Langsung ke konten utama

Perempuan Kesayangan

Aku mengenal seorang perempuan yang mencintai laut. Katanya, laut adalah hidup yang melahirkan kehidupan. Katanya, laut semacam arena yang luas tak berbatas di kepalanya. Katanya, laut semacam riak arus hidup yang tak berkesudahan, seolah diterpa angin dan selalu kejar-kejaran. Katanya, laut semacam gambaran setiap kehidupan. Selalu bergerak, berubah, tidak dapat ditebak. Itulah mengapa ia sangat menyukai laut. Alasan yang sangat sederhana, kataku. Dia mencintai sesuatu yang mengajarkan kehidupan. Seperti itu ia mencintai ibunya.

Dia memiliki mata yang unik—kornea matanya berwarna coklat kehitaman. Kantung matanya mengisyaratkan berapa lama waktu ia tidur setiap malam. Sesekali terlihat ia menghela nafas panjang, bukan mengeluh, hanya sebuah refleks tubuh ketika ia mulai sangat kelelahan. Senyumnya lebih menenangkan dari apapun juga. Ketika ia bersedih, bibirnya menjadi tempat yang menampung segala duka yang ia tuang dalam doa. Dia lebih suka meminum air matanya sendiri daripada dibagi-bagi, bahkan untuk sebuah sapu tangan sekalipun.

Ia tersenyum sambil mendongak ke langit, melihat gumpalan awan hitam pertanda hujan akan segera datang. Memperbaiki posisi duduk dan menghela nafas yang panjang. Selama rintik hujan belum turun, ia selalu meneruskan perjalanan membawa sesuatu untuk dijajakan. Membawa sepeda motor yang juga merupakan kawan lama yang ia beli hampir sepuluh tahun silam. Dari satu tempat ke tempat lain yang ia tuju dari awal. Dari pagi buta hingga menjelang petang.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya ketika gerimis mulai jatuh perlahan. Wajahnya yang merona karena diterpa polusi kendaraan seharian pun mulai terlihat masam. Ia bergegas mengenakan mantel kesayangan yang juga seumuran dengan kawan yang mengantar ia berkeliling seharian. Ia tidak mengeluh karena hujan, ia bergegas pulang karena para anak didiknya pasti sudah menunggu di mushola sambil berlarian.

Gerimis hanyalah pemberi kabar untuk datangnya hujan. Begitulah cara kerja langit sebelum memberikan hal baik pada bumi. Hujan kali ini tidak lagi ia ratapi dengan kesedihan, karena sesungguhnya ia tahu selalu ada harapan bagi siapa pun, karena Tuhan Maha Penyayang juga Maha Pemurah. Ia selalu mengajarkanku untuk selalu mencoba dengan kesabaran dan keikhlasan, untuk memperbaiki diri. 

'Jangan sepelekan kemanjuran doa bagi hati yang ikhlas berserah. Berserahlah dalam upayamu, berdoalah dalam keikhlasanmu, lalu perhatikan apa yang terjadi,' nasihatnya sore itu ketika aku berkisah soal keraguan.


***



"Ibu, aku mencintaimu. Seperti hujan yang rela jatuh memeluk bumi"



...Akhir April, menjelang tengah malam


Komentar

  1. Doa itu amazing, kekuatan doa sering membuat apa yang sukar menjadi mudah ya

    BalasHapus
  2. Semacam walau badai menghadang, ya. . . :)

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …