Langsung ke konten utama

ATURAN KANTONG PLASTIK BERBAYAR, EFEKTIFKAH?

Berhubung sudah lama tidak berbelanja langsung di supermarket atau departemen store, kemarin saat saya jajan buku ke Gramedia dan belanja 'perabotan' bulanan di Hypermart baru tahu kalau disini juga sudah dimplementasikan aturan kantong plastik berbayar. Bulan Februari lalu, Pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan kebijakan baru kantong plastik berbayar untuk mengurangi limbah plastik. Ya, bagaimana pun, seperti biasanya sih setiap kebijakan pasti selalu ada pihak pro dan kontra di awal implementasinya. 

Surat Edaran itu intinya meminta pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota, para produsen serta para pelaku usaha terkait untuk turut serta melakukan langkah dalam upaya pengurangan dan penanganan sampah plastik. Seingat saya beberapa tahun belakangan ini para peritel ataupun industri gencar menyuarakan kantong plastik yang konon ramah lingkungan, tapi ternyata itu pun saja belum cukup.

pic source
Plastik memang tidak mudah diurai oleh jasad renik di alam. Tapi seperti yang kita tahu bahwa bahan plastik itu dapat didaur ulang. Artinya itu tugas kita jugalah yang harus bisa menguraikan bahan plastik supaya dapat digunakan lagi, belajar membudayakan pengelolaan sampah dengan benar.

Tapi apakah aturan kantong plastik berbayar ini memang efektif guna mengurangi kebutuhan masyarakat akan kantong plastik?
Saat ini opini saya pribadi lebih cenderung melihatnya masih belum berdampak apa-apa. Dengan dikenakan nominal sebesar 200 rupiah untuk setiap kantong plastik yang digunakan, masyarakat cenderung tidak berkeberatan jika harga tersebut dimasukkan dalam daftar pembayaran. Memang ini 'PR' berat terutama bagi diri kita pribadi, karena harus berangsur-angsur mengubah pola perilaku untuk tidak banyak menggunakan sampah plastik. Bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit untuk mulai dicoba diterapkan, bukan?

Pertanyaan selanjutnya adalah lari kemana kah hasil uang penjualan kantong plastik tersebut? Dari beberapa sumber yang saya baca katanya akan ada regulasi terkait dengan penyaluran dan pengawasan dana kantong plastik tersebut antara peritel dan pemerintah daerah setempat. Tentu harapan kita sebagai pengguna agar ada kebijakan yang komprehensif sehingga tujuan aturan ini bisa sesuai dengan yang diharapkan.

Jika aturan ini memang ditujukan untuk hal-hal atau kepentingan umum, tentu masyarakat tidak akan berkeberatan, lain halnya jika aturan ini ujung-ujungnya menjadi pendapatan tambahan bagi peritel atau perusahaan tersebut. Ya, kembali lagi sih harus ada mekanisme pelaporan yang bersifat transparan sehingga kita tahu pengalokasian dana tersebut. 

Dari dulu saya adalah orang yang paling hobi mengumpulkan reusable bags (tas kanvas yang bisa dipakai berkali-kali). Biasanya tas-tas ini saya dapatkan ketika mendapat goodie bag saat menghadiri sebuah acara ataupun saat berbelanja dibeberapa online shop langganan. Walaupun belum sepenuhnya saya gunakan setiap kali berbelanja ke warung ataupun minimarket, jika hanya berbelanja hal-hal kecil biasanya langsung saya masukkan tas saja atau ditenteng ketika beli minuman dingin.

Selain karena lebih awet, tas-tas ini juga cenderung lebih nyaman dan enak ditenteng jika dibandingkan dengan kantong plastik. Saya ingat, reusable bag pertama saya dapatkan ketika membeli majalah Gadis sekitar tahun 2006 lalu, dan sampai saat ini masih sering saya gunakan. Selain bentuknya yang lucu, tas ini memang awet sekali walaupun sekarang warnanya sudah sedikit agak pudar. Sudah hampir 9 tahun!

Nah selanjutnya, saya sih lebih setuju jika ditetapkan harga yang agak lebih tinggi agar masyarakat bisa lebih memilih membawa kantong belanja sendiri dibandingkan membeli. Ya semoga dengan begitu, baru lah masyarakat akan berpikir ulang membawa tas belanja sendiri dan akhirnya penggunaan kantong plastik akan berkurang. 

Opini sederhananya begitu. 


Bangka, 19 Maret 2016
Hari Sabtu rasa Senin, sepulang kantor.
Selamat berakhir pekan, ya! :)



Komentar

  1. Kalau aku sendiri sih merasa aturan kantong plastik ini efektif ya. Aku jadi terbiasa ke mana-mana selalu ngantongin kantong kresek, hahaha. :D Tapi, klo misal ke minimarket dsb yang aku beli barang hanya 1-2 item aku terbiasa minta supaya nggak pakai kantong plastik.

    Sebenernya kan Pemerintah ingin menekan konsumsi kantong plastik. Betul begitu kan mbak Anggi? :D

    Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah mengenakan biaya ekstra untuk kantong plastik. Dengan demikian harapannya konsumen bakal berpikir ulang untuk menggunakan kantong plastik.

    Sedangkan harga Rp200 untuk kantong plastik itu menerutku sih ya memang kurang besar, hahaha. :D Mestinya kantong plastik dihargai Rp2.000 supaya konsumsi kantong plastik benar-benar tertekan.

    Tapi besaran harga Rp200 ini pun pasti sudah mempertimbangkan faktor resistensi rakyat yang menentang aturan kantong plastik. Tapi, walau bagaimana pun, mungkin dari sekarang kita harus mengubah pola pikir bahwasanya kantong plastik itu tidak lagi layanan gratis dari toko.

    Oh, tapi kalau mau menggunakan kantong plastik, ya silakan membeli di toko kelontong atau pasar, yang mana mereka belum wajib mengikuti aturan Pemerintah. ya, hitung-hitung mensejahterakan rakyat kecil lah, Hehehe. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya intinya sih ingin menekan konsumsi kantong plastik yang udah semacam kebutuhan harian ya buat kita. Ya mungkin bertahap mas, toh kan baru sebulan ini diterapkan, semoga lambat laun aturan ini merubah pola atau kebiasaan kita juga sebagai masyarakat akan ketergantungan kantong plastik ya :)

      Hapus
  2. Hmm, mau ikutan komentar mbak

    Kalau menurut saya, insya Allah gerakan diet plastik ini akan efektif. Tapi mungkin saat ini efeknya belum terasa karena masih baru. Harapannya sih suatu hari nanti bisa jadi budaya dan dengan sendirinya orang2 berhenti menggunakan plastik.

    Cuma memang yang perlu diawasi disini, uang 200 rupiah yang dibayarkan untuk plastik larinya kemana. Semoga ada pertanggungjawabannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas bertahap memang baru kelihatan progressnya, semoga aja memang perlahan tapi pasti ya tujuan utama dari aturan ini dapat terwujud :)

      Hapus
  3. Akuuuu jarang belanja, jadi belum ngerasain gimana ketambahan dana buat plastik ._. sejauh ini kalau mampir beli ke indomerit gitu, aku cuma beli minum dan nggak pernah minta plastik wkwkkw

    Eh, iya, aku juga kepikiran. lari kemana ya itu duit ._. kalau lari ke produsen, untung banget mereka -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya di Bangka nggak ada Indomerit, Feb. Jadi jarang jajan ._.

      Hapus
  4. hmm saya juga sangat berharap gerakan baru ini bakalan berhasil kedepannya, dan bukan hanya tempat perbelanjaan besar aja yg menerapkan sistem ini, tapi kalau bisa sampai ke warung2 kelontong juga. nice post kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggit. Semoga ya. Selama ini kan kalau warung kelontong punya budget tersendiri beli kantong plastik dan belinya dalam ukuran kecil nggak semacam swalayan. :)

      Hapus
  5. ga efektif kalo menurut saya, yang ada malah nyusahin, kadang suka sotoy sih pemerintah *opini pribadi

    BalasHapus
  6. Komentar apa yang soal bingung nih mbak pikiran lagi mumet dan gak karuan.?

    BalasHapus
  7. kebanyakan platsik di rumah pusing mbak, aku lebih suka kaya skr aja gak usah pakai plastik

    BalasHapus
  8. buat saya gak efektif mbaa.. meski kalo ke pasar selalu bawa tas belanja tetep minta plasti buat pisahin ikan dan sayur, pun kalo ke minimarket tetep minta plastik, 200 terlalu murah, harusnya 5000an

    BalasHapus
  9. Pernah baca di tulisan seseorang yang mewawancarai pihak peritel, katanya penurunan kantong plastik sejak diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar cukup signifikan. Pemakaiannya menurun. Kalo diakumulasi di seluruh Indonesia, kayaknya lumayanlah sebagai langkah awal :)

    BalasHapus
  10. Menurut gue sih lebih efektif kalo pemerintah menerapkan kantong kertas daur ulang daripada plastik. Selama masih disediakan di toko2, walau pun berbayar, tetap aja bakalan ada yang pake kantong plastik dengan alasan "lupa bawa kantong sendiri". Ujung2nya buang sembarangan di luar, dan malah tetep aja ada sampah plastik di mana-mana. Menurut gue sih begitu...

    BalasHapus
  11. Menurut saya itu lebih efektif mbak, jadi kalo kita mau belanja biar hemat harus bawa tas atau kantong kresek dari rumah, itu lebih hemat .. hihihi :D :D

    BalasHapus
  12. Menurut widya sih lumayan efektif mbak. Jadi agak perhitungan juga. Hehehe jadi suka bawa kantong belanja deh :D

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …