5 Februari 2013

Teman Setiaku..

Hari ini kita melakukannya lagi sayang, berjalan bersama peluh yang sedari tadi meleleh karena teriknya sinar mentari. Memang siang itu ia terlihat lebih nakal dari biasanya. Tak apa, mungkin ia tersinggung melihat kita yang hampir-hampir menyainginya, hampir melupakannya, dan bahkan hampir membuat panasnya tak bermakna apa-apa dibanding semangat kita.

Sayang, bersamamu aku merasa aman, nyaman, dan tenang. Kamu setia menemani langkahku setiap saat, bersama panas, hujan bahkan badai. Tanpamu hidupku menjadi sedikit rumit rasanya. Ah, entah apa jadinya jika hidupku tanpamu. Tak pernah terbayangkan olehku. Lihatkan, bagaimana hari-hariku menjadi lebih baik saat aku bersamamu. Jadi, kuatlah mendampingiku, jangan pernah pergi meninggalkanku.

Oh ya, aku ingat awal perjumpaan kita. Hari itu sangat cerah. Bersama kawanku, sebelum kamu, kami berjalan menyusuri pertokoan di lantai dua. Entah kebetulan atau tidak, aku melihatmu, kamu begitu manis dan sederhana. Kamu terlihat paling hitam bersinar diantara yang lainnya. Disana kamu berdiri dengan cantiknya, tinggi dan rupawan. Pita-pita berbunga yang menghiasimu dan membuatmu kian tampak cantik lagi menarik. Aku jatuh cinta padamu sejak saat itu. Kini, aku sudah memilihmu, sepenuhnya memilikimu..

Tak usah khawatir hidup bersamaku, aku akan selalu membantumu saat terjatuh. Aku akan merawatmu jika kamu terluka. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah berjanji untuk menjagamu. Walau kelak langkahku mulai linglung, ketika dihadapkan pada jalan menanjak dan berliku. Walau kakiku luka terkikis aspal jalanan yang menyebabkan ia panas memerah. Jangan khawatir, aku masih bisa memapahmu ketika kamu tergelincir, langkahmu meragu ataupun saat kamu takut meloncati lubang yang menganga.

Kota ini adalah sebuah pot besar yang menampung mimpi setiap orang didalamnya. Kita juga tidak mau ketinggalan untuk menanam dan memupuk mimpi disini. Kita berjuang untuknya dan berharap kelak mimpi itu menjelma menjadi nyata. Aku selalu senang beriringan denganmu. Dari gedung perkantoran tingkat dua puluh dua, hotel bintang lima, bahkan dari gang ke gang yang sempit disudut kota, di perempatan jalan, di emperan toko, disetiap lampu merah bahkan dalam sebuah kubangan air setelah hujan, kau setia menemaniku. Denganmu ada cinta, denganmu pula banyak cerita.

"Seberapa jauh lagi kita akan berjalan?", tanyamu sambil menatapku, masih tetap bersemangat.

Terima kasih selalu setia mendampingiku, terima kasih karena kamu sudah menemaniku sejauh ini, Sepatu. Kelak jika saatnya kamu tak lagi bisa menopangku, aku akan mencari pengganti yang tepat untuk menggantikan posisimu dikakiku. Memulai langkah baru.. mungkin dengan salah satu kawanmu. Jangan marah, Sepatuku.. Aku tetap menyayangimu.
xx,
agistianggi 

Tulisan Flash Fiction ini dibuat untuk memenuhi tugas Modul II Pelatihan Menulis Kabar Indonesia tema Sepatu.

2 komentar:

  1. sejak bilang cantik tinggi dan rupawan dah pasti bukan manusia deh, eh bener bul ngomongin sepatu

    BalasHapus
    Balasan
    1. harusnya aku tulis tampan dan rupawan ya biar dikira laki hehe

      Hapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...