Langsung ke konten utama

THE BUTTERFLY EFFECT

'Lucu ya, dari awal temenan kita sampai sekarang ceritanya nggak bisa diduga', ujar Vitha malam itu saat kami makan disebuah kafe di Bangka. Dan untuk ini saya meng-iya-kan. Perkenalan awal saya dan Vitha dimulai karena rasa jealous dia karena saya dan pacarnya dulu, yang notabene kakak kelas saya sekantor, kerap pulang bersama naik bus malam ke Bandung. Alasannya jelas, saya baru kali pertama merantau dan masih takut pulang malam. Berawal dari situ justru kami lebih sering jalan, nonton ataupun sekedar ngopi-ngopi bersama. Lucu. 

Saya ingat, dulu, saat itu saya sedang addict-addictnya dengan yang namanya travelling. Mengingat Vitha yang memang orang Bangka, kami sempat berwacana untuk kapan-kapan saya berkunjung kesana. Dan taraaaaa! 3 tahun kemudian takdir justru menuntun saya untuk bisa 'berlibur' sementara di pulau ini dalam waktu beberapa tahun kedepan.


Kemudian saya teringat saat hendak terbang dari Jakarta menuju Bangka menggunakan Sang Singa Merah sepulang libur Idul Fitri kemarin saya membaca majalah. Judul artikelnya, The Butterfly Effect. Intinya bercerita soal percayakah kamu bahwa kejadian-kejadian yang mungkin akan terjadi di masa depan ditentukan oleh serangkaian kejadian di masa lalu. 

Kalau dipikir ulang memang lucu sih, bisa jadi memang seluruh kejadian dalam hidup kita seolah-olah terjadi secara random, tapi pada akhirnya justru membentuk keadaan kita seperti saat ini. Iya, nggak? Bahkan katanya seorang ilmuwan pernah meneliti hal ini secara ilmiah melalui simulasi komputer dan setiap kemungkinan-kemungkinan terkecil diibaratkan dengan kepakan sayap kupu-kupu. 

Mungkin sederhananya bahwa dari sekian banyak peristiwa yang kita lalui selama ini, bisa menimbulkan satu demi satu kemungkinan yang membukakan pintu bagi peristiwa lainnya, atau bisa jadi menutup peluang terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Semacam kombinasi kemungkinan yang tak terhingga jumlahnya. Kalau saya menyebutnya, takdir?!

Lantas apa berarti karena semua peristiwa terjadi secara random sudah menjadi semacam takdir lantas kita tidak perlu berusaha? Tidak. Saya pernah baca sebuah hadits yang isinya 'tidak ada suatu hal pun yang bisa menolak takdir kecuali doa'. Lesson learnednya sih tetep bahwa sekeras apapun kita berusaha dan berdoa, percaya aja apapun hasilnya nanti itulah yang terbaik versiNya.

Dari serangkaian peristiwa masa lalu perkenalan saya dengan Vitha kemudian saya ke Bangka, dikenalkan dengan temannya, berakhir dengan punya Bude dan pakdhe (Ibu Bapak ketemu gede) hihi, dan sekian banyak anggota keluarganya yang akhirnya semacam saya anggap saudara baru ditanah rantau. Pun juga jadi punya jadwal silaturahmi saat ada perayaan hari besar atau setidaknya beberapa bulan sekali. Dan saat ini, ketika saya akhirnya bertugas di tanah kelahirannya, sempat tinggal dirumah Ibu dan Bapak Pipit yang baiknya luar biasa, entah kenapa saya merasa begitu banyak sekali hal yang harus disyukuri. Countless blessing and happiness, really.

Terakhir, jika setiap keputusan yang kita ambil diibaratkan kepakan kupu-kupu, bukankah kita bisa memilih dan menentukan kepakan kupu-kupu untuk hidup kita kedepannya? Do your best, and let Allah take the rest. Ciao!


 Muntok, Bangka Bagian Barat, 
....dan hujan hampir setiap malam!


Sampai jumpa minggu depan di Pelaminan, Makcik Vitha..
*happy yippieeee!



Komentar

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …