Langsung ke konten utama

Sacred Sanctuary Monkey Forest Ubud; Awas Ada Monyet!


Suasana kehijauan saat memasuki daerah Ubud mulai terasa, hawanya pun sedikit berbeda dengan kawasan Bali lain rasanya lebih sedikit dingin. Masih berbekal teman setia google maps, hari kedua di Bali aku rencanakan untuk menjelajahi daerah Ubud dan sekitarnya dengan estimasi waktu kurang lebih 60 menit dari arah Kuta tempatku menginap.

Nah, di Bali ada satu obyek wisata yang berkaitan dengan hewan dan namanya juga sudah mendunia yaitu Sacred Sanctuary Monkey Forest Ubud. Sesuai namanya, tempat ini lokasinya di daerah Ubud, Bali tepatnya di Jalan Wenara Wana Desa Padangtegal, Ubud – Gianyar. Sepanjang jalan menuju kemari pemandangan berbeda disuguhkan lain dari biasanya, areal pesawahan yang sedang menghijau jadi semacam sajian pembuka menuju Ubud.




Monkey Forest Sanctuary Ubud adalah objek wisata cagar alam yang menjadi tempat berkumpulnya sekitar 340 ekor monyet dengan jenis kera ekor panjang. Nah bagi kalian yang sedang berlibur ke Bali dan ingin mengurangi rasa penat, tempat ini bisa menjadi alternatif karena didalam kawasan suasananya tenang dan sejuk loh.

Dari informasi disana didapat info bahwa hutan ini mempunyai luas sekitar 27 hektar lahan dan memiliki sedikitnya 115 jenis pohon. Di dalam Ubud Monkey Forest sendiri terdapat Pura Dalem Agung Padangtegal serta Pura Madia Mandala, di mana terdapat sebuah kolam suci dan candi lainnya yang digunakan untuk upacara kremasi.



Sedangkan waktu terbaik berkunjung kesini adalah jam 2 sore karena monyet-monyet disini biasanya sudah kenyang jadinya tidak terlalu agresif dan nakal. Aku sendiri datang kemari pagi hari sekitar jam 9 pagi. Ada satu kejadian unik sih saat disana saat seekor kera mengambil sapu tangan yang tergantung di pinggiran tas. Maka bagi para pengunjung memang sudah diingatkan agar berhati-hati dengan barang bawaannya.

Aku sempat kaget juga ketika seorang wisatawan mancanegara tiba-tiba dikejar dan disergap kakinya oleh salah seekor kera, untungnya kera-kera disini memang jinak. Jadi kera itu bergelantungan di kaki bule tersebut dan menarik-narik celananya. Dari informasi penjaga disana itu seperti tanda bahwa kera tersebut minta makanan. Kalau aku pasti langsung panik rusuh bin panik jika tiba-tiba kaki aku yang disergap begitu :|






Untuk harga tiket masuknya dibagi 2 yaitu harga untuk dewasa dan anak. Untuk harga tiket orang dewasa adalah Rp30.000/orang, sedangkan anak-anak Rp20.000/orang.

Nah, selain menikmati wajah lugu para monyet, kita juga bisa jumpai Open stage, Main Temple, Dragon Stair, Center Point, Exhibition Hall, Holly Pool, Tree Adoption, Entrance to Holy Spring, Holy Spring temple, Deer Stable, dan Rumah Kompos loh di Sacred Sanctuary Monkey Forest ini.




Selama disana aku gabung dengan segerombolan pengunjung lain, bukan karena takut, cuma sedikit nggak berani aja sih *yaelah sama aja* haha. Di areal seluas itu pokoknya para pengunjung harus selalu waspada. Kenapa waspada? Soalnya selama disana akan banyak shock theraphy, ada monyet yang tiba-tiba loncat lah, tiba-tiba muncul dari semak-semak, dan ajaibnya tiba-tiba dia duduk disamping kita. 

Satu hal yang aku suka adalah memperhatikan gerak-gerik si para monyet ini kalau udah bergerombol. Saat ada sekelompok orang yang memberikan mereka makanan, entah itu pisang ataupun kacang yang memang dijual tepat didekat pintu masuk, para monyet ini akan saling berebut milik kawannya padahal beberapa diantara mereka sebetulnya sudah mendapatkan makanan sendiri. Antara lucu dan jadi pelajaran tersendiri ya, nggak jauh dari sifat manusia yang kadang suka tamak, nggak puas akan apa yang sudah dia punya. Naudzubillah. Kalau masih punya sikap seperti itu artinya...? Ups!




Mengitari hutan wisata ini juga cukup melelahkan ternyata. Naik turun tangga, menyusuri jalanan sepanjang hutan, daaaaan yang lebih membuat capek adalah kekhawatiran berlebih akan dikejar monyet-monyet itu sendiri, pffft. 

Setelah merasa 'cukup' berkeliling di Sacred Sanctuary Monkey Forest Ubud ini, aku berjalan menuju pintu keluar dan terdiam sejenak merenung dipojokan, oke skip, drama haha. Aku sempat bingung sih mau melanjutkan kemana, karena tujuan utama aku ke Ubud ya kesini dan ke Green Terrace yang lokasinya sendiri aku belum tahu sama sekali. Setelah bertanya ke salah seorang penjual makanan dipinggir jalan, barulah dapat pencerahan kalau daerah situ ada juga beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi. Yeiy!



So, just keep moving and 'Awas ada monyeeeeet!!'



Cerita Bali, Bulan ke Delapan
Dua Ribu Lima Belas *)



Komentar

  1. Sering leat depan nya tapi ngak pernah masuk hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. lewat nggak masuk mah sayang mas cumiiii :D

      Hapus
  2. Tumbenan ini di paragraf terakhir nggak ada iklan dramanya, hahaha :D

    Monyetnya lebih jinak daripada di Uluwatu ya ternyata. Terakhir kali ke sini jaman masih SD. Terus bener kata om Cumi, klo ke Ubud biasanya cuma lewat depannya doang. Habisnya pasti lewat Ubud klo mau ke Bali utara.

    Eh, klo lewat Ubud sawah-sawahnya bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hih ga dibaca pasti itu udah drama banget mas duduk dipojokan, haha ampuun!

      Kalo ke Bali Utara bukannya langsung belok kanan jalan ya dipertigaan itu ya Hehe aku ga paham arah mas mawi, maklum depend on gmaps banget anaknya :')

      Cekking terrace kesampean kok kemarin, yuhuuuu bagus memang yaaa

      Hapus
  3. Tempat wisatanya semacam rumah hantu gitu ya? Penuh kejutan :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku mending masuk sini mbak irly daripada rumah hantu mah atuhhh :D

      Hapus
  4. Jadi inget, aku belum nulis soal monkey forest iniiii.
    Aku suka suasana adem di sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem Mbak Eka, aku pun suka sekali disini :D

      Hapus
  5. Aku berani masuk ngga, yaa? :D Kalau celanaku yang dihampiri, aku juga pasti udah panik, Nggi. :D

    Udara lebih sejuk, aroma sekirar juga, kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masuk doang mah berani pasti, Idah. Cuma entah kalo ujug2 disamperin mah ya :P

      Hapus
  6. I haven't been there! Tapi takut juga sih sama monyet :")

    Big Dreamer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo soal itumah aku juga takut kak Mei :')

      Hapus
  7. ingatnya monyetnya suka nagmbil dompet

    BalasHapus
  8. Dulu waktu ke Bali belum sempat ke tempat ini :(
    Tambah kepingin pas baca tulisan ini dan liat foto2nya haduuuh

    BalasHapus
  9. Lucu liat kera-keranya, tapi kalo sampe dikejar gitu serem juga ya -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Mbak yang ngeliatnya aja serem kalo dikejar :|

      Hapus
  10. Akar - akar napas yang menjuntai dari pohon, pohon apa ya mungkin beringin membuat tempat ini semakin eksotis, nice sharing, mbak

    Salam
    Catur

    BalasHapus
    Balasan
    1. eksotis sekaligus mistis kalau malem kali ya, Mas Catur..

      Hapus
  11. Satu-satunya tempat di bali yang sama sekali gak mau aku datengin.. geli liatnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus Ka, cuma waspada aja memang sama monyetnya hihi

      Hapus
  12. Wah,,, ke Bali yang ada monyetnya cuman ke Sangeh saja,,,, kalau kesana lagi, tempat ini wajib di datengin sepertinya,,,, Benar yaw kak, kera - keranya benar - benar jinak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jinak-jinak merpati, Mas. Mereka ganas kalau ada barang yang mencolok aja terutama kalo laper sepertinya :|

      Hapus
    2. musti siap berarti,,, kalau merpati mah berani pegangnya,,, nah kalau monkey, nyerah deh :-)

      Hapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …