Workbook Prompt Day #00
Ada satu fase dalam hidup di mana akhirnya aku sadar, ternyata lelah yang sering dirasakan bukan hanya karena pekerjaan menumpuk atau bahkan rutinitas sehari-hari. Ada rasa berat yang diam-diam tinggal di tubuh dan pikiran. Rasanya seperti selalu berjaga, selalu waspada, selalu takut kekurangan. Bahkan ketika sesuatu hal yang baik datang, aku sering kali tidak benar-benar bisa menikmatinya. Alih-alih merasa tenang saat menerima, aku justru merasa cemas, tidak enak hati, atau takut semua itu akan hilang.
Dari situlah memutuskan ikut mencoba receiving therapy ini. Awalnya hanya penasaran. Benarkah tubuh dan pikiran kita bisa “diprogram ulang” untuk belajar menerima dengan lebih sehat? Tapi semakin mengenali diri sendiri, semakin sadar bahwa selama ini aku lebih terbiasa memberi daripada menerima. Aku terbiasa menguatkan diri, menahan semuanya sendiri, dan mengukur keamanan hidup dari seberapa keras aku bekerja atau seberapa banyak harus membahagiakan orang lain.
Tanpa sadar, hubungan yang tidak sehat dengan uang dan rasa takut terhadap hutang juga ternyata ikut membentuk cara kita menjalani hidup. Ada ketegangan yang terus tinggal didalam tubuh. Pikiran terasa penuh, hati mudah cemas, dan hidup seperti berjalan sambil membawa beban yang tidak pernah benar-benar diletakkan. Begitu, katanya.
Hidup dalam mode “survival” itu melelahkan, sungguh.
Karena itu, aku ingin belajar sesuatu yang selama ini terasa asing: merasa aman saat menerima. Aku ingin tubuhku belajar bahwa menerima bukan ancaman. Bahwa menerima perhatian, bantuan, kesempatan, maupun rezeki tidak harus selalu dibarengi rasa takut kehilangan atau rasa bersalah.
Aku ingin bisa bernapas lebih lega dan rileks. Ingin pikiran tidak lagi terus-menerus dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan. Ingin memutus rantai trauma finansial yang selama ini diam-diam mengendalikan banyak keputusan dalam hidup. Ingin membangun relasi yang lebih sehat dengan uang. Bukan lagi melihat uang sebagai sumber tekanan atau ukuran 'harga diri', tetapi sebagai bagian dari hidup yang bisa datang dan pergi dengan lebih tenang.
Yang paling diinginkan sebenarnya sederhana: hadir sepenuhnya untuk hari ini.
Aku ingin menikmati waktu yang Allah berikan dengan lebih sadar. Menikmati momen kecil tanpa terus dihantui kecemasan tentang hal-hal yang belum tentu terjadi. Aku ingin hidup dengan hati yang lebih ringan, lebih damai, dan lebih percaya bahwa aku tidak harus selalu berada dalam ketakutan untuk bisa bertahan hidup.
Mungkin proses ini tidak instan. Mungkin ada banyak luka lama yang harus dipeluk pelan-pelan. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa sedang memberi ruang pada diriku sendiri untuk benar-benar mencoba.
Dan mungkin, semua ini memang dimulai dari satu hal sederhana: belajar menerima.