Langsung ke konten utama

Satu Cita, Sejuta Harap untuk Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba

Mendengar kata narkoba rasanya bukan suatu hal yang asing lagi ditelinga kita. Dan kini Indonesia sedang mengalami darurat narkoba, dimana penyalahgunaan narkoba jumlahnya kian meningkat dari tahun ke tahun. Yang membuat lebih menyesakkan lagi, bukan hanya orang dewasa ataupun remaja, pengguna obat terlarang ini juga sudah merambah sampai tingkat pelajar sekolah dasar. Miris. 

Narkoba merupakan masalah moral hidup. Menurut saya, jika dibandingkan ada dua orang berbeda hidup dalam lingkungan yang sama. Sebut saja mereka A dan B. A merupakan anak yang tergolong nakal, lingkungan keluarganya kurang berpendidikan juga lingkungan pertemanannya yang dekat sekali dengan nuansa dunia malam dengan narkoba, alkohol dan seks bebasnya. Sedangkan B merupakan anak yang baik, keluarganya terpandang dan berpendidikan, kekayaan juga bukan masalah baginya. Pasti kebanyakan berpikir bahwa A pasti ikut terjerumus menggunakan narkoba dan hal negative lainnya, kan? Tapi bagaimana jika ternyata justru si B inilah yang terjerumus pergaulan bebas ini? Bagaimana pun, hidup ini pilihan. A atau B sama-sama punya pilihan mana yang mau ia ambil dalam hidupnya. Dan menggunakan narkoba itu juga pilihan

Untuk memerangi narkoba jelas dibutuhkan kerjasama semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, kampus dan lingkungan masyarakat. Sejak dini, di dalam lingkungan keluarga perlu memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahayanya penggunaan narkoba. Hal ini jelas penting supaya anak-anak paham dan tidak terjerumus hingga mencoba narkoba. Keluarga juga harus menjadi tempat yang mendukung dan aman bagi anak-anak supaya bisa bertumbuh kembang dengan baik. 


Sekolah dan kampus sebagai awal lingkungan dalam keseharian perlu memberikan pendidikan nilai dan spiritulitas yang memadai agar para peserta dididik belajar menjadi pribadi-pribadi cerdas dan menjauhi hal negatif yang merugikan dirinya sendiri kemudian hari. Pun masyarakat mulai dari lingkup terkecil, perlu menerapkan wilayahnya sebagai area bebas narkoba. Tingkat awareness tiap masyarakat dalam hal ini perlu ditingkatnya dalam kehidupan bermasyarakatnya.

BNN dengan beberapa Lembaga lain, diantaranya Kementrian Kesehatan dan Kementrian Sosial, sudah mencanangkan gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba pada tahun 2015 ini. Angka ini merupakan target minimal yang harus dilakukan oleh BNN untuk dapat membantu para pecandu narkotika ini hingga sembuh. 100.000 bukan angka yang kecil memang, untuk ini BNN menggandeng seluruh instansi pemerintah maupun masyarakat yang memiliki fasilitas rehabilitasi untuk dapat diberdayakan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Mencegah penyalahgunaan narkoba memang menjadi ‘PR’ penting bagi kita semua terutama BNN khususnya. Akan tetapi, mengobati juga merupakan gerakan yang tidak kalah pentingnya dalam hal ini. Upaya untuk merabilitasi para pengguna narkotika ini bisa jadi salah satu solusi untuk membantu dan menyelamatkan mereka yang sudah terjerumus agar tidak semakin terjerembab lebih dalam. 

Memang diperlukan effort yang sangat besar untuk menyukseskan gerakan rehabilitasi 100.000 penyalahgunaan narkoba ini. Tantangan dan hambatan didepanpun pasti sudah siap membentang didepan jalan, tapi ini bukan kendala utama, jika niat baik apapun halangannya pasti akan diberikan jalan keluar terbaik oleh yang Maha Kuasa.

Untuk itu suksesnya gerakan ini tidak lepas dari peran serta para pemuda serta masyarakat Indonesia semuanya. Pandangan umum kita pada para penguna narkoba biasanya cenderung langsung menilai dari sisi negatifnya. Nah, sudut pandang ini harus terlebih dahulu dirubah. Setiap orang punya cerita tersendiri, mungkin begitupun dengan para pengguna narkoba ini, mencoba memahami dan memposisikan diri jadi tugas tiap individu dalam hal ini.

Ketika kita menjumpai ada keluarga, teman, kerabat, ataupun orang diluar sana yang ternyata pengguna narkoba, hal pertama yang harus dilakukan adalah ‘membantu’-nya untuk perlahan-lahan sadar dan menjauhi barang terlarang tersebut. Membantu disini bisa didefinisikan dalam banyak hal, bisa dalam bentuk bantuan support, semangat, terutama doa. Dengan begitu diharapkan para penyalahguna ini dapat menyadari bahwa ia telah keliru menggunakan obat-obatan terlarang tersebut dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti program rehabilitasi.

Seperti kita tahu bahwa hukuman bagi para pengguna terutama pengedar narkotika sangat berat hukumannya. Denda minimal 500 juta rupiah, 2 tahun kurungan penjara bahkan hingga hukuman mati sudah kerap kita dengar dalam liputan berita beberapa tahun belakang ini di media-media Indonesia baik cetak maupun online. Tapi sesungguhnya rehabilitasi total bagi para pengguna narkoba ini juga bisa jadi hukuman yang lebih penting daripada sekedar hukuman penjara. Karena ternyata lingkungan penjara sekarang ini juga tidak aman. Banyak kasus-kasus yang ditemui seperti jual beli narkoba justru banyak terjadi dibalik teruli besi ini.

Sekali lagi, karena sebaik-baiknya mengobati, proses pencegahan jauh lebih baik...

Proses rehabilitasi yang dilakukan oleh BNN juga tidak hanya berhenti sampai dengan disitu saja. Ada Rumah Dampingan yang merupakan fasilitas yang disediakan BNN sebagai program kelanjutan dari Direktorat Pasca rehabilitasi bagi para mantan penyalaghuna narkoba yang sudah menjalani rehabilitasi primer. Hal ini juga merupakan tindakan pencegahan yang dilakukan agar para mantan penyalahguna ini tidak kembali lagi kambuh dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Tidak hanya itu, pada program Rumah Dampingan ini juga berfokus agar para mantan penyalahguna ini dapat hidup dengan lebih mandiri dan siap kembali ke lingkungan keluarga serta masyarakat umum.

Jadi, yuk sama-sama dukung dan sukseskan program Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba untuk Indonesia Sehat Tanpa Narkoba dimasa depan! *)



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba yang diselenggarakan oleh BNN Aceh.



Sumber referensi : www.bnnpaceh.com
                                 www.bnn.go.id

Komentar

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …