20 Agustus 2013

Makna Cinta dari Dua Sudut Pandang Berbeda..

Hari ini, pas lagi hectic-hecticnya kerjaan, ditambah membayangkan jadwal kuliah semester depan, merelakan beberapa jadwal liburan, juga ngetik sambil baca materi buat tulisan, ngejar dateline yang kejar tayang, uhuk! terus tiba-tiba ada seorang bapak (J), yang juga merangkap seorang kakek, nyamperin saya buat ngasih undangan pernikahan anaknya. Dari undangan, lalu berlanjut ke pembicaraan-pembicaraan ngalor ngidul lainnya.. sampai berujung pada cerita soal anak-cucunya..

Menceritakan pengalaman hidup memang nggak akan ada habis dibahas ya rasanya. Dan tadi siang saya mengambil satu pelajaran dari dua percakapan orang tua, seorang ibu dan seorang kakek, tentang makna cinta untuk anak dan cucu dari sudut pandang yang berbeda.



Dari sudut pandang seorang kakek, bapak (J) menceritakan bagaimana antusiasnya mempunyai cucu, bagaimana pada akhirnya mereka diasuh dirumah oleh neneknya karena ibu-bapaknya sama-sama bekerja, bagaimana repotnya mengurus balita saat badan mereka tak kuat lagi seperti waktu muda, bagaimana lelahnya mengejar bocah dibawah lima tahun yang lincah berlari kesana kemari, bagaimana sayangnya Ia pada anak dari anak-anaknya.. Baginya, tidak ada nilai yang sebanding jika diukur dengan kebahagiaan saat dia melihat cucu-cucunya tumbuh berkembang. Dengan antusias dia menceritakan tentang perjalanan yang mereka lalui, bahkan saat cucunya itu baru berumur beberapa bulan.



Katanya, cinta kasih orang tua (kakek-nenek) kepada cucunya jauh lebih besar dibandingkan sayang mereka sewaktu membesarkan anaknya. Maka tak heran kerap kali cucunya ini dimanjakan dengan segala macam hal yang membuat mereka senang, tapi tak jarang ini justru yang membuat kakek-nenek bertengkar dengan ibu-bapak kita. Pernah merasakannya? Saya sih baru sadar sekarang. Dulu, setiap kali mama atau papa memarahi saya, nenek jadi orang pertama yang membela saya walaupun dengan jelas saya yang melakukan kesalahan.

'Yeh, jangan marahin anak kayak gitu, udah diem biarin aja, ini juga salah kamu kenapa nggak ngajarin anaknya dari dulu ...blablabla', kata nenek saat membela saya dalam bahasa sunda. Saat merasa terpojok, nenek pasti jadi tempat saya mengadu, karena tau pasti saya akan dibela. Kadang mama mencari pembenaran, 'Nenek jangan manjain cucunya terus dong, nantinya jadi kebiasaan.' Dan hal ini kadang jadi cekcok panjang tak berkesudahan karena keduanya sama-sama saling ndumel dalam hatinya, hihi.

Dulu, sewaktu nenek masih ada, Ia yang mengantar saya ke sekolah tiap hari.. menunggui saya sampai bel pulang berbunyi.. menggendong saya ketika saya beralasan lelah berjalan. Jika menggambarkan apa yang disampaikan bapak (J) soal sayangnya kakek-nenek kepada cucunya tadi siang, mungkin kalau masih bisa, kalau nenek masih ada, saya akan berlari memeluk nenek dan menangis sejadi-jadinya. Sayangnya, saat ini hanya doa yang bisa saya panjatkan untuk berterimakasih atas semua kasih sayangnya.

Lain perkaranya saat mendengar cerita dari sudut pandang seorang ibu. Bagi seorang ibu, ternyata kasih sayang berlebihan yang diberikan oleh kakek-nenek kepada anaknya dikhawatirkan memang kelak menjadi suatu kebiasaan. Saat anak sakit, kadang seorang Ibu tidak langsung membawanya ke dokter bukan karena tidak khawatir akan semakin sakit, justru karena Ia ingin lihat dulu perkembangannya dan mengantisipasi terjadinya ketergantungan pergi ke dokter jika sakitnya ternyata tergolong ringan. 'Lah, anak sakit ya biar sembuh cepet dibawa ke dokter harusnya, ini malah didiemin dirumah. Piye toh?' ujar bapak (J).

Lihat kan perbedaannya? Atau pernah merasakannya? Saya sih belum ngalamin jadi Ibu apalagi jadi seorang Nenek, tapi saya sudah memahami posisi menjadi seorang anak dan cucu sekaligus yang ternyata mendapat kasih sayang luar biasa dari keduanya.

Entah itu Ibu, Ayah, Nenek atau Kakek, mereka semua mencurahkan cinta dan kasih sayang mereka dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.



Pelajaran lain yang bisa diambil adalah bahwa sekeras apapun pendidikan yang mereka terapkan pada diri kita sedari kecil, tidak lain agar membentuk diri kita menjadi lebih baik dari mereka dan tentu kelak dapat membuat mereka semua tersenyum dengan bangga :')





Notes: Gambar lupa saya ambil dari mana dan kapan, gambarnya lucu, usia boleh tua tapi gaya tetep anak muda.. *cheers!*

8 komentar:

  1. enak yah punya kakek nenek yang cinta dan perhatian sama cucunya, beda dengan diriku yang yang gak terlalu peduli dengan cucunya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mungkin om, pasti semuanya juga sayang, peduli, tapi mungkin penyampaiannya aja yang sedikit berbeda.

      Hapus
  2. klo maen ke rumah bokap doi pasti namayain anak gw (cucunya), gw jadi berasa di sisihkan setelah kehadiran cucunya :( tapi ngeliat senyum bokap pas maen sama anak gw , bikin gw bangga setidaknya ada senyum yang bisa gw buat meski sederhana

    BalasHapus
    Balasan
    1. pa yandhi udah ngerasain ya maksud cerita aku, memposisikan diri sebagai bapak dan juga anak, hihi. dan itu udah lebih dari bahagia yang sederhana.

      Hapus
  3. saya menyebutnya same vision different action mbak :))
    emang beda sudut pandang dengan yang lebih sepuh untuk urusan anak harus sering2 ngalah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya sejenis itu lah mas, beda ye yang baru rasain jadi bapak mah hehe

      Hapus
    2. hahaha udah harus autosigap pokoknya :))))

      Hapus
  4. iya sih, habis kakek-nenek udah enak nggak ada tanggungan, jadi dikasih deh semuanya ke cucu, kalo ayah-ibu masih mikir ini itu, jadi ya agak galak. La wong kemaren si nenek dikasih duit pas idul fitri malah rencananya mau disumbangin jeh sama doi ke gereja... hahaha.. kita sekeluarga yang muslim kan ya agak gimana gitu ngasihnya... old people are hillarious.

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...