Langsung ke konten utama

EMANSIPASI ALA KARTINI MASA GINI...

pic from here
Terlintas pikiran dari sebuah pesan salah se-kian-orang teman yang menasehati saya agar tidak terlampau sering pulang malam. Sampai hari kemarin saat ceritanya orang-orang dengan semangatnya berbusana kebaya dalam rangka memperingati Hari Kartini, saya dan Tina malah terdampar di kantor sampai jam 8 malam, pakai kebaya. Haha, lucu sih jadinya. Sebuah perayaan emansipasi wanita ala Kartini masa gini.. Saya bukan tipikal orang yang workaholic, engga sama sekali, tapi ya kadang harus ada momen -apa-boleh-buat- atau -ya-mau-gimana-lagi-, gitu.

Bicara soal emansipasi, bicara soal kesetaraan gender. Kadang saya rasa emansipasi wanita kini kesannya kok justru hiperbolis. Distorsi maknanya mulai merebak dan justru menciptakan kerancuan yang tak berujung. Di satu sisi wanita ingin diakui hak dan kemampuannya seperti laki-laki, disisi lain memang ada hal-hal yang tidak bisa wanita lakukan sendiri. Emansipasi kerap digunakan sebagai payung perlindungan agar bisa terlepas dari jerat belenggu yang menghambat ruang gerak dan kreatifitas para wanita. Dan, emansipasi ini pula yang kerap dijadikan boomerang para pria untuk tetap duduk ketika melihat wanita berdiri dikendaraan umum didepannya. Tidak salah memang, menurut saya. Emansipasi, kan?


R.A Kartini juga Cut Nyak Dien memang sukses mengantarkan wanita Indoensia pada posisi yang dipandang dalam hal emansipasi. Ironisnya, saat ini banyak wanita yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, memiliki karir cemerlang, namun sayangnya mereka melupakan kewajiban sebagai wanita seutuhnya. 

Beberapa waktu lalu juga saya pernah beberapa kali membaca tulisan soal Ibu Rumah Tangga Vs. Ibu Wanita Karir yang konon memicu kontroversi disana-sini lebih ricuh daripada kalahnya kesebelasan tim sepak bola kesayangan Saudara-saudara dirumah sekalian. Eh, serius, soal polemik tulisan ini memang luar biasa. Tanpa memihak salah satu bagian, karena memang belum merasakannya, saya merasa keduanya tetap punya 'point emas' kok. Hanya saja sempat diingatkan jangan sampai karena cita-cita Kartini soal emansipasi telah dicapai, jangan sampai kita yang mencoreng istilah harfiah 'emansipasi wanita' dengan tangan kita sendiri sebagai wanita.

Lantas sempat terbersit pemikiran jenaka, jika emansipasi dapat diberlakukan dalam hal pekerjaan, apakah tidak boleh hal yang sama berlaku dalam hal perasaan? Haha! Bercanda.

Emang dasarnya nggak bakat kayak wanita-wanita idaman diluar sana sih, cantik, jago dandan, jago masak, prestasi segudang dan bla bla blaaaa, urusan hobi, minat dan bakat. Saya tipikal orang yang kurang peka dan nggak terlalu bisa manis-manis. Just be yourself, that's good enough, sih. Ya gitu sih, burung nggak harus bisa berenang, ikan juga nggak harus bisa terbang, kan? Masing-masing punya kekurangan dan kelebihan sendiri. 

Saat Hari Kartini kemarin tiba-tiba saya terpikirkan banyak hal sambil mencari dokumen-dokumen yang berceceran, sejenak mengkhayal, sedikit berandai-andai. Kelak, suatu hari nanti... I have the greatest job in the world. Bisa kerja sambil nonton TV, sambil leyeh-leyeh, sambil cemal cemil, sambil ngobrol, sambil ketawa ha-ha-hi-hi, nunggu cucian sambil ngurus anak tersayang, sesekali sambil telpon suami, sambil curi-curi waktu untuk menulis, dan aneka sambil sambil lainnya. Kerjanya bisa pakai kaos atau daster dan sendal jepit. Nggak perlu pakai make up. Haha! yaudah gapapa berkhayal dulu aja, gis.. gapapa, nggak dosa kok.

Akhir kata saya pernah baca tulisan soal Emansipasi yang pesan moralnya kurang lebih begini, "Wahai perempuan di seluruh Indonesia, jadilah perempuan yang cerdas, karena dari rahimmu akan lahir generasi penerus bangsa yang akan membawa perubahan bangsa kita.. Jadilah perempuan terdidik dan tetap mengetahui kodratmu sebagai perempuan, yang bertanggungjawab atas mengepulnya asap dapur di rumah, yang bertanggungjawab atas akal dan moral generasi penerus bangsa kita kelak.. Jadilah perempuan yang mengerti hakikat emansipasi wanita yang digelorakan oleh ibu kita, Kartini." Satu hal lagi, essensi dari Hari Kartini tahun ini adalah kali pertama saya dibilang cantik pakai kebaya hahaha cukup sekian!


Di tengah tulisan random ngalor ngidul.
di Kantor, ditemani Kopi dan sealbum lagu MLTR~
Bangka, di Sabtu Pagi.



Komentar

  1. beeeeh cocok bener, terdidik dan tetep mengetahui kodratmu...

    tapi.. tapi.. mana foto pake kebayanya.. gak keliatan nie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, jangan mas put ntar pada langsung close tab, krik...

      Hapus
  2. Yaah begitu deh, hehehe

    Oya yang di paragraf terakhir itu isi surat Kartini, kemarin saya lihat di sebuah pembahasan ttg Kartini.

    BalasHapus
  3. Hmm ibu R.A Kartini memang menjadi contoh yang wajib ditiru oleh semua perempuan indonesia.

    BalasHapus
  4. Kalo bisa mah mbak pakai kebayanya itu setiap hari mbak jangan cuma hartini saja mbak, biar kartini masa kini mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti dikira mau kondangan tiap hari, mas...

      Hapus
  5. Tapi tetep yaaa sehebat nya wanita, mesti di bawah suami kalo di rumah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. etdah lain bahasan itu mah mas cum.. haha

      Hapus
  6. semoga mba bisa jadi the next kartini yang lebih hebat, dan bisa melakukan pekerjaan yang mba sukai :))

    BalasHapus

Poskan Komentar


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Pos populer dari blog ini

Berendam Semalaman di Gracia Spa Resort Lembang

Bukan dalam rangka liburan, hanya sekedar main mendadak, sabtu kemarin saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas atau sejenisnya. Selain setelah udah lama nggak kumpul-kumpul, juga ingin refreshing menghilangkan penat rasanya. Jadi berawal dari pesan singkat pagi itu, saya sih mengusulkan hanya sekedar makan-makan, atau beli bahan-bahan dapur untuk seperti biasa saya masak dirumah wishu, atau membeli aneka makanan dan kemudian mengobrol sepanjang malam dirumahnya. Tapi salah satu teman justru malah mengajak pergi ke pemandian air panas setelah sorenya ia tiba di Bandung.

Dari rumah saya tidak terburu-buru, sengaja tidak datang on-time, sengaja pergi justru setengah jam setelah waktu kami janjian di rumah Rhais. Kenapa? Karena pasti tetap saya yang datang pertama, baiklah, dan feeling saya benar. Setelah maghrib masih belum kumpul juga, baru saya, Wishnu dan tentunya Rhais yang punya rumah.

Ba'da Isya barulah bermunculan, duh memang kebiasa…

[DIY] Membuat Gelang dari Pita

Dalam rangka ngga-ada-kerjaan-entah-harus-ngapain, jadilah saya iseng-iseng membuat aksesoris dari bahan yang sudah ada. Memang bukan kali pertama sih buat gelang dari bahan pita, tapi ini jahitnya pake benang kain bukan senar jadi agak kurang gimanaaa gitu, terus masih agak mencong-mencong. Haha tapi yasudahlah..
Iseng-iseng ini juga soalnya saya punya segulungan pita yang gak pernah dipakai, nah daripada dia bengong aja nganggur gitu mending saya pakai. Biar deh gelangnya gak bagus-bagus amat apalagi keren, yang penting buatan sendiri. Yeiyyy!
Bahan yang diperlukan untuk buat gelang ini hanya pita, jarum, benang (atau kalau ada senar supaya lebih kuat), manik mutiara, gunting dan lem tembak.

LANGKAH 1: Siapkan alat-alat. Siapkan jarum, benang dan pita. Sebaiknya ukuran ujung jarum disesuaikan dengan ukuran pita yang hendak digunakan, supaya gak susah saat menjahitnya.

Jalan-Jajan ke Jatim Park; Kota Wisata Batu, Malang!

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur dalam rangka suatu urusan tulis-menulis (uhuk!). Ya, suatu pengalaman pertama yang cukup mendebarkan dan menegangkan buat saya sebenarnya. Karena kesempatan mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Bahasa kerennya sih, because second chances are rare, so waste your first chance wisely. Cieeeee..
Ya, awalnya sih sempat ragu dan berencana membatalkan kunjungan ke Malang karena satu dan lain hal yang nggak bisa ditinggalkan, urusan keluarga dan kantor. But, i just want to wasted my first chance wisely and here I go...
Pagi itu saya berangkat menggunakan pesawat AirAsia yang dijadwalkan terbang pukul 08.15 dari Kota Bandung. Setelah berperang dengan kemacetan pagi hari itu, pukul 07.30 saya tiba di bandara dan langsung check-in serta membayar airport tax lain sebagainya. Tapi ternyata sampai waktunya gate close dan terbang masih belum ada tanda-tanda akan keberangkatan.. delay. Sampai akhirnya pukul 08.45 kami …