22 Juli 2016

THE BUTTERFLY EFFECT

'Lucu ya, dari awal temenan kita sampai sekarang ceritanya nggak bisa diduga', ujar Vitha malam itu saat kami makan disebuah kafe di Bangka. Dan untuk ini saya meng-iya-kan. Perkenalan awal saya dan Vitha dimulai karena rasa jealous dia karena saya dan pacarnya dulu, yang notabene kakak kelas saya sekantor, kerap pulang bersama naik bus malam ke Bandung. Alasannya jelas, saya baru kali pertama merantau dan masih takut pulang malam. Berawal dari situ justru kami lebih sering jalan, nonton ataupun sekedar ngopi-ngopi bersama. Lucu. 

Saya ingat, dulu, saat itu saya sedang addict-addictnya dengan yang namanya travelling. Mengingat Vitha yang memang orang Bangka, kami sempat berwacana untuk kapan-kapan saya berkunjung kesana. Dan taraaaaa! 3 tahun kemudian takdir justru menuntun saya untuk bisa 'berlibur' sementara di pulau ini dalam waktu beberapa tahun kedepan.


Kemudian saya teringat saat hendak terbang dari Jakarta menuju Bangka menggunakan Sang Singa Merah sepulang libur Idul Fitri kemarin saya membaca majalah. Judul artikelnya, The Butterfly Effect. Intinya bercerita soal percayakah kamu bahwa kejadian-kejadian yang mungkin akan terjadi di masa depan ditentukan oleh serangkaian kejadian di masa lalu. 

Kalau dipikir ulang memang lucu sih, bisa jadi memang seluruh kejadian dalam hidup kita seolah-olah terjadi secara random, tapi pada akhirnya justru membentuk keadaan kita seperti saat ini. Iya, nggak? Bahkan katanya seorang ilmuwan pernah meneliti hal ini secara ilmiah melalui simulasi komputer dan setiap kemungkinan-kemungkinan terkecil diibaratkan dengan kepakan sayap kupu-kupu. 

Mungkin sederhananya bahwa dari sekian banyak peristiwa yang kita lalui selama ini, bisa menimbulkan satu demi satu kemungkinan yang membukakan pintu bagi peristiwa lainnya, atau bisa jadi menutup peluang terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Semacam kombinasi kemungkinan yang tak terhingga jumlahnya. Kalau saya menyebutnya, takdir?!

Lantas apa berarti karena semua peristiwa terjadi secara random sudah menjadi semacam takdir lantas kita tidak perlu berusaha? Tidak. Saya pernah baca sebuah hadits yang isinya 'tidak ada suatu hal pun yang bisa menolak takdir kecuali doa'. Lesson learnednya sih tetep bahwa sekeras apapun kita berusaha dan berdoa, percaya aja apapun hasilnya nanti itulah yang terbaik versiNya.

Dari serangkaian peristiwa masa lalu perkenalan saya dengan Vitha kemudian saya ke Bangka, dikenalkan dengan temannya, berakhir dengan punya Bude dan pakdhe (Ibu Bapak ketemu gede) hihi, dan sekian banyak anggota keluarganya yang akhirnya semacam saya anggap saudara baru ditanah rantau. Pun juga jadi punya jadwal silaturahmi saat ada perayaan hari besar atau setidaknya beberapa bulan sekali. Dan saat ini, ketika saya akhirnya bertugas di tanah kelahirannya, sempat tinggal dirumah Ibu dan Bapak Pipit yang baiknya luar biasa, entah kenapa saya merasa begitu banyak sekali hal yang harus disyukuri. Countless blessing and happiness, really.

Terakhir, jika setiap keputusan yang kita ambil diibaratkan kepakan kupu-kupu, bukankah kita bisa memilih dan menentukan kepakan kupu-kupu untuk hidup kita kedepannya? Do your best, and let Allah take the rest. Ciao!


 Muntok, Bangka Bagian Barat, 
....dan hujan hampir setiap malam!


Sampai jumpa minggu depan di Pelaminan, Makcik Vitha..
*happy yippieeee!



2 komentar:


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...