 'sebutan'. Saya hanya sedang senang berjalan. Sedang senang secara diam-diam belajar, bertanya, dan meresapi makna perjalanan. Dan kemudian menuliskannya. Supaya suatu hari nanti saya bisa membacanya kembali, atau bisa jadi saat saya ingin bernostalgia masa-masa muda, mengingat lupa menjadi salah satu hobi saya sejak lama. Itu saja.

Dari pengalaman, berjalan mengajarkan saya bahwa tradisi bukanlah ritual belaka. Di tiap-tiap kisah dan sejarah selalu terselip doa untuk pencipta jagad raya. Ia membuat siapa saja yang melakukannya terkesima saking takjubnya. Karena mereka bilang, berjalan bukan hanya perkara mendatangi tempat-tempat yang indah, ia mengajarkan pelakunya arti hakiki dari hidup itu sendiri.



Pangkalpinang, menjelang tengah malam..
Akhir Juni menuju Juli!




Komentar

  1. jangan hiraukan yang gak suka :) tetap menulis

    BalasHapus
  2. Hai Traveler! Hihihi

    Santai saja, Nggi. Nikmatin saja apa yang kamu suka. ;)

    BalasHapus
  3. yang penting kita menikmati apa yang kita lakukan :)

    BalasHapus
  4. Bijaksana sekali Anggi :) selamat ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan bijak, okta. cuma mengungkapkan isi hati aja *jiaaa :D

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …