Langsung ke konten utama

MUSEUM BENTENG VREDEBURG; MENGENALKAN SEJARAH REPUBLIK INDONESIA


Siang itu udara menunjukan temperatur luar biasa. Panas terik sinar matahari nyatanya tidak membuat anak kecil disamping saya merengek kepanasan atau ingin pulang, malah dia terus ingin jalan-jalan. Selepas dari Taman Pintar, kami melipir sebentar untuk masuk ke dalam Museum Benteng Vredeburg yang lokasinya sangat dekat.

Sebuah pagar kuno khas bangunan Belanda menyambut kedatangan kami dengan kokohnya seakan ingin menunjukan betapa kuat dan terawatnya bagunan ini.  Museum Benteng Vredeburg ini merupakan bagunan peninggalan Belanda yang saat ini dipugar sesuai bentuk aslinya. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. Aneka koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Dulunya, benteng ini dibangun jaman Pemerintahan Belanda untuk memudahkan dalam mengawasi dan mengontrol setiap aktifitas yang terjadi dalam Kraton Yogyakarta. Seiring dengan berjalannya waktu benteng ini mengalami begitu banyak perubahan dari segi fungsi tempat hingga beberapa renovasi hingga kini beralih menjadi museum. Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilesarikan. Akan tetapi walaupun dilakukan renovasi pada bentuk luar masih tetap dipertahankan sedang dibagian dalam disesuaikan dengan fungsinya sebagai ruangan museum.





Dengan harga tiket masuk sebesar 2 ribu rupiah, Museum mempunyai jam operasional mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 setiap hari Selasa sampai dengan Minggu. Adapun di hari senin dan hari libur nasional museum ini tutup. 

Di museum ini terdapat 4 bagian diorama, dimana diorama tersebut dipisahkan menjadi 2 gedung berbeda. Setiap diorama sendiri seolah menggambarkan waktu atau periode yang hendak dikisahkan dalam diorama tersebut. Menariknya diorama ini semacam sebuah jalinan cerita yang menyatu dari satu adegan ke adengan lain, dari awal masa perjuangan melawan penjajah hingga masa kemerdekaan Indonesia.



Gedung Diorama 2 rasanya jadi tempat favoritnya. Disana dia banyak bertanya soal maksud dari aneka bentuk miniatur dan sejarahnya. Mulai dari diorama yang mengisahkan ketika Sultan Hamengkubowono IX memimpin rapat, upacara pengibaran bendera merah putih di Gedung Cokan Kantai (Gedung Agung), peristiwa pengeboman balai mataram, hingga aneka diorama-diorama lain yang terdapat disana.

Aneka pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan, memang dasarnya cerewet dan riweuh, anak ini terus penasaran dan sering kali mengerutkan kening jika jawaban saya dia pikir kurang memuaskan. Ah, kadang memang menyebalkan tapi juga menggemaskan.

Oya, di Museum Benteng Vredeburg ini juga terdapat banyak lukisan maupun gambar serta benda-benda penginggalan bersejarah pada jaman penjajahan Belanda. Seperti museum pada umumnya sih, menurut saya tingkat interest masyarakat untuk berkunjung atau berwisata ke museum memang tidak terlampau besar, kecuali di hari libur nasional atau libur panjang di akhir pekan, biasanya pengunjung mulai membludak jumlahnya.




Hampir semua sudut di Museum Benteng Vredeburg ini sangat cantik dijadikan tempat foto. Seperti halnya gedung-gedung tua diseputaran kota Bandung, jalan Braga dan sebagainya, tempat ini juga kerap dijadikan lokasi favorit untuk berfoto. Pun saat kami kemari sedang ada photo session Pra-wedding dan beberapa anak muda yang sepertinya sedang berfoto untuk model kaos distro.

Ternyata didalam kompleks Benteng Vredeburg ini terdapat cafe dengan interior yang unik, Indische Koffie namanya. Suasana klasis dan elegan terbawa suasana bangunan kolonial memang seolah jadi tema yang diusung. Sayangnya walau sangat ingin 'mencicipi' tempat ini, si anak kecil kekeuh cuma ingin makan pizza. Baiklah baiklah, sayaang.

Ah, sudah lama tidak sebahagia ini rasanya, walaupun kurang terasa lengkap karena tidak bisa pergi berlibur dengan semua anggota keluarga lainnya. Semoga Allah senantiasa mempermudah jalanku untuk selalu membahagiakanmu ya, aamiin. :)




Bangka, Hari ketiga Ramadhan, dan sudah berburu tiket pulang!

#LessonOfTheDay;
Rezeki itu yang penting mengalir, besar kecil yang penting ada alirannya. 
Jangan harap mengalir seperti banjir, kalau tidak bisa berenang nanti kamu bisa tenggelam.





Komentar

  1. Eh di depan samping nya ada cafe yg lumayan enak dan murah

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …