23 April 2016

EMANSIPASI ALA KARTINI MASA GINI...

pic from here
Terlintas pikiran dari sebuah pesan salah se-kian-orang teman yang menasehati saya agar tidak terlampau sering pulang malam. Sampai hari kemarin saat ceritanya orang-orang dengan semangatnya berbusana kebaya dalam rangka memperingati Hari Kartini, saya dan Tina malah terdampar di kantor sampai jam 8 malam, pakai kebaya. Haha, lucu sih jadinya. Sebuah perayaan emansipasi wanita ala Kartini masa gini.. Saya bukan tipikal orang yang workaholic, engga sama sekali, tapi ya kadang harus ada momen -apa-boleh-buat- atau -ya-mau-gimana-lagi-, gitu.

Bicara soal emansipasi, bicara soal kesetaraan gender. Kadang saya rasa emansipasi wanita kini kesannya kok justru hiperbolis. Distorsi maknanya mulai merebak dan justru menciptakan kerancuan yang tak berujung. Di satu sisi wanita ingin diakui hak dan kemampuannya seperti laki-laki, disisi lain memang ada hal-hal yang tidak bisa wanita lakukan sendiri. Emansipasi kerap digunakan sebagai payung perlindungan agar bisa terlepas dari jerat belenggu yang menghambat ruang gerak dan kreatifitas para wanita. Dan, emansipasi ini pula yang kerap dijadikan boomerang para pria untuk tetap duduk ketika melihat wanita berdiri dikendaraan umum didepannya. Tidak salah memang, menurut saya. Emansipasi, kan?


R.A Kartini juga Cut Nyak Dien memang sukses mengantarkan wanita Indoensia pada posisi yang dipandang dalam hal emansipasi. Ironisnya, saat ini banyak wanita yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, memiliki karir cemerlang, namun sayangnya mereka melupakan kewajiban sebagai wanita seutuhnya. 

Beberapa waktu lalu juga saya pernah beberapa kali membaca tulisan soal Ibu Rumah Tangga Vs. Ibu Wanita Karir yang konon memicu kontroversi disana-sini lebih ricuh daripada kalahnya kesebelasan tim sepak bola kesayangan Saudara-saudara dirumah sekalian. Eh, serius, soal polemik tulisan ini memang luar biasa. Tanpa memihak salah satu bagian, karena memang belum merasakannya, saya merasa keduanya tetap punya 'point emas' kok. Hanya saja sempat diingatkan jangan sampai karena cita-cita Kartini soal emansipasi telah dicapai, jangan sampai kita yang mencoreng istilah harfiah 'emansipasi wanita' dengan tangan kita sendiri sebagai wanita.

Lantas sempat terbersit pemikiran jenaka, jika emansipasi dapat diberlakukan dalam hal pekerjaan, apakah tidak boleh hal yang sama berlaku dalam hal perasaan? Haha! Bercanda.

Emang dasarnya nggak bakat kayak wanita-wanita idaman diluar sana sih, cantik, jago dandan, jago masak, prestasi segudang dan bla bla blaaaa, urusan hobi, minat dan bakat. Saya tipikal orang yang kurang peka dan nggak terlalu bisa manis-manis. Just be yourself, that's good enough, sih. Ya gitu sih, burung nggak harus bisa berenang, ikan juga nggak harus bisa terbang, kan? Masing-masing punya kekurangan dan kelebihan sendiri. 

Saat Hari Kartini kemarin tiba-tiba saya terpikirkan banyak hal sambil mencari dokumen-dokumen yang berceceran, sejenak mengkhayal, sedikit berandai-andai. Kelak, suatu hari nanti... I have the greatest job in the world. Bisa kerja sambil nonton TV, sambil leyeh-leyeh, sambil cemal cemil, sambil ngobrol, sambil ketawa ha-ha-hi-hi, nunggu cucian sambil ngurus anak tersayang, sesekali sambil telpon suami, sambil curi-curi waktu untuk menulis, dan aneka sambil sambil lainnya. Kerjanya bisa pakai kaos atau daster dan sendal jepit. Nggak perlu pakai make up. Haha! yaudah gapapa berkhayal dulu aja, gis.. gapapa, nggak dosa kok.

Akhir kata saya pernah baca tulisan soal Emansipasi yang pesan moralnya kurang lebih begini, "Wahai perempuan di seluruh Indonesia, jadilah perempuan yang cerdas, karena dari rahimmu akan lahir generasi penerus bangsa yang akan membawa perubahan bangsa kita.. Jadilah perempuan terdidik dan tetap mengetahui kodratmu sebagai perempuan, yang bertanggungjawab atas mengepulnya asap dapur di rumah, yang bertanggungjawab atas akal dan moral generasi penerus bangsa kita kelak.. Jadilah perempuan yang mengerti hakikat emansipasi wanita yang digelorakan oleh ibu kita, Kartini." Satu hal lagi, essensi dari Hari Kartini tahun ini adalah kali pertama saya dibilang cantik pakai kebaya hahaha cukup sekian!


Di tengah tulisan random ngalor ngidul.
di Kantor, ditemani Kopi dan sealbum lagu MLTR~
Bangka, di Sabtu Pagi.



13 komentar:

  1. beeeeh cocok bener, terdidik dan tetep mengetahui kodratmu...

    tapi.. tapi.. mana foto pake kebayanya.. gak keliatan nie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, jangan mas put ntar pada langsung close tab, krik...

      Hapus
  2. Yaah begitu deh, hehehe

    Oya yang di paragraf terakhir itu isi surat Kartini, kemarin saya lihat di sebuah pembahasan ttg Kartini.

    BalasHapus
  3. Hmm ibu R.A Kartini memang menjadi contoh yang wajib ditiru oleh semua perempuan indonesia.

    BalasHapus
  4. Kalo bisa mah mbak pakai kebayanya itu setiap hari mbak jangan cuma hartini saja mbak, biar kartini masa kini mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti dikira mau kondangan tiap hari, mas...

      Hapus
  5. Tapi tetep yaaa sehebat nya wanita, mesti di bawah suami kalo di rumah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. etdah lain bahasan itu mah mas cum.. haha

      Hapus
  6. semoga mba bisa jadi the next kartini yang lebih hebat, dan bisa melakukan pekerjaan yang mba sukai :))

    BalasHapus


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...