9 Desember 2015

Quarter Life Crisis..

Pic from Pinterest
Saya tersenyum geli sendiri menuliskan judul diatas, Quarter Life Crisis, haha! Bukan apa, agak sensitif, rasanya agak gimana gitu ya. Menjelang Quarter Life Crisis, soal tujuan hidup di seperempat abad kehidupan jadi semacam 'trending topic' bahkan dalam setiap obrolan ringan. Dalam kesempatan berdiskusi dengan beberapa orang teman sempat terbersit pertanyaan akankah kita benar-benar bekerja dan hidup sesuai passion kita, atau hanya memaksakan keadaan karena.. konon katanya hidup benar-benar kejam. Lebih kejam dari Ibu tiri apalagi Ibu Kota. Cie, alamak.

Kadang saya sering merasa kok sekarang ini rasanya sulit banget ya untuk menemukan sebuah keheningan. Things get so noisy. Semacam hiruk pikuk yang nggak berkesudahan. Dulu rasanya biasa aja tiduran di kamar sambil denger siaran radio lokal atau puter kaset pita -pada jamannya- tanpa sibuk sama gadget. Gitu aja udah terasa sangat menyenangkan. Sekarang? Adiksi terhadap sosmed di era digital ini bikin keheningan jadi semacam suatu kemewahan, saya pun termasuk salah satunya dan merasa demikian.

Adiksi disini maksudnya pas lagi diem sedikit buka facebook-lah, terus pindah liat timeline twitter, terus buka path, terus berujung lama di Instagram yang nyatanya membuka satu demi satu masalah baru; The Unnecssary Shopping! DANGGG!(&(*%&^**&(&*@#  Habislah sudah. Help meeeee. Makanya sebisa mungkin selalu menyibukkan diri entah menulis-lah, merajut-lah, masak-masakan lah, apapun yang bisa mengurangi intensitas dengan sosmed.




Kalau diputar lagi ke belakang, jaman SMA, jaman labil-labilnya, saya bahkan nggak pernah punya pemikiran panjang. Saya hanya berpikir saat lulus SMA, lanjut kuliah, lulus tepat waktu, bekerja, menikah dan punya keluarga kecil yang bahagia.

Cerita selesai..

Hahaha, fairy tale banget nggak sih. Uh!

Ya, kembali lagi sih kalau dipikir ulang lebih banyak takjubnya, banyak hal yang terjadi diluar kendali kita sebagai manusia, hal yang sudah diatur olehNya. Seperti bagaimana halnya Dia menuntun jalan saya hingga sampai kemari, sesuatu yang bahkan nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Atau hal lain misalnya, saat kita bertemu orang-orang baru, orang yang tidak pernah kita kenal, tidak pernah kita duga, dan tidak punya irisan apapun dengan kehidupan kita sebelumnya. Seolah dipertemukan oleh keajaiban dan terjadi begitu saja.

Dalam sebuah majelis taklim rutin yang saya hadiri pada hari Sabtu malam minggu lalu, sang Ustadz membahas soal bagaimana sebuah doa bisa merubah kehidupan kita. Tidak selalu doa-doa kita, bisa jadi doa orang tua kita, bisa jadi doa saudara kita, atau bahkan bisa jadi doa orang yang kita tolong dipinggiran jalan. Nasihat sejalan pernah saya dengar juga dalam rekaman sebuah video Youtube dari Ustadz Salim A. Fillah. Petuahnya entah kenapa bagi saya begitu indah, begini katanya:

"Keajaiban terkadang memancar dari sumber lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha. Begitulah keajaiban datang. Terkadang bukan terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita."

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah buku berjudul 'The Secret'. Sebuah buku yang menceritakan bagaimana pengaruh kekuatan pikiran dalam kehidupan. Mungkin bahasa sederhananya begini, doa adalah bahasa universal kita pada alam semesta, padaNya. Ketika kita berdoa, ketika kita pasrah dan hanyut dalam doa-doa kita, maka Law of Attraction sedang bekerja. Alam bawah sadar kita sedang menarik hal-hal positif untuk mendukung tercapainya doa kita. Jadi, jangan pernah merasa sendiri, titipkan harapan padaNya Yang Maha Tinggi. Karena suatu hari nanti, langit akan menjawab doa-doa terbaik kita :)

Yang masih jadi 'PR' besar adalah perihal manusia yang diciptakan untuk beribadah padaNya. Sekarang, menjelang 'quarter life crisis' benarkah kita sudah yakin pernah bertanya tentang “What your purpose in life is?” pada diri sendiri..


Random.




Pangkalpinang, menjelang tengah malam
..dan sudah tak sabar untuk pulang~


5 komentar:

  1. My purpose in life is to find that purpose. Simpel. Bukankah hidup sejatinya adalah pencarian jati diri? Bukankah kita menjalani hidup untuk menjadi lebih "baik" dari hari ke hari?

    Dan menurutku doa bukan upaya untuk mencari "keajaiban" tetapi untuk menentramkan hati. That's it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keajaiban disini maksudnya bukan 'hal-hal' aneh, Mas Mawi. Tapi lebih ke hal yang diluar kuasa kita dan terjadi atas kuasaNya :)

      Hapus
  2. Duh mbak jadi galau membacanya,,, Seperempat abd usia, galau - galaunya semakin tinggi,, tentang tujuan hidup dan seterusnya,,, Hmm (merenungkan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Galaunya ke Yang Maha Tinggi aja, Anis ;)

      Hapus
  3. mbak anggi, sha banget sekarang lagi ngerasa kaya ginii

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...