Langsung ke konten utama

Quarter Life Crisis..

Pic from Pinterest
Saya tersenyum geli sendiri menuliskan judul diatas, Quarter Life Crisis, haha! Bukan apa, agak sensitif, rasanya agak gimana gitu ya. Menjelang Quarter Life Crisis, soal tujuan hidup di seperempat abad kehidupan jadi semacam 'trending topic' bahkan dalam setiap obrolan ringan. Dalam kesempatan berdiskusi dengan beberapa orang teman sempat terbersit pertanyaan akankah kita benar-benar bekerja dan hidup sesuai passion kita, atau hanya memaksakan keadaan karena.. konon katanya hidup benar-benar kejam. Lebih kejam dari Ibu tiri apalagi Ibu Kota. Cie, alamak.

Kadang saya sering merasa kok sekarang ini rasanya sulit banget ya untuk menemukan sebuah keheningan. Things get so noisy. Semacam hiruk pikuk yang nggak berkesudahan. Dulu rasanya biasa aja tiduran di kamar sambil denger siaran radio lokal atau puter kaset pita -pada jamannya- tanpa sibuk sama gadget. Gitu aja udah terasa sangat menyenangkan. Sekarang? Adiksi terhadap sosmed di era digital ini bikin keheningan jadi semacam suatu kemewahan, saya pun termasuk salah satunya dan merasa demikian.

Adiksi disini maksudnya pas lagi diem sedikit buka facebook-lah, terus pindah liat timeline twitter, terus buka path, terus berujung lama di Instagram yang nyatanya membuka satu demi satu masalah baru; The Unnecssary Shopping! DANGGG!(&(*%&^**&(&*@#  Habislah sudah. Help meeeee. Makanya sebisa mungkin selalu menyibukkan diri entah menulis-lah, merajut-lah, masak-masakan lah, apapun yang bisa mengurangi intensitas dengan sosmed.




Kalau diputar lagi ke belakang, jaman SMA, jaman labil-labilnya, saya bahkan nggak pernah punya pemikiran panjang. Saya hanya berpikir saat lulus SMA, lanjut kuliah, lulus tepat waktu, bekerja, menikah dan punya keluarga kecil yang bahagia.

Cerita selesai..

Hahaha, fairy tale banget nggak sih. Uh!

Ya, kembali lagi sih kalau dipikir ulang lebih banyak takjubnya, banyak hal yang terjadi diluar kendali kita sebagai manusia, hal yang sudah diatur olehNya. Seperti bagaimana halnya Dia menuntun jalan saya hingga sampai kemari, sesuatu yang bahkan nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Atau hal lain misalnya, saat kita bertemu orang-orang baru, orang yang tidak pernah kita kenal, tidak pernah kita duga, dan tidak punya irisan apapun dengan kehidupan kita sebelumnya. Seolah dipertemukan oleh keajaiban dan terjadi begitu saja.

Dalam sebuah majelis taklim rutin yang saya hadiri pada hari Sabtu malam minggu lalu, sang Ustadz membahas soal bagaimana sebuah doa bisa merubah kehidupan kita. Tidak selalu doa-doa kita, bisa jadi doa orang tua kita, bisa jadi doa saudara kita, atau bahkan bisa jadi doa orang yang kita tolong dipinggiran jalan. Nasihat sejalan pernah saya dengar juga dalam rekaman sebuah video Youtube dari Ustadz Salim A. Fillah. Petuahnya entah kenapa bagi saya begitu indah, begini katanya:

"Keajaiban terkadang memancar dari sumber lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha. Begitulah keajaiban datang. Terkadang bukan terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita."

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah buku berjudul 'The Secret'. Sebuah buku yang menceritakan bagaimana pengaruh kekuatan pikiran dalam kehidupan. Mungkin bahasa sederhananya begini, doa adalah bahasa universal kita pada alam semesta, padaNya. Ketika kita berdoa, ketika kita pasrah dan hanyut dalam doa-doa kita, maka Law of Attraction sedang bekerja. Alam bawah sadar kita sedang menarik hal-hal positif untuk mendukung tercapainya doa kita. Jadi, jangan pernah merasa sendiri, titipkan harapan padaNya Yang Maha Tinggi. Karena suatu hari nanti, langit akan menjawab doa-doa terbaik kita :)

Yang masih jadi 'PR' besar adalah perihal manusia yang diciptakan untuk beribadah padaNya. Sekarang, menjelang 'quarter life crisis' benarkah kita sudah yakin pernah bertanya tentang “What your purpose in life is?” pada diri sendiri..


Random.




Pangkalpinang, menjelang tengah malam
..dan sudah tak sabar untuk pulang~


Komentar

  1. My purpose in life is to find that purpose. Simpel. Bukankah hidup sejatinya adalah pencarian jati diri? Bukankah kita menjalani hidup untuk menjadi lebih "baik" dari hari ke hari?

    Dan menurutku doa bukan upaya untuk mencari "keajaiban" tetapi untuk menentramkan hati. That's it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keajaiban disini maksudnya bukan 'hal-hal' aneh, Mas Mawi. Tapi lebih ke hal yang diluar kuasa kita dan terjadi atas kuasaNya :)

      Hapus
  2. Duh mbak jadi galau membacanya,,, Seperempat abd usia, galau - galaunya semakin tinggi,, tentang tujuan hidup dan seterusnya,,, Hmm (merenungkan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Galaunya ke Yang Maha Tinggi aja, Anis ;)

      Hapus
  3. mbak anggi, sha banget sekarang lagi ngerasa kaya ginii

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …