12 Juli 2015

Pernikahan Sesama Jenis? Yay or Nay?

Semenjak berita soal pernikahan sesama jenis yang sudah sah dilegalkan beberapa waktu yang lalu ini.. Sempat ada perdebatan panjang dengan beberapa teman soal pernikahan sesama jenis yang saat ini sudah dilegalkan di Negara Amerika sana. Well, everybody have their own reason...

Memperdebatkan hal ini juga nggak akan ada ujungnya. Setiap pihak yang pro maupun yang kontra pasti mempunyai pemikirannya tersendiri. Dan saya sudah bosan melihat perbedaan pendapat sebagai ajang pembuktian siapa yang paling benar dan siapa yang kurang benar, mana yang hitam mana yang putih. Seiring berjalannya waktu saya rasa makna benar dan salah kian memburam. Sebuah bipolar yang tidak memliki titik temu.

Beberapa yang pro pasti menyatakan bahwa legalisasi pernikahan sesama jenis ini membuktikan kekuatan cinta, Love wins katanya. Berdasarkan kacamata pandang dari Segi Amerika Serikat yang notabene sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan, bagaimanapun, hak dasar akan penyatuan cinta ini wajib untuk dijamin oleh negara. Dan setelah hal ini terjadi, pelangi ada dimana-mana sebagai simbol kemenangan cinta, avatar media-media sosial penuh garis warna merah, jingga, kuning, hijau, biru tua, dan ungu. Anehnya kenapa baru saat ini ya heboh sekali dengan pelegalan pernikahan sesama jenis, padahal hampir 15 tahun yang lalu Belanda sudah melegalkan jenis pernikahan ini. Mungkin banyak yang lupa. Mungkin.

Bagi saya pribadi pernikahan sesama jenis dengan alasan apapun tidak bisa dibenarkan, terutama ditilik dari segi agama. Tidak hanya Islam saya rasa, agama manapun akan menentang pernikahan sesama jenis. Kalau secara kehidupan sosial dan tanpa mengindahkan diskriminasi juga diluar aturan agama, setiap orang memang mempunyai hak untuk memilih, untuk menentukan keputusan, untuk hidup. Mungkin saat ini hanya di US sana yang diperbolehkan, orang Indonesia biasanya latah, salah-salah nggak lama lagi bakal ada 'komunitas' atau hal sejenis yang menuntut hal yang sama di Indonesia. Biasanya sih gitu. Entahlah, jangan sampai ya, Naudzubillahhimindzalik.

Sederhananya, saya meyakini bahwa hal ini adalah sesuatu yang melampaui batas dan apapun itu, sesuatu yang melampaui batas bukanlah sesuatu yang akan berujung baik. Saya percaya ada batas-batas yang tidak bisa bahkan tidak boleh dilampaui bahkan dengan alasan cinta sekalipun.

Dari perbincangan dengan beberapa teman kemarin sih walaupun pembahasannya berputar pada hal-hal itulah saja, setidaknya menambah ilmu, pengetahuan dan perspektif baru bagi saya sendiri. Pendapat sudah semestinya memang disertai dengan proses penyampaian yang baik pula. Dalam diskusi kita memang harus berhati-hati, banyak membaca dan pandai-pandai memilih kata serta cara yang tepat untuk menyampaikan maksud kita. Bukan sampai akhirnya ngotot-ngototan cari pembenaran untuk jadi yang paling benar, bukan.

Jadi, saya rasa mungkin kita perlu untuk merefleksi ulang sebenarnya apa makna hakiki dari cinta itu sendiri.. #LoveWins? Hmmm..



Bangka, Juli, Minggu Kedua..




6 komentar:

  1. Perdebatan tentang hal ini memang ga akan pernah habis ya.. Masing-masing memang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Ini judulnya agama vs sekulerisme.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas dani, ujungnya geleng-geleng kepala aja saking nggak ada ujungnya..

      Hapus
  2. Banyak orang yang begitu sempit dan picik memaknai cinta. Bentuk cinta buta mereka maknai sebagai sesuatu yang mulia untuk diperjuangkan. Akibatnya, mereka berjuang untuk legalisasi perkawinan beda agama, perkawinan sesama jenis, ... atas nama cinta dan hak asasi. Cinta sudah menang kok dari sejak Nabi Adam dan Hawa. bagi saya legalnya perkawinan sesama jenis ini bukan #lovewins, tapi #lustwins.

    Masyarakat Indonesia .. generasi alay pun begitu mudah terharu dg kisah-kisah perkawinan beda agama, perkawinan sesama jenis. Kemasan kisah yg di-film-kan / di-novel-kan memang ciamik, mengaduk-aduk hati penikmatnya. Padahal itu berasal dari pola pikir yang dangkal.

    Betul, mbak Anggi, kita perlu merefleksi ulang sebenarnya apa makna hakiki dari cinta itu sendiri.

    Sebagai seorang muslim sepatutnya kita berpikir jauh ke depan. Bahwa menikah itu bukan hanya urusan cinta. Dalam pandangan Islam, menikah itu gak hanya akad mu’amalah, tapi juga bentuk ibadah. Pernikahan itu ikatan yang kuat alias mitsaqan ghalizha antara laki-laki dan perempuan yang harus dilandasi dgn keimanan. Makanya ada syarat dan rukun yg Allah tentukan untuk berhalal dengan menyebut nama-Nya. Menikah seperti itu disebut ibadah, yang di dalamnya tercakup tugas melahirkan dan menyiapkan generasi masa depan yang unggul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pola pikir yang dangkal juga banyak dipengaruhi dari siaran dan berita simpang siur yang sekarang ada di media. Kadang yang nggak habis pikir begitu banyak media membuat berita hanya mementingkan seberapa kontroverisalnya judul supaya menarik minat pembaca.

      jazakallah khairan pak iwan ilmu dan sharingnya ya :)

      Hapus
  3. Ya kalau dari kacamata agama, pernikahan sejenis itu memang tidak dibenarkan. Kalau dari kacamata hukum sih itu kan semata-mata hanya mengesahkan aturan yang berlaku di tatanan masyarakat supaya hidup jadi tentram.

    Kalau buatku sih yang mesti difokuskan dan dicari tahu adalah penyebab awalnya, yaitu kenapa ada orang yang tertarik dengan sesama jenisnya. Apakah lantas bisa dicegah atau apakah mereka yang sudah "terjangkit" bisa dinormalkan kembali?

    Karena, walaupun sudah dilarang-dilarang dan diancam-ancam, kalau penyebab awalnya tidak terselesaikan ya... masalah ini nggak akan pernah punya jalan penyelesaian toh?

    BalasHapus
  4. kalau saya jelas gak setuju. Walopun atas nama cinta sekalipun

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...