Langsung ke konten utama

Mengubah Pola dengan Perspektif Berbeda


"Setiap hari kami belajar: Bahwa Tuhan Maha Kaya dan milikNya lah segala sesuatu di langit dan di bumi, bahwa Ia Maha Menghitung tetapi sekaligus Maha Mengampuni, bahwa Allah Maha Menguasai Segala Sesuatu. 
Saya mengangguk. Tak ada manusia yang tak memiliki beban dalam hidupnya. Bahkan para rasul pilihan Tuhan sekalipun. Laa nufarriqy bayna ahadin-min rusulih, tak ada yang dibeda-bedakan, semua akan menghadapi masalahnya masing-masing.
"Kita punya Allah. Selama Allah bersama kita, semua akan baik-baik saja." Kalimat Rizqa yang terakhir benar-benar membuat saya jauh lebih tenang... Jauh lebih tenang... Jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Tiba-tiba terasa, ayat terakhir dari surat Al-Baqarah benar-benar bermakna untuk menguatkan hati siapa saja yang cemas: Laa yukallifuLlahu nafsan illa wus'aha. Allah tidak akan membebani seseorang dengan sesuatu yang tak sanggup dipikulnya. Allah tak akan membebani hambanya di luar kesanggupannya.
... Dan hari ini saya mengerti pesan Papa."
Fahd Pahdepie - Penulis buku Rumah Tangga



Ini sepotong akhir notes dari Fahd Pahdepie yang sangat aku sukai. Keluar dari zona nyaman. Waktu. Keduanya mengajarkan aku banyak hal. Waktu juga yang mengajarkan aku untuk bisa mengendalikan perasaan. Mengajarkan bagaimana mengekspresikan senang atau sedih dalam waktu yang hampir bersamaan. Waktu mengajarkan aku untuk mengatur reaksi akan suatu keadaan. Waktu juga mengajarkan aku untuk tidak egois, untuk tidak memikirkan diri sendiri, untuk memahami bahwa setiap orang berhak bahagia akan pilihan yang telah mereka ambil sendiri.


Belakangan ini banyak hal menakjubkan yang terjadi rasanya. Banyak tantangan yang aku ambil bahkan tanpa berpikir panjang. Saat diminta bantuan dalam rangka pembuatan video untuk perlombaan di kantor juga semacam 'that isn't my thing' gitu, tapi tiba-tiba aku meng-iya-kan. Walau masih amatiran, walaupun nggak sebagus yang orang harapkan, setidaknya aku berani mencoba. Biar orang mau bilang apa, toh kan saat orang lain menunjuk kita 4 jari lain menunjuk dirinya sendiri, ya? ihiy!


Kalau mereka bilang untuk pura-pura bahagia itu butuh banyak tenaga haha sial! Menyibukkan diri melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan juga jadi tantangan tersendiri ternyata. Menerima tawaran pekerjaan sampingan untuk content writer sebuah brand nggak semudah yang dibayangkan, hiks. Beberapa kali menerima kiriman email untuk dilakukan perbaikan demi perbaikan nyatanya membuat aku hampir putus asa. Tapi untungnya mama dan papa selalu menyemangati. Jadwal menelpon kedua orang tua yang sudah hampir sehari tiga kali ibarat minum obat juga jadi 'multivitamin' dalam keseharian. Kalau sehari nggak telpon langsung posesif ambekan ditanya ini itu kenapa nggak kasih kabar, padahal mah aku nggak punya pulsa atau terkadang langsung tepar sepulang lemburan :')


Hal lain lagi adalah soal menang kalah dalam suatu kompetisi. Sudah terbiasa kalah nggak membuat aku lantas jadi semacam 'down' atau sejenisnya. Beberapa kali ikut kompetisi dan dinyatakan kalah justru membuat aku semakin terpacu untuk terus belajar lagi kok. Jadi saat beberapa orang nyinyir soal kenapa aku kalah, aku cukup senyumin aja karena aku tahu pasti mereka yang nggak paham makna sebuah proses serta usaha dalam pertandingan. 


Saat penasaran dengan salah satu kompetisi, mencoba menanyakan teknisnya, akhirnya mengirimkan cv sampai mengikuti seleksinya. Walau akhirnya nggak terpilih tapi aku tetap bangga kok. Berbicara didepan banyak orang memang bukan keahlianku, tapi aku mau belajar, aku mau mencoba. Dan untuk itu aku harus mengapresiasi diriku sendiri. Perlu keberanian ekstra untuk mencoba, perlu semacam 'effort' yang kuat sampai aku bisa sampai kesana. Jadi, aku mengucapkan selamat pada diriku sendiri. Semacam penghargaan dariku, untukku. Priceless sekali rasanya. Dan itu yang membuat aku berjanji pada diri sendiri untuk belajar lebih banyak lagi.


Selain aneka rutinitas A sampai Z yang biasa dilakukan dalam keseharian, aku punya beberapa hobi dan kebiasaan baru. Yeiyyy! Berbekal sebuah sindiran seorang teman kantor karena aku kerap terlambat 3-10 menit, akhirnya aku merubah sedikit kebiasaanku supaya nggak terlambat lagi. Simpel? Iya, sangat dan aku justru berterima kasih atas 'sindiran' kecilnya hehe. 


Perkenalan dengan seorang teman baru saat solo-traveling di Bali bulan Agustus lalu juga membuat aku mempunyai hobi baru, merajut! Yay. Beberapa kali melihat postingan instagram-nya berisi hasil-hasil dia merajut akhirnya sering membuat kami terlibat chatting panjang via line membahas aneka jenis benang atau saling bertukar informasi model tutorial dan tempat jualan alat rajut yang murah. Hanya hal-hal kecil memang tapi itu menyenangkan. Sejauh ini baru bisa membuat phone-pouch, aneka bentuk bunga untuk brooch, beberapa model gelang-gelangan dan akhirnya dapat request kado untuk anak bayi dari teman dekat yang sekitar 8 minggu lagi akan lahiran. Excited. Walaupun prosesnya sekarang sempat tertunda karena secara misterius sepatu anak bayi yang sudah selesai sebelah hilang di kamar. Glek.


Selain senam rutin hari Jumat dan Zumba setiap Rabu, sekarang juga punya rutinitas lain ikut kelas Yoga, badminton dan lebih sering berenang. Seru sih jadi banyak kegiatan ini-itu. Dan hobi terakhir adalah ngerecokin rumah Bunda Desty buat belajar masak tiap weekend berhubung dapur kami bisa dibilang 'dapur darurat'. Insha Allah kalau bulan depan pindah kontrakan nggak akan ngeriweuhin lagi dirumah orang hihi.



....dan ya, jika kamu mengetahui bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, maka kamu akan meleleh karena jatuh cinta padaNya. 


Semangat semangaaaat. Mengajari hati berprasangka baik itu menyenangkan ternyata. Selamat menikmati proses hijrah ya. Selamat mencari jalanmu. Selamat datang kembali, Anggi Agistia! You're welcome :')



Pangkalpinang, November 2015
Sabtu malam kali ini ditemani hujan gerimis seharian..
*) yawn

Komentar

  1. Aih suka banget dengan postingan ini. Keren!
    Gw juga beberapa kali coba mengubah pola pikir Nggi, satu hal yang gw yakin banget biasanya jawab nggak, gw jawab iya dan hasilnya bikin heran sendiri. :D
    Makasih ya postnya!
    -dani pake akun blog baru. Ribet ganti-ganti soalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang harus dibenahi Mas Dani, aku ngerasa terlalu banyak 'ketinggalan' hehe semangat semangat :D

      Hapus
  2. Widiiih, padat bener jadwalnya. Ikut Yoga pulaa. :D
    Tapi bner, Nggi. Pura2 bahagia itu menguras segalanya. . . :D
    Krn, bahagia tuh datang dari sini. . . *nunjuk hati dan jantung*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan lupa nunjuk perut juga, Idah. Ada dedek bayi yang bentar lagi bikin bahagia sekali kan hihi :D

      Hapus
  3. Anggi, seneng bacanya. Ember, ortu suka ambekan kalo anaknya gak nelpon sehari aja, hehe...jadi ngerasa itu diri bunda. Susunan kalimat dalam postingan Anggi ini, sungguuuh...kereen..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, Bunda. Emang riweuh pisan ya orang tua mah apalagi anaknya jauh hihi.
      Sehat selalu ya, Bunda :)

      Hapus
  4. Pura2 bahagia itu melelahkan banget lho kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya jangan pura2 kak bahagianya kan kan kan

      Hapus
  5. Daripada pura2 bahagia waktu lagi sedih biasanya saya memikirkan beberapa hal baik yang saya lakukan untuk diri saya dan orang-orang disekitar saya, lalu mengucapkan terimakasih pada diri saya sendiri. Dan biasanya ucapan terimakasih dari diri kita sendiri terasa lebih tulus dan mampu memberikan semangat :) maturnuwun buat postingnya mbak Anggi :)

    BalasHapus
  6. Jadi tambah ademm habis baca ini
    Trimkasi udh mnginspirasi :)

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …