Langsung ke konten utama

Ceking Terrace Bali; The Grass is Always Greener on The Other Side

The grass is always greener on the other side banget, sist? cieeee. Sayangnya ini bukan soal selimut, eh rumput tetangga yang konon lebih hijau, ha! Ceking Terrace berlokasi di Tegallalang, yang katanya dekat Ubud ini udah jadi salah satu di list where-to-go saat liburan di Bali kemarin. Dan memang walaupun pake acara drama bolak-balik dan kesasar nggak nyesel memang kemari. 

Perjalanan dari Kuta untuk list pertama memang untuk mengunjungi Sanctuary Sacred Monkey Forest yang berada di Ubud. Nahhh, setelah puas dari sana barulah saya mulai menyetel arah ke Ceking Terrace di Google Maps. Sayangnya setelah dicoba berkali-kali tidak muncul juga lokasi ini. Akhirnya mencoba bertanya ke masyarakat sekitar soal lokasi Ceking Terrace, dan masalah lain ternyata kebanyakan nggak tau tempat ini karena ada sebutannya desa ceking. Dang! Jadi, untuk akhirnya bisa sampai kemari saya mencoba menjelaskan rinci hingga akhirnya cari foto cekking terrace ini dari internet dan menunjukkannya, baru lah mereka ngeh maksudnya. 


Dari arah Tegallalang juga ternyata masih lumayan cukup jauh hingga akhirnya tiba ditempat ini. Ceking Terrace ini merupakan objek wisata dengan dominan areal pesawahan yang berundak-undak, berbukit sehingga sistem pesawahan terasering yang digunakan. Ya, kalau nemu beginian waktu masih tinggal di Jawa sih rasanya 'ooh, iya bagus ya' atau 'hmm, bagus', tapi di Bali tempat ini justru dimanfaatkan menjadi objek wisata. Unik.


Mayoritas pengunjung saat saya kemari adalah turis mancanegara. Beberapa kali saya tertipu karena melihat orang-orang kulit khas Asia yang dikira Indonesia dan ternyata orang Vietnam ataupun kawasan Asia lainnya.  Lucunya kebanyakan turis ini datang kemari menggunakan dress hahaha kalau lagi sama teman-teman biasanya kami akan saling sindir 'mau kemana atuh gayaaaa', kebiasaan.




Sistem pesawahan terasering di Bali memang dominan katanya. Kontur tanahnya yang landai dan berbukit-bukit membuat penanaman padi harus menggunakan sistem seperti ini. Tapi hal inilah yang justru menambah daya pikat Bali yang terkenal dengan berbagai macam keindahan wisata alamnya. Bali tidak melulu soal Pantai, pura atau hal populer sejenis lainnya ternyata.

Saya merasa betah sih berlama-lama di Ceking Terrace karena keindahan alamnya yang memukau juga udaranya yang sejuk. Jauh dari hiruk-pikuk kota, kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Disini juga kita bisa melihat petani Bali membajak serta memelihara sawah mereka di daerah perbukitan yang miring lengkap dengan sistem irigasinya yang terus mengalirkan airnya dari pegunungan. Yippie! 





Dari hasil perbincangan singkat dengan salah seorang Bapak tour guide disana, Ceking Terrace ini memang telah menjadi objek wisata alam yang cukup digemari oleh wisatawan terutama mereka yang datang dari kota-kota besar bahkan turis mancanegara. Dia bilang kebanyakan orang datang kemari untuk sekadar menenangkan diri, mengamati keindahan alam, atau lebih mendekatkan diri dengan alam. Ih, meni romantis ya mau menenangkan diri aja ke sawah, hehe. Ceking Terrace ini sendiri diperkirakan sudah ada sejak abad ke-9 dan tetap dipertahankan dan dijaga keasriannya oleh para petani desa ini sampai sekarang.

Nah berhubung kian ramainya pengunjung yang datang kemari jadilah banyak dimanfaatkan untuk dibangun fasilitas-fasilitas seperti cafe, restoran dan toko cinderamata disepanjang kawasan ini. Dan untuk masuk ke areal pesawahan ini sendiri kita harus masuk salah satu cafe atau toko disitu. Berhubung nggak ada niat untuk makan, awalnya ragu kalau harus masuk tanpa memesan apapun, tapi melihat banyak sekedar lewat jadi sosoan nggak tau aja sih. Uh, dasar.

Setelah dua hari sebelumnya dimanjakan dengan pemandangan pantai, laut dan taman wisata, pemandangan ke daerah Ubud ini memang menawarkan nuansa alam yang berbeda. Green everywhereeee.

Karena hari semakin sore, pun cuaca yang cukup mendung saya nggak sampai menyuri areal pesawahan hingga ke atas sih. Perjalanan panjang harus saya tempuh lagi demi menikmati sunset di Tanah Lot yang jaraknya hmmm lumayan. Setelah Google Maps siap, oleh-oleh dari Ubud sudah dipastikan aman, doa mengawali perjalanan saya lagi untuk pergi ke tempat lainnya. Belum selesai rasa bahagia melihat ke-hijau-an di Ceking Terrace, pemandangan areal pesawahan menemani saya sepanjang jalan menuju Tanah Lot. Dan kali ini senyum saya lebih mengembang saking excitednya. Yeiyy!



#Quotes of The Day: I'm too busy working on my own grass to notice if yours is greener. Hae!

Bang, ojeknya Bang?!(&&^*^&%*&(


Bangka. Sabtu pagi. Cuaca cerah sedikit mendung, eh? *)
Selepas beres-beres rumah, pergi ke Pasar, masak,
dan sedang menunggu mood untuk mandi~


Komentar

  1. Wah siap - siap aja yaw mbak kalau kesini siap untuk kesasar. Lalu biar penduduk ngerti kalau ini Ceking Terrace kita bertanyanya bagaimana kak Anggi? istilah yang biasa penduduk gunakan. Terus turis mau ke sawah aja pakai pakaian yang metcing. Nah orang peribumi mau lihat sawah pakai pakaian yang rapi kayaknya kelihatan aneh gimana gitu,,,, hehehee. Benar mbak kalau ke sini jangan rapi - rapi amat. Amat rapi juga nggak amat amat rapi,,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tunjukin foto dari internet mas hehe.
      Kalau orang pribumi liat orang pake pakaian rapi ke sawah biasanya langsung bisik-bisik terus geleng-geleng kepala yak, Mas :))

      Hapus
    2. Eow,,, Iyaw mbak bener. La wong mau ke sawah kok pakaian rapi :-)

      Hapus
  2. wah jarang2 loh lihat sawah aku di sini :)

    BalasHapus
  3. Menenangkan diri di sawah? Iya klo di sawah ada dangaunya. Apalagi klo ada cafenya. Klo cuma tengak-tenguk di pematang sawah panas, nggak ada pohon peneduhnya, hahaha. :D

    Selama ini aku tahunya sawah yang terkenal cuma Tegalalang. Ternyata di dusun Ceking ya ada toh. Apa jangan-jangan semua sawah yang berterasering seperti ini sama orang bule dibilang keren? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, tapi cafenya lumayan harganya mas, buat ukuran bule mah apalah apalah atuh kali ya.
      Ini masih kawasan Tegallalang kok mas mawi, cuma masih lumayan jauh juga sih. Ha, ntar kutanya dulu yak kalo ketemu bule lagi.

      Hapus
  4. Ternyata biasa aja ya,, ttd orang kampung, wkwk

    BalasHapus
  5. Hihihi, pakai dress ke sawah tambah cantik pastinya! :P

    Jd ngebayangin makan mendoan sama Soto di situ, Nggi. Segernya. . . :D

    BalasHapus
  6. Bali emang keren, (y) mampir sekalian ke Lombok, tempatnya gk kalah Seru., :)

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …