Satu aja dulu.
Ada hari-hari ketika semuanya terasa datang bersamaan.
Pekerjaan yang terus bertambah.
Pesan-pesan yang belum sempat dibalas.
To do list yang belum bisa dicentang.
Rumah yang ingin dirapikan.
Anak-anak yang mengajak bermain aneka permainan.
Buku yang ingin segera diselesaikan.
Dan juga daftar panjang lain yang tiba-tiba melintas dipikiran.
Rasanya seperti berdiri dipersimpangan, kita jadi bingung mana yang harus dikerjakan duluan dalam waktu bersamaan..
Melelahkan, ya?
Saya dulu selalu berpikir bahwa menjadi semakin dewasa, berarti mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Menjadi lebih cepat. Menjadi lebih sigap. Menjadi orang yang selalu bisa diandalkan.. Sampai akhirnya saya sadar, yang paling sering lelah itu ternyata bukan tubuh, tapi pikiran.
Dia tidak pernah benar-benar berada di tempat yang sama.
Seringkali saat bekerja, kita memikirkan pekerjaan berikutnya.. Saat makan, kita mengingat pesan-pesan yang belum sempat dibalas. Saat sedang dalam pertemuan, diam-diam kita sibuk menyusun to do list mana yang setelah ini mau dikerjakan. Saat sedang bercerita dengan teman, kita sibuk dengan aneka kesibukan dengan hp ditangan.
Atau bahkan tanpa sadar, kita mulai terbiasa mengerjakan banyak kal sekaligus. Membalas pesan sambil mengetik laporan. Mendengarkan podcast sambil membuka sederet tab pekerjaan. Atau makan siang sambil mengecek pekerjaan yang belum selesai.
Mungkin kita hadir, tapi tidak benar-benar ada.
Tubuh kita memang diam di satu tempat, tapi pikirannya berlari kemana-mana.
Sampai kemarin, saat sedang dalam pelatihan, saya berhenti sejenak. Menutup semua tab yang tidak perlu. Meletakkan handphone beberapa waktu. Lalu berkata pada diri sendiri,
'Yang ini dulu. Hanya ini. Ayo kita dengarkan materinya aja.'
Awalnya terasa aneh rasanya.
Ada dorongan buat kembali buka laptop, ingin mengecek notifikasi whatsapp, dan aneka hal lainnya.
Ternyata menikmati satu kegiatan sampai selesai memberikan rasa tenang yang selama ini hilang.
Kita tidak terburu-buru. Tidak merasa tertinggal. Kita berada di tempat yang seharusnya.
Saat sudah merasa terlalu 'Overload' mungkin kita bisa coba tanyakan pada diri sendiri,
'Apa satu hal yang bisa diselesaikan sekarang?'
Lalu kerjakan itu.
Pelan-pelan.
Satu halaman dulu.
Satu email dulu.
Satu percakan dulu.
Satu langkah dulu.
Satu aja dulu.
Kita tidak sedang hidup dalam perlombaan untuk menyelesaikan semuanya.
Toh, gunung yang tinggi juga didaki satu langkah demi langkah, kan?
Buku yang tebal juga dibaca satu halaman demi satu halaman, kan?
Mungkin selama ini kita terlalu keras pada diri sendiri.
Kita mengukur hari dari seberapa banyak hal yang berhasil dicoret dari daftar pekerjaan.
Padahal bisa jadi hari itu tetap layak disebut baik hanya karena kita sempat makan tanpa terburu-buru. Sempat tertawa. Sempat menelpon teman. Sempat beristirahat tanpa merasa bersalah..
Kadang kita terlalu sibuk berlari, padahal berjalan pun tak apa.
Pelan.
Perlahan.
Supaya kita sempat melihat langit yang berubah warna.
Supaya kita sempat mendengar suara hati sendiri yang selama ini tenggelam.
Supaya kita ingat bahwa kita bukan mesin yang harus terus bekerja tanpa jeda.
Kita manusia.
Dan manusia boleh lelah.
Jadi, kalau hari ini terasa terlalu penuh, tidak apa.
Tidak semua pintu harus dibuka sekaligus.
Tidak semua masalah harus selesai malam ini.
Tidak semua mimpi harus dikejar dalam satu waktu.
Pilih satu.
Satu hal dulu.
Lakukan dengan sepenuh hati.
Lalu besok, kita lanjutkan lagi.
Satu aja dulu,
Satu hal.
Satu langkah.
Satu napas.
...dan semoga, dari hal-hal kecil yang kita selesaikan dengan penuh kesadaran itu, kita perlahan menemukan ketenangan yang selama ini kita cari.
Semoga..