SEBUAH REFLEKSI; MARAH, BUKAN MARAH-MARAH..
Marah adalah salah satu bentuk emosi. Ia alami, manusiawi dan suatu hal yang kadang nggak bisa kita hindari. Setiap orang pernah merasakan marah; ketika disakiti, tidak dipahami, dikecewakan atau saat keinginannya tidak berjalan sesuai dengan kenyataan, dan pasti masih banyak lagi alasan lainnya. Dalam konteks ini, marah bukan musuh. Itu justru sebuah sinyal—bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang merasa terusik, tidak sesuai atau bahkan membutuhkan perhatian.
Sama halnya kayak sedih, senang atau kecewa. Marah kadang datang begitu aja, tanpa permisi, nggak hanya karena hal besar.. kadang hal sepele juga bisa jadi penyebabnya. Marah juga bagian dari sistem pertahanan diri.
Marah dan marah-marah itu dua hal yang berbeda, jauh, menurut saya. Kalau marah itu bentuk emosi, marah-marah lebih ke cara kita 'mengeluarkan' emosi tadi. Sebagai manusia yang pernah menyesal karena terbawa emosi, marah hingga marah-marah. Bisa jadi, di balik marah-marah ada akumulasi stress, rasa tidak aman, atau luka emosional yang belum terselesaikan.. emosi yang selama ini ditahan, dipendam dan bahkan seringnya diabaikan.. jadi saat ada pemantik kecil, semuanya keluar sekalian. duar!
Lucunya, kalau throwback ke masa kecil, banyak dari kita diajarin untuk 'jangan marah'. Seolah-olah marah itu hal yang salah, nggak baik. Akhirnya kita belajar buat nahan, mendam bahkan abai tadi. Senyum padahal kesel, diam padahal kecewa. Iya, kan?
Dari salah satu sesi webinar soal psikologi waktu itu, narasumbernya pernah bilang.. 'mungkin yang perlu kita pelajari bukan gimana caranya supaya kita nggak marah, tapi gimana caranya supaya kita bisa kenal sama marah kita sendiri'.
Saat ada satu titik kita merasa, 'oh, iya aku lagi marah nih'. Titik. Validasi dulu perasaanya. Ngga perlu langsung dilampiaskan. Kadang cukup berhenti sebentar. Tarik napas sampai merasa lebih tenang. Kasih jeda sebelum bereaksi.
Belajar membedakan marah dan marah-marah juga berarti memberi ruang bagi emosi tanpa harus kehilangan kendali atas respons. Dengan cara itu, harapannya kita memberi waktu bagi otak rasional untuk mengejar emosi yang sedang berlari kencang—pelan-pelan, sampai pada akhirnya semua bisa terasa lebih tenang, lebih aman.