26 Agustus 2017

DUA PULUH ENAM

pic
Menjadi dua puluh enam. 

Satu tahun lebih tua dari satu tahun lalu. 

Dua tahun lebih tua dari dua tahun lalu.

Mari saya mulai dengan sebuah pengakuan, 'Saya paling takut sendirian'. Ceritanya panjang. Akan saya ceritakan kapan-kapan. Dimulai dari duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu dibiasakan untuk melakukan berbagai hal sendirian sampai mengurus keperluan masuk sekolah hingga perguruan tinggi. Mengurus ini itu. Pergi kesana kemari. Ikut kepengurusan organisasi hingga pulang larut malam. Hingga akhirnya pergi dari kota kelahiran, bekerja dari satu kota, kuliah sambil berjibaku dengan hiruk pikuk Ibu Kota, hingga akhirnya keluar pulau Jawa. 

Beberapa orang menilai saya mandiri, tapi saya justru lebih banyak merasa tertekan saat dipaksa harus melakukan berbagai hal sendirian. Mungkin beberapa orang pernah menanyakan soal bagaimana saya sendiri pergi ke lokasi penempatan atau soal saya yang kerap berlibur sendirian, atau beberapa hal lain yang sejenis demikian. Takut? Ya. Sangat. Bahkan kalau boleh jujur, dulu, ketika disuruh bayar tagihan listrik ke loket kantor Pos saja kaki saya sudah gemetaran.

Setidaknya saya tahu bahwa mereka yang berani bukan yang tidak memiliki rasa takut, melainkan mereka yang tetap memutuskan untuk mencoba meski tahu ia takut. 

Saya nggak paham darimana anggapan orang yang menganggap saya 'kalem', bagi orang-orang yang benar-benar kenal saya, mungkin, saya adalah orang paling panikan dan grasak-grusuk sedunia. Orang yang paling minderan dan nggak percaya diri. Pun sampai dengan hari ini.

Saya sepenuhnya sadar bahwa kita nggak akan pernah bisa bikin semua orang senang atau menerima setiap apa yang mungkin kita lakukan. Akan ada dua sisi, dua sudut pandang, yang mungkin berlawanan. Bahkan terkadang, sebaik apapun niat dan usaha kita dalam melakukan sesuatu, akan ada celah dan pandangan negatif yang muncul. Ketika saat ini dihadapkan pada situasi yang menurut saya 'tidak ideal', situasi dimana tertawa menjadi suatu hal yang langka. Saya kerap berdoa agar diberikan sabar dan sadar yang ekstra.

Dulu, ketika ditanya, apa yang ingin dicapai diusia sekitar ini saya pasti menjawab bisa traveling ke tempat-tempat yang sudah masuk bucket list. Dulu. Sekarang kalau ditanya apa yang sangat ingin dicapai dalam waktu dekat, saya pasti menjawab hanya ingin dekat dengan keluarga. Itu saja.

People used to ask me about post-marriage life. Are you happy? Any difference before and after marriage? Dan mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang berkaitan dengan hal ini saya hanya bisa tersenyum. Shortly, my life has been beautiful. 

Marriage is not a noun, it's a verb. It isn't something you get, it's something you do. It's about finding someone you're willing to life with and who is willing to life with you.

Menjadi dua puluh enam. 

...and I hope there are even more surprises waiting for me. 



You're more than enough, Anggi. Be happy! 😊




*) PS: There is nothing I want more than to spend the next 100 birthdays by your side, suami 💙


Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...