Langsung ke konten utama

Terjebak dalam Zona Nyaman!

I woke up it was 7
I waited 'til 11
To figure out that no one would call
I think I got a lot of friends
But I don't hear from them
What's another night all alone
When you're spending every day on your own
And here it goes

*) I'm just a kid
and life is a nightmare
I'm just a kid 
I know that its not fair
Nobody cares
'cause I'm alone and the world is
Nobody wants to be alone in the world
And the world is
Having more fun then me
Tonight*

And maybe when the night is dead
I'll crawl into my bed
I'm staring at these four walls again
I'll try to think about the lasr time
I had a good time
Everyone's got somewhere to go
And they're gonna leave me here on my own**

What the hell is wrong with me
Don't fit in with anybody
How did this happen to me?
Wide awake I'm bored and I can't fall asleep
And every night is the worst night ever~

-Simple plan; I'm just a kid

Rencana yang sederhana ya artinya simple plan? tapi bukan.. bukan itu maksudnya. Beberapa waktu belakangan lagu ini lagi menggambarkan isi hati, aihhhh~ mulai deh anggi. Grrrr! Hmmm.. mungkin saat ini saya telah sampai pada suatu titik dimana saya telah benar-benar merasa bosan. Jenuh.. Melakukan hal yang sama setiap hari terus-menerus yang kemudian menciptakan suatu pola yang sungguh sangat membosankan. Saya lelah.  

Yes, maybe I'm just (like) a kid. Tapi saya hanya merasa telah sampai pada suatu titik dimana saya telah benar-benar merasa -katakanlah-tidak-bersemangat. Semacam-tidak-berguna.. Sejenis itulah. Well, entahlah.. sulit untuk diungkapkan dalam kata saya rasa atau lebih tepatnya terlalu menyakitkan untuk saya ungkapkan dengan rasa. Mungkin.

Setiap hari melakukan rutinitas yang sama. Bangun, kerja, pulang, sedikit belajar dan mengajar, tidur, bangun lagi, siap-siap kerja lagi.. terus dan terus begitu setiap harinya. Terkecuali weekend, terkadang pulang ke kota Bandung, bertemu keluarga, teman, temannya teman, temannya temannya teman, dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa saya lebih suka berdiam dikamar, diam, sendiri. Aneh? Bisa jadi.

Saya suka berdiam didalam kamar berukuran kurang dari 4 x4 meter ini. Dengan dinding yang berwarna biru kelabunya. Dengan segala pakaian tergantung dibelakang pintunya. Dengan segala macam tempelan di dindingnya. Dengan aneka rupa foto, harapan, bahkan cita-cita yang tertempel disana. Dengan debu yang menggumpal karena terkadang lupa saya bersihkan. Dengan sarang laba-laba kecil di ujung atas kamar yang sangat sulit saya jangkau, walau dengan sapu sekalipun. Dengan semua yang ada didalamnya walaupun apa adanya. Dengan winamp volume maksimal dan dengan sesuka hati menyanyi walaupun tau suara sumbang luar biasa. Yap, saya suka tempat ini dengan semua isinya, dengan baik bahkan buruknya.

Makanya saya seringkali bosan kalau ada yang berkata, 'Nggak bosan apa seharian di kamar?' atau 'Ngapain aja sih dikamar mulu'. Kalau boleh dibilang kata orang sunda mah, 'Kumana aing weh lah' Hih! Sebodo apa kata orang yang penting nggak ngerugiin toh..

Sejujurnya udah sejak lama saya berniat untuk mencari tempat baru, mencoba menikmati kota ini dengan ruangan berbeda, dengan rasa yang berbeda juga. Ya, beberapa kali merasa sedikit bosan juga berasa ditempat ini. Tapi buktinya sampai saat ini saya masih anteng aja disini, ditempat ini, dikamar ini. Kalau kata Taylor Swift sih, people are people, and sometimes we change our minds. Terjebak pada zona nyaman, itu barangkali ya masalahnya..

Nyaman.

Apa yang salah sebetulnya dengan kenyamanan? Bukankan kenyamanan adalah salah satu hal yang dibutuhkan setiap orang dalam setiap perjalanan? Ya. Setidaknya menurut saya begitu. Begitupun dalam perjalanan hidup yang sedang saya jalani, nyaman adalah salah satu dari sekian hal harus saya dapatkan. Itu juga yang jadi bahan pembicaraan saya saat berbincang dengan seorang teman soal 'keluar dari zona nyaman'. Terkadang ketika dihadapkan untuk keluar dari zona ini kita memikirkan berbagai macam kemungkinan buruknya. Kalau nanti A gimana ya.. Kalau nanti B gimana ya.. Lagi lagi soal pilihan kan? Ah, yang benar saja.









Ini soal hari dan hati. Kamar ini, yang terkadang membuat hari saya terasa sangat menjemukan. Sebetulnya saya punya pilihan untuk pindah, tapi tidak saya lakukan. Mungkin sama halnya seperti kamar, hati juga punya kesempatan yang sama..

Pindah..

Persis seperti gambar ikan-ikan diatas.. Ada 4 ekor kecil, keempat ikan mempunyai ukuran berbeda, katakanlah yang paling besar 'ikan 1' mengurut dan yang paling kecil kita panggil 'ikan 4'.

Suatu hari terjadi perbincangan serius antara keempat ikan soal pindah ke akuarium yang lebih besar.
Ikan 1 : "Lihat didepan ada akuarium besar, nanti sore kita pindah ya, ayo kalian berkemas!"
Ikan 2 dan ikan 3 tampak sangat bersemangat atas rencana mereka untuk pindah ke akuarium yang ukurannya jauh lebih besar.
Lain halnya dengan ikan paling kecil alias ikan 4. Dia bertanya, "Tapi kenapa kita harus pindah? Akuarium ini kan baik-baik aja. Selama ini pun kita merasa nyaman bukan disini?"
Ikan 1 tersenyum, "Nak, tempat ini sudah terlalu sempit buat kita. Tempat ini sudah terlalu sempit untuk kita berempat. Nanti kita semua akan tumbuh lebih besar dari akuarium ini. Jadi kita harus pindah."
Sepanjang hari ikan kecil berpikir. Ya, mungkin itu masalahnya. Seperti akuarium yang terlalu kecil untuk para ikan-ikan itu, mereka harus pindah ke tempat yang lebih besar dan dirasa cocok untuk mereka melanjutkan hidup dikemudian hari. Ada perasaan yang sama, yang mungkin, dirasakan oleh setiap orang yang diharuskan untuk pindah.. meninggalkan hal-hal yang mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya, menyisakan sisa genangan yang nantinya akan mereka sebut kenangan.
Ikan 4 : "Hey, kamu sudah siap belum untuk pindah?"
Ikan kecil hanya tersenyum..

Tapi lagi-lagi ini soal pilihan, tentu saya tau soal kamar dan hati adalah perkara yang berbeda. Pada akhirnya hanya dialog-dialog panjang saya dengan Sang Pencipta yang membuat hati dan pikiran saya tenang luar biasa. Sekarang saya selalu berdoa semoga kelak jangan pernah ada ketidakpuasan, tidak ada penyesalan atau bahkan kemarahan atas pilihan-pilihan saya. Saya harap semua pilihan saya berjalan seperti apa yang Tuhan bisikkan ke hati saya.

Dalam sebuah ta'lim pada acara pengajian kantor beberapa waktu lalu, Pak Ustadz bilang kalau iman itu adalah kekuatan terbesar yang harus kita miliki saat akan mengambil sebuah keputusan. Kelak, kalaupun ada sedikit ketakutan, hambatan atau guncangan, kita hanya perlu merasa yakin bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian.

Disaat seperti sekarang ini saya terkadang berharap tangan saya lebih dari dua, untuk melakukan hal-hal yang berguna, meraih mimpi juga cita, serta bersujud seraya berdoa kepada Sang Maha Esa.. untuk melakukan ketiganya dalam waktu yang sama. Lagi, semoga doa serta harapan bisa menjadi lentera penerang.. Semoga untaian detik demi detik ke masa depan penuh dengan kejutan dan pembelajaran bermakna. Selanjutnya, saya ingin mengajarkan diri saya sendiri bahwa menjadi bahagia itu sungguh sangat sederhana.. karena sesungguhnya bisa membahagiakan orang lain terutama orang tua itu membawa bahagia, itu saja, sudah cukup.

Untuk itu saya sekarang berdoa, saya ingin hidup untuk menghidupi serta berharap sang pemberi hidup memberikan hidup yang berkecukupan.



...................ah, sudahlah. Mungkin saat ini saya terlalu lelah atau mungkin saja semilir angin yang menelusup di balik jendela juga hangatnya udara disini membuat saya saat ini merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa. Maaf.. tapi tolong ijinkan saya sekali ini saja.
.

-Kota Baja. Di sebuah kamar kosan ditemani hujan (sedikit) badai.


xx, 
agistianggi


Nb: Untuk setiap keinginan dan harapan, saya menitipkan kamu untuk mengucap 'amin' kepada Tuhan. Demikian pula dengan saya.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …