Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

DIALOG DINI HARI

Gambar
***

HUJAN KALI KEDUA

Gambar
Illustration from here Satu hari di bulan Juni... Percaya tidak? Hujan dan sebuah pesan "Kamu apa kabar?" bisa mengacaukan segalanya. Percaya tidak? Segalanya bisa berarti perjuangan melupakan, gerakan move on, janji atau apalah saja katanya. Yang pasti segalanya disini berkaitan dengan apapun perkara cinta. Tapi, aku masih tidak percaya.  *** Dulu, aku percaya hujan itu romantis. Tapi, dulu.. Dulu.

Sebuah Pantai, 07.40, Angin Kencang

Minggu pagi. Tidak seperti minggu biasa, yang biasanya hanya bangun untuk shalat subuh lantas tidur lagi hingga matahari hampir mencapai puncaknya. Pagi ini sedikit berbeda memang, aku bersiap pergi berjalan-jalan dan pantai menjadi pilihannya.. Alunan lagu yang tersalur melalui earphone menjadi teman perjalanan yang menenangkan, walau rasanya nada lagu dan arah pikiran tidak seirama. Tidak sejalan. Tiba di pantai, aku mencari tempat nyaman untuk duduk, bukan karena tumpuan kaki yang sudah kelelahan menentukan langkah, tapi alasannya mungkin hanya karena diam bisa jadi pilihan tepat. Itu saja. Aku suka mendengar suara ombak, kecuali jika hari sedang hujan, aku lebih suka mendengarkan hujan dibawah atap rumah. Riuh keduanya sama-sama bisa menyamarkan debar jantung yang sedang bergejolak. Ramai tidak karuan. Berantakan. Sebuah buku menemaniku pagi itu. Sejenak Hening, karya Adjie Silarus. Ditengah membaca tiba-tiba aku teringat obrolan panjang dengan seorang teman disebuah ...

Hujan Jangan Marah..

Mereka memanggilku hujan, entah siapa yang pada awalnya memberiku nama begitu, karena aku tak punya orang tua. Ah, tapi apalah arti sebuah nama, mereka bilang. Hujan, nama yang cantik bukan?  Bentukku kasat mata dan aku suka berkeliling dunia, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Disapu angin dari satu kota ke kota lainnya.  Aku suka ketika anak-anak kecil menari denganku sambil bermain bola. Mereka terlihat sangat bahagia. Berguling di atas tanah dan rumput yang baru saja aku basahi. Berguling, berlari. Mereka tertawa. Mereka tampak bahagia. Tapi sekarang.. Aku sedang berduka. Banyak yang menghina kedatanganku. Ketika intensitas kedatanganku meningkat, katanya banyak manusia yang jatuh sakit dan selalu aku yang disalahkan. Banyak yang mengeluh atas kehadiranku. Banyak yang menghinaku. Aku sedang berduka. Aku sering mendengar manusia berkata, 'Ah, sial!'  saat aku hendak menyapa kota mereka. Katanya aku sering merusak jadwal manusia yang sud...

Suatu Pagi di Hari Minggu..

Gambar
Lelaki itu berdiri didepan kaca. Ia tampak gagah menggunakan kemeja dan jas hitam. Dasi bermotif putih biru menambah kharismanya. Ia menyisir rambut putihnya agar terlihat rapi dan tampan.  pic from here           ”Abah mau kemana?” tanya seorang wanita.            “Ada jadwal ngajar hari ini, Bu. Nanti abah telat,” tuturnya bersemangat.  Wanita itu merapikan dasi suaminya sambil tersenyum. “Lupa ya, ini kan hari minggu dan abah udah pensiun."           “Astaga.”  Kontes Unggulan: Enam Puluh Tiga

Sync

Gambar
Really greatful to not to be a trying-hard person. I'm living my life as natural as I can. Everyday awake with what time and what I should do today, work as same as the to-do-list says. Little bit bored, actually. But, why I choose this way? Is because a mutual question from surround wall. I just play my role in this life, pay those with honesty and loyalty Acceptances. I mean, It is really let it flow terms. Everything seem in logic and real, But to make it balance, I still put my self in fantasy. With hope and effort. And I am very glad for having all of them. Yes, them. They are superb talented, passionate, crazy and wild. And the most important, they could accept my weirdness and become real love. No need a typically. Just give the best to what you have when you still around them. So I don't have any reasons to make my self looks terrible, then.   Well maybe you were right. The flaws doesn't belong to someone else. But me.   I...

Sebuah Puisi Tentang Jarak..

Gambar
Rindu. *** Notes : Jarak bukan hanya soal perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer. Jarak sesungguhnya adalah ketika kita dekat tapi terasa berjauhan.

Kenangan dalam Kardus Tak Bertuan

Gambar
Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.   Katanya, cinta terlihat ketika ada dua mata yang saling menatap lebih lama dari biasanya. Katanya, cinta terdengar ketika ada dua kata yang saling menyaut, mengalun dalam nada suara seirama. Katanya, cinta bisa tercipta dari tertukarnya canda juga diiringi tawa. Katanya, cinta teraba ketika dua tangan bergengaman erat tak ingin saling melepaskan. Katanya, cinta terbaca ketika ada dua kepala yang mengangguk seiya-sekata. Katanya, cinta lahir ketika ada satu komitmen yang disepakati bersama atas dua hati yang saling menguatkan, meyakini berada pada jalan yang sama. Iya, setidaknya itu juga yang aku percaya perihal cinta. Atau paling tidak, sebelumnya.. Kisah kali ini sungguh tidak lebih memilukan dari kisah-kisah sebelumnya. Ini soal cinta yang lagi-lagi karam, tandas, hilang, lalu tenggelam. Soal cinta yang sibuk membuat hati kaca...

Namanya, Pengorbanan..

Gambar
Rintangan.  Cobaan.  Ujian.  Atau apapun nama sejenis itu..  Selamat! Kalian berhasil melewatinya dengan baik. Kalian membuktikan banyak hal kepadaku.  Pengorbanan, mereka memanggilnya.. 

Sebuah Bangku, Taman dan Kita..

Gambar
  “Kamu sudah jatuh cinta padanya?” tanyaku parau suatu sore dimana langit mulai tak lagi berwarna biru, melainkan orange ke merah-merahan.  “Hmm,” kamu menggumam. Lalu seperti biasanya, yang bisa kamu lakukan hanya menghela nafas.  Aku suka duduk berdua seperti ini denganmu, menikmati kedatangan senjaku, menghabiskan waktu walau hanya untuk berdiam diri denganmu. Tapi lagi-lagi pertanyaan itu yang selalu merusak suasana hari dan hatiku.  “Kamu masih jatuh cinta padaku?” tanyamu. Kini giliranku yang menghela nafas dan membisu dalam diam untuk beberapa waktu. “Pulang-lah. Rumah kita sudah rusak, usang. Kini aku bukan lagi rumahmu, May,” katamu pasrah. Hampir-hampir terlihat menyerah. “……”

Mengisahkan Sebuah Tunggu..

Menunggu..  Saat hendak pergi ke kantor, banyak orang menunggu bis yang akan membawa kita ke tempat dituju. Seseorang yang hendak bertemu teman juga seringkali diminta menunggu. Ketika ada gangguan cuaca, penumpang pesawat pun dipaksa untuk menunggu. Kita pun sebetulnya tak jarang menjadi orang yang menunggu ataupun yang ditunggu.  Menunggu. …..apa ini hanya soal waktu?  Kalau boleh aku tebak, pasti 9 dari 10 orang akan mengatakan kalau mereka sangat membenci pekerjaan yang satu ini. Menunggu. Ada yang bilang menunggu itu hanya soal mengulur waktu, sedikit demi sedikit, sedetik demi sedetik ..hingga waktu yang dinantikan itu tiba pada saat yang tepat. Begitu katanya. 

Moving Out!

Gambar
#DramaOfTheDay x: Are you moving out? y: I think that it's the best for us, to spend some time apart. x: Do you still love me? y: I do love you. I really do! But I'm leaving, because.. x: Because it's easier to walk away that to fight what you really want. Am I right? y: You don't know anything. There are a lot of things going on here that are just outside of your reach! x: Another chance? Tommorow night, please? y: All right. Only if I get to plan the whole night out, start to finish and you go along with whatever I say. x: Wow, sounds like dangerous. y: Only to someone who's used to running the show. x: Indeed. Pic taken at Borobudur Temple; Yogyakarta (16/11/12)

Katanya, Diam itu Emas

Gambar
Katanya diam itu ibaratnya emas.. Katanya sih demikian. Katanya, saat kita tidak memiliki kata bermakna untuk diucapkan, maka diam adalah pilihan paling mulia. Bagi saya diam itu teman. Beberapa teman bilang kalau saya pendiam, mereka bilang saya lebih baik  berkata-kata tanpa nada. Saya memang lebih suka berdiam. Diam, bukan berarti saya kehabisan kata atau tak ada tanda tanya.. saya diam karena seringkali saya mencari kapan waktu yang tepat untuk bicara. Bagi saya diam itu teman. Dalam diam kita bisa dengan tenang memperhatikan dan mendengarkan lidah yang sedang merajut kata dengan nada.. dalam diam seringkali kita bisa mendapatkan kejernihan pandangan akan suatu perkara.. dalam diam, diam-diam kita bisa menangis tanpa jeda.. dan dalam diam seringkali hati bisa tersenyum penuh makna. Diam, bukan selalu berdiam. Bagi saya, yang saya sadari, sekali membuka suara entah berapa ribu kata yang akan meluncur tanpa diduga. Kata bisa jadi suatu persoalan yang luar biasa. Kat...

Genangan dalam Kenangan

Gambar
Tanpa disadari nyatanya b anyak makna kiasan dibalik rajutan kata. Dia itu seolah jelmaan suara dari dalam hati yang bereinkarnasi menjadi deretan nada, yang kemudian terdengar melalui serentetan irama. Terkadang tersimpan kenangan disetiap detik peristiwa. Ada t angis dibalik tawa ..karena disetiap masa, kita akan selalu menyimpan setidaknya satu cerita. Layaknya satu episode film tanpa jeda, layaknya satu baris kata yang berjalan mengelilingi otak kita ..Semua terjadi secara sempurna seperti yang diarahkan oleh yang Maha Kuasa. Lalu yang dapat kita lakukan adalah merekamnya menjadi melodi-melodi yang terngiang disebelah kanan kiri terlinga kita. Membisiki kita bermacam kata hina sampai cinta. Menggelitik mereka tanpa cela, yang terkadang menghasilkan tangis maupun tawa.. Yang dapat kita lakukan adalah merekamnya, membuat keping-keping adegan tersebut dalam bentuk 'gambar hidup' sebagai suatu sistem memori yang turut memenuhi kapasitas otak kita.. ...

Titik (?)

“Titik, bukan akhir. Kenapa harus bergantung pada titik itu. Masih ada banyak tanda baca, banyak sekali hal yang masih bisa k am u lanjutkan.” -Uchank; Infinity Atmosphere * ) Didedikasikan untuk diri sendiri yang sangat sedang tidak bersemangat unuk menulis. Thanks.

Teman Setiaku..

Hari ini kita melakukannya lagi sayang, berjalan bersama peluh yang sedari tadi meleleh karena teriknya sinar mentari. Memang siang itu ia terlihat lebih nakal dari biasanya. Tak apa, mungkin ia tersinggung melihat kita yang hampir-hampir menyainginya, hampir melupakannya, dan bahkan hampir membuat panasnya tak bermakna apa-apa dibanding semangat kita. Sayang, bersamamu aku merasa aman, nyaman, dan tenang. Kamu setia menemani langkahku setiap saat, bersama panas, hujan bahkan badai. Tanpamu hidupku menjadi sedikit rumit rasanya. Ah, entah apa jadinya jika hidupku tanpamu. Tak pernah terbayangkan olehku. Lihatkan, bagaimana hari-hariku menjadi lebih baik saat aku bersamamu. Jadi, kuatlah mendampingiku, jangan pernah pergi meninggalkanku. Oh ya, aku ingat awal perjumpaan kita. Hari itu sangat cerah. Bersama kawanku, sebelum kamu, kami berjalan menyusuri pertokoan di lantai dua. Entah kebetulan atau tidak, aku melihatmu, kamu begitu manis dan sederhana. Kamu terlihat paling hitam...

Ini Soal Hari dan Hati..

Hai Hari, Hai Hati! Selamat pagi, semangat pagi.. Selamat pagi hari, semangat lagi hati! Pertama, aku ingin meminta maaf sempat mengabaikanmu belakangan ini.. Hari ini aku ingin berkisah tentang hari dan hati saja boleh? Ah, iya tentu saja. Hari ini, seperti biasanya, aku mencintai pagi hari. Aku mencintai mentari yang tak pernah ingkar janji untuk menerangi bumi.  Hari ini, seperti biasanya, aku juga menyukai siang hari. Aku menyukai mentari siang hari, tak perduli walau terkadang teriknya membakar hingga ke kulit ari.. Hari ini, seperti biasanya, aku bercengkrama dengan sore hari. Aku berbincang mengapa langit jingga selalu setia mengiringi.. Hari ini, seperti biasanya, aku memuja malam sebagai akhir dari sebuah hari. Aku memuja malam, walaupun terkadang suara jangkrik membuat sepi. Hey! Ingin rasanya kobarkan semangat agar ia terus membara mengejar hari dan hati dengan lebih berarti. Hey Hari, kamu yang membuat Senin ataupun Selasa tak ada beda.. ...

Pukul 2 dini hari..

Yang kutahu langit di luar sana sudah terlewat kelam. Bukan lagi ungu merona atau sekedar biru tua. Gelap. Hitam. Entah sudah berapa kali aku mengintip jendela hanya untuk melirik warna diluar sana, harap-harap segera berganti menjadi biru muda. Malam terasa dua kali lebih lama dari biasanya. Hari ini aku dilanda insomnia, lagi. Jarum jam di tanganku sudah mengarah ke angka 2 dini hari, tapi aku sama sekali belum mengantuk.  Massa kelopak mataku serasa bertambah berat, tapi anehnya ia tak kunjung ingin terpejam. Saat seperti ini, menghitung domba pun tak ada guna rasanya. Apa mungkin ini karena dingin yang masih saja memelukku erat, seolah menembus setiap celah pori-poriku. Bahkan, empat lapisan baju hangat pun tak kunjung membuatku lebih baik. Aku masih menggigil ditengah lamunku.    Entah ini memang karena cuaca dingin atau apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Ah, sungguh tak adil rasanya jika cinta membuatku harus merelakan jam tidur sekian jam lamanya.. Tapi aku ...

Berjalan..

Gambar
“Ah, sudahlah! Tangisan sudah kehabisan akal menenangkanku. Tak ada guna pun aku berlarut. Sedih ini harus segera berakhir atau lebih tepatnya harus segera diakhiri, sebelum segalanya menjadi semakin rumit sehingga aku sulit berkelit. Aku harus bangun, berdiri, kembali berjalan, menapaki waktu dan cita yang makin mengabur. Yah, mulai berjalan, karena hanya dengan begitu segalanya bisa dilupakan. Dan kukabulkan maafmu, Masa Lalu, mungkin memang hanya dengan maaf kamu akan menjinak dalam ingatan.”

Hujan di Awal Bulan Desember..

Gambar
Aku suka hujan. Sungguh, dan kamu tau itu.. Aku suka hujan, terlebih di awal bulan Desember, Seperti hari ini.. Aku dan kamu, kita, di kotamu.. Sebelumnya rintik hujan hanya menciptakan rasa sedih diantara sepi. Menciptakan sepi atas merdunya paduan suara air menghujani bumi . Membuat gemericik sunyi akan dentang jam yang seakan lambat mengiringi. Membiarkanku mengecap rindu dan membuatku teringat masa yang penuh dengan warna pelangi. Dan seringkali memaksa aku terbangun dari riuh indahnya mimpi. Tapi lain halnya dengan hari ini. Aku tidak lagi sendiri.. Akhirnya hujan hari ini membawaku lagi dalam bias memori.  Sebelumnya, bahagia tidak pernah sesederhana seperti halnya hari ini. Aku hanya ingin menyederhanakan semua detik ini.   Ya, aku suka hujan. Terlebih jika ada kamu disini.. Surabaya, 30 November 2012 pic from tumblr xx, agistianggi