8 Juni 2016

MUSEUM BENTENG VREDEBURG; MENGENALKAN SEJARAH REPUBLIK INDONESIA


Siang itu udara menunjukan temperatur luar biasa. Panas terik sinar matahari nyatanya tidak membuat anak kecil disamping saya merengek kepanasan atau ingin pulang, malah dia terus ingin jalan-jalan. Selepas dari Taman Pintar, kami melipir sebentar untuk masuk ke dalam Museum Benteng Vredeburg yang lokasinya sangat dekat.

Sebuah pagar kuno khas bangunan Belanda menyambut kedatangan kami dengan kokohnya seakan ingin menunjukan betapa kuat dan terawatnya bagunan ini.  Museum Benteng Vredeburg ini merupakan bagunan peninggalan Belanda yang saat ini dipugar sesuai bentuk aslinya. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. Aneka koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Dulunya, benteng ini dibangun jaman Pemerintahan Belanda untuk memudahkan dalam mengawasi dan mengontrol setiap aktifitas yang terjadi dalam Kraton Yogyakarta. Seiring dengan berjalannya waktu benteng ini mengalami begitu banyak perubahan dari segi fungsi tempat hingga beberapa renovasi hingga kini beralih menjadi museum. Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilesarikan. Akan tetapi walaupun dilakukan renovasi pada bentuk luar masih tetap dipertahankan sedang dibagian dalam disesuaikan dengan fungsinya sebagai ruangan museum.





Dengan harga tiket masuk sebesar 2 ribu rupiah, Museum mempunyai jam operasional mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 setiap hari Selasa sampai dengan Minggu. Adapun di hari senin dan hari libur nasional museum ini tutup. 

Di museum ini terdapat 4 bagian diorama, dimana diorama tersebut dipisahkan menjadi 2 gedung berbeda. Setiap diorama sendiri seolah menggambarkan waktu atau periode yang hendak dikisahkan dalam diorama tersebut. Menariknya diorama ini semacam sebuah jalinan cerita yang menyatu dari satu adegan ke adengan lain, dari awal masa perjuangan melawan penjajah hingga masa kemerdekaan Indonesia.



Gedung Diorama 2 rasanya jadi tempat favoritnya. Disana dia banyak bertanya soal maksud dari aneka bentuk miniatur dan sejarahnya. Mulai dari diorama yang mengisahkan ketika Sultan Hamengkubowono IX memimpin rapat, upacara pengibaran bendera merah putih di Gedung Cokan Kantai (Gedung Agung), peristiwa pengeboman balai mataram, hingga aneka diorama-diorama lain yang terdapat disana.

Aneka pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan, memang dasarnya cerewet dan riweuh, anak ini terus penasaran dan sering kali mengerutkan kening jika jawaban saya dia pikir kurang memuaskan. Ah, kadang memang menyebalkan tapi juga menggemaskan.

Oya, di Museum Benteng Vredeburg ini juga terdapat banyak lukisan maupun gambar serta benda-benda penginggalan bersejarah pada jaman penjajahan Belanda. Seperti museum pada umumnya sih, menurut saya tingkat interest masyarakat untuk berkunjung atau berwisata ke museum memang tidak terlampau besar, kecuali di hari libur nasional atau libur panjang di akhir pekan, biasanya pengunjung mulai membludak jumlahnya.




Hampir semua sudut di Museum Benteng Vredeburg ini sangat cantik dijadikan tempat foto. Seperti halnya gedung-gedung tua diseputaran kota Bandung, jalan Braga dan sebagainya, tempat ini juga kerap dijadikan lokasi favorit untuk berfoto. Pun saat kami kemari sedang ada photo session Pra-wedding dan beberapa anak muda yang sepertinya sedang berfoto untuk model kaos distro.

Ternyata didalam kompleks Benteng Vredeburg ini terdapat cafe dengan interior yang unik, Indische Koffie namanya. Suasana klasis dan elegan terbawa suasana bangunan kolonial memang seolah jadi tema yang diusung. Sayangnya walau sangat ingin 'mencicipi' tempat ini, si anak kecil kekeuh cuma ingin makan pizza. Baiklah baiklah, sayaang.

Ah, sudah lama tidak sebahagia ini rasanya, walaupun kurang terasa lengkap karena tidak bisa pergi berlibur dengan semua anggota keluarga lainnya. Semoga Allah senantiasa mempermudah jalanku untuk selalu membahagiakanmu ya, aamiin. :)




Bangka, Hari ketiga Ramadhan, dan sudah berburu tiket pulang!

#LessonOfTheDay;
Rezeki itu yang penting mengalir, besar kecil yang penting ada alirannya. 
Jangan harap mengalir seperti banjir, kalau tidak bisa berenang nanti kamu bisa tenggelam.





1 komentar:

  1. Eh di depan samping nya ada cafe yg lumayan enak dan murah

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...