Langsung ke konten utama

Gawat, Otak Terbakar di Banten!!!

Kawasan pesisir memang mempunyai pesona tersendiri.. Sebut saja di kawasan barat Pulau Jawa, seperti Pantai Anyer, Carita, Labuan, Pantai Sawarna hingga Tanjung Lesung yang berlokasi relatif dekat dari Ibu Kota cukup menarik untuk dikunjungi karena menawarkan segala jenis rekreasi.

Menjelajahi Gunung Anak Krakatau, Berburu Badak Cantik di Taman Nasional Ujung Kulon, Memahami kearifan lokal di Kampung Baduy, menaiki banana boat atau sekedar berjalan-jalan di tepi Pantai memang bisa menjadi salah satu alternatif untuk berlibur yang menyenangkan. Wisata pesisir juga wisata pedalaman yang menawan. Wisata daerah pesisir di kawasan barat Pulau Jawa ini memang terbilang lengkap, mulai dari wisata petualangan, wisata sejarah, wisata air, hingga wisata kuliner. Yap! Kuliner.


Suatu sore pada suatu hari, saya dan seorang teman berjalan-jalan ke Pantai Anyer. Pantai Anyer memang bukan termasuk ‘Hidden Paradise of Banten’ yang kesohor seantero Indonesia itu tapi tetap saja cukup ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk sekedar melepas lelah dari hingar bingar kota. Sore itu, kami menyusuri pinggir pantai, berjalan di atas pasir yang meninggalkan jejak langkah yang kemudian tersapu ombak. Kami menunggu matahari terbenam.


Dan dalam penantian itu seorang ibu membawa sebuah baki berjalan mendekati kami. ‘Nong, otak-otaknya nong?’, katanya.

Wisata kuliner primadona di daerah pesisir tentu saja tidak terlepas dari aneka hidangan olahan hasil laut. Ada banyak rumah makan dan restoran-restoran sepanjang jalan yang menawarkan menu yang terbuat dari hidangan laut mulai ikan bakar, sup ikan, kepiting, dan lain sebagainya. Namun rasanya otak-otak sudah menjadi satu hidangan wajib ketika mengunjungi pantai duduk lesehan dipinggir pantai dan dipadukan dengan sebuah degan atau kelapa muda sambil menatap laut dari kejauhan. Sempurna, itu saja.

Otak-otak adalah makanan khas dari Indonesia, rasanya hampir semua pesisir pantai yang pernah saya kunjungi tidak terlepas dari keberadaan penjaja otak-otak, walaupun sampai saat ini saya belum tau pasti daerah mana yang mempelopori adanya makanan ini. Ada yang bilang otak-otak ini makanan khas dari Pulau Bangka, lalu ada yang bilang juga dari Palembang, dan beberapa kota-kota lainnya. Tapi tau nggak? Katanya Malaysia dan Singapura juga ternyata mempunyai jenis makanan serupa yang dinamakan otak-otak loh.

Nah, otak-otak yang ditawarkan si Ibu berbentuk sekitar 10 x 4 cm dengan dibungkus daun pisang yang terlihat kehitaman, menunjukkan kalau ia habis dibakar. Wow, Otak Terbakar! :PSetelah tawar menawar, teman saya akhirnya membeli otak-otak itu dengan harga 10 ribu rupiah untuk 5 bungkus. Cukup murah, kan? Lalu bersamaan dengan otak-otak yang kami pesan, dihidangkan juga sambal kacang yang dibubuhi perasan jeruk nipis. Hmmm, nom nom! Yummy!


Otak-otak ini terbuat dari ikan tenggiri (Scomberomorus commesoni) dan termasuk ikan pelagis yang memiliki minyak di jaringan tubuh ikan dan dalam rongga perut di sekitar usus. Ikan tenggiri juga merupakan salah satu ikan berdaging putih yang disukai karena rasa dagingnya yang enak, memiliki aroma khas dan dan tidak bersisik. Dan ternyata ikan ini mengandung asam lemak tak jenuh Omega 3 yang penting bagi pertumbuhan normal tubuh, karena asam lemak esensial tidak dapat dibentuk di dalam tubuh dan harus dipenuhi dari diet. Kandungan Omega 3 ikan tenggiri juga relatif tinggi seperti halnya yang dikandung oleh ikan salmon, gindara dan tuna sardine loh.

Sssttt, tau nggak? Berdasarkan informasi dalam situs web Food and Agriculture Organization (FAO), jumlah penangkapan ikan tenggiri terbesar di dunia pernah terjadi di Indonesia, diikuti Filipina, Sri Langka, Yaman dan Pakistan. Jenis ikan ini memang menjadi komoditas perikanan laut yang paling utama karena memiliki nilai komersial tinggi.

Kalau soal rasa, otak-otak kualitas tinggi dengan cita rasa yang lezat bisa didapatkan dengan melakukan pemilihan ikan tenggiri yang mempunyai lebih banyak dagingnya dibandingkan tulangnya. Sedangkan untuk memasaknya, seingat saya, otak-otak bisa disajikan dengan dua cara, dibakar atau digoreng. Tapi otak-otak bakar memang lebih banyak dipilih, dimana pembakaran biasanya dilakukan dengan menggunakan bara batok kelapa, karena memasak dengan cara dibakar dinilai lebih sehat jika dibandingkan dengan menggoreng yang rentan kolesterol.

Otak-otak, ternyata selain jenis makanan yang enak juga bermanfaat bagi tubuh. Kadungan proteinnya yang tinggi baik untuk pertumbuhan anak-anak maupun orang dewasa. Nah, sekarang ini otak-otak tidak hanya disajikan dalam bentuk itu-itu saja, selain dijadikan sebagai lauk teman makan nasi, makanan ini juga banyak ditawarkan untuk dipadu dalam beberapa menu seperti Nasi Goreng Otak-otak, bakso dan lain sebagainya.

Akhirnya tenggelamnya matahari yang disusul kemilau orange dengan guratan langit biru kelabu, juga disertai semilir angin yang membuat suara indah dari pertemuan dua dahan pohon kelapa yang bergesekan menutup wisata bahari dan wisata kuliner otak-otak sore itu.. :)

"Tetap sehat, tetap semangat supaya bisa terus jalan-jalan dan makan-makan makanan khas Indonesia." -Pak Bondan


Tulisan ini diikut sertakan dalam blog writing competition 'Jelajah Gizi 2' dengan tema Kekayaan Gizi Daerah Pesisir yang diselenggarakan oleh Sari Husada.




Selamat berwisata kuliner!
agistianggi

Komentar

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …